MY name is Naima

MY name is Naima
Terima kasih sahabatku



Kriiing......kriiing.....kriing....


Suara ponselku berdering


"Hallo" kata mbok Warti


"Mbok Warti ya? Bagaimana keadaan Naima?" tanya Devanno


"Naima masih tidur nak,semalam tubuhnya demam tinggi" kata mbok Warti


"Semoga Naima cepat sembuh mbok" kata Devanno


"Terima kasih nak" jawab mbok Warti lalu menutup teleponnya.


"Siapa mbok?" tanyaku


"Kamu sudah bangun nak?" tanya mbok Warti


" Devanno sahabatmu nak" kata mbok Warti


"Mbok aku harus sekolah" kataku lalu mencoba beranjak dari tempat tidurku.


Mbok tersenyum menatapku,lalu berkata bahwa sekarang pukul 10 pagi.


"Mbok apa kemarin aku pingsan?" tanyaku


"Iya,ketika sudah sampai halaman rumah,setelah mbak Naima turun dari motor" kata mbok Warti


Aku mencoba mengingat kejadian kemarin.


"Siapa yang menggendongku mbok?" tanyaku


"Devanno temanmu itu nak" kata mbok Warti


"Semalam kamu demam tinggi dan seperti orang yang menggigil kedinginan" kata mbok Warti


"Jadi semalam mbok Warti merawat dan menjagaku? tanyaku


Mbok Warti yang duduk diranjangku,tersenyum dan dia mengelus rambutku


" Iya nak,kamu adalah tanggungjawab si mbok,ibumu telah memberikan kepercayaan itu pada mbok Warti nak,mbok sayang padamu" kata mbok Warti dengan lembut


Aku memegang tangan mbok Warti,dan meletakkannya dipipiku


"Terima kasih mbok,terima kasih" kataku


Tiba-tiba mbak Sulastri masuk membawa makanan dan minuman untukku


" Ayo mbak Naima makan dulu" kata mbak Sulastri sambil meletakkan nampan berisi makanan diatas kasurku


"Tapi aku tidak merasa lapar" kataku


"Kamu kemarin belum makan sama sekali ,sekarang kamu makan nak" kata mbok Warti,sambil mengambil sendok dan berusaha menyuapiku.


"Tidak mbok ,aku bisa makan sendiri " kataku dengan sedikit malu


" Kenapa nak? " kata mbok Warti


"Mbok,aku sudah besar,aku bukan anak kecil lagi " ujarku


"Bagi mbok,kamu akan selalu seperti anak kecil " kata mbok Warti lalu tertawa


Aku melahap makananku,sambil menatap mbok Warti.


Mbok Warti yang nampak semakin tua dan tubuhnya sedikit membungkuk sekarang.


"Apa mbok Warti dan mbak Sulastri sudah makan?" tanyaku


" Sudah mbak,oya mbak Naima saya akan turun kebawah untuk bersih-bersih,nanti kalau mbak Naima butuh sesuatu bisa panggil saya" kata mbak Sulastri.


"Mbok,bagaimana dengan surat ijinku tadi?" tanyaku pada mbok Warti


"Pagi tadi pak Hamid sudah membuat dan mengantarkannya disekolah" kata mbok Warti


"Hari ini kamu istirahat dulu dirumah,besok kamu bisa masuk sekolah nak" kata mbok Warti kepadaku


"Baik,mbok terima kasih" kataku pada mbok Warti


Mbok Warti tersenyum padaku,lalu beranjak pergi meninggalkanku seorang diri didalam kamarku.


"Naima? Apa yang terjadi?" tanya Olla kecil yang tiba-tiba berada disampingku.Akupun menceritakan semua yang terjadi kepada Olla.


"Semua kehendaknya Naima,kamu tidak bersalah" kata Olla


Hari ini Olla menemaniku didalam kamar,dan kami saling bercerita



Senja mulai tiba.....


Sore ini udara terasa dingin,dan aku menutup jendela kamarku dan menutup tirai


Tok...tok...tok.. Suara pintu kamarku diketuk


"Masuk" kataku


"Devanno? Eits kenapa masuk kedalam kamarku? Tidak boleh" kataku pada Devanno dengan terkejut. Karena ini pertama kalinya ada cowok yang masuk kedalam kamarku


"Naima,mbok Warti yang menyuruhku masuk kesini" sanggah Devanno


"My Wife ,ada PR ada 2 soal yang tidak bisa aku kerjakan" kata Devanno


"PR apa Dev?" tanya


Lalu Devanno mengambil tugas yang diberikan hari ini dan menunjukkannya padaku.


" Ada 20 soal dan 2 soal tidak bisa aku kerjakan,apa kamu bisa mengerjakannya Naima?" kata Devanno padaku.


Aku melihat tugas itu dan mengerjakannya .


