MY name is Naima

MY name is Naima
Pasar malam kematian



"Selamat pagi Devanno,nanti kita jadikan mengunjungi rumah laki-laki korban kecelakaan tunggal itu?" tanyaku pada Devanno


"Tentu saja my wife,kita akan kesana ,bukankah itu rencana kita kemarin" ujar Devanno lalu tersenyum dengan polosnya


"Berarti sebelum kesana kita jemput Lia dulu ya" kataku


Devanno hanya menganggukkan kepalanya.


Kali ini wajah Devanno nampak tidak seperti biasanya.Tiba-tiba dia duduk dikursi siswa yang ada didepanku.


Dia menghadap didepanku dan tatapan matanya sangat tajam ke arahku


"Naima,aku benar-benar menyukaimu,benar-benar menyayangimu,ratusan kali bahkan ribuan kali aku tidak akan bosan mengatakan ini padamu" kata Devanno


Sontak jantungku berdebar,perasaan yang aneh yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya .


"Aduh,apa-apa ini kenapa jantungku berdebar seperti ini" gumamku dalam hati


Aku berusaha tenang untuk menutupi keanehan yang aku rasakan.


"Ketika seorang Devanno jatuh cinta....." ujar Devanno lalu terhenti


Aku hanya terdiam. Dalam hal ini aku tidak tahu harus berkata apa ,usiaku masih belasan tahun,cinta....itu masih belum ada dibenakku...aku memang sulit untuk jatuh cinta,karena cinta bagiku bukan sesuatu yang mudah. Memang ada perasaan yang aneh aku rasakan ketika Devanno menatapku tajam.


" Naima,kenapa kamu terdiam? " tanya Devanno membuyarkan lamunanku


"Apa?" tanyaku


Pagi ini keadaan kelas sedang sepi,baru beberapa siswa yang datang dan mereka meninggalkan kami berdua didalam kelas,hal itu membuat Devanno leluasa mengajakku berbicara.


" Maaf Dev,aku tadi gagal fokus" ujarku mengalihkan pembicaraan


" hmm...kau tahu,aku tidak bisa menang dihadapanmu naima" ujar Devanno lalu menghela nafas .


"PRnya sudah kamu kerjakan?" tanya Devanno


"Hahaha...bukankah kamu tahu ,kalau aku sudah mengerjakan semua tugas dan PR itu karena bantuanmu Dev" ujarku


"Hmmm...pagi-pagi sudah berduaan,aku cemburu lo" ujar Sinta secara tiba-tiba


"Hay Sin,gimana nanti kita jadikan ketempat pria itu" tanyaku


"Iya Naima" jawab Sinta sambil memberikan amplop kepadaku


"Apa ini? " tanyaku


" Ooo ini ada sedikit uang dariku untuk tambahan " kata Sinta


Aku lalu membuka amplop yang diberikan Sinta padaku,dan aku mengambil uang sejumlah Rp. 50.000 itu dan memasukkannya kedalam amplopku


"Naima,sekalian ini dariku ujar Devanno" sambil menyodorkan uang sejumlah Rp .300.000


"Iya ,Dev" ujarku dan memasukkan uang itu kedalam amplop milikku


Tidak beberapa lama semua murid dikelasku mulai banyak yang berdatangan ,begitupun Angga.


"Kita nanti jadikan kesana" tanya Angga


"Iya Ga" jawabku.


"Naima ini dari aku" kata Angga sambil menyodorkan uang kepadaku.


Akupun menerima uang dari Angga,karena memang kami berniat untuk mengumpulkan uang seikhlasnya untuk membantu keluarga pria itu.


"Uang yang terkumpul cukup lumayan.Lega semoga nanti bisa bermanfaat " kataku dalam hati


Bel masuk berbunyi,semua siswa mulai masuk kedalam kelas.


Waktu berjalan terasa begitu cepat,tidak terasa sudah waktunya kami harus pulang,karena jam pelajaran disekolah telah selesai. Hari ini aku dan teman\-teman mampu mengikuti pembelajaran dikelas dengan baik. Hari ini semua tugas disekolah terselesaikan dengan baik dan aku senang karena mendapat nilai yang memuaskan .


"Sin,kamu sudah ijin pada orang tuamu,kalau pulang sekolah ini kita akan kerumah pria itu?" tanyaku pada Sinta


"Tentu saja Naima,aku sudah ijin kok pada ibu dan bapakku,aku tidak ingin mereka merasa cemas " kata Sinta mencoba menjelaskan


Mataku lalu menatap Devanno yang sedang sibuk mencari sesuatu didalam tasnya.


