My Posessive Husband

My Posessive Husband
9.



Hari demi hari,bulan demi bulan sudah di lalui kini kandungan Hana berusia tujuh bulan.


Perutnya yang rata kini sudah begitu besar hingga membuatnya kesulitan berjalan atau menunduk mengambil sesuatu.


Ia sangat tidak sabar menantikan kehadiran tiga calon bayinya,Hana tersenyum membayangkan rumahnya akan begitu ramai.


"Sudah mendingan?"tanya Alvaro,ia sedang memijat kaki Hana.


Hana mengangguk"iya,sudah"ucapnya.


Alvaro langsung menggendong tubuh Hana dan memasuki mobil hitam miliknya.


"Huh,aku tidak menyangka kau akan seberat ini sayang"ucap Alvaro.


Hana langsung memukul lengan Alvaro dengan kesal.


"Kau mengatai aku gendut?"ucap Hana kesal.


"Tidak juga,aku hanya ingin berkata kau sedikit berisi"ucap Alvaro.


Hana mencubit lengan Alvaro dengan keras hingga membuatnya mengaduh kesakitan.


"Sakit sayang"ucap Alvaro sambil meringis dan mengusap lengannya.


"Tapi walaupun kau sedikit berisi kau tetap begitu menggairahkan dan seksi"sambung Alvaro dengan jahil.


"ALVARO!!"


Alvaro tertawa lepas lalu ia mengusap rambut Hana dengan pelan"aku bercanda sayang"ucapnya.


"Huh!"Hana membuang muka kearah jendela,ia malas dan sedikit kesal dengan Alvaro.


Entah kenapa sifatnya kini terlalu sensitif walau hanya kejadian yang sepele saja.


"Ok,ayo kita kerumah sakit"ucap Alvaro.


Alvaro mengusap perut Hana yang membuncit dengan sebelah tangannya sedangkan tangan yang satunya fokus memegang stir.


Duk'


Alvaro menghentikan usapannya karena merasakan tendangan dari perut Hana.


"Menendang lagi"ucap Alvaro sambil tersenyum.


"Apa sakit?"tanya Alvaro sambil memandang Hana dengan khawatir.


"Aku tidak apa-apa,ini sudah biasa bukan"ucap Hana sambil tersenyum agar tidak membuat Alvaro khawatir.


Selang beberapa menit akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit,seperti biasanya hari ini Hana akan memeriksa kembali kandungannya.


"Pelan-pelan"ucap Alvaro sambil memapah Hana lalu ia menggenggam tangan Hana.


Cklek~


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu lebih dahulu?!"tanya kesal Ervan.


Alvaro mengangkat bahunya tidak peduli"lalu?"tanya nya.


Ervan menggertakan giginya melihat tingkah Alvaro yang selalu membuatnya kesal.


"Ada apa?"tanya Ervan.


"Aku ingin memeriksa kondisi kandungan istriku"ucap Alvaro.


Ervan mengangguk paham"berbaringlah Hana"ucapnya.


Hana pun berbaring perlahan di bankar dengan dibantu Alvaro.


Ervan menyibakkan baju Hana sebatas perut lalu mengoleskan gel di sekitar perut Hana.


Ervan mulai memeriksa kandungan Hana,Alvaro mengamati serius apa yang ada di layar.


"Anak kalian sehat,detak jantungnya normal,tidak ada kelainan apapun"ucap Ervan.


"Lalu apa jenis kelamin nya sudah bisa di lihat?"tanya Hana.


"Coba aku lihat"ucap Ervan,ia memutar-mutar alat tersebut di sekitar perut Hana.


"Sudah,anak kalian laki-laki."


∆∆∆


Ervan mengangguk sambil menatap layar"tiga anak kalian berjenis kelamin laki-laki"ucapnya.


"Oh god,aku senang mendengarnya"ucap Alvaro.


"Sepertinya bibit mu memang yang paling handal"ucap Ervan dengan gurauan.


"Tentu saja"ucap Alvaro sambil membusungkan dadanya.


Hana menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alvaro yang masih seperti itu dari dulu.


"Tapi Hana"ucap Ervan membuat Hana langsung menatapnya.


"Kenapa?"tanya Hana bingung.


"Siklus kelahiran bayi kembar kebanyakan akan lahir sebelum bulan nya"ucap Ervan.


"Jadi maksud mu aku bisa melahirkan dengan prematur?"ucap Hana.


Ervan mengangguk membuat Hana menatap khawatir kearah perutnya.


"Apa bayi ku baik-baik saja jika seperti itu?"tanya Hana khawatir.


"Tenang saja,jangan khawatir. Bayimu akan baik-baik saja"ucap Ervan.


"Yang harus kau pikirkan adalah kau memilih proses jalan lahiran si jabang bayi"sambung Ervan.


"Aku ingin melahirkan secara normal"ucap Hana dengan semangat.


"Dengarkan aku dulu Hana,memang tidak salah kau memilih proses persalinan secara normal tapi itu memiliki resiko sangat besar"ucap Ervan.


"Kenapa?"tanya Hana.


"Karena itu harus membutuhkan tenaga yang begitu besar mengingat kau akan melahirkan tiga bayi sekaligus walau hanya selisih beberapa menit"ucap Ervan.


"Tapi aku ingin melahirkan secara normal"ucap Hana lesu.


Alvaro mengusap kepala Hana dengan pelan"apa sangat beresiko sekali?"tanya nya.


Ervan mengangguk"jika Hana tidak kuat melahirkan ketiga anaknya,ia akan kehilangan nyawa"ucapnya.


Alvaro langsung pucat pasi,ia menggenggam tangan Hana"kita bisa memilih proses persalinan secara sesar"ucap nya.


"Tapi aku ingin melahirkan secara normal"ucap Hana sedih.


"Please Hana! Itu sangat beresiko,aku tidak ingin kehilanganmu"ucap Alvaro.


Hana menunduk lesu,ia ingin merasakan seperti apa melahirkan secara normal,ia ingin merasakan seperti apa bernafas lega setelah melahirkan.


"Kalian bisa memikirkan terlebih dahulu,langkah mana yang ingin kalian ambil"ucap Ervan.


"Hana yang sekarang kau pikirkan kemungkinan besar kau akan melahirkan bulan depan,kau harus menyiapkan semuanya"sambung Ervan.


Hana mengangguk lalu tersenyum tipis"iya,terima kasih Ervan"ucapnya.


Ervan mengangguk lalu ia membersihkan perut Hana dengan tisu dan membereskan semua alat-alat miliknya.


"Hana jangan khawatir,melahirkan secara sesar pun membutuhkan tenaga walau tidak sebanyak melahirkan secara normal"ucap Ervan.


"Kau harus rajin-rajin olahraga dan memakan makanan penambah tenaga . Jika kau benar-benar ingin melahirkan secara normal,kau harus memiliki banyak tenaga"ucap Ervan.


Hana mengangguk dengan semangat, walaupun beresiko tidak ada salahnya mencoba bukan?


"Apa kau yang akan membantu proses persalinan secara normal?"tanya Alvaro dengan sedikit kesal.


Ervan menggeleng"bukan aku"ucapnya.


"Syukurlah,aku tidak perlu khawatir karena kau menyentuh Hana"ucap Alvaro sambil bernafas lega.


Ervan menatap datar"kau mau mati ya?!"


∆∆∆


TBC