My Posessive Husband

My Posessive Husband
44.



"Aku lelah," ucap Aksa.


"Lemah! Bangun, lawan aku!" bentak Bintang yang sudah lengkap dengan sarung tinjunya.


Aksa menghela nafas kasar lalu ia kembali bangun dan melayangkan pukulan kearah Bintang namun dengan mudah ia mengelak dan memberi pukulan yang sama kearahnya.


Brukk~


Aksa memegang rahangnya. "Aku tidak kuat melawanmu lagi," ucapnya.


Bintang menghela nafas pelan lalu ia membuka sarung tinju yang ia kenakan.


"Kalau kau seperti ini bagaimana kau bisa membalas orang yang menindasmu," ucap Bintang datar.


Aksa membaringkan tubuhnya di lantai. Tubuhnya basah oleh keringat, Bintang dengan sadisnya mengajari mereka berdua dengan latihan yang begitu berat.


"Aku menyerah," lirih Angkasa sambil membaringkan tubuhnya di samping Aksa.


"Aku pun," balas Aksa.


"Ngomong-ngomong kapan kita punya adik lagi?" tanya Angkasa sambil memandang langit-langit ruangan.


"Entahlah," balas Aksa.


Bintang sudah mengganti bajunya dan memilih keluar dari ruangan tersebut. Mengajari kedua adiknya benar-benar menguras tenaga. Bintang berjalan menuju supermarket terdekat bermaksud untuk membeli minuman dan mencari udara segar. Setelah membeli makanan yang ia mau ia pun keluar.


Bintang kini berjalan menuju taman, ia ingin melihat wajah anak-anak yang tengah bermain di taman. Itu menyenangkan menurutnya apalagi jika ia memiliki seorang adik.


"Tolong!" Bintang menatap sekelilingnya matanya terpaku pada sekumpulan pria yang membekuk seorang gadis, ia pun berjalan mendekat.


"Jangan! Jangan ambil uang itu!" teriak gadis itu.


"Berikan semua uangmu pada kami," ucapnya sambil berusaha merebut tas milik gadis itu.


"Kau hanya sendiri. Berikan tas itu pada kami," sahut pria di sebelahnya.


Gadis itu menggeleng cepat. "Tidak mau!" bentaknya.


"Sialan!!"


Bugh~


"Kembalikan tas itu," ucap Bintang dingin. Ia baru saja melempar sebuah batu kearah kepala mereka satu persatu.


"Siapa kau?! Pergi! Sebelum kami yang memukulimu," ucap nya.


Bintang menaikan alisnya. "Pengecut," desisnya pelan.


"Apa kau bilang?" tanya nya marah.


Bintang melepas penutup kepalanya. "Oh. Aku bilang kau pengecut, apa ada yang salah?" tanyanya dengan sarkas.


"Sialan!!" Mereka mulai menyerang satu persatu namun Bintang berhasil mengelak bahkan membalikan pukulan kearah mereka hingga terkapar di tanah.


Bintang berdecih lalu menendang pelan tubuh yang tergeletak didepannya. "Hanya kemampuan seperti itu berani mengancam ku?" tanyanya.


Bintang menatap gadis yang terpaku sambil memeluk tas ditangannya. Bintang kembali memasang penutup kepalanya.


"Pergilah, selagi mereka semua terkapar," ucap Bintang sambil berbalik.


"Tunggu," ucap gadis itu membuat langkah Bintang terhenti namun ia tidak membalikkan badannya.


"Siapa namamu?" tanya gadis itu. "Terima kasih karena sudah menolongku,"


Bintang menoleh sekilas lalu berjalan menjauh. "Tidak penting untuk memberitahukan namaku padamu. Pergilah menjauh,"


∆∆∆


"Alvaro, berapa lama lagi aku harus menunggumu memilih baju untukku?!" tanya Hana kesal.


Besok akan ia pastikan semua gaun itu terbakar habis olehnya. Siapa yang menyuruh istrinya untuk memakai itu semua?


Alvaro kembali melemparkan gaun yang menurutnya terbuka hingga kamarnya menjadi berantakan karena ulah Alvaro.


"Alvaro cukup!" teriak Hana sambil menahan tangan Alvaro.


Alvaro menggeram kesal. "Kenapa gaun mu tidak ada yang tertutup?" tanyanya dengan kesal.


"Kau membuat kamar menjadi berantakan Alvaro," desis Hana kesal.


Alvaro menatap kamarnya yang berantakan karena ulahnya sendiri, ia pun mendengus kesal.


"Tidak usah pergi," balas Alvaro ketus.


Hana menarik telinga Alvaro. "Itu adalah acara ulangtahun ibumu. Dan kau berkata tidak usah pergi, apa kau waras?" tanya nya.


Alvaro menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Gaun mu semua terlalu terbuka," ucapnya.


Hana menatap kesal. "Itu hanya gaun Alvaro, Astaga!" ucapnya.


Alvaro mendengus lalu menghela nafas pelan. "Kita beli gaun yang baru," ucapnya.


Hana menggelengkan kepalanya. "Tidak. Gaun itu masih bisa di pakai," ucapnya.


"Demi tuhan Hana. Jangan sampai aku benar-benar mengurungmu dikamar ini," desis Alvaro.


Hana memalingkan wajahnya lalu ia berjalan menjauh dari Alvaro. "Terserah," balasnya dingin.


"Sayang," panggil Alvaro namun Hana hanya diam tidak membalas membuat Alvaro mengerang dengan kesal.


"Baiklah baiklah. Kau boleh pergi dengan gaun ini," ucap Alvaro dengan lesu.


Hana tersenyum lalu mengecup pipi Alvaro dan mengambil gaun yang akan ia kenakan. Hana langsung berjalan memasuki kamar mandi.


"Jika disana banyak yang menatapmu jangan salahkan aku jika aku mengamuk disana," gumam Alvaro sambil berbaring di kasur.


Brakk~


Alvaro terlonjak kaget saat pintu kamarnya terbuka dengan paksa disusul dengan Angkasa dan Aksa yang saling berebut untuk masuk kedalam kamarnya.


"Daddy! Apa benar kami akan punya adik?" tanya Angkasa dengan heboh.


Alvaro mengerutkan keningnya. "Apa maksud---"


"Daddy! Apa adik kami perempuan?" tanya Aksa.


Alvaro menatap bingung. Siapa yang menyebarkan berita bohong seperti itu? Bahkan ia sendiri pun belum mengatakan apapun.


"Dad---"


"Tunggu dulu. Dari mana kalian mendengar kabar itu?" tanya Alvaro bingung.


"Dari Bintang," balas Angkasa. "Jadi apa benar kami akan punya adik lagi?"


Alvaro memijat pelipisnya, Bintang kembali menjahili mereka lagi. Entah dari kapan Bintang jahil seperti ini.


"Dengar ini. Mommy belum hamil. Kalian sudah di bohongi lagi," ucap Alvaro pelan.


Aksa dan Angkasa membulatkan matanya, mereka pun menggeram kesal.


"BINTANG KAU MEMBOHONGI KAMI LAGI SIALAN!!"


∆∆∆


TBC