
Aku merenung,kenapa aku semudah itu untuk mengatakan mau mengikuti ruqyah. Semudah itu....
"Ya ,sudahlah mau gimana lagi,apa yang terucap tidak mungkin aku tarik kembali" aku berkata pada diriku sendiri
"Lalu siapa yang akan mengantarku kesana? Dengan pak Hamid? Ah tidak mungkin,aku tidak terlalu dekat dengan pak Hamid,andai pak Gun ada disini" gumamku dalam hati
"Terus apa alasanku pada mbok Warti?" tanyaku dalam hati
Disaat seperti ini aku teringat Devanno.
"Apa Devanno bisa mengantarku kerumah pak Zein?" kataku dalam hati
Aku lalu mengambil ponselku. Beberapa kali aku ingin menelepon Devanno,tetapi beberapa kali aku mengurungkan niatku.
Minggu ini hari sangat cerah,aku buka tirai jendela kamarku. Ini pertama kalinya aku menatap keadaan luar rumah melalui jendela kamarku,jalanan sudah nampak ramai ,aku bisa melihat dengan jelas karena kamarku berada dilantai 2 rumahku.
" Ternyata melihat keadaan pagi hari lewat jendela bagus juga" gumamku dalam hati.
Karena biasanya aku hanya membuka jendela,tanpa tertarik untuk melihat keadaan luar rumah dari kamarku.
Lalu aku teringat ucapanku kepada pak Zein,sore ini aku akan datang kerumahnya.
Aku menghela nafas,lalu aku mengambil ponselku kembali
Tut......tut.....tut..... Nada telpon yang mulai terhubung.
"Naima,tumben meneleponku,ada apa,kangen ya?" ujar Devanno mendahuluiku
"Dev,aku mau bicara serius " kataku mencoba menegaskan kalau saat ini aku tidak ingin mendengar gurauan
"Apa my wife? " ujar Devanno
Kata my wife sangat familiar ditelingaku,karena sangat sering Devanno ucapkan.
"Kenapa selalu memanggilku my wife" tanyaku
"Naima,aku adalah orang yang mempercayai bahwa ucapan adalah doa,dan karena itu aku akan mengatakan berkali-kali kepadamu. Aku berharap bahwa Naima Syahya kelak akan menjadi istriku" jawab Devanno sok dewasa
Aku hanya terdiam,dan lalu aku mencoba mengalihkan pembicaraan
"Dev,kemarin pak Zein memintaku untuk datang kerumahnya sore ini" kataku
"Pak Zein? Untuk apa? " tanya Devanno
"Kemarin beliau berbicara tentang ruqyah kepadaku" kataku singkat
"Ruqyah? Siapa yang akan diruqyah?" tanya Devanno
"Mungkin aku,tetapi entahlah" jawabku
"Hmm" ujar devanno
"Apa kamu bisa menolongku Dev? Mr Sailendra Devanno" kataku dengan sedikit bercanda
" Tentu saja,aku Sailendra Devanno akan selalu ada untukmu Naima" jawab Devanno
"Nanti sore aku akan kerumahmu" ujar Devanno
"Terima kasih Devanno" jawabku
Lalu aku menutup teleponku. Aku duduk diatas kasurku yang empuk,sambil menatap pemandangan diluar rumah dari balik jendela.
Entah kenapa hari ini aku merasa kesepian,dan untuk menghilangkan perasaanku itu aku lalu mengambil komik dari tas sekolahku dan membacanya.
Tiba-tiba pintuku diketuk dari luar,ternyata mbok Warti yang masuk kedalam kamarku
"Kamu kenapa nak? Kok wajahmu nampak sedih? " tanya mbok Warti
"Tidak apa-apa mbok,aku baik-baik saja kok" jawabku untuk membuat mbok Warti tidak mencemaskanku
Mbok Warti hanya menatapku,seolah dia tahu bahwa aku menyembunyikan sesuatu.
"Jangan lupa makan nak ,mbak Sulastri tadi sudah memasak makanan" kata mbok Warti
"Iya mbok,tetapi saat ini aku belum lapar mbok,nanti aku pasti makan kok,mbok Warti tidak perlu kuatir" kataku sambil merangkul mbok Warti dengan manja. Mbok Warti hanya tersenyum padaku.
Aku tahu kenapa mbok Warti sangat mencemaskan keadaanku,selain dia adalah orang yang sangat menyayangiku,mbok Warti adalah orang yang merawatku sejak aku bayi,dan ibuku telah memberikan kepercayaan kepada mbok Warti dalam mengasuhku.
"Mbok nanti jam 3 sore,aku dan temanku Devanno akan pergi kerumah pak Zein,bolehkan mbok?" tanyaku pada mbok Warti
" Ada apa nak? Kenapa harus kesana?" tanya mbok Warti
"Aku kurang tahu mbok" jawabku secara singkat.