"Kamu sedang apa Dev?" tanyaku pada Devanno


"Tidak apa\-apa,ini sudah ketemu!" ujar Devanno sambil tersenyum gembira dan menunjukkan kunci motor kearahku


"Aww...kamu tadi sibuk mencari kunci motormu?" tanyaku


Devanno hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.


"Ayo kita temui pak Hamid,pasti pak Hamid sudah menunggu kita diluar gerbang sekolah" ujarku pada temanku


"Ehmm...Naima aku akan meninggalkan motorku ditempat parkiran motor samping sekolah kita" ujar Devanno


"Terus aman tidak?" tanyaku


"Tentu aman,kan aku kenal pemilik rumahnya...santai saja" kata Devanno


"Pasti aman aku sudah langganan menitipkan motorku disitu" ujar Devanno


Aku hanya tersenyum,lalu kami berempat berjalan menyusuri koridor sekolah,kemudian kami menemui pak Hamid yang telah menunggu kami didepan gerbang sekolah


"Selamat sore pak Hamid,kita bisa berangkat sekarangkan?" tanyaku


"Baik mbak Naima,kita bisa berangkat sekarang" jawab pak Hamid


Kamipun masuk kedalam mobil.


"Kita mau kemana mbak Naima?" tanya pak Hamid


"Kita ketempat Lia dulu pak" kataku


Tiba\-tiba ponselku berdering...


"Ya hallo"


"Naima ,aku Lia. Maaf aku tidak bisa ikut kalian karena adikku sakit,jadi aku harus menjaga adikku dirumah ,apalagi ibuku juga kerja" kata Lia


"Sakit apa? " tanyaku


"Hanya demam dan batuk pilek,tetapi karena ibu dan bapak repot,jadi aku yang menjaga adikku" ujar Lia mencoba menjelaskan


"Tidak apa\-apa Lia,semoga adikmu cepat sembuh dan kamu juga harus jaga kesehatan jangan sampai sakit" ujarku pada Lia


" Iya Naima,terima kasih ya,maaf aku tidak bisa ikut kalian" ujar Lia dengan kecewa


"Santai saja Lia,kami maklum kok..sudah jangan merasa bersalah begitu" kataku


"Iya Naima,terima kasih ...semoga semua berjalan lancar " ujar Lia


"Amin" jawabku


Lalu Lia mengucapkan salam dan menutup teleponnya.


"Ada apa Naima?" tanya Sinta


"Ehm..Lia tidak bisa ikut dengan kita" kataku


"Kenapa? " tanya Angga dan Devanno secara bersamaan


"Adik Lia sakit,dan Lia harus menjaga adiknya karena orang tuanya sedang repot" kataku


"Iya,Lia anak yang baik,aku tahu keluarga Lia itu repot dalam hal ekonomi,tapi mereka pantang menyerah dalam hidup,dan Lia sangat sayang pada adik dan kedua orang tuanya" ujar Sinta


"Iya Sin,aku tahu itu. Semoga adik Lia cepat sembuh" ujarku


"Amin" ujar temanku secara bersamaan


"Mbak Naima,kita sekarang kemana?" tanya pak Hamid


"Langsung ke tempat tujuan" kataku


"Desa apa Dev namanya?" tanyaku pada Devanno


"Oo..namanya desa Serimpi" kata Devanno


"Apa adik sudah pernah kesana?" tanya pak Hamid kepada Devanno


"Sudah pak,pak Hamid ikuti petunjuk dari saya saja" ujar Devanno


Karena Devanno yang tahu tempatnya jadi Devanno menjadi petunjuk arah. 15 menit diperjalanan ...


Aku benar\-benar menikmati perjalanannya


Kami melewati jalanan yang dikiri dan kanannya terbentang sawah yang menghijau.


" Seperti dipedesaan" ujarku


"Iya Naima,kalau kita akan memasuki desa orang itu,kita akan melewati sebuah lapangan yang cukup luas, dan setelah itu kita akan melewati jalanan yang dikiri dan kanan jalan ditumbuhi pohon bambo yang sangat lebat.


Setelah 1 jam perjalanan kami telah sampai ditempat tujuan.


Rumah sederhana dari kayu berlantaikan tanah,kesan pertama yang aku lihat ...dipekarangan rumahnya nampak gersang hanya ada 1 pohon dan berapa ayam yang sedang berkeliaran mencari makanan.


