My Posessive Husband

My Posessive Husband
37.



Bintang tampak sibuk melukis di kanvas nya. Tampak tengah menggambar seorang anak kecil di tengah Padang rumput.


Hana menghela nafas pelan, sepertinya Bintang benar-benar menginginkan seorang adik perempuan.


"Sayang," panggil Hana pada Bintang.


Bintang menoleh sekilas lalu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Hana mengusap rambut Bintang. "Kau menggambar apa sayang?" tanya Hana.


"Hanya iseng menggambar saja," balas Bintang singkat lalu ia menyimpan kuasnya kembali.


"Ada apa mom?" tanya Bintang.


"Ayahmu menyuruhmu untuk turun," ucap Hana.


Bintang mengangguk lalu ia berdiri dan berjalan beriringan dengan Hana menuju ruang tamu.


"Ada apa dad?" tanya Bintang.


Alvaro menoleh. "Apa kau mau berlibur? Kita semua pergi berlibur," ucapnya.


Bintang terdiam lalu mengangguk. "Memangnya kita akan berlibur kemana?" tanyanya.


"Beberapa hari di Indonesia dan dua hari di Rusia, bagaimana? "tanya Alvaro.


Bintang mengangguk pelan. "Aku ikut saja," balasnya singkat.


"Akhir,nya sekian lama kita pergi berlibur juga," ucap Angkasa dengan heboh.


Bintang memutar bola matanya dengan malas lalu ia menghidupkan tv namun remote ditangannya langsung diambil alih oleh Aksa.


"Mom, kemarin ada dua gadis yang menyatakan perasaan nya pada Bintang," ucap Aksa.


Hana menatap Bintang. "Benarkah? Apa kau menerima salah satunya?" tanya nya.


"Tidak semuanya," balas Bintang datar.


Alvaro menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Bintang persis seperti dirinya waktu masih muda.


"Kenapa?" tanya Angkasa penasaran.


"Kau kira aku akan menerima gadis yang begitu heboh seperti itu?" Bintang kembali merebut remote ditangan Aksa.


"Tapi mereka cantik," ucap Aksa.


"Aku tidak peduli," ucap Bintang dingin.


Hana menatap Alvaro yang kini tampak terkekeh melihat kelakuan putranya.


"Kapan kita akan pergi?" tanya Angkasa.


"Besok," balas Alvaro, mereka semua pun mengangguk.


"Daddy, Aksa memiliki kekasih," seru Angkasa dengan heboh.


Aksa melotot kearah Angkasa. "Tidak. Jangan percaya padanya," ucapnya.


"Kalau pun kau punya tidak apa-apa sayang," balas Hana.


Aksa menggeleng tidak setuju. "Aku tidak memiliki kekasih," ucapnya.


Angkasa menatap ledek kearah Aksa. "Lalu siapa gadis yang kau bonceng itu?" tanya nya.


Aksa memukul kepala Angkasa. "Dia bukan kekasihku bodoh!" umpatnya.


Angkasa meringis lalu mengusap kepalanya. "Kenapa begitu kesal? Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya," ucapnya.


"Kau mau mati?" tantang Aksa.


"Ay---"


"Aku mau menonton dengan tenang," ucap Bintang datar. "Kalau kalian ingin berkelahi masih ada taman belakang,"


Aksa dan Angkasa berdecak kesal sedangkan Bintang kembali duduk didepan tv dan fokus menatap nya.


"Anakmu galak sekali," ucap Hana sambil meringis.


Alvaro tertawa pelan. "Anakmu juga sayang,"


∆∆∆


Alvaro memeluk tubuh Hana dari belakang. Kini Hana sibuk memasak di dapur sedangkan kedua putranya sibuk bermain PlayStation berbeda dengan Bintang yang sibuk dengan bukunya.


"Aku merindukanmu," bisik Alvaro.


"Kita selalu bertemu Alvaro," ucap Hana sambil sibuk memotong bahan masakan.


Alvaro terkekeh pelan. "Aku tidak bosan jika terus bersamamu," ucapnya.


Alvaro mengecup leher Hana. "Aku tidak sengaja melihat isi buku catatan Bintang, sepertinya dia benar-benar menginginkan seorang adik," ucapnya.


Hana menghela nafas. "Iya, sepertinya memang begitu," ucapnya.


"Lalu? Apa kau siap untuk mengandung lagi?" tanya Alvaro sambil memeluk leher Hana.


"Kenapa tidak?" tanya Hana.


Alvaro tersenyum senang. "Aku kira kau akan terus murung sayang," ucapnya.


Hana tersenyum tipis. "Aku tidak seperti itu," ucapnya.


Alvaro mengecup puncak kepala Hana. "Tentu saja karena kau adalah wanita yang kuat," ucapnya.


"Dan kau adalah istriku, milikku. Kau adalah wanita yang sangat aku cintai," bisik Alvaro.


"Aku juga," balas Hana.


Alvaro mengecup pipi Hana. "Jangan pergi dariku Hana atau aku akan hancur," ucapnya.


"Iy----"


"Daddy! Jangan berpacaran disini," teriak Angkasa.


Alvaro mendengus lalu ia melepas pelukannya dan menatap tajam kearah Angkasa.


"Cari gadis untuk menjadi kekasihmu, agar kau tidak menggangguku lagi," ucap Alvaro.


Angkasa menatap bingung. "Apa aku juga bisa melakukan seperti daddy? Mencium dan memeluk sesuka hati?" ucapnya.


Alvaro menepuk keningnya, ia lupa jika putranya yang satu ini sangat begitu polos. Sama saja dengan Aksa, mereka berdua sama. Kecuali Bintang  walaupun dia tidak begitu banyak bicara namun putranya itu tau apa saja.


Hana terkekeh. "Kau bisa melakukannya sayang, kalau kau sudah menikah nanti," ucapnya.


"Aku ingin memiliki seorang istri seperti mommy. Cantik dan baik," ucap Angkasa dengan semangat.


Alvaro melempar sapu tangan kearah wajah Angkasa. "Belajar yang benar dulu bocah!" ucapnya.


Angkasa memeletkan lidahnya. "Aku tidak mau seperti daddy yang begitu galak, aku mau menjadi pria yang baik hati," ucapnya.


"Katakan sekali lagi?!" tantang Alvaro yang siap untuk melempar sendok kayu kearah Angkasa.


"Aku tidak mau seperti daddy yang begitu menyebalkan," Angkasa langsung berlari sebelum sendok yang berada di tangan Alvaro terlempar kearahnya.


"ANGKASA!!"


∆∆∆


TBC