
Pagi ini...
Aku terbangun dari tidurku, dan melihat mbok Warti masih tidur di kursi, mungkin dia kelelahan menjagaku. Aku tidak tega membangunkannya. Seperti biasa aku mandi dan memakai seragam sekolahku.
" Mbak Naima sudah bangun, maaf mbok kesiangan, aduh mbok belum masak" kata mbok Warti sedikit menyesal.
" Hari ini kita beli makanan di luar saja, saya akan menelepon pak Gun untuk membelikan makanan" jawabku.
"Tidak usah nak, pak Gun tidur disini"
"Sebenarnya apa yang terjadi ?" tanya mbok.
" Tidak apa-apa mbok" jawabku.
Aku tidak ingin menceritakan apapun, aku tidak mau aku dianggap sedang berhalusinasi atau semua ini adalah khayalan anak kecil. Jadi aku tidak menceritakan apapun dan memilih diam.
"Mbok ,ayo kita temui pak Gun" kataku bersemangat .
Aku menggandeng tangan mbok, kami berjalan menuruni satu persatu anak tangga dan menuju ke kamar tempat pak Gun sedang beristirahat.
Tok....tok...tok...
Aku mengetuk pintu kamar, lalu pak Gun membukakan pintu kamar. Dia sudah kelihatan bersih dan rapi, kemudian aku meminta tolong kepadanya untuk membeli makanan untuk kami berempat. Pria paruh baya itu menganggukkan kepalanya dan pergi membeli makanan, kali ini dia memilih menaiki motor karena lebih nyaman.
Hanya 15 menit, ia sudah kembali dengan membawa makanan untuk kami berempat. Kami makan bersama dan bercanda seperti layaknya keluarga sendiri. Setelah makan dia mengantar aku ke sekolah.
"Aku tidak mau naik mobil, aku mau naik motor saja" kataku.
?
"Ibu Ningsih akan marah kalau kamu naik motor nak" jawab mbok Warti menasehati.
"Kenapa semua selalu dilarang, apa salahnya kalau aku naik motor mbok" sanggahku.
"Ibumu tidak ingin kamu terluka nak!" kata mbok Warti menegaskan.
"Aku baik-baik saja mbok" kataku meyakinkan.
Aku berhati lembut, tetapi aku juga keras kepala. Hari ini aku berangkat ke sekolah dengan naik motor, hembusan angin menerpa tubuhku, aku merasakan ini seperti aroma kebebasan untukku, merasakan hangatnya cahaya matahari menyentuh kulitku. Sesampainya di depan pintu gerbang sekolah, aku mencium tangan pak Gun, semua temanku menatapku dan aku tidak peduli.
Hari ini, aku menghadapi ulangan harian matematika tanpa persiapan sama sekali, akhir-akhir ini aku juga jarang untuk belajar di rumahku karena beberapa kejadian yang sangat menyita energiku .
Kriiiiiinggggg....
Bel masuk telah berbunyi, seperti biasa sebelum pembelajaran di kelas di mulai, kami melakukan doa bersama dan setelah itu ibu Dina menyodorkan soal ulangan kepada semua siswa.
"Jangan ada yang mencontek, jika sampai ketahuan mencontek akan ibu hukum! " kata ibu Dina memperingatkan.
Aku bersyukur karena aku memiliki daya ingat yang bagus untuk mengingat semua rumus, dengan mudah aku mengerjakan semua soal dengan cepat. Aku menyelesaikan tugas lebih awal. Ibu Dina menyuruhku untuk beristirahat lebih dulu. Aku mengambil komik kesukaanku dan aku keluar kelas untuk duduk di taman di depan kelasku.
Ini pertama kalinya aku duduk di taman di depan kelasku, lumayan sejuk udaranya. Aku duduk diatas bangku di bawah pohon yang rindang dan aku membaca komik kesukaanku.
" Sedang apa kakak di situ?"suara itu bertanya kepadaku, aku menoleh ke arah suara, seorang anak kecil sedang bergelantungan di atas pohon.
"Hei, kamu turun! " kataku pada anak itu.
"Waow ...keren...cepat sekali kamu turun ke bawah" kataku memujinya.
"Akukan hantu kak" kata anak itu.
Anak itu berjalan mengelilingiku dan matanya memandangku dari bawah sampai keatas.
" Hiiiii......takut deh!" sambil menutup matanya.
