
Terdengar pintu diketuk dari luar....saat itu aku ,Devanno dan pak Suroso sedang asyik bercerita,akupun segera bangkit dari duduk dan membuka pintu. Nampak pak Hamid,Angga sedang berdiri didepan pintu.
" Allhamdulillah,mbak Naima" ucap pak Hamid memelukku,matanya nampak berkaca kaca ,dia begitu bahagia dan terharu melihatku
"Pak Hamid,saya baik baik saja pak" ujarku sambil mengelus punggung pak Hamid
Lalu pak Hamid melepas pelukkannya
" Jujur saya sangat takut dengan semuanya,saya takut kehilangan mbak Naima" ujar pak Hamid
"Allhamdulilah pak,Tuhan telah menolong saya,dengan bantuan pak Suroso dan Devanno ,saya bisa selamat
Tiba tiba Devanno dan pak Suroso telah berada disampingku
" Tidak pak Hamid, Naima juga yang telah menolongku untuk keluar dari lingkaran dimensi terkutuk itu" sahut Devanno
Pak Suroso hanya tersenyum menatap kami
" Masuklah,kita bicara didalam" ujar pak Suroso
Angga dan pak Hamid lalu masuk kedalam rumah pak Suroso,dan kamipun duduk diatas tikar
"Kamu kenapa Dev?" tanya Angga keheranan
" Tidak apa apa Ngga ,aku hanya sedikit terluka" ujar Devanno
Aku lalu menyentuh tangan Devanno dengan lembut
"Iya,Devanno sedikit terluka Ngga ,itu karena dia berusaha untuk menyelamatkanku" ujarku dengan penuh rasa bersalah
Angga hanya menatap kami dengan wajah sedikit muram
"Seharusnya aku ,yang berada disana untuk menolongmu Naima" ujar Angga dengan kecewa
Pak Suroso yang mendengar percakapan kami,lalu ikut menjawab
" Bapak tahu,dik Angga juga ingin bisa menolong dik Naima,bapak sangat menghargai niat dik Angga,tetapi bapak bisa melihat,bahwa adik belum memiliki kemampuan yang kuat dalam diri adik,untuk memasukki dimensi itu,dan itu hanya akan sia sia" ujar Pak Suroso mencoba menjelaskan .
Angga hanya terdiam,dia berusaha untuk menerima penjelasan dari pak Suroso.
Kemudian pak Hamid dan pak Suroso sedang berbincang bicang
Lalu aku,Angga dan Devanno memilih untuk duduk diteras depan rumah pak Suroso,kamipun duduk diatas kursi yang terbuat dari bambu itu
"Oh ya,mana Sinta? Bagaimana kabar Sinta Ngga? " tanyaku
"Sinta merasa bersalah dengan kejadian kemarin,tetapi kamu tidak usah kuatir,keadaan Sinta baik baik saja Naima" ujar Angga menjelaskan
"Syukurlah,aku ikut senang,oh ya bagaimana kabar disekolah? pasti banyak sekali tugas yang menanti kami? " tanyaku kepada Angga
"Jangan kuatir,kami telah membantu kalian dalam mengerjakan tugas ,beberapa PR sudah kami kerjakan dan sudah kami kumpulkan " ujar Angga
"Terima kasih Ngga,kamu telah banyak membantuku dan Devanno" jawabku
"Nah, itulah persahabatan Naima" ujar Angga
"Hahahaha...." aku dan Devanno tertawa
Angga hanya tersenyum malu menatapku
Tiba tiba pak Hamid keluar,dan menghampiri kami
"Kita bisa pulang sekarang mbak Naima" ajak Pak Hamid
"Tapi pak Hamid,Devanno masih belum sehat betul" sanggahku
"Tidak apa apa dik,setelah ini dik Devanno kondisinya akan semakin membaik dik,dik Naima tidak perlu kuatir terhadapnya, dua hari lagi luka itu akan hilang dengan sendirinya tanpa bekas
Akupun hanya mengangguk
" Kita akan pulang sekarang pak Hamid? " tanyaku memastikan
"Iya mbak Naima" ujar pak Hamid
Lalu aku menarik tangan pak Hamid berjalan menghindar dari pak Suroso ,Angga dan Devanno
"Pak Hamid,apa bapak membawa uang?" tanyaku
