
2 hari kemudian...
"Mbak Naima,ada seorang wanita yang mencari mbak Naima" ujar mbak Sulastri
"Siapa mbak? " tanyaku pada mbak Sulastri
"Aduh mbak saya juga kurang tahu mbak,tetapi dia berkata kesaya kalau mbak Naima kenal dengan dia" ujar mbak Sulastri
Akupun segera keluar dari kamarku untuk menemui wanita tersebut.
Diruang tamu rumahku,seorang wanita sedang berdiri melihat keluar dari balik kaca.
"Maaf ada perlu apa ya mencari saya? " tanyaku pada wanita itu
Wanita itupun menoleh kepadaku
"Nyonya Sarah" ujarku terkejut
Nyonya Sarah tersenyum kepadaku.
"Maaf aku telah mengganggumu nak" ujar Nyonya Sarah dengan lembut.
Hari ini aku melihat Nyonya Sarah bersikap berbeda,tutur katanya terdengar lembut dan tidak kasar. Dan kali ini Nyonya Sarah bersikap begitu ramah.
"Silakan duduk nyonya Sarah " ujarku
Nyonya Sarah duduk tepat disofa didepanku.
"Apa ini rumahmu nak?" tanya Nyonya Sarah
Akupun hanya mengangguk.
"Rumahmu begitu besar dan megah, maafkan ibu nak karena telah salah menilaimu" ujar nyonya Sarah
"Tidak apa-apa bu,saya sudah melupakan semua kejadian itu" ujarku
"Aku telah dibutakan oleh materi dan kesibukan pekerjaanku,aku selalu menilai segala sesuatu dengan uang,bagiku semuanya bisa dibeli dengan uang termasuk kebahagiaan,tetapi ternyata aku salah nak...Ada hal lain yang tidak bisa dibeli dengan uang. Aku merasa bersalah ,berdosa dan malu terhadap diriku sendiri,karena aku telah berbuat banyak kesalahan ,aku terlalu egois dan aku juga terlalu memandang orang lain rendah karena status sosial mereka ,padahal dibalik kemiskinan harta ,mereka memiliki ketulusan dan kekayaan hati,dan sejak kematian putraku Dirga,semua telah merubah cara berpikirku nak,tidak hanya cara berpikirku tetapi juga cara hidupku.Dirga dan kamu telah membuka mata hatiku nak" ujar Nyonya Sarah
Aku hanya terdiam mendengarkan semua ucapan nyonya Sarah. Aku tahu hati manusia itu tidak terbuat dari batu jadi aku percaya bahwa nyonya Sarah akan berubah lebih baik.
"Tujuanku kesini,aku ingin mengajakmu kerumah Cahyani nak,ibu malu jika ibu harus kesana seorang diri. Ibu merasa bersalah dan berdosa pada dirinya" ujar Nyonya Sarah lalu tertunduk dengan rasa penyesalan.
"Tentu saja nyonya,saya bersedia untuk mengantar nyonya kesana" jawabku
"Lihat ini nak, ini adalah kado kecil dan sebuah amplop yang berisi surat.Tolong lihat dan bacakan isi didalam amplop ini" ujar Nyonya Sarah
"Tetapi...."
"Tidak apa-apa nak,tolong bacakan untukku " ujar nyonya Sarah memohon
@@@@@@@@@-------@@@@@@@@
Kau laksana mata air kehidupan
Yang menghapus rasa dahagaku
Yang menyirami kekeringan dalam jiwa
Yang penuh kerapuhan dan debu..
Cahyani...
Mencintaimu laksana menggenggam bara api
Menghangatkan sanubari ,tetapi membakar diri
Dan ketika cinta ini harus terpisah
Karena tidak ada restu dari mereka
Mereka yang tidak mengerti hati kita
Bagaimana aku mampu jauh darimu?
Bagaimana aku mampu meninggalkanmu?
Jika hatiku hanya terpaut kepadamu
Jika hatiku hanya memujamu
Sumpah setia telah terucap
Menjadi sebuah ikatan yang tidak terlepaskan
Walau kematian menghampiriku ,aku tetap milikmu
Aku pergi...
Benar benar pergi untuk kali ini
Tidak ada yang abadi,baik bahagia maupun luka
Suatu saat kita akan tiba di titik untuk menertawakan rasa yang dulu sakit atau menangisi rasa yang dulu indah.
Untuk gadis yang telah melalui banyak rasa sakit bersamaku ,jangan kuatir semua ini akan segera berakhir.
Percayalah,
Semua akan baik baik saja
Jangan lupa mencintai dirimu.