"Hei, buka matamu! Seharusnya yang takut itu aku bukan kamu" kataku membela diri.
Hantu anak kecil itu lalu membuka matanya.
"Di dalam tubuh kakak itu, kenapa bisa ada banyak arwah, bukankah itu menakutkan?" ujar hantu kecil itu sambil melangkah mundur menjauhiku.
" Hei, loe sini duduk di samping gue " kataku sok gaul.
" Ok kakak, aku OTW kesana."
Dan hanya sekejap mata dia sudah duduk di sampingku
"Kamu hantu gaul ya? " tanyaku seenaknya.
"Gak juga kak, tetapi aku bisa gaul juga kok, aku sudah bergentayangan selama beberapa tahun" jawab hantu kecil itu dengan percaya diri.
Akupun mulai bercakap -cakap dengannya. Aku akhirnya tahu bahwa hantu kecil itu bernama Olla.
"Oooo....namamu itu Ollaf" seenaknya aku berkata kemudian aku tersenyum ke arahnya.
"Bukan Ollaf, tapi Olla" sanggah hantu kecil itu dengan nada kesal .
"Hahahahaha...." Aku tertawa lepas, wajah hantu kecil itu nampak lucu sekali.
Bel istirahat berbunyi, semua siswa keluar kelas dan beristirahat. Sedang aku memilih masuk ke dalam kelas untuk mengambil bekal makan siangku yang sengaja dibelikan pak Gun tadi pagi. Akupun makan dan Olla hanya tersenyum sambil memandangiku, hari ini adalah hari yang lucu bagiku, aku bertemu dengan hantu kecil dan baik.
" Kak, aku ingin menjadi temanmu karena kalau aku tetap berkeliaran, orang-orang jahat akan menggunakan aku untuk perbuatan keji" kata Olla memohon kepadaku.
"Orang-orang jahat? Apa maksud ucapanmu Olla? " tanyaku bingung.
" Mereka yang linuwih itu lo kak, kadang mereka menggunakan arwah untuk berbuat santet atau lainnya " jawab Olla dengan polos. Aku menatap hantu kecil itu dengan seksama.
" Olla kenapa kamu bisa meninggal, apa yang sebenarnya terjadi? " tanyaku kepadanya.
"Aku meninggal saat usiaku 5 tahun kak, saat aku kecil ayahku menikah dengan seorang wanita kak, tetapi wanita itu tidak menyayangiku kak, setiap ayahku bekerja aku selalu disiksa " jawabnya sambil menangis terisak -isak. Mendengar ceritanya, aku menjadi tidak selera makan, lalu aku menghentikan tanganku mengambil makanan dan aku menutup bekal makananku.
Olla melanjutkan ceritanya.
"Ayahku tidak percaya padaku atau berusaha untuk mencari suatu kebenaran, dia lebih percaya pada ucapan istrinya itu.Terus karena aku tidak tahan aku lari dari rumah kak, saat itu aku sedang sakit demam, ibu tiriku tidak merawatku, kadang dia tidak memberiku makanan dan selalu menjadikanku alat pelampiasan kemarahannya. Aku berada di pohon itu karena itu adalah tempat di mana aku menghembuskan napas terakhirku, tepat di mana kakak duduk tadi" kata Olla dengan wajah sedih.
Hatiku merasa sedih, seorang anak kecil harus menjadi korban untuk kesalahan orang tuanya, seorang anak yang seharusnya mendapatkan kasih sayang tetapi malah hidupnya harus berakhir tragis. Aku memeluk Olla kecil itu, hantu kecil yang nampak manis di mataku, dia tersenyum dan mulai saat ini aku mengijinkan Olla untuk selalu bersamaku. Bel masuk kemudian berbunyi semua temanku berlarian masuk ke dalam kelas,karena pelajaran akan dimulai, kali ini Olla duduk di atas mejaku dan memperhatikan diriku yang sedang mengikuti pelajaran di dalam kelas.
Olla adalah hantu kecil yang manis dan lucu, tingkahnya tidak jauh beda seperti anak kecil yang berusia 5 tahun, Olla juga suka bermain, aku sempat melihat dia mempermainkan bola globe yang ada di atas lemari, diputar-putarnya bola globe itu, karena semua siswa fokus memperhatikan penjelasan guru sehingga tidak ada seorangpun yang melihat kejanggalan itu.
ini bukan cerita plagiat ya guys,ini karya saya sendiri makasih :)