MY name is Naima

MY name is Naima
Dia.....



Hujan turun begitu derasnya malam ini, beberapa kali terdengar suara petir menyambar. Di dalam mobil aku menatap jalanan yang begitu sepi dan udara terasa begitu dingin walaupun AC mobil sudah dimatikan.


Sebenarnya saat berangkat, cuaca begitu bersahabat, tetapi ketika mendekati waktu aku hendak pulang, tiba-tiba hujan turun dengan begitu derasnya, oiya malam ini tadi, aku harus kevrumah seorang sahabatku untuk mengambil beberapa tugas sekolah. Maklum saja, janjiku kepada Dirga membuatku terpaksa tidak masuk sekolah dan ketinggalan beberapa pelajaran.


"Kenapa mbak Naima selalu peduli dengan orang lain?" tanya pak Gun secara tiba-tiba.


Aku hanya tersenyum


"Tidak apa-apa pak Gun" jawabku singkat.


"Kenapa mbak Naima mau menolong arwah, padahal semua itu bisa sangat berbahaya bagi diri mbak Naima sendiri" ujar Pak Gun


"Pak Gun, saya hanya ingin membantu menyelesaikan masalah mereka yang belum terselesaikan didunia ini, jika masalah mereka didunia ini tidak terselesaikan, tentu mereka tidak akan pernah tenang untuk meninggalkan dunia ini" ujarku mencoba menjelaskan.


"Hati mbak Naima memang sangat baik" ujar pak Gun


Aku hanya terdiam, mataku menatap ke arah jendela. Malam ini suasana di jalan begitu sunyi dan sepi. Entah kenapa tidak ada satupun kendaraan melintas di jalan. Mungkin karena hujan begitu deras, petir juga beberapa kali menyambar disusul angin yang lumayan kencang sehingga membuat orang untuk malas keluar dari rumah.


Lampu lalu lintas berwarna merah, meski jalanan sepi .Pak Gun tetap menghentikan laju mobil .


Mataku menatap kearah kaca mobil. Tiba-tiba aku melihat seorang anak kecil sedang duduk di pinggiran toko, bajunya kelihatan lusuh dan basah kuyub.


Anak itu duduk, dengan kedua tangannya memeluk erat lututnya dan kepalanya tertunduk.


"Ya, Tuhan...malam-malam begini ada seorang anak masih berada di luar rumah, apalagi hujan turun dengan derasnya " gumamku dalam hati.


Jam tanganku menunjukkan pukul 9 malam. Bayangkan seorang anak kecil masih berada di luar rumah di tengah hujan yang begitu deras. Dimana orang tuanya? Bagaimana bisa orang tua membiarkan anaknya yang masih sekecil itu berada di jalanan,di tengah hujan dan dalam keadaan basah kuyub dan kedinginan seperti itu. Kenapa orang tuanya tidak mencarinya.


"Pak Gun, tolong parkirkan mobil ini di sana, aku akan turun sebentar" ujarku sambil meraih payung yang ada di kursi di belakang.


Lalu aku keluar dari mobil, aku berjalan menghampiri anak kecil itu.


"Dik kenapa kamu? kenapa kamu hujan-hujanan di malam hari? Ayo pulang kakak antar" ujarku kepada anak kecil itu


Anak kecil itu lalu mengangkat kepalanya dan melihat ke arahku. Wajahnya begitu pucat dan tubuhnya bergetar karena kedinginan.


Hatiku menjadi sangat sedih melihat keadaannya yang seperti itu.


"Dik apa kamu sudah makan?" tanyaku


Anak itu hanya menggeleng lemah.


"Ayo kakak antar pulang?" ujarku menawarkan bantuan


Anak kecil itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa ?" tanyaku kepada anak kecil itu sambil tanganku memegang tangannya.


"Dingin sekali..." gumamku di dalam hati


Dan tubuh anak itu menggigil kedinginan.


Akupun segera menuju mobilku, mengambil beberapa makanan yang aku beli tadi dan beberapa lembar uang dari dalam dompetku.


"Baiklah kalau kamu tidak mau aku antar pulang, terimalah ini " ujarku sambil memberikan makanan dan beberapa lembar uang kepadanya


Anak itu menolak, dia menggelengkan kepalanya.


"Nanti kamu sakit dik? terimalah " ujarku


Anak itu menatapku dengan wajah yang nampak sedih. Aku lalu memberi dia payung yang aku pakai agar anak itu bisa terlindung dari hujan.