" Untuk apa mbak Naima?" tanya pak Hamid
"Aku ingin memberikannya kepada bapak Suroso,dia telah berjasa kepadaku pak,lagi pula coba bapak lihat keadaan rumah pak Suroso,nanti uang pak Hamid aku ganti " ujarku
"Hanya ada uang satu juta dua ratus ribu rupiah mbak" ujar pak Hamid
"Aku pinjam uang satu juta saja ya pak,nanti Naima ganti" ujarku
Lalu aku memasukkan uang itu kedalam saku celanaku
Kemudian kamipun berjalan menemui pak Suroso
"Dev,apa tasmu sudah kamu ambil" tanyaku
"Sebentar aku ambil dulu" ujar Devanno
"Iya aku bantu" ujarku
Lalu akupun masuk kedalam ruangan Devanno,menata perlengkapan milik Devanno lalu memasukkannya kedalam tas
" Mana Naima biar aku yang bawa " ujar Devanno
Aku hanya tersenyum
"Sudahlah,biar aku yang akan membawanya " ujarku kepada Devanno
Lalu aku menuntun Devanno keluar dari ruangan
Aku tidak tahu kenapa wajah Angga nampak begitu kesal melihat kebaikanku kepada Devanno
"Pak Suroso,kami pulang dulu..saya dan Devanno benar benar sangat berterima kasih atas kebaikan bapak, disini aku telah belajar tentang banyak hal,banyak hal yang tidak pernah aku dapatkan dalam hidupku" ujarku pada pak Hamid
Pak Hamid ,mengelus rambutku nampak kesedihan dimatanya,meski baru hitungan hari,pak Suroso telah menganggap aku dan Devanno seperti anaknya sendiri
"Maaf bapak,baju bapak masih kami pinjam " ujarku
"Hahahah" pak Suroso tertawa lepas
"Adik ambil saja,bapak ikhlas kok" ujar pak Hamid
Lalu aku,pak Hamid,Devanno dan Angga berpamitan
Sebelum pergi aku memberikan sejumlah uang kepada pak Suroso
Tetapi pak Suroso menolak pemberianku,baginya menolong orang yang kesulitan itu adalah sesuatu hal yang terpuji,dan untuk setiap kebaikannya itu pak Suroso tidak mengharapkan imbalan .
Ucapan pak Suroso kepadaku,benar benar menyentuh sanubariku,hatiku merasa terharu dengan kehidupannya yang menurutku benar benar dibawah dari kata cukup,dia masih berjiwa sosial dan mau menolong sesamanya sesuai kemampuan yang dimilikinya
Iya,pak Suroso memang hebat dimataku,dengan kondisinya yang tidak sempurna,dengan keadaan ekonominya yang menurutku masih dibawah standar,dia mensyukuri setiap anugerah Tuhan,dan tidak pernah mengemis meminta bantuan,selalu tetap semangat dalam hidupnya
Akupun lalu memeluk pak Suroso,dan berkali kali aku mengucapkan terima kasih kepadanya
"Kapan kapan aku dan Devanno akan mengunjungi pak Suroso"
"Iya bapak akan selalu menunggu kedatangan kalian kembali,kalian sudah seperti anak bapak" ujar Pak Suroso
Kamipun akhirnya meninggalkan pak Suroso,kami segera masuk kedalam mobil
Pak Hamid lalu menyalakan mesin kendaraan.
Aku lalu membuka kaca mobil,aku tersenyum kearah pak Suroso yang terus menatap kearah kami
Saat mobil mulai melaju
" Dadada pak Suroso,kami pasti sangat merindukanmu" teriakku sambil melambaikan tanganku keluar dari jendela mobil
Pak Suroso juga melambaikan tangannya kepadaku
Lalu mobilku terus melaju,hingga aku sudah tidak melihat pak Suroso lagi
Aku menarik nafas panjang,aku bisa merasakan kesunyian dihati pak Suroso saat ini
Devanno menggenggam tanganku
"Apa kamu baik baik saja Naima?" tanya Devanno
" Aku baik baik saja Dev" ujarku lirih
Tiba tiba dibenakku terlintas wajah pak Suroso,dan semua kebaikannya kepadaku.
"Kau nampak sedih Naima" ujar Angga
"Tidak apa apa Ngga" ujarku lirih