
Alvaro menatap punggung polos Hana yang hanya tertutupi oleh selimut tebal. Ia tersenyum manis lalu memeluk tubuh Hana dari belakang. Alvaro begitu candu pada Hana, rasanya tidak puas walaupun melakukan nya berkali-kali.
Alvaro mengecup leher Hana. "Mimpi indah sayang," bisiknya lalu mulai memejamkan matanya.
"Aku mencintaimu Hana," ucap Alvaro.
"Sangat mencintaimu hingga rasanya sesak jika aku tau kau terluka," sambungnya.
Keesokan paginya...
"BANGUN AKSA! BANGUN!" teriak Angkasa sambil meloncati kasur yang Aksa gunakan.
Sedangkan sang empu masih tertidur pulas tidak terganggu sedikitpun dengan Angkasa yang bergerak dengan brutal di kasurnya.
"AKSA! BODOH! BANGUN KAU BISA TELAT!" teriak Angkasa sambil memukul kepala Aksa menggunakan guling.
Angkasa menggeram kesal lalu ia tersenyum jahil dan menendang tubuh Aksa dengan kuat hingga ia terjerembab kebawah kasur.
Brukk~
"Shit!" umpat kesal Aksa sambil memegang bagian hidungnya yang mencium lantai dengan keras.
Aksa menatap kesal kearah Angkasa yang tengah berkacak pinggang kearahnya.
"Kita akan telat bodoh!" ucap Angkasa kesal. "Lihat sudah lebih dari jam 7,"
Aksa membulatkan matanya lalu berlari kedalam kamar mandi. "KENAPA TIDAK MEMBANGUNKAN KU DARI TADI?!" teriaknya tidak terima.
Angkasa menatap datar, ia sudah membangunkan Aksa dari satu jam yang lalu dan sekarang ia yang disalahkan? Bagus sekali. Ingatkan Angkasa besok ia akan membuat semua sepatu milik Aksa kedalam kolam lagi.
Aksa keluar dengan baju seragam yang tidak teratur, dasi yang tidak terikat begitu rapi, seragam yang tidak di masukkan lalu rambut yang tidak disisir.
"Ayo," Aksa menarik kerah baju bagian belakang Angkasa lalu keluar dari kamarnya.
"Sialan!! Aku tercekik bodoh!" umpat Angkasa.
Aksa dan Angkasa berlari menuruni tangga melihat Hana dan Alvaro berada di ruang tamu.
"Mom, kami harus berangkat," ucap Aksa tergesa-gesa sambil mengambil roti selai yang tengah di olesi oleh Hana.
Hana menatap terkejut dan sedikit janggal. "Eh bukankah itu----"
"Bintang pasti sudah berangkat lebih dulu kan?" tanya Aksa kesal.
Hana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Sebenarnya-----"
"Kami sudah telat mom," Angkasa mengecup pipi Hana dan berlari mengejar Aksa dari belakang.
Hana melongo sedangkan Alvaro tampak menahan tawa, tak lama kemudian Bintang keluar dengan wajah segar sehabis mandi lalu ia mencium kening Hana.
"Mana mereka?" tanya Bintang. "Belum bangun lagi?"
"Bukankah hari ini libur sayang?" tanya Hana bingung.
Bintang menganggukan kepalanya lalu menatap bingung. "Ada apa? Jangan bilang mereka sudah pergi?"
Alvaro terkekeh pelan. "Kau benar, mereka baru saja pergi,"
Bintang menggelengkan kepalanya. Sudahlah mereka akan kembali nanti. Suara teriakan mereka pun menggelegar.
"KENAPA TIDAK ADA YANG BILANG PADA KAMI JIKA LIBUR!"
∆∆∆
Bintang berjalan menuju koridor sekolahnya dengan headset di telinganya.
Langkahnya terhenti saat melihat banyak kerumunan orang membuat dirinya penasaran, ia pun melangkah mendekati kerumunan tersebut.
Beberapa orang yang melihatnya memilih tidak menghalangi. Mereka semua tau tabiat Bintang terutama jika ada yang menganggu kedua saudaranya.
Bintang menatap datar saat melihat Angkasa yang tersungkur sedangkan Aksa tengah menarik kerah baju seseorang namun kedua tangannya di cekal.
Bintang berjalan mendekat dengan perlahan, semua orang menatap dirinya. Bintang berdiri di belakang tubuh seseorang yang berhasil membuat Angkasa tersungkur.
"Kau itu hanya anak manja, aku yakin ibumu pasti menyesal melahirkan kalian," ucapnya.
Rahang Bintang mengeras, mereka sudah kelewatan. Dengan cepat ia menarik kerah baju orang yang berada di depannya dengan kasar membuat ia terjerembab ketanah.
Bintang melepaskan headset yang ia kenakan lalu berjalan mendekati mereka yang masih mencekal tangan Aksa.
"Lepas!" ucap Bintang dingin namun mereka tidak mendengarnya.
"Kau tuli?! Lepas sebelum aku patahkan tangan kalian satu persatu!" ancam Bintang membuat suasana semakin menegang.
"Aku bilang lepas sialan!!" teriak Bintang sambil memukul wajah mereka berdua lalu menarik tangan Aksa dan Angkasa agar mereka mendekat kearahnya.
Bintang menarik kerah baju salah satu dari mereka. "Kau membuat kesalahan. Pertama, kau mengusik kedua saudaraku," ucapnya.
"Kedua, kau memukulinya," desis Bintang.
"Dan ketiga, kau membawa ibuku dalam masalah ini sialan!!" Bintang memukul wajah mereka lagi.
Bintang memukul mereka hingga membabi buta sampai guru melerai mereka semua dan membawanya ke kantor kepala sekolah.
"Panggil orang tua kalian," ucap Bu Ani.
Bintang menatap dingin. "Untuk apa? Mereka yang salah bukan kami bertiga," ucapnya datar.
"Telepon orang tuamu Bintang," ucap Bu Ani kesal.
Bintang berdecih. Lalu menarik kerah baju mereka yang tadi berurusan dengannya.
"Sampai kalian membalikkan fakta di depan ibuku setelah ini aku akan membuat kalian sekarat," desis Bintang. Ia tidak suka jika Hana merasa sakit hati nanti. "Paham?"
Mereka mengangguk takut lalu Bintang menelpon Hana untuk datang ke sekolahnya. Setelah itu tak lama kemudian Hana datang dengan wajah khawatir.
Ia memegang pipi Bintang, Aksa dan Angkasa. "Kalian tidak apa-apa kan sayang?" tanya nya khawatir.
"Aku baik-baik saja," balas Aksa, Angkasa ikut mengangguk.
"Ada apa ini?" tanya Hana bingung.
"Putramu memukuli beberapa murid," ucap Bu Ani.
Bintang mendelik tajam, ia tidak terima disalahkan. "Jika bukan mereka yang lebih dulu memukul saudaraku dan menghina ibuku aku tidak akan memukul mereka," ucapnya dingin.
"Jangan sampai aku menelpon ayahku untuk menutup sekolah ini selamanya karena kalian para guru tidak memiliki keadilan sama sekali,"
∆∆∆
TBC