
"HANA!!"
Tubuh Hana tersentak dengan nafas terengah-engah, Alvaro langsung memeluk tubuhnya.
"Ada apa hm?"tanya Alvaro.
"Apa kau mimpi buruk?"tanya Alvaro lagi.
"Ja-jadi aku hanya bermimpi?"tanya Hana tidak percaya.
"Kau tadi pingsan sayang."ucap Alvaro sambil mencium puncak kepala Hana.
"Jadi----"Hana langsung turun dari bankarnya dan berlari menuju ruangan Bintang membuat Alvaro menatap panik.
"Sayang, kau bisa jatuh nanti astaga!!"teriak Alvaro panik sambil mengejar Hana dari belakang.
Alvaro menangkap tubuh Hana dari belakang"hey, hey. Tenangkan dirimu dulu sayang."ucapnya.
"Bintang Alvaro, Bintang!"ucap Hana kesal sambil berusaha melepaskan tangan Alvaro yang melingkar di pinggangnya.
"Dia baik-baik saja sayang, kau harus tenang dulu."ucap Alvaro kewalahan.
Cklek~
"Mom?"ucap Aksa dan Angkasa sambil berjalan mendekat kearah Hana.
"Bintang, bagaimana keadaannya?"tanya Hana dengan nada khawatir.
Aksa tersenyum tipis"baik-baik saja mom, hanya retak di bagian punggung saja. Tidak ada yang harus di khawatirkan."ucapnya.
Angkasa mengangguk"Bintang sudah sadar mom, lagipula luka seperti itu tidak besar menurutnya."ucapnya.
Hana mencubit perut Angkasa"kau pikir itu lucu?"ucapnya kesal.
"Sakit."ringis Angkasa sambil mengelus pinggangnya.
Hana memasuki ruangan Bintang tampak putranya sedang tidur dengan menyamping karena tubuhnya di balut dengan perban.
"Sayang."panggil Hana, lalu ia berjalan mendekat kearah Bintang.
"Apa mom terluka?"tanya Bintang.
Hana mengecup kening Bintang"tidak sayang, maaf karena menyelamatkan mommy kau harus celaka."ucapnya lesu.
Bintang tersenyum tipis"tidak apa-apa, lagipula hanya retak di bagian punggung saja."ucapnya.
"Lain kali jangan membuat mommy khawatir."ucap Hana sambil menatap Bintang dengan mata berkaca-kaca.
"Aku baik-baik saja, lagipula itu tugas ku untuk melindungi ibu ku sendiri."ucap Bintang.
Hana mengelus pipi Bintang"istirahat lah, Mommy akan keluar sebentar."ucapnya di balas anggukan kepala Bintang.
Alvaro memeluk pinggang Hana"jangan menangis lagi sayang."bisiknya.
"Maaf kan aku."lirih Hana.
Alvaro mengecup pipi Hana"untuk apa minta maaf? Sudah, ayo kita keluar biarkan mereka yang menjaga Bintang."ucapnya.
"Jaga Bintang ya sayang."ucap Hana pada Aksa dan Angkasa.
Aksa mengangguk sedangkan Angkasa mengacungkan kedua ibu jarinya kearah Hana.
"Kau harus makan."Alvaro menarik tangan Hana.
"Aku tidak mau kau sakit."sambung Alvaro.
Hana tersenyum, ia bersyukur memiliki suami yang begitu perhatian padanya. Dan begitu sayang pada dirinya dan juga anak-anak nya. Walaupun ia sedikit jengkel dengan sikap posesif Alvaro yang selalu berlebihan.
Setidaknya Hana benar-benar merasakan kehidupan yang berarti bersama Alvaro.
"Terima kasih."ucap Hana.
∆∆∆
Alvaro merapihkan selimut yang berada di tubuh Hana lalu ia mencium kening Hana sebelum keluar dari ruangan tersebut.
"Mimpi indah sayang."bisik Alvaro sambil mengecup bibir Hana.
"My wife."Alvaro berjalan keluar dari ruangan Hana dan menutup pintu dengan perlahan.
Lalu ia berjalan menuju ruangan dimana Bintang berada namun langkahnya terhenti saat melihat seorang gadis muda berdiri sembari mengintip ke dalam ruangan Bintang.
"Apa yang kau lakukan di depan ruangan putraku?"tanya Alvaro bingung membuat tubuh gadis itu tersentak.
"Ah, ma-maafkan aku paman."ucap gadis itu dengan gugup.
Alvaro menggeleng"kau mau melihat Bintang?"tanya nya.
Gadis itu menggeleng reflek"ti-tidak usah, aku hanya ingin melihat nya dari sini saja. Kalau begitu aku pamit paman permisi."ucapnya lalu ia berlari menjauh dari Alvaro.
Alvaro tertawa pelan"dasar remaja."gumamnya lalu ia membuka pintu ruangan Bintang.
"Bagaimana keadaan mu?"tanya Alvaro.
Bintang berusaha duduk perlahan dengan ringisan di bibirnya"aku baik-baik saja, dimana mommy?"tanya nya.
"Sudah tertidur."ucap Alvaro sambil menatap Aksa dan Angkasa yang tertidur di sofa.
Ia menatap jam dinding, ah pantas saja mereka sudah tertidur pulas. Jam menunjukan pukul 10 malam.
Bintang mengangguk"mobil yang menabrak-----"
"Sudah aku habisi."potong Alvaro dingin.
Bintang menatap sekilas lalu mengangguk"tentu saja."ucapnya.
"Ngomong-ngomong siapa gadis yang berdiri di depan tadi?"tanya Alvaro.
Bintang mengerutkan keningnya lalu mengangkat kedua bahunya tidak peduli.
Alvaro berdecak kesal melihat respon putranya itu"kau ini!"ucapnya.
"Aku tidak mau mengurusinya."ucap Bintang datar.
Alvaro menggerutu kesal, pantas saja putranya tidak pernah dekat dengan seorang perempuan. Alvaro yakin banyak yang menyukai putranya namun tidak berani mendekat karena aura putranya yang begitu dingin membuat banyak gadis memilih mundur dan menjadi penggemar yang melihat dari jauh.
Aura Bintang sangat mencekam apalagi jika mata tajam itu sudah menatap dingin, banyak orang yang langsung menghindar takut terkena sasaran dari Bintang.
Walaupun Alvaro akui dia dulu seperti itu namun Bintang putranya lebih berbahaya, ia jadi ragu apakah ada perempuan yang akan bisa meluluhkan hati putranya nanti?
Apa dia akan bersikap seperti saat ini jika bersama dengan perempuan yang ia sukai? Apa dia akan sangat posesif? Atau lebih parah?
"Apa kau punya kelainan pada perempuan?"tanya Alvaro penuh selidik.
Bintang berdecak, ia menatap datar kearah Alvaro"apa pertanyaan itu penting untuk aku jawab?"tanya nya datar.
Alvaro mengangkat bahunya"tidak, aku hanya ingin memastikan kau tidak berbelok."ucapnya.
Bintang membuang muka"aku masih menyukai perempuan."ucapnya datar.
Alvaro mengangguk"jika kau tidak suka dengan perempuan aku bisa memberikan pria yang energik untuk mu "ucap nya dengan nada humor.
Bintang melempar bantal kearah wajah Alvaro"tidak lucu."balasnya datar.
Alvaro tertawa lepas"aku hanya bercanda, kau ini serius sekali. Wajahmu tidak ada raut wajah apapun selain datar."ucapnya.
"Terserah."
∆∆∆
TBC