
Kini putra nya sudah menginjak umur satu tahun,mereka sudah bisa berjalan dan berbicara.
"Mom--mieh"panggil Aksa Deon anak keduanya.
"Iya sayang"Hana menggendong tubuh gempal anaknya.
Kedua putranya pun mendekatinya ingin seperti yang saudara nya dapat.
"Ehm,mommy tidak bisa menggendong semuanya sayang. Bergantian ya"ucap Hana.
Bintang Orion,putra pertamanya ia sangat acuh tidak banyak mengeluarkan sepatah kata jika tidak benar-benar ingin ia bicarakan sangat mirip sekali dengan sifat Alvaro.
Aksa Deon,putra keduanya sifatnya hampir sama dengan Bintang hanya saja Aksa lebih aktif dari pada Bintang yang hanya diam dan tidak melakukan apapun.
Lalu ada Dion Angkasa,putra bungsunya ini sangat aktif dan tidak bisa diam,dia juga sangat jahil pada saudaranya.
"Aku pulang"ucap Alvaro.
"Hey son"Alvaro mengecup pipi ketiga putranya lalu mengecup bibir Hana.
Alvaro menyeka keringat di dahi Hana dengan sapu tangannya"lelah,hm?"tanya nya.
Hana tersenyum"sedikit,tapi aku tidak apa-apa"ucapnya,ia menurunkan Aksa dari gendongannya.
Alvaro mencium kening Hana"aku mandi dulu"ucapnya.
Lalu terdengar suara tangisan Aksa,Hana menatap nya langsung ia menggelengkan kepalanya melihat aksi jahil Angkasa yang merebut mainan Aksa.
Hana menatap Bintang yang sibuk dengan biskuit di tangannya dan menatap televisi dengan diam.
Alvaro kembali dengan baju kaos yang ia gunakan lalu duduk di antara kedua putranya.
"Lihat,sifatnya mirip sekali dengan mu"ucap Hana.
Alvaro menatap Bintang lalu ia tersenyum tipis"tentu saja,like father like son"ucapnya.
Hana mendengus dan terkekeh pelan ia mengusap rambut Bintang lalu memangkunya sembari membersihkan mulut anaknya yang penuh dengan noda biskuit.
Aksa menjerit saat Angkasa dengan jahil menarik rambutnya dengan kuat lalu ia menangis.
Hana menghela nafas pelan"anak mu jahil sekali"ucapnya.
Alvaro terkekeh geli ia menggendong Angkasa dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Kau ini jahil sekali"Alvaro mengecup pipi anaknya dengan gemas.
"Bagaimana di kantor?"tanya Hana sambil menggendong Aksa yang mulai mengantuk.
"Biasa saja,tidak ada yang menarik. Membosankan"Alvaro mendengus kesal.
Hana terkekeh kecil,ia mulai menyusui Aksa disusul Alvaro yang duduk di sampingnya.
Alvaro memangku kedua putranya sembari membacakan mereka sebuah dongeng pendek dari buku yang ia belikan untuk anaknya.
Hana mengusap rambut Aksa lalu memainkan jari kecilnya,ia tersenyum melihat putranya yang mulai memejamkan matanya.
"Dia tertidur"ucap Alvaro di balas anggukan kepala Hana.
"Lelah menangis"balas Hana,ia menutup kancing bajunya.
"Apa aku boleh meminta jatah bagian ku?"tanya Alvaro jahil.
"Alvaro!! Kau menyebalkan."
∆∆∆
Alvaro melempar dokumen di tangannya,ia memijat pelipisnya saat kepalanya mulai terasa pusing.
"Kenapa?"tanya Hana,ia memasuki ruangan Alvaro sembari membawa secangkir kopi untuknya.
Alvaro menggeleng sembari menghela nafas lelah"tidak apa-apa,hanya kesalahan dokumen saja"ucapnya.
Hana mengangguk pelan lalu tersenyum melihat Alvaro yang terlihat begitu lelah.
Hana meletakkan kopi tersebut di hadapan Alvaro dan langsung di minumnya hingga tandas.
Hana memeluk leher Alvaro"istirahat lah,kau sudah seharian di kantor dan dirumah masih mengerjakan dokumen seperti ini"ucapnya.
"Sebentar lagi sayang"ucap Alvaro,ia mengecup tangan Hana yang berada di lehernya.
"Kau kelihatan lelah sekali"ucap Hana,Alvaro hanya membalasnya dengan senyuman.
"Aku tidak apa-apa,sebentar lagi ini akan selesai"ucap Alvaro,ia kembali mengerjakan dokumen di tangannya ditemani Hana yang duduk di sofa samping meja kerjanya.
Setengah jam kemudian akhirnya Alvaro menyelesaikan pekerjaan miliknya,Hana menguap lalu berjalan mendekati Alvaro.
"Sudah?"tanya Hana.
Alvaro mengangguk,ia menyimpan kembali dokumen tersebut lalu menggandeng tangan Hana menuju ke kamarnya.
Alvaro langsung berbaring dengan tengkurap,ia menenggelamkan wajahnya di dalam bantal. Ia memejamkan matanya sebentar lalu kembali terbuka saat mendengar pintu dari arah kamar mandi.
Hana baru saja keluar dari kamar mandi,ia sudah berganti pakaian dengan piyamanya lalu ikut berbaring di samping Alvaro.
Alvaro memeluk tubuh Hana dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Hana sambil mengecupnya. Ia menggesekkan hidungnya di leher Hana.
"Apa ada masalah?"tanya Hana sambil mengusap rambut Alvaro. Alvaro mengigit kecil leher Hana.
"Ada,tapi tidak fatal bagiku"ucap Alvaro,ia menaruh kepalanya di atas kepala Hana.
Hana tersenyum saat Alvaro berprilaku sangat manja padanya jika terjadi masalah atau ia sedang tidak mood.
"Ceritalah"ucap Hana.
Alvaro menggeleng"nanti saja,aku mau melakukan sesuatu yang lebih penting dulu"ucapnya dengan nada sendu.
"Hana"panggil Alvaro,ia mengigit daun telinga Hana.
"Boleh kah?"tanya Alvaro,ia mengusap perut rata Hana dengan lembut.
Hana mengangguk pelan,Alvaro tersenyum senang setidaknya selalu ada Hana di sampingnya jika ia tertimpa masalah Hana selalu memberinya solusi entah itu bersifat materi atau yang seperti yang ia lakukan sekarang ini.
"I want you"ucap Alvaro dengan nada beratnya.
Alvaro mencium bibir Hana perlahan namun pasti ia mulai membuka kancing baju piyama yang Hana kenakan.
"I love you wife."
∆∆∆
TBC