
Sebulan kemudian setelah kejadian itu...
"Naima....kapan kau akan menepati janjimu untuk membantuku?" tanya Dirga
"Hari ini aku akan kerumahmu Dirga,apa kau bisa menuntunku kesana?" tanyaku
Dirga menganggukkan kepalanya.
Akupun segera berjalan menuju kamar mbok Warti, dan berpamitan kepadanya.
"Mbak Naima mau kemana? " ujar mbak Sulastri,saya dan pak Gun akan pergi kerumah teman saya mbak Sulastri. Titip mbok Warti ya" ujarku
"Hati-hati dijalan mbak Naima" ujar mbak Sulastri.
Akupun mengangguk dan tersenyum.
Diluar pak Gun telah menungguku.
Aku segera masuk kedalam mobil.
"Kita akan kemana mbak Naima?" tanya pak Gun
"Menuju rumah sahabat saya pak Gun, dimana rumahnya? " tanya pak Gun
"Pak Gun,cukup mengikuti petunjuk dari saya" ujarku.
Pak Gun hanya mengangguk,tanda dia mengerti maksudku.
Disepanjang jalan arwah Dirga menuntun kami,hanya butuh 30 menit perjalanan sampailah kami didepan sebuah rumah yang paling besar dibandingkan rumah yang ada disekitarnya.
"Ini rumah sahabat saya pak" ujarku lirih
"Hem...teman mbak Naima pasti sangat kaya " ujar pak Gun
"Tepat sekali pak, tetapi sayang terkadang kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan kekayaan" ujarku
Akupun segera keluar dari dalam mobil,dan disusul oleh pak Gun.
"Ada seseorang disana" ujarku
Akupun menekan bel yang terpasang dinding disamping pagar.
Seorang pria menghampiri kami.
"Cari siapa dik?"
"Saya ingin bertemu dengan ibu Sarah" ujarku
"Ibu Sarah?" jawab pria itu sedikit kebingungan
"Apa ibu Sarah ada? maksud saya Nyonya Sarah?" tanyaku kembali
"Kenapa mencari Nyonya Sarah?" tanya pria itu
"Saya ingin menyampaikan pesan Dirgantara sahabat saya" ujarku
"Tuan muda Dirga?, bukankah tuan muda sudah...." ujar pria itu lalu terhenti
"Kenapa pak? saya ingin bertemu nyonya Sarah untuk menyampaikan pesan Dirgantara" ujarku
"Maaf dik,sebenarnya saya juga bingung harus jawab apa...tunggu sebentar ya dik" ujar pria itu lalu berlalu pergi.
Tidak beberapa lama,pria itu menghampiri kami dan membuka pintu pagar rumah itu.
"Majikan saya mengijinkan adik untuk masuk" ujar pria itu
Akupun hanya tersenyum
Lalu aku dan pak Gun berjalan masuk kedalam rumah.
Seorang pria keluar menghampiri kami
"Silakan masuk mbak,pak" ujar pria itu ramah kepada kami.
Aku pun tersenyum. Aku masih ingat jelas wajah pria itu,pria yang aku temui dirumah sakit. "Pria ini pasti ayah tiri Dirgantara " ujarku didalam hati
"Bapak masih ingat saya? saya adalah gadis yang bapak dan istri bapak temui saat dirumah sakit sebulan yang lalu" ujarku
Pria itu terdiam dan mulai berpikir mencoba mengingat kejadian sebulan yang lalu.
"Sekarang aku ingat,kamu gadis miskin yang mencoba menipu istri saya saat dirumahsakit" ujar pria itu kesal.
Spontan saja pak Gun bangkit dari duduknya
"Sudah pak Gun" ujarku dan aku berusaha untuk membuat pak Gun tenang. Lalu pak Gun duduk kembali
"Maaf, tetapi itulah yang diceritakan istri saya kepada saya" ujar pria itu yang tidak lain adalah tuan Arka
"Kami akan memperkenalkan siapa diri kami,gadis ini adalah Naima Shahya,putri dari majikan saya,dan saya adalah pak Gun sopir keluarga mbak Naima" ujar pak Gun
Pak Arka mendengarkan ucapan dari pak Gun dengan seksama.
"Tujuan kami kesini untuk menemui Nyonya Sarah,mbak Naima ingin menyampaikan pesan dari Dirga sahabatnya" ujar pak Gun
" Dirga? Anak itu sudah meninggal dunia" ujar Tuan Arka
"Iya saya tahu pak, saya kesini karena permintaan Dirga teman saya" ujarku.
"Itu tidak mungkin" ujar Tuan Arka meragukan ucapanku.
