
Alvaro berdiri di depan ruangan Hana dengan perasaan yang tidak enak.
"Kenapa lama sekali?"ucap Alvaro kesal.
Cklek~
"Bagaimana keadaan istriku?"tanya Alvaro dengan cepat saat melihat Ervan sudah keluar dari ruangan Hana.
Begitu pula dengan ketiga putranya yang langsung berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat kearah Ervan.
"Kita bicarakan ini di ruangan ku."ucap Ervan namun Alvaro langsung menarik kerah baju Ervan.
"Aku mau sekarang Ervan."desis Alvaro dengan tatapan tajamnya.
"Lepaskan tangan mu dari baju ku."ucap Ervan kesal.
"Dad."Angkasa melepaskan tangan Alvaro yang berada di kerah baju Ervan.
"Sepertinya istrimu tidak bisa mempertahankan kandungan nya lagi."ucap Ervan membuat Alvaro membeku di tempat.
"Apa maksud mu?"ucap Alvaro sambil menatap tajam.
"Istrimu mengalami kehamilan ektopik dan itu sangat berbahaya jika di biarkan."ucap Ervan membuat Alvaro terdiam.
"Apa yang terjadi jika Hana tetap mempertahankan kandungan itu?"ucap Alvaro cemas.
"Kau akan kehilangan istrimu dan anak mu akan cacat jika di lahirkan."ucap Ervan membuat semuanya terdiam di tempat.
"Damn it!!"Alvaro memukul dinding di sampingnya.
"Jalan satu-satunya adalah mengeluarkan janin itu sebelum terlambat."ucap Ervan.
"Janin itu tidak menempel di rahim kalau Hana sampai mempertahankan bayi itu dia tidak akan baik-baik saja."sambung Ervan.
"Aku akan bicara pada Hana dulu."ucap Alvaro dengan suara parau.
Ervan menepuk bahu Alvaro"aku akan menunggu keputusan terbaik itu."ucapnya.
"Dad, aku tidak mau kehilangan mommy."ucap Angkasa dengan nada lesu.
"Aku juga."sahut Aksa.
"Aku mau keluar."ucap Bintang dingin lalu berjalan menjauh dari ruangan tersebut.
Alvaro menatap nanar kearah Bintang, dia yang paling dekat dengan Hana tentu saja kabar itu akan menjadi boomerang baginya.
Walaupun sikap Bintang terbilang sangat acuh dan dingin tapi jika itu berhubungan dengan Hana ia akan maju lebih dulu.
"Kalian temani Bintang, jangan sampai dia melakukan sesuatu."ucap Alvaro.
"Ok."Aksa berlari mengejar Bintang yang sudah jauh dari pandangannya.
"Aku mau menunggu mommy disini."ucap Angkasa.
Alvaro mengangguk"ayo temui mommy."ucapnya.
Alvaro memasuki ruangan Hana"sayang."panggil Alvaro.
Hana menoleh lalu tersenyum membuat hati Alvaro berdenyut nyeri melihat Hana yang masih tersenyum.
"Dimana yang lain?"tanya Hana.
"Mereka akan kembali."Alvaro mencium kening Hana.
"Kau menangis Alvaro?"tanya Hana bingung saat di puncak kepalanya ia merasakan sedikit basah dan hangat.
Alvaro memeluk tubuh Hana dengan erat sedangkan Angkasa berbalik ia tidak mau menangis di depan ibunya.
"Ada apa?"tanya Hana bingung.
"Hana, sepertinya kau tidak bisa mempertahankan kandungan ini lagi sayang."
∆∆∆
"Apa kau tidak mau masuk?"tanya Aksa.
Bintang menggeleng, ia tidak mau melihat Hana menangis sungguh jika dibandingkan dengan berkelahi maka ia lebih memilih untuk berkelahi dari pada melihat Hana menangis.
"Mom sedang membutuhkan mu."ucap Aksa.
Bintang memejamkan matanya lalu kembali membuka matanya dan berdiri dari duduknya. Sepertinya Hana memang benar-benar sedang membutuhkannya.
Bintang berlari dan kembali masuk kedalam rumah sakit disusul Aksa dari belakang yang nampak mengumpat karena melihat Bintang yang meninggalkan nya begitu saja.
Disisi lain...
"Itu tidak benar kan?"ucap Hana saat ia mendengar penjelasan Alvaro.
"Itu benar sayang."ucap Alvaro dengan nada pelan.
Hana menarik baju Alvaro"itu tidak benar kan?! Aku tidak mungkin mengugurkan kandungan ini."ucapnya histeris.
"Dengarkan aku----"
"Tidak! Aku tidak mau mengugurkan nya."ucap Hana dengan nada marah.
"Dengarkan aku dulu----"
"Tidak!!"Hana menutup kedua telinganya, ia tidak mau mendengar penjelasan apapun.
"HANA!!"bentak Alvaro membuat tubuh Hana tersentak.
Alvaro langsung memeluk tubuh Hana dengan erat lalu menciumi puncak kepala Hana.
"Maaf."bisiknya membuat Hana menangis histeris.
"Aku tidak mau!"ucap Hana.
"Aku juga tidak mau, tapi kalau tidak kau gugurkan dia juga akan cacat saat lahir nanti Hana."ucap Alvaro.
"Aku juga tidak mau kehilangan mu."sambung Alvaro sambil menitihkan air mata.
"Aku tidak mau."ucap Hana dengan suara parau.
"Aku tidak mau kehilangan mu Hana, jangan egois!"ucap Alvaro marah.
"Aku hanya mau anak ku Alvaro."Hana mendorong tubuh Alvaro.
"Aku hanya mau dia."sambung Hana sambil terus menangis.
"Lalu kau akan meninggalkan ku, lebih baik aku mati dari pada hidup tanpa dirimu."ucap Alvaro dingin.
Alvaro kembali memeluk tubuh Hana"kita harus merelakan nya sayang."bisiknya.
"Hiks."Alvaro memejamkan matanya menahan agar air matanya tidak turun lagi.
"Aku tidak mau!"ucap Hana dengan nada pelan.
"Itu akan berbahaya bagi mu Hana, aku tidak mau kehilangan mu. Apa kau tidak paham kata-kata ku?!"Alvaro memegang kedua pundak Hana.
Alvaro menghela nafas kasar sambil memijat pelipisnya, ia tidak tau harus melakukan apa lagi.
Brakk~
Pintu ruangan terbuka dengan kasar terlihat Bintang yang datang dengan nafas memburu lalu ia berjalan mendekati Hana dan memeluknya dengan erat.
"Mom, im here."bisik Bintang sambil memeluk tubuh Hana.
"Jangan menangis lagi mom."
∆∆∆
TBC