MY name is Naima

MY name is Naima
Kecemasan ibu Ningsih



Dua hari kemudian,......


Aku mengerjapkan mataku,kepalaku masih terasa sangat sakit. Ini pasti akibat benturan itu.


Ketika aku tersadar,aku telah berada diruang perawatan . Aku berada disebuah kamar di Rumah Sakit.


"Ibu ...." kataku lirih memanggil ibuku. Aku melihat ibuku telah berada diruangan kamarku dan tertidur diatas sofa, begitupun mbok Warti.


Aku melihat ibu dan mbok Warti tertidur dengan lelap,aku tidak ingin membangunkan mereka,tanpa aku sadari air mataku menetes, bukan karena aku sedih,tetapi karena bahagia karena ibu ada disini,disaat yang tidak tepat.


Tok..tok ..tok.....


Suara pintu diketuk dari luar .Suara itu membangunkan ibu dan mbok Warti. Tiba-tiba seorang perawat masuk kedalam ruangan kamarku dimana aku dirawat.


"Maaf bu,saya ingin melihat kondisi pasien" kata perawat itu


Lalu berjalan kearahku.


" Syukurlah adik sudah siuman,kata perawat itu kepadaku.


"Naima,kenapa ini bisa terjadi? " kata ibuku dengan cemas


"Aku tidak apa-apa bu" kataku lirih


"Sebentar dik,saya akan memeriksa kondisi kesehatanmu" kata perawat itu


Lalu dia mulai memeriksa kesehatanku.


"Apa besok saya boleh pulang mbak" kataku kepada perawat itu


"Saya akan tanyakan pada dokter ,apa adik besok boleh pulang atau belum" kata perawat itu.


Setelah selesai memeriksaku,perawat itu meninggalkan ruanganku.


Aku melihat ibu mengambil kursi dan dan meletakkannya disamping tempat tidurku.Lalu ibu duduk dan menatapku tajam


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya ibu kepadaku


"Ibu,aku tidak apa-apa ,lihat aku baik-baik sajakan" jawabku,aku berusaha untuk meyakinkan ibu bahwa aku baik-baik saja,aku berusaha agar ibu tidak cemas dengan keadaanku.


"Baik-baik saja ,bagaimana bisa kamu berkata bahwa kamu baik-baik saja,kamu sadar tidak ,karena lukamu itu kamu tidak sadarkan diri ,karena lukamu itu kamu harus menerima beberapa jahitan,untung tulang kepalamu tidak retak" kata ibu dengan sedikit marah. Lalu ibu berkata " Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu?"


Aku hanya terdiam,aku tidak berani berkata apa-apa.


Tiba-tiba pintu diketuk dari luar.


Ternyata Angga ,Devanno dan Sinta datang menjengukku.


Ibu bertanya kepada temanku.


"Apa kalian teman Naima? "


"Iya bu,kami teman Naima " kata Devanno ,lalu aku melihat Devanno mencium tangan ibuku dan disusul temanku yang lain,mereka mencium tangan ibu sebagai tanda hormat .


"Bagaimana kondisimu Naima?" tanya Devanno


"Aku tidak apa-apa" jawabku berusaha meyakinkan Devanno bahwa kondisiku baik-baik saja


" Hem...selalu berkata bahwa dirimu baik-baik saja" ujar Devanno sambil menggelengkan kepalanya.


"Meski kamu terluka parah,kamu pasti akan mengatakan kamu baik-baik saja" ujar Devanno


"Naima bagaimana keadaanmu?" tanya Angga


"Lihat ,aku baik-baik saja kan?" kataku lalu tersenyum,walau aku merasakan sakit sekali pada kepala dan tubuhku.


"Sebenarnya apa yang terjadi dik?" tanya ibuku pada Devanno


Dan seperti yang aku duga,Devanno pasti menceritakan yang sebenarnya. Dan benar,Devanno menceritakan semua kejadiannya secara mendetail.


Mbok Warti nampak sedikit takut mendengar cerita Devanno dan tiba-tiba wajah ibu nampak menahan amarah,kesal ,sedih dan seluruh rasa bercampur aduk dalam hatinya.


" Naima,kenapa kamu selalu peduli dengan keselamatan orang lain?" ujar ibu.