" Allhamdulillah kita tiba dengan selamat,meskipun harus beberapa kali berhenti dan bertanya" kataku sambil keluar dari mobil dan disusul yang lainnya


"Iya Naima,syukurlah kita sudah sampai dengan selamat" ujar Angga lalu merenggangkan otot tubuhnya


"Kamu sedang apa Naima?" tanya Sinta keheranan karena melihatku membongkar kembali amplop.


"Aku hanya menambahkan sedikit uang lagi Sin" kataku


"Menambahkan uang lagi? bukankah kamu dan Devanno menyumbang lumayan banyak Naima,lagi pula kamu masih sekolah Naima,uang darimana?" tanya Sinta


Aku lalu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan aku masukkan kedalam amplop


"Naima banyak sekali uang yang kamu berikan ? " tanya Sinta dengan bingung


"Ini tidak seberapa Sin,ya sedih saja melihat kehidupan keluarga pria itu,sungguh jauh berbeda dengan kehidupanku" ujarku


"Iya kamu benar Naima" ujar Sinta


"Mbak Naima ayo kita kesana" kata pak Hamid


"Baik pak" jawabku. Dan aku bersama teman\-temanku berjalan mengikuti pak Hamid dibelakang.


"Tok...tok ...tok" pak Hamid mengetuk pintu yang terbuat dari kayu itu.


Seorang wanita keluar dari rumah itu


"Ada apa pak? Cari siapa?" tanya ibu itu


"Saya mencari pak Tejo,bu" kata Devanno secara spontan


"Silakan masuk,maaf rumah saya seperti ini" jawab ibu itu .Lalu mempersilahkan kami duduk diatas kursi yang terbuat dari bambu.


Dua orang anak kecil keluar melihat kami dan duduk disamping ibu itu. Ada 2 orang wanita tua yang sedang duduk diatas tikar yang nampak sedang sibuk mengupas kentang dan bawang merah.


"Maaf kalau boleh tahu,ada keperluan apa mencari suami saya " kata ibu itu


Nampak kesedihan dimatanya,tetapi aku bisa melihat dia adalah wanita yang kuat


"Suami saya tidak ada pak,dik.Suami saya sudah meninggal" kata ibu itu


"Meninggal karena kecelakaan tunggal" kata Devanno


"Iya,darimana adik tahu?" tanya ibu itu


"Ibu maaf ,kami tidak bisa menolong suami ibu,karena suami ibu langsung meninggal ditempat kejadian" kata ku


"Semua sudah takdir dik,ibu hanya bisa pasrah" kata ibu itu pelan dengan mata berkaca\-kaca


"Silakan diminum dulu pak,dik" ujar seorang nenek sambil menyuguhkan minuman kepada kami.


"Terima kasih" jawabku


"Maaf hanya bisa menyuguhkan air saja,silakan diminum" ujar ibu itu dengan ramahnya


Aku,pak Hamid dan teman\-teman meminum air teh itu.


"Ibu kedatangan kami,ingin mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya suami ibu dan kami ingin memberikan sesuatu semoga bermanfaat bagi ibu dan keluarga" ujarku sambil memberikan amplop yang telah aku siapkan dari rumah.


"Ini dari saya dan teman\-teman" ujarku


"Jangan dik,tidak usah repot"kata ibu itu menolak pemberian kami


" ibu,kami memang tidak pernah mengenal suami ibu,tolonglah ibu menerima ini,semua yang terjadi itu bukan kebetulan bu,ada campur tangan Tuhan bu,ibu tidak perlu sungkan ,kami ikhlas bu" kataku


Lalu ibu itu mau menerima pemberian dari kami



Tidak terasa petang telah tiba,waktu begitu cepat berlalu.Aku melihat jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul 18.00 WIB,kamipun memutuskan untuk berpamitan


"Ibu kami pamit dulu,semoga ibu dan keluarga dalam lindunganNya." ujarku


"Iya dik,ibu dan keluarga mengucapkan banyak terima kasih atas segala kebaikan adik dan teman\-teman" ujar ibu itu


Lalu kedua nenek tua memelukku satu persatu dan berkata,"terima kasih nak,semoga Tuhan membalas semua kebaikan adik dan yang lainnya.


"Sama\-sama nek" ujarku dengan lembut


Aku merasakan bahagia ketika aku dan teman\-teman dapat melakukan sesuatu kebaikan kepada orang lain.