Karena kamu selalu berarti bagiku
Hari ini ,esok dan selamanya
Aku membaca puisi Dirga untuk Cahyani,sebuah puisi sederhana yang mampu mengungkapkan isi hati Dirga pada Cahyani, dari puisi itu aku tahu Dirga sangat mencintai gadis itu.
Mata nyonya Sarah nampak berkaca-kaca, pipinya memerah bukan karena malu,tetapi karena dia menahan kesedihannya.
"Tolong bacakan lagi yang lain" ujar Nyonya Sarah terbata-bata
Untuk Cahyani kekasihku.....
Kenapa kau begitu marah kepadaku? Kenapa kau menjauhiku?
Ini pasti karena mama bukan? Mama pasti telah menghinamu.
Cahyani maafkan mama, maafkan sikap mama kepadamu. Aku janji aku akan bicara pada mama, bahwa kita saling menyayangi.
Aku percaya suatu hari mama akan mengerti cinta kita, meski aku tahu mama saat ini sedang menentang cinta ini. Jangan pernah takut karena aku selalu bersamamu.Aku Dirga akan selalu mencintaimu selamanya.
Ini adalah kata-kataku yang terakhir untukmu.Mungkin kita tidak ditakdirkan untuk bersama,namun rasa cintaku tetap abadi untukmu. Aku tahu Tuhan telah mematahkan hatimu,tetapi percalah dari semua rasa sakit ini,kelak kau akan menemukan dia yang tepat bagimu
(Dirga yang selalu mencintaimu)
Airmata Nyonya Sarah tidak terbendung lagi,tangisannya pecah mendengar surat curahan isi hati Dirga. Aku segera menghampirinya dan menenangkan hatinya.
"Ternyata cinta anakku kepada gadis itu begitu besar" ujar Nyonya Sarah sambil terisak
"Sudahlah nyonya tidak ada yang perlu disesali.Nyonya jangan terus menyalahkan diri nyonya" ujarku
"Lihatlah diri nyonya dicermin dan maafkanlah dia yang sedang ada dicermin itu,maafkanlah diri nyonya sendiri" ujarku
Nyonya Sarah lalu menghapus air matanya dengan tisu.
"Apakah gadis itu akan memaafkanku dengan semua kesombonganku dimasa lalu?" tanya nyonya Sarah
"Entahlah nyonya....tetapi tidak ada salahnya jika nyonya menunjukkan rasa penyesalan nyonya, mereka yang berani adalah mereka yang berani mengakui kesalahannya dan dia yang hebat adalah orang yang mampu dengan tulus memaafkan kesalahan orang lain. Dengan mampu memaafkan kesalahan orang lain,seseorang telah mampu melawan keegoisan dirinya untuk tidak membenci apalagi mendendam" ujarku
Nampak nyonya Sarah terdiam.
"Naima, terima kasih" ujar nyonya Sarah.
"Silakan diminum tehnya" ujar mbak Sulastri yang tiba-tiba datang,sambil membawa nampan berisi minuman didalam cangkir dan toples berisi kue
"Silakan diminum tehnya nyonya Sarah " ujarku
Nyonya Sarah lalu meminum secangkir teh yang disuguhkan diatas meja.
"Naima,apa setelah ini kau mau menemaniku ketempat gadis itu?" tanya nyonya Sarah.
"Iya tentu saja,dengan senang hati nyonya" ujarku
Beberapa menit kemudian aku segera berjalan menuju kamarku dan berganti pakaian.Seperti biasa sebelum meninggalkan rumah aku pasti meminta ijin pada mbok Warti. Setelah itu aku menemui nyonya Sarah. Kali ini aku pergi kerumah Cahyani tanpa diantar sopir pribadiku karena nyonya Sarah melarangku untuk mengajak pak Gun.
Nyonya Sarah ingin hanya kami berdua saja yang kesana.
Nyonya Sarah mengemudikan mobil dengan tenang meski aku tahu,didalam hatinya ada rasa takut,rasa malu ,rasa bersalah kepada Cahyani dan Nyonya Sarah berusaha untuk tenang.
Aku menatap kearah jendela mobil,melihat ramainya lalu lintas dijalan. Tetapi kenapa saat ini hatiku merasa sunyi, kisah cinta Cahyani dan Dirga mengingatkan tentang kisah cintaku dengan Devanno.
"Devanno...apa kau memikirkan diriku disana?
Devanno aku masih disini...dan ternyata Naima Shahya masih mencintaimu sampai detik ini" gumamku didalam hati