MY name is Naima

MY name is Naima
Terjebak di dimensi lain



Pagi itu,pintu mobil diketuk dari luar


Tok


Tok


Tok


Pak Hamid dan yang lain terbangun dari tidurnya,mereka nampak kelelahan.


Seorang petani berdiri tepat didepan kaca mobil.Dan beberapa orang memandangi kearah mobil sambil berbisik,entah apa yang mereka bicarakan


Pak Hamid lalu membuka pintu mobil,dan keluar


"Kenapa mobil bapak terparkir di tempat ini? Tidak ada hal buruk yang terjadikan pak?" tanya bapak itu


"Maaf ,pak semalam disana ada pasar malam,tetapi tiba-tiba menghilang" ujar pak Hamid


"Semalam!" ujar petani itu dengan expresi terkejut


"Seharusnya kalian tidak berhenti disini,tanah didaerah sini memang angker pak,apalagi tanah dilapangan itu" ujar petani itu sambil menunjuk tanah lapang yang lumayan luas,dimana semalam terdapat sebuah pasar malam,kini yang terlihat hanya semak dan rumput liar


"Tapi semalam ada pasar malam pak,dan kami sempat masuk dan bermain disana " ujar Devanno menjelaskan dengan wajah cemas.


"Begini dik,lebih baik kita temui pak Suroso sekarang,dia adalah orang pintar didesa ini,semoga dia bisa membantu menyelamatkan teman adik."


Kata petani itu.


Devanno dan yang lain menuruti nasehat bapak itu,dan mereka pergi bersama menaiki mobil menuju rumah pak Suroso.


Saat ini hati Devanno sangat cemas,dia tidak ingin kehilangan sahabat dan gadis yang sangat dicintainya. Nampak kecemasan dari Devanno. Begitu pula dengan pak Hamid,pak Hamid sangat bingung,cemas dan takut dengan keadaan Naima,apa yang akan dia lakukan,pak Hamid tidak bisa membayangkan kemarahan ibu Ningsih


Perjalanan menuju rumah pak Suroso tidak membutuhkan waktu yang lama,hanya dalam beberapa menit Devanno dan temannya telah sampai dirumahnya. Bapak petani yang tidak lain bernama pak Ujang mengetuk pintu rumah tua itu,rumah pak Suroso yang terbuat dari batang bambu (omah gedhek) dan beralaskan tanah,benar-benar sangat sederhana. Tidak beberapa lama pintu dibuka,muncullah seorang pria paruh baya,dengan rambut yang memutih semua dengan salah satu kakinya yang mengecil. Dia memakai baju hitam dan ikat kepala.


" Ada apa pak Ujang,apa ada hal aneh lagi yang terjadi" ujar pak Suroso seolah mengetahui maksud kedatangan mereka.


" Begini pak,anak-anak ini..."


"Masuk dulu,kita bicara didalam" ujar Pak Suroso meminta Devanno dan temannya masuk kedalam rumah


Merekapun duduk diatas tikar yang diletakkan diatas tanah.


Merekapun duduk,kemudian pak Hamid menceritakan kronologi kejadian ,kemudian disusul oleh Devanno dan teman-teman yang lainnya


Pak Suroso hanya terdiam,dia mencoba mendengarkan cerita itu dengan seksama.


Setelah mereka menceritakan semua kronologi kejadian semalam,pak Suroso lalu menghela nafas dalam,dia menggeleng lemah kepalanya.


"Apa ada yang mau membantu saya ?" ujar pak Suroso,matanya nampak begitu tajam menatap Devanno dan teman-temannya


" Membantu apa pak?" ujar pak Hamid dan Devanno secara bersamaan


" Salah satu dari kalian harus masuk kedimensi itu,untuk membawa gadis itu keluar" ujar pak Suroso nampak serius


"Saya saja pak" ujar Devanno secara spontan


"Biar saya saja Pak" ujar Angga menawarkan diri


Pak Suroso hanya tersenyum


"Hmm...saya yang akan memilih,ulurkan tangan kalian" ujar pak Suroso


Disentuhnya telapak tangan Devanno dan Angga,lalu dia menganggukkan kepalanya


Devanno,Angga dan yang lainnya kelihatan bingung melihat sikap pak Suroso


"Kamu yakin dik?" ujar pak Suroso kepada Devanno


"Iya pak,saya yakin pak" ujar Devanno dengan sepenuh hati


"Biarkan anak ini,tinggal bersamaku. Kalian pulanglah" ujar pak Suroso


Pak Hamid,Angga,Sinta merasa bingung dan cemas,tetapi pak Ujang menenangkan mereka


Dia berbisik ke telinga pak Hamid,setelah itu pak Hamid menganggukkan kepalanya dan berpamitan kepada pak Suroso


Kini tinggallah Devanno bersama pak Suroso


"Apakah teman saya baik-baik saja?" tanya Devanno dengan cemas


"Gadis itu berbeda,dia masih hidup,gadis yang memiliki kemampuan tetapi tidak mampu mengolahnya " ujar pak Suroso


