My Posessive Husband

My Posessive Husband
30.



Bintang menyelimuti tubuh Hana lalu ia mencium kening nya dan keluar dari ruangan tersebut.


Bintang menatap Alvaro yang duduk di depan ruangan Hana lalu ia duduk di samping Alvaro.


"Jangan paksa mom dulu dad, mommy butuh sendiri untuk memikirkan itu."ucap Bintang datar.


Alvaro yang semula menunduk lalu ia menatap Bintang"aku hanya bingung."ucapnya dengan nada pelan.


Bintang mengangguk"untuk sekarang biarkan mommy tenang dulu."ucapnya sambil berdiri.


Aksa dan Angkasa mengikuti Bintang dari belakang, mereka pun keluar dari rumah sakit meninggalkan Alvaro yang masih merenung sendiri.


Disisi lain...


"Kenapa kau tidak membujuk mommy? Aku tidak mau kehilangan mommy."ucap Angkasa lesu.


"Kau pikir aku mau?"ucap Bintang sambil menatap tajam.


"Kau yang paling dekat dengan mommy, kenapa kau tidak bisa membujuk mommy?"ucap Aksa.


Bintang berdecih"kau pikir itu mudah?"ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding.


"Jangan egois Bintang! aku tau kau juga menginginkan seorang adik. Tapi tidak bisa sekarang, kau tau kondisi mom--------"


"AKU TAU!"bentak Bintang membuat Aksa bungkam seketika sedangkan Angkasa terlonjak kaget mendengar bentakan Bintang.


Rahang Bintang mengetat"kau pikir itu mudah? Apa kau sudah memikirkan perasaan mommy? Apa kau sudah tau bagaimana resiko nya? APA KAU TAU?!"Bintang menarik kerah baju Aksa.


"Jawab sialan!!"bentak Bintang membuat Aksa bungkam. Lidah Aksa tampak kelu saat akan menjawab apa yang Bintang katakan padanya.


"Aku tau kau tidak mau kehilangan mommy, aku juga tidak mau. Kau pikir mudah membuat keputusan seperti itu, pikir bodoh!!"Bintang mendorong tubuh Aksa hingga terbentur dinding dengan kuat.


Aksa meringis saat Bintang mencekik lehernya"jangan karena kau saudara ku aku akan membiarkan mu mengatakan itu pada mommy."desisnya sambil menatap tajam Aksa.


Angkasa menarik tangan Bintang yang berada di leher Aksa"kau mau membunuh nya ya?"ucap Angkasa.


Bintang mendorong tubuh Aksa hingga tersungkur.


"Uhukkk....uhukkk"Aksa memukul dadanya yang terasa sesak.


Bintang menatap tajam"sekali lagi kau mengatakan itu apalagi sampai kau berkata pada mommy seperti itu aku tidak akan segan-segan membuat mu babak belur."ancamnya.


"Apa kau paham kata-kata ku?"ucap Bintang dingin.


"Jangan sampai aku mengulang perbuatan ku yang dulu padamu."sambung Bintang membuat Aksa menunduk takut.


"Itu berlaku untuk mu juga."ucap Bintang pada Angkasa.


Bintang kembali melangkah masuk kedalam rumah sakit masih dengan rahang yang mengetat, sungguh jika Aksa bukan saudaranya dengan senang hati ia akan membuatnya babak belur.


"Sialan!!"umpat Bintang sambil memukul dinding di sampingnya dengan kuat hingga tangannya membiru dan memerah.


∆∆∆


"Sayang."panggil Alvaro saat melihat Hana termenung sambil menatap jendela.


Hana tidak menoleh ia tetap menatap luar jendela membuat Alvaro menghela nafas pelan, ia tau Hana masih merajuk padanya.


Alvaro duduk di samping Hana sambil memeluk nya dari samping"apa kau tau jika kau mempertahankan bayi itu ia akan lahir dalam keadaan tidak normal?"bisiknya dan Hana pun tetap diam tanpa menjawab perkataan Alvaro.


Alvaro mengecup leher Hana"aku tau itu pilihan yang sulit, aku juga tidak mau kehilangan mu Hana."ucapnya.


"Mengertilah aku."bisik Alvaro sambil meletakkan kepalanya di ceruk leher Hana. Hana mengigit bibirnya menahan isakan yang akan keluar.


"Sebenarnya aku juga tidak mau kehilangannya, tapi aku harus memilih satu diantara kalian. Aku memilih mu Hana."ucap Alvaro, ia memeluk tubuh Hana dengan begitu erat.


"Aku sungguh mencintaimu, aku tidak mau kehilangan mu."ucap Alvaro dengan nada pelan.


Hana terisak lalu Alvaro memeluk tubuh Hana dengan erat dan memberikannya kecupan di kening.


"A-aku----"


"Shhh....masih ada waktu untuk memikirkan itu, aku harap pilihan mu tidak membuat ku kecewa Hana."ucap Alvaro sambil mengusap perut rata Hana.


Hana kembali menangis"jangan menangis sayang."bisik Alvaro, ia mengecup bibir Hana lalu kedua matanya.


Hana membalas pelukan Alvaro dengan erat.


"Maafkan aku."ucap Alvaro dengan lirih.


Bahkan Alvaro tidak tau akan melakukan apa lagi selain membujuk Hana, ia benar-benar takut kehilangan seorang yang ia cintai.


"Aku hanya tidak mau kehilangan mu, itu saja."Alvaro memejamkan matanya saat tau ia akan menangis. Jika ia menangis hanya akan memperkeruh suasana.


Sungguh ia tidak mau kehilangan Hana, ia harus merelakan bayi nya karena bagaimanapun bayi itu hanya akan menjadi berbahaya jika dibiarkan tetap hidup di dalam perut Hana.


"Istirahat lah."ucap Alvaro sambil mencium kening Hana.


"Aku akan keluar."Alvaro melepaskan pelukannya namun tangannya kembali ditarik Hana


"Tetap disini saja."lirih Hana.


Alvaro tersenyum tipis lalu ia berbaring di samping Hana dan memeluknya dengan erat.


"Aku mencintaimu."bisik Alvaro.


"Tidurlah, aku akan disini."Alvaro meletakkan kepalanya di atas puncak kepala Hana.


Hana meremas baju Alvaro sambil mengigit bibirnya agar tidak mengeluarkan isakan dan kembali membuat Alvaro khawatir padanya.


Hana harus merelakan nya, ia harus rela kehilangan bayinya, ia harus rela.


"Maaf Alvaro."lirih Hana dengan nada pelan.


"Maafkan aku."


∆∆∆


TBC