My Posessive Husband

My Posessive Husband
22.



Hana berlari di koridor sekolah putranya dengan tergesa-gesa entah apa yang dilakukan ketiga putranya di sekolah.


"Permisi"ucap Hana. Ia memasuki ruang kepala sekolah.


"Mommy!"Angkasa memeluk kaki Hana begitu pula dengan Aksa.


Sedangkan Bintang berjalan mendekati Hana dengan kondisi yang berantakan membuat Hana semakin yakin anaknya telah bertengkar dengan murid lain.


"Apa kau orang tua anak nakal itu?"tanya Olivia kesal sambil memeluk putranya yang menangis.


Hana menaikan alisnya"benar, sebenarnya apa yang terjadi?"tanya nya.


Olivia mendengus"anak mu berani memukul wajah anak ku"ucapnya.


"Apa kau tidak mengajarkannya sopan santun pada anak mu?"sambung Olivia.


Hana memandang dingin, ia tau anaknya tidak akan menyerang seseorang jika tidak ada penyebabnya.


"Oh, kau menuduh putraku? Kenapa tidak tanyakan saja pada putramu sendiri?"ucap Hana datar.


"Kau---"


"Tolong jangan membuat keributan disini"ucap Vio, kepala sekolah.


"Bintang, kenapa kau menyerang David?"tanya Vio.


Bintang menatap tajam David"tanyakan saja padanya kenapa dia menghina ibu ku"ucapnya datar.


Olivia terhenyak"jangan berbohong! Anak ku tidak seperti itu, dasar bocah!"ucap nya marah.


Bintang tersenyum sinis"oh, berbohong? Sepertinya kau terlalu memanjakan anak mu bibi"ucapnya sarkastik.


Olivia menggeram kesal"apa ini ajaran yang kau berikan pada putramu?"tanya nya.


Hana berjalan mendekat"anak ku tidak akan menyerang anak mu kalau dia tidak memulainya sendiri"ucapnya dingin.


"Kau---"Olivia yang akan menampar Hana tangan nya ditahan oleh Alvaro.


"Jangan berani kau menyentuh istriku"ucap Alvaro dingin.


Alvaro menghempaskan tangan Olivia dengan kasar lalu ia memeluk pinggang Hana.


"Sebenarnya apa yang terjadi?"tanya Alvaro datar.


Vio tersenyum tipis"sebenarnya hanya pertengkaran biasa hanya saja nyonya Olivia terlalu emosi"ucapnya.


"Bagaimana aku tidak emosi? Putranya menyerang anak ku"protes Olivia.


Alvaro memandang dingin"menyerang? Anak ku tidak begitu bodoh sampai menyerang orang yang tidak bersalah"ucapnya.


"Kau yakin anak mu tidak memulainya?"tanya Alvaro dingin.


"Te-tentu saja"balas Olivia gugup"anak ku tidak bersalah."


"Katakan dengan jujur"ucap Alvaro pada tiga putranya.


"David menghina mommy dan daddy,lalu Bintang datang dan menendang wajahnya"ucap Angkasa.


"Kalau Daddy tidak percaya kami panggilkan orang yang tadi melihatnya"sahut Aksa.


Angkasa dan Aksa berlari keluar sedangkan Bintang memandang dingin kearah David.


"Sampai aku tau kalau putramu yang salah kau akan terima akibatnya"ucap Alvaro dingin.


David memandang tajam sedangkan Bintang berjalan mendekat sembari menyeringai.


Bintang menarik kerah baju David"sekarang aku tau kalau kau benar-benar pengecut"bisiknya.


Bintang mendorong tubuh David pelan"pengecut yang hanya bisa mengadu."


∆∆∆


"Daddy mereka semua teman kami, mereka juga berada di lapangan tadi"ucap Angkasa sambil menunjuk kearah lima orang anak seumurannya.


"Katakan dengan jujur"ucap Alvaro.


"Paman, Bintang dan yang lain tidak salah"sahut Bryan.


"Jangan berbohong! Anak ku tidak mungkin seperti itu"ucap Olivia protes.


Alvaro menatap tajam"oh? Apa kau tidak tau seorang anak kecil tidak akan bisa berbohong?"ucapnya datar.


"Terima kasih, kembalilah ke kelas kalian"ucap Hana sambil mengusap rambut Louis dan Bryan.


"Baik bibi"sahut mereka berdua langsung keluar dari ruangan tersebut.


"See, jadi kau tau siapa yang bersalah disini? Anak mu menghinaku terutama istriku"ucap Alvaro dingin.


"A-aku---"


"Varo, sudahlah. Urusan seperti ini jangan diperpanjang lagi"ucap Hana.


"Dia hanya anak kecil"sambung Hana


Alvaro menghela nafas pelan"kali ini aku melepaskan mu sampai aku mendengar putramu menghina keluarga ku kau akan tau akibatnya"ucapnya.


"Kita pulang"ucap Alvaro sambil menggandeng tangan Hana.


"Ayo anak-anak kita pulang"ucap Hana dibalas anggukan kepala mereka.


"Kalau begitu kami pamit"ucap Hana.


Vio mengangguk"hati-hati dijalan"ucapnya.


Hana tersenyum lalu ia menggandeng tangan Bintang keluar dari ruang kepala sekolah tersebut merupakan


"Daddy hebat"ucap Angkasa membuat Alvaro terkekeh.


Alvaro menggendong tubuh Angkasa"aku ingin seperti Daddy"ucap Angkasa.


"Aku juga"sahut Aksa dengan semangat.


Hana mengusap rambut Aksa dan Angkasa begitu pula dengan Bintang.


"Kalian semua akan hebat seperti Daddy"balas Hana.


"Mau makan di restoran?"tanya Alvaro.


Hana mengangguk"boleh, kalian mau kan sayang?"tanya nya.


"MAU!"teriak Aksa dan Angkasa.


"Kau mau sayang?"tanya Hana sambil mengusap rambut Bintang.


Bintang mengangguk singkat sembari berjalan lebih dulu dari Hana dan yang lain.


Seorang gadis mungil menghalangi jalan Bintang membuat Bintang menatap datar kearahnya.


Hana dan Alvaro saling bertukar pandangan, mereka penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya.


Gadis tersebut dengan cepat mengecup pipi Bintang dan berlari menjauh darinya membuat Bintang langsung mematung ditempatnya.


Hana dan Alvaro memandang terkejut tidak disangka gadis kecil tersebut berani melakukan hal seperti itu.


Angkasa turun dari gendongan ayahnya lalu berjalan mendekati Bintang begitu pula dengan Aksa.


"Astaga!! Wajahmu memerah"ucap Angkasa terkejut melihat perubahan mimik wajah Bintang.


"Sampai telinga memerah, apa kau demam?"tanya Aksa sambil memegang kening Bintang.


Bintang menepis tangan Aksa lalu berjalan menjauh dari saudaranya.


"Ah, idola para gadis"gumam Alvaro.


"Seperti dirimu"sahut Hana.


Alvaro terkekeh"tentu saja, ia adalah anak ku."


∆∆∆


TBC