
Pelajaran sedang dimulai, semua siswa sedang fokus dengan tugas yang telah diberikan oleh guru.Tiba-tiba pintu kelasku diketuk dari luar .
Ternyata ibu kepala datang bersama seorang anak seusiaku.
Guru kelasku mempersilahkan ibu Ajeng masuk ke dalam kelas, mereka berbincang -bincang, tidak lama kemudian ibu kepala sekolah meninggalkan kelas, ibu Dina menggandeng tangan anak itu dan menyuruh anak itu untuk memperkenalkan dirinya.
" Anak-anak, ini adalah teman baru kalian, ia datang dari kota lain."
" Ayo perkenalkan dirimu pada teman-temanmu" kata ibu Dina pada anak itu.
" Hai, teman-teman perkenalkan namaku Ivonna Calista, aku sudah 1 bulan di kota ini, orang tuaku mengajak aku pindah ke kota ini jadi aku bersekolah di sini " kata perkenalan dari ivonna.
Setelah memperkenalkan dirinya secara singkat, ibu Dina menyuruh Vonna untuk duduk.
"Vonna kamu bisa duduk di kursi itu, di depan Naima, kamu duduk sebangku dengan Lia" kata ibu Dina.
sambil menunjuk kursi kosong di samping Lia.
" Baik, Bu" kata Vonna, dia mengikuti arahan ibu Dina, Vonna akhirnya duduk sebangku dengan Lia .
" Hai, namaku Naima" kataku memperkenalkan diri kemudian tersenyum ke arah Vonna.
"Hai juga" kata Vonna dengan singkat.
" Hai Vonna aku Lia, rumahku tidak jauh dari sekolah ini " kata Lia memperkenalkan dirinya .
" Ok" jawab Vonna dengan singkat. Aku menatap wajah Vonna yang terlihat tidak nyaman bersekolah di sini. Sekolahku bukanlah sekolah elit tetapi hanya sebuah SDN yang memiliki kualitas unggul, ibuku pernah memaksaku untuk bersekolah di sekolah yang bertaraf internasional, tetapi aku tidak mau, aku senang bersekolah di sini, karena di sekolah ini miskin dan kaya berbaur jadi satu.
Kriiiingggg......
Bel istirahat berbunyi, semua teman di kelasku menghampiri Vonna, mereka ingin sekali mengenal Vonna, sedang aku dan Lia hanya sesekali memandanginya .
" Vonna anak sombong, lihat dia hanya mau berbicara dengan anak-anak orang kaya " kata Lia.
Aku menatap wajah Lia nampak kecewa.
" Jangan begitu Lia, mungkin dia lebih nyaman dengan mereka " kataku singkat
" Tidak Naima, tidak bisakah kamu melihat, dia terlihat jijik duduk di sampingku, melihat pakaianku, sepatu yang aku pakai" kata Lia dengan kesal.
" Ayo kita ke kantin aku traktir kamu " kataku mengalihkan pembicaraan.
Olla kecilpun mengikuti kami, aku membelikan makanan ringan untuk temanku Lia, di sana aku melihat Vonna memandangiku dan dia berbisik-bisik dengan beberapa temanku lainnya. Aku hanya tersenyum kepada mereka .
Olla berbisik di telingaku berkata bahwa mereka mengejekku, mengatakan aku dan Lia adalah orang-orang selevel, orang rendahan. Aku diam, watakku tidak terlalu ambil pusing dengan sikap orang, aku cenderung santai dan tetap bersikap ramah kepada mereka.
Bel masuk kelas telah berbunyi, semua siswa telah masuk ke dalam kelas dan telah duduk dengan tertib di bangkunya masing-masing.
" Rumahmu di mana vonna?" tanya Lia.
"Aku tinggal di kawasan elit di sini" jawab Vonna singkat tanpa melihat ke arah Lia
Terlihat sekali wajah Lia tidak suka dengan jawaban dari Vonna. Lia lalu diam saja.
Pelajaran dimulai dan semua siswa tertib dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas. Jam pulang sekolah telah tiba. Setelah selesai berdoa pulang, tiba-tiba Vonna maju ke depan kelas.
" Teman-teman besok sore pukul 15.00 WIB datang ke rumahku ya, besok adalah ulang tahunku, jangan lupa ya, aku tinggal di Griya Angkasa blok A 12" kata Vonna mengundang kami.
Lalu kami pulang, aku berjalan bersama Olla kecil di sampingku. Tiba-tiba Lia menghampiriku, bertanya kado apa yang akan aku berikan untuk Vonna, aku hanya menjawab, aku akan memberi dia kado ulang tahun semampuku. Lia hanya mengangguk.
