
Pertemuan yang tidak sengaja dengan arwah kakak itu, terjadi minggu lalu saat ibuku untuk pertama kali mengajakku bermain di taman. Di sana tanpa sengaja aku menemukan boneka yang terikat mantra saat aku bermain, yang disembunyikan di bawah pohon beringin besar, di tengah taman itu. Pohon beringin itu dikelilingi pagar. Karena tubuhku kecil, aku bisa menerobos pagar yang memiliki lubang itu. Tanpa aku sadari aku telah membebaskan arwahnya yang terbelenggu dalam boneka itu.
Pagi ini, aku bangun lebih awal, aku segera mandi, dan berganti pakaian. Pagi ini aku tidak memakai seragam sekolah melainkan memakai kaos dan celana jeans saja. Pagi ini aku sudah menelepon sopir baruku, untuk datang ke rumah tepat jam delapan pagi. Setelah itu aku menuruni tangga rumahku dan menuju ke dapur, aku tahu mbok Warti pasti sedang memasak, karena jam di dinding menunjukkan pukul 5.30 WIB saat ini.
"Tumben kamu sudah bangun Naima?" kata mbok Warti seolah mengetahui kedatanganku.
" Iya mbok, mbok Warti apa surat ijinku sudah jadi?, biar nanti dibawa oleh sopir baru untuk diantar ke sekolah" tanyaku pada mbok Warti.
" Sudah nduk" jawab mbok Warti sambil tersenyum padaku.
Hari ini aku membantu mbok Warti. Sebenarnya mbok Warti merasa tidak enak dengan sikapku, tetapi aku tetap memaksa mbok Warti untuk membiarkan aku membantunya.
Dan dia hanya mengijinkan aku mencuci sayur saja, " iya tidak apalah " kataku dalam hati. Pagi ini aku tidak melihat kakak itu. Setelah aku membantu mencuci sayur aku memilih untuk duduk di ruang keluarga dan membaca komik kesukaanku. Pukul 06.30 mbok Warti mendekatiku memintaku untuk segera sarapan pagi, akupun langsung berdiri dan berjalan menuju ruang makan bersama mbok Warti. Di atas meja sudah tersedia sayur sup kesukaanku, ayam goreng, sambal tomat dan kerupuk bandung.
" Yummy ...itu enak mbok, ayo makan bersamaku " kataku kepada mbok Warti
" Ayo mbok, duduk di sini di sampingku, kita makan bersama" aku mengulang lagi ajakan ku.
Mbok Warti menggelengkan kepalanya, tetapi aku menuntun mbok Warti untuk mau duduk di sampingku.
" Jika ibu Ningsih tahu hal ini, ibu Ningsih pasti sangat marah nak" jawab mbok Warti. (menasehati ku sambil dia menggeser kursi di sampingku dan duduk di sana).
"Ibu tidak ada mbok, mbok Warti jangan kuatir aku tidak akan cerita apapun kepada ibu" jawabku meyakinkan mbok Warti. Karena aku melihat wajah mbok Warti nampak takut jadi aku berusaha menenangkannya.
Mbok Warti menundukkan kepalanya,tiba-tiba dia berkata " Mungkin jika cucu dan anakku masih hidup, mbok tidak akan sendirian seperti ini, dan saat ini mungkin cucuku sudah seumuran mu nak" kata mbok Warti terbata-bata, nampak air matanya menetes membasahi pipinya, aku berdiri dan aku hapus air matanya, aku memeluknya dan berkata "Mbok anggap aku seperti cucumu mbok". Mbok Warti tersenyum dan mengangguk, di sini aku melepas status sosialku sebagai putri majikan dengan seorang pengasuh, aku hanya melihat mbok Warti sebagai orang tua yang membutuhkan kasih sayang dalam kesendirian hidupnya, aku memandang mbok Warti sebagai seseorang yang sangat berjasa dalam hidupku, aku menganggap mbok Warti sebagai nenekku sendiri dan aku menyayanginya.