"Apa istri bapak sudah membuka kado dari Dirga yang sengaja disimpan didalam kolong tempat tidurnya?"
"Dan apa istri bapak sudah memberikan bingkisan dari Dirga untuk Cahyani? Yang sengaja Dirga simpan didalam laci meja kamarnya" ujarku mencoba menjelaskan
"Apa maksudmu mbak? " tanya pak Arka
"Kalau kado dari Arka untuk mamanya saya tahu,tapi kalau itu...." ujar Tuan Arka
Ada seribu pertanyaan dihati Tuan Arka,"benarkah Arwah Dirga menemui gadis ini,jika itu benar berarti gadis ini bisa berkomunikasi dengan makhluk astral" ujarnya dalam hati.
" Baik mbak, saya pamit dulu" ujar Tuan Arka lalu beranjak pergi.
Tidak beberapa lama seorang pelayan rumah itu menyuguhkan minuman untuk kami
"Silakan diminum mbak,pak" ujarnya dengan ramah
"Terima kasih mbak" jawabku.
Dikamar Dirgantara.....
"Laci meja " gumam Tuan Arka. Lalu dia membuka laci meja itu. Dan ternyata benar didalam laci tersebut ada sebuah kado kecil dan sebuah amplop surat.
"Jadi sebelum meninggal Dirga telah menyiapkan ini semua" ujar Tuan Arka. Dengan terburu-buru Tuan Arka keluar dari kamar dan menemui kami kembali.
"Kamu benar mbak" ujar Tuan Arka kepadaku
"Ijinkan saya untuk menemui Nyonya Sarah" ujarku
Tiba-tiba Tuan Arka terdiam sesaat.
"Apa kamu serius ingin bertemu dengan istriku? " tanya Tuan Arka
"Tentu saja Tuan,karena saya ingin bisa berbicara dengan istri tuan" ujarku kembali.
"Baiklah,ayo ikut aku" jawab Tuan Arka.
Lalu Tuan Arka berjalan ke sebuah kamar yang cukup luas dirumah itu.
Kamar yang indah dengan perabotan tempat tidur yang exclusive.
Dan diatas ranjang itu,aku melihat seorang wanita yang nampak lusuh dengan rambut acak-acak sedang memeluk sebuah bingkai foto.
Tatapan mata wanita itu kosong, badannya bergerak seperti seorang ibu yang sedang menimang bayi diatas pangkuannya.
Wanita itu tidak lain adalah Nyonya Sarah,mama dari Dirgantara. Seorang wanita yang pernah menghinaku saat dirumah sakit dan wanita inilah yang berani menamparku. Dan aku benar-benar merasakan sakitnya tamparan tangannya kearah pipiku. Wanita sombong dan angkuh. Tetapi kini yang muncul dibenakku adalah rasa belas kasihan.
Seburuk apapun sikap Nyonya Sarah padaku waktu itu, tidak seberapa dengan kepedihan yang saat ini dialami oleh Nyonya Sarah.
Bagaimanapun hati seorang ibu,seburuk apapun itu, dia pasti memiliki rasa cinta untuk buah hatinya.
Dan kini,Nyonya Sarah harus menerima kepahitan dari semua sikapnya selama ini, semua yang terjadi pasti ada sebabnya, tidak akan ada asap jika tidak ada api.
Dengan perlahan aku berjalan menghampiri wanita itu, kemudian aku menatap wajahnya dan mengelus rambutnya.
Nyonya Sarah hanya terdiam, kemudian dia bersenandung dengan lirih dan menimang-nimang foto Dirga layaknya seorang bayi.
Airmataku tidak terbendung lagi,aku bisa merasakan kesedihan yang mendalam dari dalam diri nyonya Sarah. Dan tiba-tiba Dirga muncul dihadapanku.
Dirgapun duduk disamping sang ibu dan membelai rambutnya.Aku bisa melihat bahwa sebenarnya Dirgantara sangat mencintai ibunya .
"Ya Tuhan, seandainya dulu Nyonya Sarah bisa mengerti hati dan keinginan putranya,seandainya dulu Nyonya Sarah tidak mengengkang Dirga ,seandainya dulu nyonya Sarah memiliki waktu untuk Dirga. Tentu semua ini tidak akan pernah terjadi.
Anak adalah anugerah terindah yang wajib untuk dijaga oleh para orang tua,mereka adalah titipan dari sang Kuasa jadi jangan sampai disia-siakan.Dan mereka juga memiliki hak untuk menentukan keinginan dan kebahagiaannya sendiri,sebagai orang tua kita tidak boleh terlalu mengengkang anak berikanlah mereka kebebasan yang bertanggung jawab dalam hidup.
@@@@To Be Continue@@@@