
Kriing....suara jam alarm berdering
Aku terbangun dari tidurku
"Jadi aku hanya bermimpi, tetapi semua nampak dengan jelas" ujarku
Sedih sekali hatiku, melihat keadaan anak kecil itu,hem...ini bukan hanya sekedar mimpi, anak itu memang mendatangiku dalam mimpi.
Aku segera bangun dan merapikan tempat tidur.
Tok...
Tok....
"Iya silakan masuk, pintu tidak dikunci" jawabku
Ceklek...
"Mbak Naima, mbok Warti ingin bicara dengan mbak Naima" ujar mbak Sulastri.
"Sekarang mbak? " tanyaku
Mbak Sulastri menganggukkan kepalanya.
Aku segera berjalan menuju kamar mbok Warti.
"Ada apa mbok?" tanyaku
"Sini nak" ujar mbok Warti sambil melambaikan tangannya kearahku,memintaku untuk mendekat.
"Iya mbok" jawabku lalu duduk disamping ranjang
"Mbok Warti ada apa?" tanyaku
Mbok Warti menatapku dengan lembut.
" Mbok ingin mbak Naima tidak kembali berhubungan dengan makhluk gaib, semua itu akan sangat berbahaya untuk diri mbak Naima sendiri" ujar mbok Warti
"Maksud mbok Warti apa ?" tanyaku
"Arwah seorang anak kecil telah mendatangimu kan? Dia ingin kamu menolongnya. Tetapi nak, semakin kamu banyak menolong, akan semakin banyak arwah yang akan meminta tolong kepadamu" ujar mbok Warti.
Mendengar ucapan mbok Warti,sontak aku terkejut. Bagaimana mbok Warti bisa tahu tentang anak kecil itu. Dan apakah mbok Warti bisa melihat dia yang tidak terlihat.
"Bagaimana mbok bisa tahu tentang anak itu?" tanyaku
"Mbok katakan padaku,kenapa mbok bisa melihat anak kecil itu?" tanyaku kembali
Mbok Warti hanya terdiam.
Aku benar -benar dibuat bingung dengan ucapan mbok Warti. Aku ingin tahu sebenarnya, tetapi saat ini bukanlah waktu yang tepat.
"Mbak Naima...sudah waktunya mandi. Mbak Naima harus berangkat kesekolah" ujar mbak Sulastri mengingatkan.
"Mbok , nanti mbok Warti harus mau mengatakan yang sebenarnya kepadaku" ujarku
Mbok Warti hanya tersenyum kearahku.
Sikap mbok Warti tidak seperti biasanya.
"Mbak Naima cepat mandi,sudah waktunya mbak Naima untuk kesekolah dan jangan lupa untuk makan dulu sebelum berangkat ke sekolah" ujar mbak Sulastri
Aku hanya tersenyum,lalu berpamitan pada mbok Warti dan segera menuju kamarku
Aku segera bergegas menuju kamar mandi, hari ini aku lebih cepat untuk melakukan aktivitasku,karena aku sedang berkejaran dengan waktu.
Seperti biasa aku segera melaksanakan rutinitas kegiatan pagiku,dan tidak lupa semua buku tugas semalam yang baru aku kerjakan ,segera aku masukkan kedalam tasku.
"Yap,sudah selesai,waktunya makan dan segera berangkat sekolah" ujarku setelah memakai seragam sekolahku.
Aku segera menyambar tasku dan menuruni tangga .
"Mbak Naima ...jangan berangkat dulu...mbak Naima makan dulu" ujar pak Karjo secara tiba-tiba
"Tidak pak,saya sedang malas untuk makan pagi ini" ujarku dan aku segera berjalan menuju teras depan.
Di pelataran rumah pak Gun sudah menunggu didalam mobil. Aku segera menghampiri mobil.
Melihat kedatanganku,pak Gun segera membuka pintu untukku.
"Pak Gun,kita berangkat sekarang" ujarku
Didalam mobil, entah kenapa wajah anak itu selalu terbayang dibenakku, dan tanpa aku sadari airmataku menetes.
"Mbak Naima menangis?" ujar pak Gun secara tiba-tiba
"Apa!" ujarku terkejut
"Kenapa mbak Naima menangis?" ujar pak Gun sambil memberikan tisu kepadaku
Aku hanya mampu terdiam
"Pasti ada sesuatu hal yang sedang mbak Naima pikirkan" ujar pak Gun
Aku hanya mengangguk,
"Ceritakan pada bapak, mbak Naima bisa percaya kepada bapak" ujar pak Gun
"Pak Gun, kenapa seorang anak harus menderita karena kesalahan orang tuanya?"