"Belum pak,saya belum makan" ujar Devanno


"Baguslah,hari ini kamu harus mulai puasa nak,sebelum tengah malam kita harus sampai ditanah lapang itu,setelah mandi dan berwudhu masuklah kekamar itu,duduk bersila dan pejamkan matamu,jangan pergi kemanapun,sampai bapak kembali" ujar pak Suroso lalu pergi meninggalkan Devanno seorang diri



Ruangan ini seperti layaknya ruangan didunia manusia,tapi benar \-benar megah. Aku duduk diatas ranjang yang begitu empuk,di dinding samping ranjangku terdapat sebuah kaca yang besar,dengan ukiran indah,sebuah meja yang terbuat dari marmer ,begitupun kursinya,diatasnya terdapat sebuah vas bunga dari emas,tertata bunga cantik nampak segar dan indah.


Aku terkurung diruangan yang tidak aku kenal seorang diri. 


Tiba\-tiba seorang anak kecil masuk kedalam ruanganku,tentu itu sangat membuatku terkejut.


"Kakak,makanlah" ujar anak itu


Aku hanya terdiam menatap wajahnya. Anak kecil itu berjalan mendekat kearahku,lalu duduk disampingku.


"Kakak...pernikahan kakak dengan putra penguasa tempat ini akan segera terjadi, dia telah jatuh hati kepadamu kak" ujar anak itu


Mataku terbelalak ,aku benar\-benar terkejut mendengar ucapan anak itu


"Pernikahan? Pernikahanku?" tanyaku dalam hati,diusia semuda ini aku akan menikah,bahkan aku tidak tahu apa itu cinta,aneh ....aku berkata pada diriku sendiri.


"Aku tidak bisa menikah dengan putra penguasa tempat ini" ujarku menegaskan


Anak itu hanya tersenyum..."kakak telah terpilih,mau tidak mau kakak akan menikah dan tinggal ditempat ini selamanya" ujar anak itu kepadaku


" Tidak,bisa..tolong bantu aku keluar dari tempat ini dik" ujarku memohon dan tanganku menggenggam erat tangan anak kecil itu


" Apa aku sudah mati?" tanyaku pada anak kecil itu


Anak itu hanya menggelengkan kepalanya,lalu dia berkata " makanlah ini kak" ujar anak itu


Lalu dia pergi meninggalkanku.


Aku hanya terdiam,aku tidak tahu harus berbuat apa,hingga terbesit dalam kepalaku,sebuah rencana untuk keluar dari ruangan ini


"Ibu,mbok Warti...Devanno" kataku dalam hati


Tanpa aku sadari airmataku menetes membasahi pipiku.


Namun tidaklah lama akupun bangkit,dan memutar otak,bagaimana cara untuk bisa keluar dari tempat ini.


Aku berjalan kearah pintu,nampak beberapa orang berjalan melintas depan kamarku,sambil membawa beberapa nampan yang terbuat dari emas ,saat keadaan nampak sepi,aku berusaha berlari,aku berusaha untuk keluar dari tempat itu,tetapi apa yang aku pikirkan salah,aku hanya berlari dan berputar \-putar saja ,setiap pintu yang aku buka semuanya sama,yaitu kamarku ,ruangan dimana aku terkurung.


Karena lelah akupun bersimpuh diatas lantai marmer.


Tiba\-tiba telah berdiri seorang pemuda yang sangat tampan didepanku.


Dia mengulurkan tangannya kearahku,aku hanya menatapnya. Pemuda itu tersenyum kearahku.


Aku tidak berani menatap kembali wajah pemuda itu


"Lihat aku Naima" ujar pemuda itu


Aku lalu melihatnya,memandang wajah pemuda itu


Wajahnya sangat tampan,dia berpakaian seperti pemuda pada umumnya ,memakai celana panjang dan kemeja putih yang elegan


Menunjukkan bahwa dia dari kalangan atas.


"Apa kau suka tempat ini? Bukankah tempat ini sangat indah? Disini akan ada banyak pelayan yang akan meladenimu,mengurus semua keperluanmu" ujar pemuda itu


Aku hanya terdiam mendengar ucapannya.


Tiba\-tiba beberapa pelayan masuk kedalam kamarku,mereka membawakanku sebuah gaun yang begitu indah berwarna biru muda,dengan hiasan bunga


"Bantu dia memakai ini" ujar pemuda itu pada seorang pelayan.


"Pakailah Naima aku akan mengajakmu berkeliling tempat ini" ujar pemuda itu


Lalu dia pergi meninggalkanku,dan pelayan itu mengganti pakaian yang aku kenakan,dengan gaun yang mereka bawa untukku.


Mereka menata rambutku dengan cekatan,lalu merias wajahku.


Tidak ada yang aneh dari mereka,aku menatap wajah cantik pelayan itu,namun nampak dingin ,tak sepatah katapun keluar dari mulut mereka.


Tiba\-tiba setelah selesai meriasku,seorang dari mereka maju kearahku.


"Mari saya antar menemui junjungan kami" ujar pelayan itu sambil menggandengku laksana seorang putri kerajaan.