MY name is Naima

MY name is Naima
Masa kecil yang menakutkan



Kehidupanku berbeda dengan anak kecil sebayaku. Di rumah yang megah dan besar ini aku tidak hidup sendiri. Bagi orang yang tidak tahu, mereka akan sangat mengagumi kemegahan rumahku taman yang luas, perabotan rumah yang serba mewah yang ada di rumahku. Di rumah itu aku tinggal bersama ibuku, seorang pengasuh yang senantiasa menjagaku dengan setia yang bernama mbok warti, seorang tukang kebun yang bernama pak Karjo, dan seorang sopir pribadi ibuku yang bernama pak Hamid.


Di dalam rumah itu memiliki beberapa kamar, dan bagiku setiap kamar seolah saling berhubungan, setiap dinding bagai memiliki mata dan telinga bisa mendengar dan mengawasi siapa saja yang mengunjungi rumahku itu.


Rumahku memang sangat indah bagi mereka yang tidak tahu, andai mereka mampu melihat di situ kami tidak tinggal sendiri, tetapi ada berpuluh makhluk tak kasat mata tinggal disana, saat kecil aku selalu ketakutan dan menangis, tetapi waktu demi waktu aku mulai terbiasa dengan keadaan ini. Ibuku adalah seorang wanita karir yang super sibuk, dia sering pulang larut malam, dan malam tertentu ibu selalu melibatkan diriku pada sebuah ritual yang selalu rutin ibuku lakukan. Ibu akan memaksaku untuk mau melakukannya jika aku menolak maka karir dan nyawa ibuku akan terancam.


Aku sangat menyayangi ibuku oleh karena itu aku selalu menuruti kemauannya .


Usiaku baru 7 tahun, ini sudah kesekian kalinya ibu mengajakku mengikuti ritual di kamar belakang, seperti biasa ibu membakar kemenyan/ dupa dan menabur bunga 7 rupa diruang kamar itu, dan beberapa sesaji ada di depanku. Aroma wangi dupa semakin menyengat, aku menatap mulut ibuku terus komat kamit membaca mantra, yang tidak pernah aku tahu dan tidak mampu aku dengar, tiba-tiba akupun mulai tidak sadarkan diri. Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi ketika aku pingsan. Yang aku tahu saat aku terbangun aku telah terbaring di atas tempat tidurku, aku merasa lelah.


"Naima bangun" kata ibuku


Aku terkejut ini tidak biasanya ibu ada di rumah, biasanya sebelum subuh datang ibu pasti sudah berangkat bekerja.


" Iya bu " jawabku dengan sedikit bingung.


" Kenapa? Cepat mandi, hari ini ibu yang akan mengantarmu sekolah" kata ibuku dengan lembut. Tanpa sepatah katapun aku segera menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Setelah itu aku memakai seragam sekolahku.


Tok....tok....tok...


Pintu kamarku diketuk dari luar


" Masuk pintu tidak dikunci" terasa hembusan angin mengarah kepadaku. Aku menjerit ketika sebuah potongan tubuh dan darah membasahi lantai kamarku, akupun berteriak, lalu aku menutup mataku dan berteriak, jangan menunjukkan dirimu seperti ini padaku.


" Buka matamu Naima, aku datang dengan cara yang baik" kata suara itu.


Dengan perlahan ku buka mataku. Aku melihat gadis manis duduk di atas tempat tidurku, kini aku tidak takut lagi. Aku menyentuh tangan gadis itu dan bertanya "Kakak siapa?".


" Tolong aku Naima seseorang telah membunuhku, memotong tubuhku menjadi beberapa bagian terpisah, tolong aku ...temukan setiap bagian dari tubuhku, kuburkan aku dengan layak" kata gadis manis itu.


" Aku hanya anak kecil, aku tidak bisa untuk menolong mu, kak," kataku mencoba menjelaskan, tetapi gadis manis itu terus memohon dan memohon.


"Naima kamu bicara sendiri lagi" tanya ibuku


"Turun dan cepat makan, setelah itu ibu yang akan mengantarmu ke sekolah" kata ibuku menegaskan.