"Jaga dirimu dik dan ingat jangan lupa untuk segera pulang " ujarku. Sambil meninggalkan makanan dan uang untuknya.


Dan aku segera berlari menuju mobilku dan masuk ke dalam mobil.


Aku melihat anak kecil itu memegang payungku dan menatap ke arahku.


Akupun tersenyum kepadanya dari balik kaca


"Pak Gun, ayo kita pulang" ujarku


"Kenapa anak itu tidak mau diantar pulang?" tanya pak Gun


"Entahlah pak Gun, aku berharap anak itu akan segera pulang ke rumahnya" ujarku


Mobil lalu melaju, meninggalkan tempat itu. Angin berhembus dengan kencang dan payung serta uang yang diberikan Naima untuk anak kecil itupun terbang. Dan anak kecil itupun menghilang.


Sesampainya di rumah, aku segera berlari menuju kamarku.


Mengeringkan rambutku dan mengganti pakaianku.


Setelah mengganti pakaian aku segera menuju dapur.


Suasana di rumah sepi, aku tidak ingin mengganggu mbak Sulastri yang sedang tertidur jadi lebih baik aku membuat wedang jahe sendiri.


"Mbak Naima saya akan menuju kekamar, semua pintu dan pagar sudah terkunci dengan rapat" ujar pak Karjo


"Mbak Naima sedang apa? saya bantu ya"


"Tidak perlu pak Karjo, saya bisa melakukan sendiri " ujarku


Aku lalu memasukkan irisan jahe yang sudah aku bersihkan ke dalam gelas, memasukkan gula secukupnya dan air panas.


"Nah, lega...sudah jadi" ujarku


Lalu aku berjalan menuju kamarku, sampai di dalam kamar aku segera meletakkan wedang jahe itu di atas meja.


Aku membuka tugas dari sekolah yang belum aku kerjakan . Dan malam itu waktu menunjukkan pukul 22.30 WIB. Dan anehnya mataku masih belum mengantuk.


Aku sibuk dengan tugas dari sekolah.


Satu persatu tugas aku kerjakan dan aku berharap besok semua tugas ini bisa aku kumpulkan disekolah.


Beberapa kali aku meminum wedang jahe buatanku.


"Lumayan untuk menghangatkan tubuh" gumamku di dalam hati.


Hujan masih belum berhenti, beberapa kali terdengar suara petir menyambar.


Tiba-tiba kenapa aku memikirkan anak kecil itu.


"Bagaimana keadaan anak kecil itu ya? Apa dia sudah pulang ke rumahnya?" tanyaku di dalam hati.


Akupun menarik napas panjang dan menghembuskannya.


*Tok...


Tok...


Tok* ....


Suara pintu kamarku diketuk dari luar.


"Iya sebentar" ujarku


"Ada apa ya ?" tanyaku di dalam hati


Glek...


Aku membuka pintu kamarku. Namun tidak ada siapa-siapa di sana.


"Hahahahah...paling aku salah mendengar" gumamku di dalam hati


Aku lalu menutup pintu kamarku. Dan berjalan menuju meja belajarku untuk menyelesaikan tugasku yang hampir selesai.


Jam menunjuk pukul 24.00 WIB.


Aku bernapas lega karena semua tugasku telah selesai aku kerjakan dan wedang jaheku juga telah habis aku minum.


Aku matikan lampu belajarku dan menuju ranjangku.


"Syukurlah, besok semua tugas harus segera aku kumpulkan " ujarku di dalam hati.


*Tok...


Tok..


Tok*...


Terdengar pintu kamarku diketuk kembali.


"Siapa?" tanyaku


" Siapa?" aku mengulang pertanyaanku.


Dari jendela kamarku, aku mencoba untuk melihat keluar.


Tok....


Tok...


Tok....


Aku lalu membuka pintu kamarku dan aku melihat dia berdiri didepan pintu kamarku.


Tubuhnya menggigil kedinginan, wajahnya pucat dan pakaiannya basah.


Dia datang menemuiku


Dia datang mencariku


Dan dia telah datang


Anak kecil yang aku temui di pinggir toko itu, kini telah menemui. Dan dia bukanlah seorang anak kecil yang ada divdunia manusia. Dia adalah arwah


Anak itu menatapku dan dari tatapan matanya aku bisa melihat bahwa dia menginginkan bantuanku.


@@@@@@ To be continue@@@@