Bagiku berbuat baik tidak harus selalu karena ikatan darah.


Ibu Tejo lalu mengantar kami sampai ke halaman rumah mereka,setelah itu aku,pak Hamid dan ketiga temanku Angga ,Devanno ,serta Sinta masuk kedalam mobil.Tiba\-tiba ibu Tejo mengetuk kaca mobil,lalu aku membuka kaca mobil.


"Ada apa bu?" tanyaku


"Ehm...dik nanti dalam perjalanan pulang,jangan berhenti sebelum keluar dari desa."


"Kenapa bu?" tanyaku


"Tidak apa\-apa dik,yang penting adik turuti saja pesan ibu" kata ibu Tejo


Aku hanya menganggukkan kepalaku


Lalu kami meninggalkan rumah ibu Tejo,aku sempat menatap wajah kedua anak bu Tejo,sedih rasanya melihat mereka ,usianya masih kecil sudah harus kehilangan figur seorang ayah,lalu aku teringat akan kisah masa kecilku,aku tahu rasanya ketika aku tumbuh dan dibesarkan tanpa pernah melihat secara langsung atau mendapatkan kasih sayang ayah dari ayahku. Mereka masih beruntung karena memiliki seorang ibu dan nenek yang menyayangi mereka,tetapi aku sedih melihat kondisi perekonomian mereka,semoga uang yang aku berikan bisa digunakan untuk modal usaha bagi ibu itu.


"Mbak Naima,kita cari mushola atau masjid untuk salat" kata pak Hamid


"Iya pak" ujarku


Sepanjang perjalanan keadaan jalan desa benar\-benar sepi saat ini ,dan penerangan sangat kurang.


"Kok tidak ada mushola atau masjid ya" ujar pak Hamid


"Mungkin karena kita tidak hafal daerah disini pak,jadi kurang tahu saja" ujarku


" Kamu pernah kedesa ini Devanno?" tanyaku


"Iya sudah pernah,tapi sudah lama dan itu hanya sekali" kata Devanno


"Devanno benar\-benar menyebalkan hari ini,pantas tadi sore kita harus tanya kebeberapa orang,kan kamu bilang sudah tahu rumah pak Tejo" ujarku dengan kesal


"Maaf Naima,sebenarnya aku tahu pak Tejo itu dari seorang temanku,tapi aku tahu desa ini,hanya kurang tahu letak rumah pak Tejo yang sebenarnya" sanggah Devanno yang mencoba mencari pembelaan


"Pak Hamid,kita pulang saja. Salatnya dijamak saja dirumah" ujarku


"Naima traktir aku ya,kita beli makanan yuk,aku sudah lapar!" ajak Sinta


"Oiya kalian pasti sudah lapar,hehe aku juga" ujarku


"Pak Hamid kita cari warung terdekat ya" ujarku kepada pak Hamid


"Baik mbak Naima" jawab pak Hamid


"Naima lihat itu!" kata Sinta


"Seperti pasar malam Sin" jawabku. Lalu aku meminta pak Hamid menghentikan laju mobil.


"Kita lihat yuk,pasti disana banyak penjual makanan" kata Angga


"Tapi perasaanku tidak enak,Ngga" ujarku


"Menurutmu bagaimana Dev?" tanyaku pada Devanno yang sedang menyandarkan kepalanya ke kaca mobil


"Terserahlah,aku ngikut saja" jawab Devanno


"Tapi....." kataku lirih,jujur perasaanku tidak nyaman saat ini.


"Ayo Naima,kita kesana....ayo" kata Sinta yang nampak begitu semangat untuk kesana.Lalu Sinta membuka pintu mobil dan keluar


"Sepi disini,ujar Sinta...tetapi dipasar malam itu ramai pengunjung" ujar Sinta


Angga keluar mobil dan mendekati Sinta


"Ayo Naima,kita lihat sebentar saja pasar malamnya" ujar Angga sambil mengetuk kaca mobil


"Iya aku ,turun...ayo Dev,kita turun...pak Hamid ikut tidak?" ujarku


"Pak Hamid lelah,pak Hamid menunggu dimobil saja" ujar pak Hamid.


"Iya pak " jawabku


Aku membawa sling bag kesayanganku,lalu aku keluar dari mobil bersama Devanno


Aku dan teman\-teman menyeberang jalanan yang nampak lenggang,tidak ada satu kendaraanpun yang melintas.


"Kenapa pak Hamid tidak ikut kita Naima" tanya Sinta


"Pak Hamid,ingin menunggu dimobil,dia merasa lelah" ujarku pada Sinta.