Jujur ada rasa takut dalam hatiku untuk mengatakan yang sebenarnya ,aku takut mbok Warti akan mencemaskan keadaanku
"Ya,sudah nak,tetapi nanti hati-hati dijalan" kata mbok Warti kepadaku
Aku hanya mengangguk dan tersenyum,mengiyakan ucapan mbok Warti.
Lega rasanya,setidaknya aku telah mendapat ijin dari mbok Warti.
Mbok Warti lalu meninggalkan ruanganku,sebelum pergi dia mengulangi ucapannya agar aku segera makan pagi.
Hari ini aku malas melakukan aktivitas apapun,aku lebih suka membaca komik didalam kamarku.
Waktu berlalu begitu cepat tidak terasa waktu menunjukkan pukul 14.00 WIB.
"Hmm...keasyikanku membaca komik,telah membuatku hampir lupa waktu" gumamku didalam hati.
Lalu aku segera bangkit dari ranjangku dan bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dan menyegarkan tubuhku. Setelah selesai aku segera berhias dan berganti pakaian.
" kring..........." ponselku berdering.
Aku segera menjawab telepon Devanno.
"Ada apa Dev" tanya
"My wife aku sudah di halaman depan rumahmu" kata Devanno
Aku segera memasukkan ponsel kedalam slingbag kesayanganku,dan keluar kamar.
"Mbok aku pergi dulu,Devanno sudah menungguku dihalaman depan rumah" kataku
Lalu aku mencium tangan mbok Warti,kemudian mbok Warti mengantarku sampai diteras depan rumah.
Devanno nampak sedang duduk diatas motornya. Aku lalu menghampirinya.
"Dev,kita berangkat sekarang" kataku
"Hmm....sebentar" kata Dev,lalu dia turun dari motornya dan menghampiri mbok Warti lalu mencium tangannya,lalu dia berpamitan kepada mbok Warti bahwa dia ingin mengantar aku ketempat pak Zein
Aku melihat mbok hanya tersenyum kepada kami dan berpesan kepada kami untuk hati-hati dijalan
"Baik mbok,saya pasti akan menjaga Naima dengan sangat baik" kata Devanno
Lalu Devanno memberiku sebuah helm warna putih yang senada dengan tshirt yang aku pakai
"Pakai ini,untuk safety" kata Devanno padaku
"Iya,terima kasih Dev" jawabku
Lalu Devanno menyalakan motornya
"Da..da..da ...mbok" kataku sambil melambaikan tanganku pada mbok Warti
"Hmm...Naima ,bukankah mbok Warti itu pengasuhmu?" tanya Devanno
"Iya ,kenapa? " tanyaku balik
"Ooo...karena itu? Tentu saja Dev,dia tidak seperti pengasuhku,aku menganggapnya seperti nenekku,seperti pengganti orang tuaku,dia yang merawat aku dari kecil Dev" jawabku
"Jarang ada orang yang mau menghargai jasa pembantunya Naima,atau menganggap mereka seperti bagian dari keluarganya" kata Devanno.
Aku hanya terdiam,dan kemudian Devanno fokus dalam mengendarai motornya.
"Hmm,Devanno memang lihai mengendarai motor ,padahal dia baru kelas 1 SMP,pantas dia menjadi juara disetiap kompetisi " gumamku dalam hati
Tidak terasa kami sudah sampai dirumah pak Zein.Dan Devanno memarkirkan motornya dihalaman depan rumah pak Zein.
Sepertinya pak Zein sudah tahu kedatangan kami,jadi dia segera menyambut kami.
"Kalian sudah datang,ayo masuk kedalam rumah nak" kata pak Zein
"Baik pak" kataku pada pak Zein
Mataku menatap keadaan rumah pak Zein.
Rumah pak Zein ,adalah rumah yang sederhana dan asri,dihalaman ada pohon mangga dan kelengkeng.Serta sayur mayur ditanah didalam polybag dan tertata dengan rapi dan tumbuh subur
"Ini rumah bapak nak, rumah ini adalah rumah peninggalan orang tua bapak." kata pak Zein
Aku hanya terdiam
"Devanno dan Naima,silakan kalian duduk" kata pak Zein
Kamipun lalu duduk dikursi ruang tamu pak Zein.
Lalu pak Zein masuk kedalam rumah dan tidak beberapa lama pak Zein datang membawakan minuman.
Aku segera berdiri dan membantu pak Zein.
"Kenapa pak Zein,harus serepot ini" kataku sambil meletakkan beberapa minuman diatas meja
Pak Zein hanya tersenyum lalu berkata bahwa dia sedang menunggu guru spiritualnya.
Aku hanya diam dan duduk kembali
"Saya mau kue ini pak" kata Devanno
"Iya kamu ambil saja Dev" kata pak Zein
"Apa kamu mau Naima?" tanya Devanno
Aku hanya menggelengkan kepalaku,hari ini aku merasa tidak lapar.
