MY name is Naima

MY name is Naima
Pemuda Aneh 5



"Kau mengejutkanku,kenapa kau disini?" ujarku


"Naima,ikut aku" ujar Dirgantara


Arwah Dirgantara membawaku disudut taman di rumahsakit itu.


"Disini sepi" ujarku


"Disini tidak akan ada yang melihatmu,dan aku bisa berbicara denganmu Naima"


"Naima ,apa kau mau menolongku lagi" ujar Dirgantara


"Menolongmu...untuk apa? percuma ibumu tidak mempercayaiku" ujarku pada Dirga


"Naima tolong aku sekali lagi ya" ujar Dirga memohon


Aku hanya terdiam


"Dirga kenapa kau menyia-nyiakan kehidupan yang diberikan Tuhan kepadamu? Usiamu masih muda,kenapa kau begitu sempit dalam berpikir dan mengakhiri hidupku seperti ini" ujarku meminta penjelasan.


Dirga hanya menundukkan kepala


Kemudian dia menatap kearahku dan berkata


"Apa kau sudah bertemu mamaku?" tanya Dirga


Aku hanya mengangguk


"Mamaku pasti menghinamu? " ujar Dirga


"Kenapa kau berkata begitu?" tanyaku


Dirga menghela napas.


"Mama hanya menghargai orang dari segi penampilan dan materi serta status orang itu dimasyarakat,mama suka berbicara seenaknya kepada orang lain"


Aku hanya terdiam


"Aku tahu kau sangat menyayangi nenekmu,jadi kau menemaninya selalu" ujar Dirga


"Dia pengasuhku,tetapi bagiku dia lebih dari itu,dan kau benar aku menyayanginya seperti nenekku sendiri" ujarku pada Dirga


"Kamu hebat Naima,kamu bisa memperlakukan orang lain dengan baik dan tulus, aku iri. Hidupku tidak seperti itu, setiap hari aku sering mendengar mamaku marah-marah untuk kesalahan kecil yang dilakukan pelayanku,tetapi kemarin aku melihat penyesalan begitu dalam diwajah mamaku.


" Naima,aku mohon kepadamu...tolong bantu aku lagi,hanya denganmu aku bisa berkomunikasi,tidak ada yang bisa mendengar suaraku Naima,hanya kamu yang bisa...hanya kamu Naima,karena kamu berbeda" ujar Dirga sambil berlutut.


"Sudah tidak usah seperti itu,baiklah..aku akan mencoba menolongmu semampuku,tetapi Dirga...aku tidak berani menjanjikan apapun kepadamu" ujarku sambil tanganku memegang bahu Dirga dan menyuruh dia untuk bangkit.


Aku lalu mendengarkan satu persatu cerita Dirga,jujur aku bisa merasakan semua kesedihannya,tetapi apalah daya semua memang tidak akan bisa dirubah kembali,sekarang tugasku hanya untuk mengembalikan apa yang tertinggal dan beberapa masalah yang masih tersisa dari kehidupan Dirga yang kini telah menjadi arwah segera terselesaikan.


Ditempat lain......


"Aku benci dengan diriku sendiri, aku benci...." teriak Nyonya Sarah lalu mengambil sebuah jam weker yang ada diatas meja disamping ranjang Dirga .


Pyar!


Jam itu menghantam kaca lemari,dan kacapun pecah berkeping -keping karena lemparan Nyonya Sarah yang begitu kuat


"Dirga anak mama ....Dirga anak mama....maafkan mama ...maafkan mama " ujar Nyonya Sarah sambil berlinang airmata, kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri, dipukulnya dirinya sendiri.


Jiwa Nyonya Sarah benar benar tertekan karena kepergian Dirgantara.


"Maafkan mama yang tidak pernah ada untukmu,mama yang tidak punya waktu untuk bersamamu,aku tidak pernah melakukan aktivitas bersamamu,maafkan mama yang asyik dengan kesibukan mama sendiri" ujarnya sambil terbata -bata .


"Aaaaqghhh......aaaaghhhh......teriak Nyonya Sarah,Nyonya Sarah benar benar bersikap seperti orang depresi,dia berteriak sejadi-jadinya.


Tuan Arka segera menghampiri Nyonya Sarah dan memeluk tubuh istrinya.


"Aku kehilangan segalanya...semua hancur....semua hancur ...." ujar Nyonya Sarah


Tuan Arka mencoba menenangkan Nyonya Sarah,namun semua sia-sia. Nyonya Sarah terus menangis dan dia mulai bersikap aneh .Tiba-tiba Nyonya Sarah mengambil foto Dirga dan memeluknya,menciumnya berkali-kali dan berkata seorang diri.