" Mbok, aku lapar ayo kita makan, ajak ku untuk memulihkan keadaan agar tidak terlalu larut dalam kesedihan. Mbok lalu bangkit dan ingin melayaniku dengan mengambilkan nasi dan lauk, aku segera menolak tanganku mengambil sendok nasi dan hari ini aku melayani mbok Warti bagai seorang cucu. Kami makan sambil sedikit bercanda, mbok tertawa lepas mendengar ceritaku, nampak raut wajah mbok Warti yang sudah renta itu begitu bahagia.
Setelah kami selesai makan, aku membereskan peralatan makan yang aku gunakan hari ini, aku melarang mbok Warti untuk mencucinya, kali ini aku mencuci semua peralatan makan dan minum yang kami gunakan tadi.
"Nak, kenapa buahnya tidak kamu makan? Kenapa susunya tidak kamu minum? " tanya mbok Warti kepadaku.
" Maaf mbok, aku sudah kenyang, buah dan susunya buat mbok saja" jawabku singkat.
"Tapi nak?"
"Tidak ada tapi, mbok harus mau makan buah dan minum susu. Mbok aku akan membaca komik di ruang keluarga nanti kalau sopir baru ibu datang, tolong aku diberitahu mbok" kataku dengan nada kekanak-kanakan, mbok hanya tersenyum dan memaklumi watak ku.
Tepat jam 08.00 WIB, wanita tua itu datang mendekatiku mengatakan bahwa sopir baru ibuku telah datang. Aku segera berlari menuju kamarku dan mbok beberapa kali meneriaki ku untuk tidak berlari saat menaiki tangga, karena dia takut kalau aku terjatuh.Tapi aku yang terlalu bersemangat tidak mendengarkan ucapan mbok Warti, di dalam kamar aku mengambil sling bag kesayanganku dan aku mulai memasukkan barang penting bagiku, seperti ponsel, dompetku yang berisi ATM dan beberapa uang serta foto ayah dan ibuku.
Akupun berjalan menuruni anak tangga dan aku melihat mbok Warti telah menungguku di depan pintu.
" Kamu mau kemana to nak?" tanyanya kepadaku.
"Aku akan bertualang sebentar, Mbok " jawabku singkat .
"Aku pasti pulang sebelum jam 19.00 WIB, mbok tidak boleh bertanya kepadaku, aku akan pergi bersama sopir baru ibu dan aku akan baik-baik saja" aku berkata berusaha meyakinkan.
"Hmm....." kata mbok Warti sambil menggelengkan kepala. Aku cium tangan mbok Warti pengasuhku itu. Dan Mbok Warti berkata" Hati-hati, Nak".
Pak Gun, adalah nama sopir baruku, pak Gun membukakan pintu mobil dan akupun masuk serta duduk di kursi bagian tengah.
"Kak, bagaimana aku bisa menemukan jasad mu?" tanyaku dalam hati.
"Kita mau kemana mbak Naima? " tanya pak Gun kepadaku.
" Pak Gun cukup kemudikan mobilnya saja pak, aku yang akan menjadi penunjuk jalannya" kataku singkat.
" Pak Gun, tidak banyak bertanya dan dia mengikuti semua arahan ku. Setelah 1 jam perjalanan aku meminta pak Gun berhenti di sebuah jembatan, aku memintanya untuk memarkirkan mobil di tempat yang aman.
"Kenapa kita ke sini mbak Naima? Ini bukan tempat yang indah, ini juga bukan tempat rekreasi, bukan wahana bermain anak-anak" tanya pak Gun nampak bingung.
"Pak Gun, ikuti saya saja " kataku.
" Mbak Naima mau kemana?di bawah itu adalah jurang mbak, sangat berbahaya untuk anak kecil sepertimu!" kata pak Gun berusaha menasehati ku dan berusaha menghentikan langkahku, tetapi aku tetap berjalan dan dengan terpaksa pak Gun, mengikuti ku dari belakang. Akupun berjalan menyusuri jalanan setapak diantara rimbun dedaunan pepohonan dan semakin ke dalam. Dan akhirnya di sebuah pohon besar itu arwah kakak itu berhenti, dia menunjuk sebuah batu di depan pohon itu dan memintaku menggali.