"Guru spiritual pak Zein?" tanyaku dalam hati
Tidak beberapa lama,ada mobil berhenti dihalaman rumah pak Zein.
Ada empat orang yang keluar dari mobil,mereka memakai jubah dan sorban.
Pak Zein nampak tergopoh-gopoh menyambut mereka.
"Allhamdulillah sudah datang pak Ustad" kata pak Zein sambil menjabat tangan salah seorang dari mereka.
"Allhamdulillah pak" kata pria itu
Entah kenapa jantungku berdetak kencang,ada perasaan yang tidak bisa aku ucapkan saat menatap wajah pria itu dari jendela.
Lalu pak Zein mengajak mereka masuk kedalam ruang tamu,dimana aku dan Devanno sedang duduk
"Ini adalah siswa saya,yang beberapa minggu lalu saya ceritakan" kata pak Zein sambil menunjuk kearahku
Aku berdiri,dan mencium tangan bapak itu dan Devanno juga melakukan hal yang sama,sebagai rasa hormat kami
Kami semua duduk diruang tamu,jujur aku merasa canggung dan tidak nyaman dengan semua ini,aku ingin segera pergi dari rumah pak Zein.
" Namamu siapa nak?" tanya pak Ustad itu
"Nama saya Naima pak" jawabku singkat
"Dimana kamu tinggal nak?"
"Saya tinggal di Griya Tama" jawabku singkat
Pria yang disebut pak Ustad itu,tiba-tiba terdiam.
"Apa kamu kenal ibu Ningsih? " tanya bapak itu
"Ehmm ,yang bernama ibu Ningsih ada 2 orang pak? " jawabku
"Dia tinggal di Griya Tama blok A no 3,apa kamu kenal nak?" kata pria itu
"Itu rumah saya pak,ibu Ningsih itu adalah ibu saya pak" jawabku
Sontak pria itu, terkejut dan menatapku haru.
Tangannya spontan berusaha memelukku,tentu saja aku menghindar,aku takut lagi pula aku baru saja bertemu dengannya.
"Bagaimana kabar ibu Ningsih nak?"
"Baik pak" jawabku lirih
Lalu pria yang dipanggil pak Ustad itu menggajak pak Zein kedalam rumah,aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Lalu pak Zein mengajak aku keruang tengah ,dan Devanno juga mengikutiku ,dia seolah tidak ingin meninggalkanku
"Kamu berwudhu dulu nak,dan pakai mukena kamu ikut kami salat" kata pak Zein
"Apa saya akan diruqyah pak Zein" tanyaku
Pak Zein,menganggukkan kepala.
Aku bingung kenapa aku harus diruqyah,aku baik-baik saja. Aku tidak merasakan sakit atau apapun. Tetapi aku menuruti kemauan pak Zein
Setelah selesai berwudhu aku mengikuti salat taubat bersama. Setelah itu kami membaca beberapa surat dari alquran,aku kurang pandai membaca Alquran tetapi aku mengikuti semua bacaan itu dan membaca dengan khusuk ,pria itu berdiri dan membacakan doa-doa kepadaku,memintaku meminum air yang telah diberi doa,entah kenapa seperti terjadi benturan energi,pria itu memuntahkan darah,begitupun dengan diriku.
"Naima kamu tidak apa-apa?" kata Devanno yang segera menghampiriku.
Dia nampak cemas,begitupun pria yang dipanggil pak ustad itu
"Kamu tidak apa-apa nak" kata pria itu.
"Tidak apa-apa pak" kataku
" Hmm...beberapa orang didunia ini memang terlahir berbeda nak,dan begitupun dengan dirimu,gunakan semua keistimewaan dalam dirimu untuk kebaikan" kata pria itu
"Kenapa saya diruqyah pak?" aku bertanya
Tidak ada seorangpun menjawab pertanyaanku. Aku sebenarnya merasakan sakit pada dadaku,merasakan seperti terjadi benturan.
"Naima kamu baik-baik sajakan" tanya Devanno dengan cemas
"Apa kamu mual,atau merasa ingin muntah nak?" tanya pak Zein
"Tidak pak" jawabku sambil membersihkan darah yang dari mulutku
Pria yang dipanggil ustad itu,memiliki wajah yang mirip dengan ibuku
"Wajah bapak memiliki kemiripan dengan ibu saya" kataku secara spontan
Pria itu menatapku dan tersenyum,tetapi hati kecilku berkata ada yang dia sembunyikan dariku,aku melihat tatapan hangat bapak itu padaku,seperti aku adalah seseorang yang menjadi bagian dari hidupnya
Hari ini hatiku terus bertanya ,siapa bapak itu? Saat ini aku merasakan sakit yang luar biasa pada dadaku,rasa sakit seperti terbakar ,tetapi aku percaya aku akan baik -baik saja.
To be continue ,terima kasih telah membaca ceritaku