Aku hanya menganggukkan kepala tanpa menjawab apapun, ibu hanya menatapku.


Dia adalah ibuku, tetapi ibuku yang  penuh dengan misteri, bergelut dengan dunia hitam, tetapi aku tahu dia tetaplah ibuku, ibu yang menyayangiku.


Aku berdiri di meja makan, gadis itu berdiri di belakangku bersama makhluk lain yang telah lama mendiami rumahku. Aku tetap makan seperti biasa, bersikap biasa seolah mereka tidak pernah ada.


Aku tersenyum kepada mbok Warti, mbok adalah pelayan setia di rumahku,dia telah bekerja sejak ayahku masih hidup, dan dia yang merawat aku sejak kecil, mbok Warti menyayangi aku seperti cucunya sendiri.


" Naima apa kamu sudah selesai makan?


"Tanya ibuku kepadaku


" Iya bu sudah "


Aku berpamitan pada mbok Warti aku mencium tangannya.


" Mbok nanti jika ada seorang pria muda yang bernama Sadewa, mbok suruh dia masuk dan menungguku" kata ibuku kepada mbok Warti.


" Iya bu Ningsih" jawab mbok Wati dengan lembut.


Ibu berjalan di depanku ,dan aku mengikutinya dari belakang. Aku membuka pintu mobil dan aku memilih duduk di depan, aku sengaja duduk di samping ibuku karena gadis itu mengikuti ku, dia duduk di belakang dan terus menatapku.


" Hari ini pak Hamid ijin  karena ada kepentingan, istrinya melahirkan "kata ibu menjelaskan, seolah ibuku tahu kalau aku akan bertanya kenapa hari ini ibu yang mengantarku ke sekolah.


" Apa saat pulang sekolah nanti, ibu juga yang akan menjemput? " kataku sambil mataku menatap kearah ibuku.


" Tidak, tetapi nanti ada sopir baru yang akan menjemputmu Naima" jawab ibuku dengan santai tanpa menoleh kearah ku


" Kenapa? aku senang jika ibu akan mengantarku ke sekolah " jawabku dengan kecewa.


"Naima ibu akan keluar kota dengan pak Sadewa selama 1 minggu, ibu ada urusan bisnis" jawab ibuku mencoba menjelaskan


Tapi bagiku itu seperti sebuah alasan, karena memang ibu sering meninggalkanku bersama mbok Warti sendiri, hanya mbok Warti yang selalu menjaga dan menyayangi diriku. Aku menjadi teringat semua masa kecilku. Aku adalah Naima seorang anak yatim yang telah kehilangan ayahnya, watak ku sangat jauh berbeda dengan ibuku. Masa kecilku dipenuhi dengan keanehan dan kesendirian, aku tidak pernah bermain dengan teman sebayaku dirumah, karena ibuku selalu melarang ku untuk bermain dengan anak tetangga di sekitar rumahku. Selain itu gerbang rumahku yang selalu tertutup. Aku cenderung bermain dengan penghuni rumahku yang tidak terlihat, bermain dengan dengan mereka, dengan berbagai wujudnya yang menakutkan. Aku tidak suka melihat mereka dengan wujudnya yang menyeramkan dan mereka mengetahui itu, mereka akan memperlihatkan dirinya dengan wujud yang baik. Mbok Warti tidak pernah merasakan keanehan di rumahku, karena memang mereka tidak menunjukkan diri mereka kepada mbok Warti. Pak Hamid juga tidak merasakan keberadaan mereka. Mereka adalah beberapa makhluk yang mendiami rumahku dan mereka tidak pernah mampu untuk meninggalkan rumahku itu. Yang aku tahu tugas mereka adalah sebagai penjaga rumahku, dan itu adalah suatu bagian dari perjanjian di masa lalu yang tidak pernah mereka jelaskan kepadaku .


"Naima?"


Suara itu membuyarkan lamunanku


" Apa bu? " tanyaku terkejut


" Kita sudah sampai disekolah ,ayo cepat turun"


Aku cium tangan ibuku dan aku membuka  pintu mobil, lalu aku melangkahkan kakiku menuju ke gerbang sekolah.