"Dirga anak mama sayang..Dirga harus sehat dan cepat besar ya nak,mama sayang Dirga" ujar Nyonya Sarah.


"Nyonya kita sepertinya sudah gila mbul,lihat sikapnya sampai seperti itu" bisik seorang asisten rumah tangga kepada rekannya


"Mungkin karma,kamu tahukan betapa kasar dan sombongnya Nyonya Sarah" ujarnya


"Hush...bagaimanapun dia nyonya kita"


"Seharusnya tuan muda Dirga tidak secepat ini meninggalkan kita,apalagi tuan Dirga itu orang baik"


Begitulah percakapan beberapa pelayan dirumah itu,mereka saling berbisik .


Rumah besar dan megah itu,kini dipenuhi dengan airmata.



"Naima kau pasti menolongku kan?" tanya Dirga memastikan


"Iya,akukan sudah berjanji kepadamu,bagiku janji adalah hutang yang harus aku lunasi" ujarku


Dirga menatapku tajam,lalu tiba\-tiba dia tertawa sendiri


Aku bingung melihat perubahan sikapnya yang begitu cepat.


"Ternyata aku sangat bodoh, seharusnya aku tidak secepat ini untuk mati.Ternyata didunia ini masih ada gadis seperti dirimu" ujar Dirgantara


Aku hanya menghela napas.


Lalu aku bangkit dari dudukku dan berlalu pergi.


Arwah Dirga terus mengikuti langkah kakiku


"Kamu marah ya, ayolah bukankah kita teman,aku hanya bercanda"


Aku sama sekali tidak menoleh kearah Dirga dan terus melangkahkan kakiku


"Naima,jangan marah" ujar Dirga


Aku lalu menghentikan langkah kakiku. Dan menoleh kearah Dirga.


"Aku tidak marah,aku ingin menemui mbok Warti" ujarku


"Aku ikut" jawab Dirga


"Awas jangan berulah" ujarku menegaskan


Dirga menganggukkan kepalanya.



Tidak beberapa lama aku sudah sampai didepan pintu kamar.


Glek!


"Mbak Naima besok mbok Warti bisa pulang" ujar pak Gun


"Benarkah?" ujarku dengan mata berbinar\-binar


"Tapi sebenarnya mbok Warti sakit apa ? kenapa kemarin bisa pingsan?" tanyaku


"Dokter bilang mbok Warti tidak memiliki sakit yang serius dan mungkin faktor dari kelelahan,maklum usia mbok Warti sudah renta" ujar pak Gun


Aku segera berjalan kearah mbok Warti.


"Mbok Warti besok sudah boleh pulang,dirumah mbok harus mau untuk istirahat " ujarku


Mbok Warti hanya tersenyum menatapku.



Hari ini aku bisa bernapas lega,lalu malam ini aku bercanda dengan pak Gun dan mbok Warti, nampak disampingku Dirga menatapku,lalu dia berjalan keluar ruangan, disana langit nampak begitu terang,bintang\-bintang bersinar ,berkelap kelip ditempatnya dan rembulan malam menampakkan keindahannya dengan memancarkan kecantikan sinarnya .


" Aku kira setelah aku mati semua akan selesai, ternyata aku salah" ujar Dirgantara


"Kini rohku masih berada disini, langit menolakku karena ini belum waktunya bagiku untuk kembali kepada penciptaku, dan aku telah melangkahi ketetapan hidupku."


"Naima,apa aku bisa ikut bersamamu? sampai tiba waktuku untuk kembali kepada Dia Sang Pencipta Alam?" ujarnya


"Apa? " ujarku


"Aku terjebak diantara langit dan bumi Naima" ujar Dirga


"Aku akan berusaha menolongmu dan aku harap kamu akan tenang dialammu yang abadi" ujarku


Dirga hanya menatapku...



"Setiap manusia membawa kisahnya sendiri, semua sudah tertulis sebelum kita terlahir didunia ini" ujar Dirga lalu diam seribu bahasa.



Akupun terdiam,malam ini aku hanya menatap indahnya langit, setiap kejadian memberikan suatu pelajaran yang berarti dalam kehidupanku.


Dan aku menatap Dirga,sebenarnya aku bisa melihat seorang pemuda yang nyaris sempurna namun hidupnya berakhir dengan tragis, jika dia mampu mengotrol emosi dalam dirinya dan membuang rasa keputusasannya,dan mau bersikap terbuka dalam menyelesaikan masalahnya,semua ini tidak akan terjadi. Aku tahu Dirga memendam semua masalah dalam dirinya sendiri, dan semua itu seperti sebuah bom,yang sewaktu\-waktu bisa meledak dan menghancurkannya sendiri.


"Dirga aku akan berusaha menolongmu" ujarku dalam hati



@@@@@@To Be Continue. @@@@@