
Alvaro berlari disepanjang koridor rumah sakit dengan nafas memburu dan wajah paniknya.
"Sayang."panggil Alvaro saat melihat Hana yang duduk sambil menundukkan kepalanya.
"Alvaro."lirih Hana, ia pun berlari kedalam pelukan Alvaro.
Alvaro memeluk erat tubuh Hana"sebenarnya apa yang terjadi?"tanya nya khawatir.
"A-aku membuat Bintang celaka."ucap Hana dengan tangisan.
Alvaro mengecup bibir Hana"shhh---jangan mengatakan seperti itu, itu hanya kecelakaan sayang."ucapnya.
Hana meremas kemeja yang Alvaro kenakan"jangan menangis, dia pasti akan baik-baik saja."bisik Alvaro sambil mengusap punggung Hana.
"Aku----"
Brukk~
"HANA!!"Alvaro menangkap tubuh Hana yang hampir terjatuh, Alvaro langsung menggendong tubuh Hana sebelum itu ia sudah meminta Aksa dan Angkasa untuk kerumah sakit.
Alvaro menyewa satu ruangan untuk Hana agar istrinya dapat lebih dulu untuk beristirahat. Lalu Alvaro berjalan keluar menuju ruangan dimana Bintang berada.
Alvaro duduk didepan ruangan Bintang sembari menunggu dokter keluar dan menunggu kedua putranya datang.
"Dad."Aksa datang dengan nafas terengah-engah.
"Apa yang terjadi?"tanya Aksa.
"Kecelakaan mobil."balas Alvaro.
"Bintang baik-baik saja kan dad?"tanya Angkasa.
Alvaro menatap kearah ruangan Bintang yang masih tertutup"aku belum tau."ucapnya.
Aksa menjatuhkan dirinya di samping Alvaro sembari mengacak-acak rambut nya dengan frustasi.
"Dimana mommy?"tanya Angkasa.
"Sedang istirahat biarkan mommy tenang dulu."ucap Alvaro.
Angkasa mengangguk lalu ia duduk disamping Alvaro yang masih kosong. Alvaro langsung berdiri membuat kedua putranya menatap bingung.
"Jaga Bintang dan mommy, daddy akan keluar."ucap Alvaro dengan rahang mengetat.
"Dad, kau mau kemana?"tanya Aksa bingung.
"Pergi mengurusi ******** yang berani menabrak putraku."ucap Alvaro dingin lalu ia berjalan keluar dari rumah sakit.
Angkasa menghela nafas pelan"daddy selalu seperti itu."ucapnya.
"Kenapa dokter belum keluar juga?"tanya Aksa kesal sambil melonggarkan dasinya.
Angkasa menyandarkan kepalanya di dinding sambil menghela nafas pelan"menurutmu apa yang akan daddy lakukan?"tanya nya.
"Menurut mu? Kau sudah tau sifat daddy seperti apa."ucap Aksa datar.
"Jika Mommy tau, mommy pasti marah."ucap Angkasa.
"Itulah yang akan dia dapat kan jika mencari masalah dengan daddy."ucap Aksa.
"Apalagi jika mommy sampai terluka lagi, daddy pasti akan marah besar."sambung Aksa.
Angkasa merinding, ia benar-benar tau tabiat ayahnya. Dan yang pasti jangan coba-coba untuk mencari masalah dengan ayahnya apalagi jika sudah mengenai tentang Hana, ia pasti akan maju lebih dulu.
Mengerikan memang, tapi itulah sifat Alvaro, posesif dan sangat otoriter.
"Daddy benar-benar mengerikan."ringis Angkasa sambil mengusap kedua bahunya.
"Kau benar."
∆∆∆
Alvaro mendatangi sebuah rumah yang lumayan besar dengan belasan pengawal di belakangnya.
"Periksa rumah ini!"ucap Alvaro dingin.
"Baik tuan."
"Tuan, kami menemukan seseorang."ucap salah satu pengawal dan mendorong tubuh seorang pria di hadapan Alvaro.
Alvaro berbalik lalu menatap nyalang"apa kau yang memakai mobil itu?"tanya nya.
Pria itu menunduk dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Alvaro menggeram kesal lalu menarik kerah baju pria itu.
"Kau tau apa kesalahan mu brengsek?!"tanya Alvaro dengan rahang mengetat.
"A-aku----"
"Kau menabrak putraku dan membuat istriku trauma sialan!!"Alvaro memukul wajah pria itu dengan kuat.
"Seret dia! Masukan kedalam mobil."ucap Alvaro, ia pasti akan membuat pria itu menyesal seumur hidup.
"Kembali kerumah sakit."ucap Alvaro pada pengawalnya.
"Baik tuan."
Alvaro harus memastikan istrinya baik-baik saja dan tidak melakukan apapun yang membahayakan dirinya.
Hana berlari menuju ruangan Bintang"dimana dokter itu?"tanya nya kesal.
Cklek~
Hana menarik jas dokter tersebut"bagaimana keadaan putraku?"tanya nya.
Dokter itu pun menunduk"putra mu mengalami pendarahan di kepala dan beberapa tulang rusuknya belakangnya patah."ucapnya.
Hana menutup mulutnya tidak percaya"kau tidak berbohong kan?"ucapnya marah.
Dokter tersebut menggeleng"putra mu sekarang kritis."ucapnya.
"Sialan!!"Hana mendorong tubuh dokter tersebut lalu ia memasuki ruangan dimana Bintang berada.
"Sayang."panggil Hana dengan suara parau.
Ia mendekati bankar Bintang dengan perlahan. Ia meringis saat melihat banyak luka bahkan selang pernafasan juga terpasang.
"Maaf, maafkan mommy."Hana mengenggam tangan Bintang lalu mengecup punggung tangannya.
"Please! Buka matamu."ucap Hana dengan pelan sambil menahan isakan yang akan keluar.
"Sayang."Hana menangis, ini semua salahnya.
Jika saja ia tidak memakai penutup telinga itu ia tidak akan membuat Bintang celaka.
Jika saja seperti itu mungkin Bintang selamat dan tetap bersamanya.
"Bintang, bangunlah."bisik Hana. Lalu ia menatap kearah layar di sampingnya.
Layar pendeteksi detak jantung berjalan dengan perlahan namun lama kelamaan detak jantung di layar tersebut semakin mengecil.
Hana menatap panik lalu ia teriak untuk memanggil dokter sambil terus mengenggam tangan Bintang.
"Jangan! Jangan tinggalkan aku."ucap Hana sambil terus menangis histeris.
Titt~
Titt~
Layar tersebut langsung menampilkan garis lurus membuat Hana semakin histeris.
"BINTANG!!"
"HANA!"
∆∆∆
Tbc