MY name is Naima

MY name is Naima
Tragedi kecelakan tunggal



Saat itu dirumah pak Zein,aku lebih memilih diam,bapak itu terus melihatku,aku tahu mata batin dia bisa melihat aku,beberapa kali dia memandangku dan beberapa kali dia menawarkan makanan untukku. Hari ini sejak pagi sampai sekarang aku tidak makan,entah kenapa aku begitu malas untuk menyentuh makanan ataupun minuman


Senja telah tiba,dan saat itu aku dan Devanno berpamitan.


Kini aku telah dalam perjalanan pulang menuju rumah.


"Dev,kenapa berhenti disini? " tanyaku pada Devanno dengan lemas


" Sebentar kita turun dulu" kata Devanno


"Disini sepi Dev" kataku


Akupun turun mengikuti permintaan Devanno.


Devanno lalu memakirkan motornya dipinggir jalan yang sepi itu.Lalu mendekatiku


Devanno menatapku tajam, kedua tangannya menyentuh pundakku.


"Mau apa dev? Jangan macam-macam" bentakku pada Devanno


Dia hanya tersenyum


"Disini sepikan? Bagus" kata Devanno dengan tatapan mata yang tajam,sambil mempererat pegangan tangannya dipundakku


" Kamu kenapa? Ayo pulang! " kataku.


Devanno terdiam dan dia menatapku dengan tajam,seolah -olah ingin memakanku hidup-hidup


"Hahhahahaha.... " tiba-tiba Devanno tertawa


"Memangnya aku mau apa? Ha? Aku hanya ingin menatapmu saja,kamu tahu kalau dirimu itu sangat cantik" ujar Devanno


Dasar Devanno,sikapnya benar-benar membuat jantungku serasa terlepas dari tempatnya.


"Ternyata Naimaku ini sangat cantik,kelak aku pasti memiliki banyak pesaing" ujar Devanno


"Sudah Dev,jangan mengada-ada,kita ini baru kelas 1 SMP masa depan masih panjang" ujarku pada Devanno


"Cinta itu datang tidak mengenal usia Naima dan aku telah mencintaimu" ujar Devanno


"Apa kamu baik-baik saja Naima" tanya Devanno


"Aku baik-baik saja Dev"


" Kenapa kamu berbohong,aku tahu kamu saat ini tidak dalam kondisi baik,wajahmu pucat"sanggah Devanno


"Iya,aku demam Dev" kataku lirih


"Iya kamu demam Naima. Kita pulang sekarang" ujar Devanno


"Pakai jaketku,udara malam kurang baik "


" Tapi Dev,aku sudah memakai jaket" kataku


Tanpa memperdulikan ucapanku,Devanno memakaikan jaketnya kepadaku


"Dasar keras kepala,jaketmu itu terlalu tipis Naima,kamu akan lebih baik jika memakai ini" kata Devanno lalu tersenyum manis kepadaku.Aku selalu tidak dapat menolak ,jika Devanno sudah seperti itu


Kamipun melanjutkan perjalanan pulang kerumah ,agar lebih cepat Devanno memilih jalan pintas.


Jalanan yang kami lalui cukup sepi dan lampu penerangan yang sangat kurang


Dari kejauhan aku melihat bayangan wanita berbaju putih keluar dari sebuah makam,rambutnya terurai panjang.Meski dalam gelap aku mampu melihat hal itu dengan jelas.


"Brak!" suara itu terdengar keras ditelingaku


"Devanno ada orang jatuh dari motor" kataku secara spontan


"Mana? Aku tidak lihat ada motor melintas" sanggah Devanno


"Kenapa kamu tidak percaya padaku Dev" kataku


Aku sempat merasa kesal dengan sikap Devanno.


Aku terus melihat disisi jalan sebelah kanan ,dan apa yang aku lihat ternyata benar. Seorang laki-laki yang terjatuh diparit begitupun sepeda motornya.


Devanno melajukan motornya,aku berteriak meminta Devanno berhenti,dan akhirnya Devanno menghentikan motornya


"Ada apa Naima?" tanya Devanno


"Itu kecelakaan tunggal Dev" kataku


Naima,tidak ada 1 motorpun yang melintas Naima,apalagi kita ini dekat dengan area pemakaman" sanggah Devanno


"Kalau kamu tidak mau memutar balik kesana aku akan jalan sendiri" kataku dengan kesal


Akhirnya Devanno memutar balik motornya ,aku terus melihat semak-semak


"Lihat itu Dev" kataku


Sebuah motor dalam posisi terbalik,dengan lampu yang masih menyala.


"Ya tuhan ,Naima kenapa kamu bisa tahu? " tanya Dev


"Dari kejauhan aku sudah melihatnya Dev,bahkan mendengar suara benturan itu,apa kamu tidak melihat dan mendengar suara Dev?" tanyaku


"Tidak Naima,aku tidak melihat atau mendengar apapun" jawab Dev


Aku dan Dev berjalan mendekati dimana sepeda motor itu terjatuh,seorang pria tertelungkup disana.