"Lihat dirimu,jika sesuatu yang buruk terjadi padamu? Bagaimana dengan ibumu?" kata ibu


Dari nada suara dan expresi wajah ibu,aku bisa merasakan ibu sedang marah. Dia marah karena dia sayang padaku. Hari demi hari aku merasa ada sedikit perbedaan dari sikapnya,ibu lebih peduli padaku. Aku tahu ibuku menyayangiku dengan cara yang berbeda.


Tanganku meraih tangan ibu yang berdiri disampingku. Ibu menoleh kearahku. Aku melihat mata ibu berkaca-kaca.


"Maaf ibu" ujarku pelan


Ibu memelukku dan menangis.


"Ibu yang salah Naima,jika ibu tidak melibatkanmu,semua ini tidak akan terjadi" ujar ibu dengan sedih


Aku tidak paham dengan maksud ucapan ibu. Jadi aku hanya terdiam,lalu aku berkata


"Ibu,aku yang salah" kataku menyesal


Ibu lalu mencium pipiku ,kemarahan ibu kepadaku terhenti dengan tangisan.


Mbok Warti ,menghampiri ibu lalu berbisik ditelinga ibuku. Dan ibu menghentikan tangisannya.


"Kalian bisa bicara dengan Naima,tolong tunggu Naima disini. Ibu dan mbok akan keluar sebentar." kata ibu


Aku melihat ibu dan mbok Warti meninggalkan ruangan


"Naima maafkan aku" ujar Sinta dengan menyesal.


"Tidak apa-apa Sin" ujarku lalu tersenyum


"Naima,semua karena aku jika aku mendengarkanmu,ini semua tidak akan terjadi" kata Sinta


Aku melihat mata Sinta nampak berkaca-kaca


"Sin,aku baik-baik saja" ujarku


"Oya kemarin bagaimana ? Kok bisa aku berada disini? " tanyaku pada temanku


"My Wife, begini ceritanya..ujar Devanno


" Eeeiiits.....aku tidak suka kamu panggil Naima dengan kata My wife" kata Angga kesal


"Terserah aku dong bro,kata orang tua dulu ucapan adalah doa,kan Naima istriku kelak" sanggah Devanno dengan argumennya


"Naima is my....." ujar Angga terhenti


" Awas bro,kalau kamu sampai menyukai Naima" kata Devanno menegaskan


"Kalian masih sehatkan? " kata Sinta


"Tentulah " kata Devanno dan Angga secara bersamaan


"Kenapa berdebat didepan orang sakit" ujar Sinta


Angga dan Devanno hanya tersipu malu


"Begini Naima ,kamu mendengar tidak hantu jahat itu berteriak minta tolong ,karena sesuatu menyerangnya. Dia mengerang kesakitan dan terus berteriak minta ampun" ujar Devanno


"Yang menyerang makhluk itu adalah sesuatu yang keluar dari tubuhmu,sebelum itu terjadi asap pekat dan bayangan merah keluar dari dirimu menyerang dia" kata Devanno mencoba menjelaskan


"Apa yang kamu katakan sebelum pingsan" tanya Devanno


Aku hanya terdiam mendengarkan cerita Devanno ,aku teringat kejadian kemarin


"Apa yang kamu katakan kemarin lusa sebelum pingsan?" ujar Devanno mengulangi ucapannya.


" Terus apa yang terjadi selanjutnya? " tanyaku mengalihkan pembicaraan


"Makhluk itu menghampirimu,menatapmu begitu tajam Naima,lalu menghilang" kata Devanno


"Kamu tahu Naima,kemarin lusa Devanno menangis lo,dia menggendongmu dan berteriak minta tolong,untung ada penjaga sekolah dan seorang guru yang masih disekolah,jadi mereka bisa membantu kita mengantarkanmu ke rumah sakit ini" ujar Sinta secara tiba-tiba


" Kamu menangis Dev?" tanyaku secara spontan


" he..he..he wajarlah,aku mencemaskan keadaan my wife " jawab Devanno


"Jangan panggil my wife pada Naima" kata Angga kesal


" Kemarin ada rapat disekolah,membahas kejadian itu. Kenapa bisa itu terjadi? Kenapa ada hantu jahat disekolah kita. Apa kamu tahu Naima?"tanya Sinta padaku


" Hantu itu jahat Sin,dia memang sengaja dikurung disitu,karena itu ketika kamu berada diluar kelas itu kekuatan dia tidak bisa mempengaruhi kalian" jawabku singkat


Dengan semua kejadian itu,Angga dan Devanno menyadari aku memang berbeda.