Lalu dia berjalan mendahuluiku sambil berkata " kamu benar Naima, terima kasih. Aku pulang dulu ya" sambil melambaikan tangannya. Aku tersenyum pada Lia sahabatku. Akupun berjalan menuju halte yang ada di samping sekolahku.
" Apa kamu yakin Naima akan datang ke acara ulang tahun Vonna?" tanya Olla.
" Menurutku Vonna tidak suka denganmu Naima?, kenapa kamu harus datang? " tanya Olla.
" Olla dia telah mengundangku, aku akan datang pada perayaan ulang tahunnya nanti" kataku menjelaskan.
Tin...tin.... Bunyi klakson sepeda motor.
" Ayo mbak Naima" kata pak Gun sambil memberiku isyarat untuk naik ke atas motor.
" Yeee...kita naik motor lagi" kataku bersemangat. Pak Gun lalu mengemudikan motor dan tiba-tiba handphone pak Gun berdering, pak Gun lalu menepikan sepeda motor dan mengangkat telepon.
" Selamat siang ibu Ningsih " kata pak Gun.
" Ooo....ternyata ibuku yang sedang menelepon" kataku dalam hati.
" Saya sedang bersama Naima bu, apa ibu ingin bicara dengan Naima? " tanya pak Gun.
Lalu handphone diberikan kepadaku, akupun menjawab telepon ibuku dan aku bertanya bagaimana kabarnya, kapan dia pulang dan ibuku menjawab kabar dia baik-baik saja dan ibuku meminta maaf kalau belum bisa pulang karena dia ada urusan bisnis di luar pulau. Aku lalu bercerita kalau ada temanku yang berulang tahun, kado apa yang pantas untuknya, ibuku berkata tidak usah kuatir nanti asisten ibu yang akan mengantar kado itu ke rumah dan aku tinggal membawanya besok, aku hanya menuruti kata ibuku.
Kemudian ibuku melanjutkan pembicaraaannya lagi dengan pak Gun.
"Huh....alasan terus, ibu selalu asyik dan sibuk dengan dirinya sendiri" gerutuku di dalam hati.
Olla kecil hanya menatap wajahku, tanpa berani berkata. Setelah selesai berbicara dengan ibuku, kamipun melanjutkan perjalanan pulang. Pak Gun, bertanya kenapa aku suka naik sepeda motor, aku menjawab aku memang suka naik motor daripada naik mobil. Dia hanya mengangguk dan berkata bahwa selama ibu Ningsih tidak ada di rumah, dia akan mengantar dan menjemputku dengan motor.
Tidak terasa kami sudah sampai di rumah.
Mbok Warti membukakan pintu dan aku langsung berlari menuju kamarku.
" Ada apa dengan Naima?" tanya mbok Warti.
"Maaf saya kurang tau mbok, Naima nampak kesal setelah berbicara dengan ibunya" kata pak Gun mencoba menjelaskan.
Mbok Warti terdiam, dia tahu ketika aku dalam kondisi seperti ini, aku tidak ingin seorangpun menggangguku .
Di dalam kamar, aku baringkan tubuhku, aku sedih kenapa ibuku tidak pernah ada waktu untukku, tidak terasa air mataku menetes.
" Kakak, jangan sedih" kata Olla kecil sambil tangannya mencoba mengusap airmataku.
" Olla, kita sama " kataku pada Olla.
"Tidak kak, kakak lebih beruntung dariku, ibu kakak masih memiliki kepedulian meskipun tidak ada di sampingmu kak" kata Olla mencoba memotivasiku.
"Tidak Olla" sanggahku.
" Tadi ibu kakak berkata untuk kado ulang tahun teman kakak, ibumu yang akan mempersiapkannya, jika dia tidak peduli, ibu kak Naima tidak akan mengurus semuanya itu" kata Olla kecil kepadaku.
Aku hanya terdiam, aku menatap Olla, si hantu kecil sahabatku. Olla benar, ibuku masih ada kepedulian kepadaku .
Tiba-tiba pintu kamarku diketuk dari luar.
"Naima, apa mbok Warti boleh masuk?" tanya mbok Warti.
"Iya mbok, masuk saja" kataku mempersilahkan mbok Warti untuk masuk.
" Lihat,boneka cantik ini adalah hadiah ulang tahun untuk temanmukan? Tadi asisten ibumu mengantarkannya" kata mbok Warti kepadaku.
Aku hanya menganggukkan kepalaku, aku pandangi boneka itu, ibuku membelikan kado boneka barbie yang sangat cantik, lengkap dengan asesorisnya, pasti mahal harga boneka ini.
" Terima kasih bu" kataku dalam hati.
Mbok Warti kali ini tidak berani bertanya apapun padaku, karena dia tahu saat ini aku hanya ingin sendiri.