"Ini adalah kebodohan ku, kenapa aku tidak membawa alat apapun", kataku di dalam hati
Aku mencoba mencari ranting pohon kering yang cukup kuat untuk menggali. Pak Gun bingung dengan sikapku, lalu dia mencoba membantuku.
" Pak Gun bantu mbak" kata pak Gun sambil membantuku untuk menggali tanah itu, untung tanah di situ tidak terlalu keras, dengan alat seadanya kami menggali, hampir 1 jam kami menggali dengan alat seadanya, dan terlihat tengkorak manusia, masih ada rambut yang telah lepas dari kepala.
"Astagfirullah " kata pak Gun terkejut.
"Mbak Naima mencari ini? " tanya pak Gun.
" Iya pak, dia memintaku untuk menemukan setiap bagian tubuhnya " kataku dengan polos.
" Pak ayo kita bawa kepala ini ke dalam mobil" kataku memohon.
"Tidak mbak Naima, aku akan menelepon polisi dan menyerahkan kasus ini pada yang berwenang" jawab pak Gun dengan tegas.
Akupun diam, lalu 30 menit kemudian polisi daerah setempat telah menuju TKP penemuan tengkorak tadi dan mengevakuasi potongan kepala yang telah menjadi tengkorak dan rambut yang tersisa. Aku melihat pak Gun sedang menceritakan kronologi kejadian itu kepada seorang polisi dan setelah selesai berbicara polisi itu mendekatiku, lalu dia bertanya kepadaku bagaimana aku bisa menemukan tengkorak itu, aku hanya mengatakan bahwa dia (arwah kakak itu) memintaku untuk menemukan jasadnya, menyatukannya dan menguburkannya dengan layak, pak polisi itu mencatat semua ucapanku dan ketika polisi itu hendak menghujaniku dengan berbagai pertanyaan, pak Gun menghentikan pembicaraan, dia menjelaskan bahwa aku hanya seorang anak kecil, selanjutnya kasus ini menjadi tugas polisi. Jujur aku merasa takut dengan semua ini, aku telah terlibat pada sebuah masalah, tetapi aku telah berjanji menolongnya dan janji ini harus aku tepati." Tolong antar kami kedua tempat yang berbeda, untuk mengambil potongan tubuh yang lain" kataku memohon.
Mereka memandang kepadaku, antara ragu dan yakin. Tanganku menggenggam tangan pak Gun.
"Pak Gun, tolong percaya padaku satu kali lagi" pintaku.
Pak Gun pun mencoba meyakinkan polisi itu untuk mengawal kami saat menuju kedua tempat yang berbeda. Jarak dari TKP 1 ke TKP 2 hanya butuh waktu 1 jam perjalanan, kali ini pencarian dan proses penggalian berjalan lebih mudah, kami menemukan potongan tubuh dan bagian tangan di sebuah pohon di dekat mata air, lalu kami menuju ke TKP 3 di pinggir jalan tol, di bawah pohon kedua potongan kaki itu ditemukan, hari ini semua janji telah aku tepati, lega rasanya . Pak Gun, tampak kelelahan. Pak Gun menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada pihak kepolisian, agar menanganinya. Dan menjelaskan untuk selanjutnya aku tidak boleh dilibatkan dalam masalah ini. Setelah selesai kami berpamitan.
" Pak polisi, terima kasih atas bantuannya " kataku dengan rasa gembira.
Pak polisi itu tersenyum dan mengelus kepalaku sambil berkata " Sama-sama adik cantik".
Setelah itu aku dan pak Gun pulang.
" Mbak Naima pasti lapar? Ayo kita makan dulu." kata pak Gun.
" Hari ini aku tidak lapar, pak Gun makan saja, nanti aku yang bayarin" kataku dengan polosnya.
"Ha..ha..ha! " pak Gun tertawa nyaring.
"Tidak usah mbak Naima, ibu mbak Naima itu sudah menggaji saya tinggi, dan gaji itu tidak pernah saya dapatkan dari tempat lain dimana saya pernah bekerja dulu.
Akupun terdiam, karena lelah akupun tertidur di sepanjang perjalanan pulang.