"Oo...kalau pak Gun,dulu selalu mendampingimu,dimanapun kamu berada" ujar Sinta


"Sudah tidak usah dibahas Sin,karakter seseorang itu tidak sama" ujarku pada Sinta


Lalu kami berempat berhenti didepan pasar malam yang berada ditengah lapangan luas,dimana sekelilingnya ditumbuhi rumput ilalang kering dan begitu banyak.


Kamipun memasuki pasar malam itu,suasana begitu ramai.


"Diluar tadi aku tidak melihat pengunjung,tetapi didalam ternyata ramai pengunjung" ujarku dalam hati


"Wah ada kora\-kora ,ayo kita naik itu" ujarku dengan senang sambil menggandeng tangan Devanno


"Kora\-kora,tapi...." sanggah Devanno


"Tidak ada tapi...ayo Dev" kataku sedikit memaksa Devanno,biasanya Devanno yang keras kepala dengan keinginannya ,kini aku yang memaksanya


"Aku ikut Naima" ujar Angga dan Sinta


Lalu aku membayar tiket ,untuk bisa menaiki kora\-kora.


Setelah itu aku dan ketiga temanku menaiki kora\-kora


"Hore....." teriak Sinta dengan wajah kegirangan


"Kamu nampak tegang Dev?" tanyaku


"Tidak apa\-apa " jawab Devanno singkat


Beberapa menit kemudian,kamipun turun.Wajah Devanno nampak pucat,lalu dia berlari keluar dari kerumunan orang ketempat sepi,aku lalu aku mengejar Devanno.Dan....


"Hoack.....jangan mendekat Naima" ujar Devanno


"Kamu kenapa Dev" kataku sambil mendekati Devanno yang sedang muntah didepanku,aku lalu memijat leher Devanno


"Kamu muntah Dev,muntahkan saja,tidak usah malu" kataku pada Devanno


"Sekarang aku lebih baik Naima,maaf Naima,saat pulang tadi aku sudah merasa kurang fit" ujar Devanno


"Tidak apa\-apa Dev" kataku


"Kakak,kenapa kalian kesini" ujar seorang gadis kecil manis secara tiba\-tiba


"Kenapa adik manis ,kakak dan teman\-teman hanya ingin main disini,didesa kecil ini ternyata ada pasar malam yang lumayan bagus" kataku


"Kakak sebaiknya segera pulang sebelum semuanya terlambat" ujar adik itu


"Cepat keluar dari tempat ini kak" kata adik itu kali ini dia nampak serius dan memaksa


Tiba\-tiba seorang wanita menghampiri anak itu,dan menggandeng tangan gadis kecil itu tanpa melihat kearahku,dan expresinya nampak dingin. Gadis itu meninggalkan kami dan beberapa kali menatapku seolah memberiku peringatan untuk segera pergi dari tempat ini


"Hay,kalian ternyata disini,aku dan Angga mencari kalian dari tadi" ujar Sinta


"Maaf ini....tadi aku mengejar Devanno yang berlari,makanya sampai disini" kataku


"Memangnya kamu kenapa Dev" ujar Angga


Devanno hanya terdiam


"Katanya kita mau makan,jadi beli makanan apa tidak? tanyaku mengalihkan pembicaraan


" jadi dong,kita sudah lapar ini,kamu yang traktir ya Naima" kata Sinta kepadaku


"Boleh ...boleh,nanti aku yang bayarin"


"Jangan Naima,biar aku saja " ujar Devanno


"Aku saja " ujar Angga


"Hmm ...baik,terserah siapa yang mau bayarin" kataku


Lalu kami membeli beberapa makanan,karena Devanno dan Angga saling berebut untuk membayar,jadi biar adil mereka berdua yang membayar,sebagian Angga yang membayar,sebagian lagi Devanno yang membayar .


"Lega kita pulang bawa makanan,nanti kita makan dimobil saja" ujar Sinta


"Ayo kita makan bakso,udara disini dingin" ujar Angga


Lalu kami membeli bakso ditempat itu.


"Pak ,bakso 4 mangkok" ujar Angga


Penjual hanya diam,tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.Wajah penjual itu nampak pucat pasi,aku mulai merasakan keanehan.


Aku melihat pedagang itu sedang mempersiapkan pesanan kami.