"Kalian pasti takut denganku?" tanyaku


"Takut?" ujar mereka secara bersamaan


"Tidak Naima,kamu sangat baik,hatimu benar -benar baik" kata Devanno secara tiba-tiba


Angga dan Sinta mengangguk secara bersamaan membenarkan ucapan Devanno.


Kedatangan sahabatku ini benar-benar menghiburku,setidaknya mengurangi sakit dikepalaku.


Karena insiden kemarin,aku terpaksa menerima jahitan dikepala. Dan harus menginap dirumah sakit.


Mungkin bagi sebagian orang ini adalah sebuah kebodohan untukku,tetapi bagiku ini adalah caraku melindungi sahabatku


Lebih dari 2 jam kami bercerita,ibuku tidak kunjung datang


"Naima ibumu kemana?" tanya Sinta


"Hari sudah mulai senja,apa aku boleh pulang lebih dulu" tanya Sinta


"Iya Sin,tidak apa-apa" jawabku


"Antar aku pulang ya Ga" kata Sinta.


Angga menganggukkan kepalanya.


"Naima aku pulang sekalian aku mau mengantar Sinta" kata Angga


"Hei bro,jaga Naima..awas jangan panggil dia my wife lagi" pesan Angga pada Devanno


Devanno hanya terdiam.


"Cepat sembuh Naima" kata Sinta


"Terima kasih" jawabku dan tersenyum kepadanya.


Mereka lalu pergi meninggalkan ruanganku


"Hem...tinggal aku bersama my wife disini" ujar Devanno dengan santai


Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya.


" Aku senang melihatmu lebih lama, hmm...setiap kejadian memberikan hikmah" kata Devanno sok dewasa


Kemudian Devanno menatap wajahku,"aku sangat suka dengan sorot matamu Naima,hmmm....salah...aku suka semua dari dirimu hehhee " ujar Devanno .


Aku hanya diam,dan tiba-tiba ibu datang dengan seorang pria tua


"Ibumu sudah datang Naima,aku mau pulang dulu,cepat sembuh ya" ujar Devanno padaku


Akupun tersenyum kepadanya dan berkata" terima kasih Dev"


Lalu Dev berpamitan pada ibu dan kakek tua itu lalu beranjak pergi


" Eyang ini adalah putri saya" kata ibuku pada kakek tua itu


Kakek tua itu melihatku dan mendekat padaku,mulutnya komat kamit seperti membaca sesuatu


" Tidak bisa ibu, dalam darah putri ibu ada darah Ratu, dia memiliki kekuatan dalam dirinya untuk memerintah makhluk astral,sebenarnya putri ibu memiliki kemampuan istimewa,tetapi dia tidak tahu bagaimana dia menggunakannya kelebihannya itu" kata kakek itu


"Cabut semua itu Eyang,saya tidak ingin putri saya celaka" kata ibuku


"Tidak bisa nak,dia memang memiliki darah Ratu,hanya dia tidak tahu cara menggunakannya,ketika dia tersakiti maka pelindungnya akan keluar untuk menyelamatkannya,dia disukai oleh makhluk astral" kata kakek itu .


"Semua ini salah saya Eyang,apa bisa saya menghentikan perjanjian ini" kata ibuku


"Saya menyesal dengan semuanya" kata ibu sekali lagi


"Tidak bisa nak,kamu adalah penerus terakhir dari perjajian masa lalu yang dibuat oleh leluhurmu." kata kakek itu pada ibuku


"Dan putrimu adalah bagian dari ritualmu dan pada saatnya nanti semua akan berakhir dengan sendirinya" kata kakek itu.


Aku terdiam,sebuah perjanjian? Perjanjian apa? Semua akan berakhir dengan sendirinya? Apa maksud ucapan itu.


Seolah bisa membaca pikiranku,kakek itu mengajak ibu menjauh dariku agar aku tidak bisa mendengar ucapan mereka, aku hanya melihat mereka nampak serius berbicara.


Kini aku terbaring disini dan aku terus bertanya dalam hati kecilku perjanjian apa yang telah dibuat oleh leluhurku terdahulu


To be continue