"Apa maksud mbak Naima?" tanya pak Gun
" Sudahlah pak..." jawabku berusaha menghentikan pembicaraan
"hm...terkadang kesalahan dari orang tua,memiliki dampak yang luar biasa dalam kehidupan anak,misalnya jika orang tua bercerai itu memberikan dampak kepada anak, tidak ada seorang anakpun yang ingin terpisah dari kedua orang tuanya.Mereka ingin mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya. Tetapi jika kenyataan tidak sesuai harapan dan mereka harus melihat kedua orang tua mereka berpisah, rasa sedih pasti . Tetapi itulah kenyataannya dan seharusnya orang tua tetap bisa memberikan kasih sayang yang sama kepada sang anak walaupun keadaan sudah tidak sama lagi. Tetapi kebanyakan yang terjadi diluar sana adalah para orang tua sibuk dengan keluarga barunya dan kurang memperhatikan anak dari pernikahan mereka terdahulu dan yang lebih menyedihkan jika anak itu harus memiliki ibu tiri atau ayah tiri yang tidak memiliki hati nurani, pak Gun tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada mereka nantinya" ujar pak Gun lalu tiba tiba terhenti.
Aku merenungi ucapan pak Gun, aku tahu apa yang dikatakan oleh pak Gun ini adalah sebuah kebenaran dan kenyataan, meskipun diluar sana juga masih ada ibu atau ayah tiri yang memiliki hati emas yang mampu menerima anak tiri mereka dengan setulus hati dan menyayangi mereka seperti anak kandung mereka sendiri.
"Pak Gun,aku ingin bercerita tentang anak kecil ini, tetapi aku tidak tahu harus mulai darimana" gumamku didalam hati.
"Mbak Naima,kita sudah sampai" ujar pak Gun
Tidak terasa aku sudah sampai di depan gerbang sekolah. Aku segera keluar dari mobil.
"Semangat mbak Naima...ayo senyum" ujar pak Gun padaku.
"Iya ,pak Gun semangat !" seruku lalu tersenyum
Aku segera berjalan menuju kelasku. Untuk sejenak aku berusaha melupakan anak itu, tetapi bukan berarti aku lupa pada janjiku pada arwah anak itu.
Aku menghela napas, aku berharap hari ini memberi kebaikan untukku.
Aku langkahkan kakiku dengan semangat , dan berusaha untuk melakukan hal terbaik yang bisa aku lakukan sesuai dengan kemampuan yang aku miliki.
Didalam kelas aku segera berjalan menuju kursiku.
" Kamu kok sudah datang Naima?" tanya Dea sahabat baruku yang aku kenal di sekolah baruku ini
"Iya Dea" ujarku lalu tersenyum
Sambil menunggu bel masuk berdering, aku dan Dea saling berbagi cerita satu sama lain, aku tidak bisa menceritakan banyak hal kepada Dea tentangku. Aku bercerita tentang kesenanganku dan ternyata kami memiliki hobi yang sama.
Oya, teman sekolahku waktu dulu tidak bersamaku lagi. Kami bersekolah ditempat yang berbeda. Meskipun begitu persahabatan kami tidak pudar. Terlalu banyak peristiwa yang telah kami lalui dan terlalu banyak kenangan yang tidak mudah dihapuskan waktu.
"Hay..." sapa Lusi
"Hay Lusi" ujarku menyapa
"Wah pagi ini kalian kelihatan sangat senang sekali" ujar Lusi
"Hey...tentu saja...kenapa juga hidup dibuat susah" ujar Dea
Aku hanya tersenyum saja.
"Iya...iya...kamu benar Dea" ujar Lusi
"Naima, pulang sekolah nanti kita ke Mall yuk" ajak Lusi
"Maaf Lusi,aku tidak bisa " jawabku
Nampak wajah Lusi sedikit kecewa
"Lain kali ya " ujarku
Lusi tersenyum kepadaku.
Bel masuk telah berbunyi,dan aku menyiapkan diriku untuk mengikuti pelajaran hari ini, meskipun aku masih memikirkan ucapan mbok Warti pagi tadi dan janjiku pada anak kecil itu
@@@@To Be Continue@@@@