"Sialan kenapa kita harus lewat sini,aku tidak mau berurusan dengan polisi" kata Devanno dengan kesal


Aku tidak berani menyentuh tubuh itu,suasana begitu gelap.


"Bapak...atau mas....apa panjenengan baik-baik saja" tanyaku


Tapi lalu aku mendengar suara "hosh...." hembusan udara keluar dari mulutnya dan terdengar keras ditelingaku.


Seketika bulu kudukku berdiri,udara dan suara  itu seperti mewakil nyawa yang keluar dari raga


"Dev coba kamu turun" kataku


"Iya" jawab Devanno


Lalu dia turun kebawah


"Naima,orang ini tidak bergerak,aku coba menggoyangkan tubuhnya" kata Devanno


"Dev,coba kamu mencari pertolongan " kataku memohon


"Aduh,gimana ini Naima,jarak polsek agak jauh dari sini" kata Devanno


"Bapak atau mas, kami hanya anak kecil,kami akan mencoba mencari pertolongan " ujarku yang aku tujukan kepada orang itu


"Dev,cepat pergi....cari pertolongan" kataku pada Dev


Devanno nampak bingung,dia serba salah dengan keadaan ini,disisi lain aku sedang sakit ,tempat kejadian itu juga gelap dan sepi,dan dekat dengan area pemakaman ,apalagi aku seorang perempuan ,Devanno tidak berani meninggalkanku sendirian


"Naima ,aku tidak bisa meninggalkanmu seorang diri" kata Devanno


" Andai orang itu bisa menjawab,kita bawa dia bersama-sama" kata Devanno


Disaat ini kami benar -benar lupa bahwa kami membawa ponsel karena terlalu panik dengan keadaan.


Tidak beberapa lama melintas sebuah mobil,aku melambaikan tanganku,sambil berteriak " Tolong kami pak!"


Kendaraan itu tetap melaju


"Aku menangis,kenapa tidak ada yang mau menolong"


Tiba-tiba mobil tadi memutar balik dan menghampiri kami


"Ada apa dik? Ada kecelakaan pak,itu korbannya" kataku sambil menunjuk


"Kecelakaan dengan apa dik?" tanya bapak itu


"Ini kecelakaan tunggal pak" jawabku


"Ayo bapak bantu mengangkat tubuhnya" kata bapak itu


"Baik pak,kita angkat bersama -sama" kata Devanno


Laki-laki itu lalu turun kedalam parit,lalu keluar lagi


"Kenapa pak?" kataku


"Sepertinya orangnya telah meninggal dik" kata bapak itu


" Bapak akan menghubungi polisi,maaf dik" kata bapak itu meninggalkan kami.


"Ya allah ,kenapa tidak ada yang ingin untuk menolongnya" kataku dalam hati


Lalu melintas dua orang pemuda


"Kakak tolong kami" teriakku pada dua pemuda itu


Lalu dua pemuda itu menghentikan laju motornya.


"Ada apa adik cantik?" tanya dua pemuda itu


"Kak,ada kecelakaan tolong kami,tolong kakak hubungi polisi" kataku memohon


"Iya dik" jawab kakak itu,mereka mau menolong kami


Aku benar bisa merasakan bahwa arwah pria itu masih berada disampingku dan aku tahu dia tahu kecemasan kami


Meski untuk saat ini aku tidak bisa melihat keberadaannya ,tetapi aku bisa merasakan keberadaannya.


" Naima aku tidak mau berurusan dengan polisi,kita ini hanya remaja" kata Dev


"Sebentar kita tunggu semoga ada yang melintas" kata Devanno


Dan tidak beberapa lama,ada sepeda motor yang melintas.


Devanno mencoba menghentikannya


"Ada apa dik? " tanya bapak itu


"Bapak ini ada kecelakaan tunggal,tolong bapak disini,sebentar lagi polisi akan segera datang" kata devanno


"Bagaimana ini bisa terjadi dik? " tanya bapak itu


"Saya juga tidak tahu pak,saya menemukannya ketika sudah seperti" kata Devanno


"Terima kasih atas bantuannya pak,saya akan mengantar adik perempuan saya,dia saat ini sedang sakit" kata Devanno


Kedua pria itu menatapku ,lalu mengijinkan kami pulang.


Devanno dan aku melanjutkan perjalanan pulang,dalam perjalanan aku mendengar ada suara berbisik"dik terima kasih"


Dan aku berkata pada hati kecilku.


"Maaf saya tidak bisa menolong anda,tetapi saya sudah berusaha mencari pertolongan untuk anda"


Meski aku tahu,bahwa tidak mungkin bagiku menyelamatkan nyawanya. Karena semua terjadi begitu cepat.


Disepanjang perjalanan salah satu tangan Devanno menggenggam erat tanganku.


" Kamu akan baik-baik saja Naimaku" kata Devanno