"Naima" kata Devanno


"Pria dalam kecelakaan semalam itu itu meninggal"


"Ya,tuhan...semua yang diciptakan olehnya pastiĀ  kembali kepadaNya" kataku


" Kamu benar Naima,saat itu dia sudah meninggal,karena luka yang parah dikepalanya,jadi kemarin pria itu langsung meninggal ditempat kejadian" kata Devanno


"Dev,apa kamu tahu dia rumahnya mana?" tanyaku


" Iya Naima,aku tahu dan kehidupan keluarganya juga sangat sederhana" kata Devanno


"Dev,bagaimana kalau kita bantu dia,aku akan ambilkan uang tabunganku untuk memberi santunan,ya semoga saja bermanfaat untuk keluarga yang ditinggalkan" tanyaku pada Dev


"Boleh juga Naima,aku akan ambil beberapa uang tabunganku ,nanti kita jadikan satu amplop" kata Devanno menyetujui usulku


"Terima kasih Dev,hatimu sangat baik" sanjungku pada Devanno


Dia hanya menggaruk kepalanya dan tersenyum dengan sedikit salah tingkah


Tiba\-tiba Angga,Sinta dan Lia masuk kedalam ruangan


"Ehmmm..... yang sedang berduaan" kata Lia


"Lia...aku terkejut,aku turun dari ranjangku dan memeluk Lia sahabatku saat masih duduk disekolah dasar.


" hehehe...Naima" kata Lia sambil memelukku


"Aduh,aku kangen denganmu Lia ,bagaimana kabarmu?" tanyaku


"Aku baik Naima,kamu sekarang tambah cantik" kata Lia memujiku


" Naima itu gadis tercantik di sekolah kita,kalau ada kontes pasti Naima menang" sanjung Angga


"Hahahaa...kamu terlalu berlebihan ngga,aku tidak seperti itu kok" jawabku


"Benar ,Naima gadis tercantik disekolah " kata Sinta


Aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Aku dengar kamu sakit Naima,dan kebetulan Sinta mau menjengukmu,jadi aku ikut kesini" kata Lia


"Terima kasih teman\-teman karena telah peduli kepadaku" kataku terharu


"Kita ini teman Naima" ujar Lia dan Sinta mengangguk mengiyakan ucapan Lia


"Oya kemarin ceritanya bagaimana?,kok bisa seperti itu" tanya Lia dan Sinta


"Kamu tanya Devanno saja,biar Devanno yang bercerita" jawabku singkat


Aku lalu meminta Devanno menjelaskan semua urutan kejadian kemarin.


Lia,Angga dan Sinta mendengarkan cerita Devanno dengan baik.


"Kalian hebat ya" kata Lia


"Hebat bagaimana Lia,aku dan Devanno panik saat itu" kataku


"Iya kami panik ,apalagi Naima saat itu sedang demam tinggi dan wajahnya pucat " kata Devanno


" Menurutku kalian hebat,meski kalian tidak membawanya kerumah sakit,tetapi kalian sudah berusaha mencari pertolongan dan mau menunggui jenazahnya" kata Lia


"Orang itu langsung meninggal ditempat kejadian,sayang tidak ada yang mau membantuku untuk mengangkat jenazahnya,tidak mungkin aku dan Naima yang mengangkat jenazahnya,Naima sedang sakit dan sangat lemas" kata Devanno menjelaskan


"Sebenarnya aku masih sempat mendengar laki\-laki itu mengucap tolong,tetapi sangat lirih,lalu dia menghembuskan nafas terakhir." kataku


" Paritnya lumayan dalam " kata Devanno


"Kalau aku yang berada diposisimu,aku pasti berteriak histeris Naima,dan aku tidak akan berani untuk menunggui jenazah orang itu,apalagi daerah sanakan gelap sekali,tidak ada lampu penerangan,apalagi dekat dengan makam" kata Sinta


" Ya sudah,kita doakan semoga arwah laki\-laki itu tenang" kataku


"Teman\-teman Naima ingin membantu keluarga pria itu,rencana setelah dari rumah Naima aku akan segera kesana " kata Devanno


"Ada yang mau ikut denganku? " tanya Devanno


"Aku mau ikut Dev" kata Angga


"Aku juga mau Dev" kata Sinta


"Aku juga mau ikut" jawab Lia


"Kalau begitu,jangan sekarang besok saja ya? Aku juga mau ikut. Besok waktu kita pulang sekolah,kita kesana bersamaan,biar pak Hamid mengantar kita kesana,sekalian aku ikut" kataku memberi usul


Semua teman\-temanku menyetujui usulku.


Hari ini aku senang sekali,karena aku memiliki sahabat yang sangat sayang dan peduli padaku.Hari ini kami bercerita tentang banyak hal dan mengenang kisah dimasa lalu