My Posessive Husband

My Posessive Husband
27.



"mommy, hari ini temani aku ya."ucap Aksa.


"Tidak boleh, mommy akan menemani ku bukan kau."ucap Angkasa.


Aksa menggeram kesal sedangkan Angkasa hanya memeletkan lidahnya kearah Aksa. Hana hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka yang selalu saja bertengkar di hadapannya.


"Aku dulu!"ucap Aksa sambil menggandeng tangan Hana.


"Aku, bukan kau!"seru Angkasa sambil menggandeng tangan Hana yang satu lagi.


"Kau---"


"Sayang tangan mommy bisa sakit kalau kalian berdua menariknya seperti itu."ucap Hana.


"Mommy, kau akan pergi bersama ku kan?"rengek Angkasa.


"Tidak-----"


"Minggir!!"Bintang mendorong tubuh Aksa dan Angkasa agar menjauh dari Hana.


"Aduh!!"Aksa dan Angkasa tersungkur sambil memegang bokong mereka yang terasa sakit karena menyentuh lantai dengan kasar.


"Kalian menyakiti mommy."ucap Bintang dingin sambil mengusap tangan Hana.


"Sayang, tidak boleh kasar seperti itu."ucap Hana sambil mengusap rambut Bintang.


"Ayo mom. Jangan pedulikan mereka."ucap Bintang sambil menarik tangan Hana menuju kamarnya.


"Tidur lah mom, sudah siang."ucap Bintang sambil tersenyum tipis.


Hana tersenyum"terima kasih sayang."ucapnya.


Bintang mengangguk lalu kembali turun menemui saudaranya yang mungkin sedang merajuk padanya.


"Kau curang! Aku hanya ingin mommy menemani ku jalan-jalan."ucap Angkasa kesal, ia duduk di sofa.


"Aku juga."sahut Aksa dengan nada kesal.


"Jangan manja!"Bintang menatap tajam.


"Apa kalian tidak tau mommy butuh istirahat? Egois."ucap Bintang dingin.


"Kalau kalian ingin pergi, pergilah dengan kekasih kalian."sambung Bintang.


Aksa dan Angkasa saling memandang"kami tidak memiliki kekasih."ucap Angkasa.


"Carilah gadis yang bisa kalian ajak untuk jalan-jalan."Bintang berjalan menuju kamarnya.


"Menyebalkan!"gerutu Aksa.


"Gadis? Siapa yang bisa aku ajak untuk jalan-jalan?"tanya Angkasa.


Aksa mengangkat bahunya"tidak tau, carilah sendiri."ucapnya datar.


Angkasa berdecih"kau pun sama saja menyebalkan seperti Bintang."ucapnya.


"Aku dengar itu!"sahut Bintang membuat Angkasa terdiam di tempat.


Aksa menahan tawanya sambil memandang Angkasa dengan tatapan remehnya.


"Rasakan itu!"gumam Aksa.


"Apa telinganya begitu terdengar jelas? Seperti telinga tikus saja."ucap Angkasa merinding sambil mengusap kedua bahunya.


"Bagaimana kalau kita pergi berdua saja?"tanya Angkasa.


Aksa berdecih"aku tidak ingin dianggap kelainan karena jalan bersama mu."celetuknya .


Angkasa menatap melotot kearah Aksa"hey bodoh! Kau pikir aku mau, aku juga tidak mau di anggap sebagai penyuka sesama jenis."ucapnya.


Aksa mengangkat bahunya tidak peduli lalu berjalan menuju kamarnya"kalau begitu carilah gadis untuk kau kencani, jangan aku. Aku ini masih normal tau."ucapnya.


"Sialan!!"Angkasa melempar bantal sofa kearah Aksa.


"Aku juga normal Aksa sialan!!."


∆∆∆


Alvaro baru saja keluar membelikan makanan untuk Hana dan anak-anaknya. Alvaro melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke rumahnya.


Alvaro baru saja membuka pintu namun sebuah bantal mendarat di wajahnya membuat dirinya terkejut bukan main.


"Siapa yang melakukan ini?"tanya Alvaro datar.


Aksa dan Bintang menunjuk kearah Angkasa dengan tatapan tidak berdosa mereka.


Angkasa mendelik melihat saudara kembarnya malah memojokkan dirinya.


"Aku tidak sengaja."ucap Angkasa.


"Tidak ada jatah makanan untuk mu."ucap Alvaro datar.


"DADDY!!"teriak Angkasa.


"Dimana mommy kalian?"tanya Alvaro.


"Aku disini."ucap Hana sambil membawa nampan berisi minuman.


"Aku membeli ikan bakar untuk mu."ucap Alvaro sambil mengecup kening Hana.


"Kami juga mau!!"sahut Angkasa dan Aksa.


Bintang hanya sibuk membuka buku sambil memakan cemilan buatan Hana.


Alvaro mendengus, ia pun mengangguk"ini makan lah."ucapnya sambil memberikan kotak makanan.


Hana merasa pusing saat dirinya mencium bau dari masakan tersebut, biasanya ia akan baik-baik saja mencium wangi ikan bakar namun kali ini ia merasa ingin muntah.


"Sayang"panggil Alvaro sambil menepuk pundak Hana.


Hana mengerjapkan matanya lalu ia menutup mulutnya dan berlari menuju kamar mandi meninggalkan Alvaro yang kini menatapnya khawatir.


"Kalian tunggu disini."ucap Alvaro.


Mereka mengangguk lalu Alvaro menyusul Hana yang kini sedang berada di dalam kamar mandi.


"Ada apa dengan mommy?"tanya Angkasa bingung.


Aksa menggeleng"aku juga tidak tau, apa mommy sakit?"tanya nya.


Bintang menutup bukunya,"mungkin hanya masuk angin."balasnya.


Aksa dan Angkasa mengangguk setuju"mungkin saja."ucap Aksa.


Alvaro menatap Hana yang kini sedang memegang wastafel, ia pun berjalan mendekat sembari memijat tengkuk Hana.


"Jangan kesini Alvaro! Ini menjijikan"ucap Hana.


"Tidak apa-apa."balas Alvaro sambil mengumpulkan anak rambut Hana.


"Apa sudah mendingan?"tanya Alvaro.


Hana mengangguk"aku tidak apa-apa, mungkin aku hanya masuk angin saja."ucapnya.


"Apa kau sudah makan tadi sayang?"tanya Alvaro sambil membersihkan sudut bibir Hana.


Hana mengangguk"aku sudah makan."ucapnya.


Alvaro teringat sesuatu"kapan terakhir kali kau datang bulan?"tanya nya.


Hana terdiam"apa maksud----tunggu dulu."ucapnya sambil menatap Alvaro.


Ia pun menatap kalender yang menempel di dinding lalu menghitungnya.


"A-aku telat tiga minggu."ucap Hana terkejut.


"Ini, kau coba sayang."ucap Alvaro sambil memberikan test pack untuk Hana.


Hana mengangguk lalu Alvaro menunggu harap-harap di depan kamar mandi.


Tak lama kemudian Hana pun keluar dengan membawa test pack di tangannya.


"Bagaimana?"tanya Alvaro penuh harap.


"Aku positif hamil Alvaro."


∆∆∆


TBC