Aku berusaha mengacuhkan perasaanku,dimana aku mulai merasakan kejanggalan ditempat itu,awal semua nampak biasa bagiku,tetapi kini aku mulai merasa aneh ,aku tidak mendengar tawa ceria anak\-anak,wajah mereka nampak pucat.


" kakak cepat pergi dari sini,sebelum terlambat,percayalah kepadaku" ujar gadis kecil itu yang tiba\-tiba berada disampingku


"Ayo kak,ayo....ayo" ujar gadis kecil itu sambil menarik tanganku.


"Teman\-teman ayo cepat kita pergi" ujarku pada sahabatku


"Eh,maaf pak baksonya tidak jadi,ini uangnya maaf ya pak." ujarku pada pedagang bakso itu dan dia menoleh aku sangat terkejut saat melihat kondisi tubuhnya yang separuh terbakar.Sinta menjerit ketakutan dan saat aku menoleh ke sekeliling pasar malam pemandangannya sudah berbeda yang tadi aku lihat kini berubah semua orang disana kebanyakan dari mereka mengalami luka bakar yang mengerikan dan menatap kita dengan tatapan yang sangat tajam sambil berteriak. "MATI" sekaligus membawa pisau ,dan gadis kecil itu menarik tanganku.


"Ayo kak cepat lari,sebelum gerbang gaib ini tertutup dan sahabat kakak bisa mati termasuk kamu." ujar gadis kecil itu.


Aku dan teman\-teman berlari terus berlari ,aku terus mengikuti langkah gadis itu yang tidak henti menarik tanganku sedangkan dibelakang Sinta sudah ingin pingsan saja saat kondisi begitu menegangkan seperti ini.


Maklum mereka makhluk gaib bisa muncul kapan saja. Beberapa kali Sinta pingsan ,dan itu membuat kami harus mengeluarkan extra tenaga untuk bisa keluar dari tempat itu,aku menyuruh Devanno dan Angga untuk menopang tubuh Sinta yang setiap kali melihat hantu akan pingsan lagi dan sebelum dia pingsan beberapa kali dia mengucapkan kalimat "kapan kita keluar dari tempat ini."


Beberapa kali kami terus berlari tetapi seolah semua terasa sama seperti kita terus berputar \-putar.


Dan tiba\-tiba aku melihat sebuah pintu,seperti sebuah cahaya tetapi temanku melihatnya seperti kobaran api


"Ayo cepat kalian keluar" ujarku


"Naima,itu api...yang benar saja" ujar Angga


"Ayo kak,cepat kalian keluar" ujar adik kecil


"Ayo kalian keluar ...cepat!" gertakku sambil menghentakan kakiku


"Tapi...Naima...kita nanti bisa mati,itu api" ujar Angga


" cepat,tidak ada waktu untuk berdebat" ujarku lalu aku mendorong Angga keluar dari dimensi ini


"Kamu kenapa Naima,apa kamu sudah gila? " teriak Devanno


"Kakak kita tinggal menghitung waktu" ujar gadis kecil itu sambil memukul pelan jari telunjuknya diatas pergelangan tangannya dan berkata "tek...tek...tek" seperti meniru suara detak jam,seolah memberi isyarat kepadaku bahwa waktu kita tinggal sedikit. Hal itu benar\-benar membuatku panik,dan aku tidak peduli lalu aku mendorong tubuh Sinta dan Devanno keluar dari tempat itu,seketika cahaya itu menghilang dan aku masih tertinggal disini


Ditempat lain,......


"Ya Allah Naima benar......Naima....Naima....." teriak Devanno


Airmata menetes dari mata Devanno,ada rasa penyesalan dan kekuatiran terhadap kondisiku.


"Syukurlah kita bisa keluar...tetapi mana pasar malam itu,mana Naima" ujar Angga nampak kebingungan


Devanno lalu berlari menuju tempat dimana mobil diparkir,dan disana nampak pak Hamid sedang tertidur didalam mobil,lalu Devanno membangunkan pak Hamid yang sedang tertidur .


"Paman,Naima menghilang.. Pasar malam itu ...itu pasar malam gaib...Naima terjebak disana" ujar Devanno dengan nafas terengah-engah


"Ya tuhan" lalu pak Hamid keluar dari mobil untuk membuktikan ucapan Devanno,pasar malam itu sudah tidak nampak ,pak Hamid lalu mendekat,tetapi dia tidak melihat apapun


"Ya,tuhan..." ujar pak Hamid dengan keheranan.


Karena hal itu,pak Hamid dan teman-teman terpaksa harus tidur di dalam mobil