
1 Minggu kemudian masih tidak ada kabar dari nyonya Sarah, aku berharap semua akan baik-baik saja.
"Mbak Naima...ada tamu" ujar mbak Sulastri
"Siapa mbak,seorang gadis dan seorang wanita" ujar mbak Sulastri secara tiba-tiba
"Siapa mbak ?" tanyaku
"Kalau yang wanita saya sepertinya pernah lihat,sepertinya dia dulu pernah kesini.Tetapi kalau yang gadis cantik,saya tidak pernah melihat mbak" ujar mbak Sulastri.
"Ya sudah mbak,aku akan segera turun untuk menemui mereka " ujarku lalu meletakkan buku cerita yang belum selesai aku baca diatas meja didalam kamarku,lalu aku segera keluar kamar untuk menemui mereka.
"Cahyani....nyonya Sarah..." ujarku terkejut.
Tentu saja aku kaget dibuatnya. Aku masih ingat betapa marahnya Cahyani kepada nyonya Sarah waktu itu,dia benar-benar benci dan tidak suka dengan kedatangan kami dirumahnya.
Cahyani tiba-tiba menghampiriku lalu memelukku.
"Naima ,terima kasih untuk segalanya" ujar Cahyani
"Iya" jawabku singkat.
Sedang dikepalaku muncul pertanyaan, sekarang semua nampak berbeda. Aku menatap Cahyani ,ada perubahan dalam berpakaian,bahkan bahan kain yang digunakan juga berkelas. Dan kenapa dia datang kerumahku bersama nyonya Sarah, Apakah semua baik-baik saja. Aku berharap ini adalah suatu tanda kebaikan ,bahwa hal baik sedang terjadi.
"Silakan duduk Cahyani,silakan duduk nyonya Sarah " ujarku
"Nak, kedatangan kami kesini untuk mengucapkan banyak terima kasih kepadamu" ujar Nyonya Sarah
"Maaf nyonya ,terima kasih untuk apa?" tanyaku kebingungan
"Iya ,Naima.Apa yang kamu ucapkan kepadaku, adalah benar . Aku terlalu egois dan merasa akulah yang paling terluka,padahal aku tidak sendirian.Nyonya Sarah juga merasakan sakit yang aku rasakan karena kehilangan Dirga. Nyonya Sarah adalah wanita yang mengandung dan melahirkan pemuda yang aku cintai. Tentu nyonya Sarah merasakan sakit yang luar biasa." ujar Cahyani
"Nak, kini Cahyani telah aku angkat menjadi putriku. Aku akan mencintai dia seperti putriku sendiri. Cahyani gadis yang baik,lagipula dia adalah gadis yang sangat dicintai oleh Dirga dimasa hidupnya. Aku ingin melihat putraku bahagia disurga,melihatku bersama gadis yang dicintainya" ujar Nyonya Sarah
"Kau tahu Naima ,sekarang aku,ayah dan ibuku tinggal bersama keluarga nyonya Sarah,nyonya Sarah memperlakukanku dan keluargaku seperti keluarga sendiri" ujar Cahyani
"Iya nak,kamu sudah aku anggap sebagai putriku sendiri,apalagi aku juga tidak memiliki keturunan.Dirga putra semata wayangku kini telah kembali kepada Sang Pencipta" ujar nyonya Sarah.Sambil tangannya memegang tangan Cahyani.
Dimata mereka berdua ,aku melihat adanya ketulusan hati.
Nyonya Sarah kini benar-benar mencintai dan menyayangi Cahyani seperti putrinya sendiri. Semua kejadian buruk dan kesalahan dimasa lalu,kini telah berubah menjadi kebahagiaan.
Kesungguhan hati untuk merubah segala lebih baik,dan keikhlasan hati untuk memaafkan kini dapat menyatukan mereka yang pernah saling membenci dan menyakiti.
Matahari kini bersinar terang didalam keluarga Dirga. Mereka meyakini bahwa meskipun Dirga tidak lagi ada didunia ini, namun Dirga akan selalu hidup selamanya. Cinta sejati,tidak akan pernah mampu dipisahkan oleh masa dan kematian. Karena cinta sejati akan selalu hidup dan mengakar kuat didalam sanubari.
Tidak terasa cukup lama kami berbincang-bincang,aku berusaha menjadi pendengar yang baik dari cerita mereka. Kini tawa dan canda yang terdengar serta nampak raut wajah kebahagiaan pada diri mereka.
"Naima, sudah hampir malam...kami pamit pulang dulu,oya ini ada hadiah untukmu dari kami" ujar Cahyani sambil memberikan sebuah kotak yang terbungkus dengan rapi
"Tidak usah Cahyani,simpan saja...aku senang mengenalmu,dan aku senang memiliki sahabat seperti dirimu" ujarku
"Tidak Naima....aku mohon terimalah hadiah dariku ini" ujar Cahyani
"Baiklah....terima kasih "
Lalu mereka berpamitan dan segera pulang kerumah mereka.
"Mbak Naima kelihatan bahagia sekali"
"Iya mbak Sulastri, kebencian seseorang itu bisa menjadi cinta dan sebaliknya rasa cintapun bisa menjadi sebuah kebencian,kekuatan Tuhan sungguh luar biasa dalam membolak balik hati manusia" ujarku
"Kunci dari segala hal adalah hati,kebaikan ataupun keburukan bersumber dari hati" gumamku
"Ah,lega...setidaknya semua menjadi lebih baik" ujarku.
"Baik mbak Naima,..oya jangan lupa mengganti lampu sebelum tidur"
"Terima kasih mbak Sulastri" jawabku
Lalu aku berjalan menuju kamarku
Sesampainya didalam kamar...aku segera membaringkan tubuhku diatas ranjang.
"Eh ...kok dingin,bukannya AC sudah aku matikan" ujarku dalam hati
Dan tiba-tiba ada angin yang berhembus masuk kedalam kamarku. Darimana angin bisa masuk kedalam kamar. Bukannya aku sudah menutup jendela tadi" gumamku lalu aku bangkit dari ranjangku menghampiri jendela kamarku untuk memastikan apakah sudah aku kunci apa belum. Dan ternyata jendela sudah terkunci rapat.
Ketika aku menoleh,aku benar-benar terkejut. Dirga telah berdiri menatapku sambil tersenyum.
Pemuda tampan yang kini telah menjadi arwah itu menatapku.
"Kenapa kamu disini? kamu mengejutkanku Dirga" ujarku
"Maaf Naima" ujar pemuda itu
"Bukankah semua keinginanmu sudah terwujud? Kini kekasihmu Cahyani telah menjadi putri mamamu,kamu tahu Dirga mamamu sangat menyayangi Cahyani begitupun Cahyani ,dia sangat menyayangi orang tuamu" ujarku
Dirga hanya terdiam
"Kenapa Dirga? Apa kamu bersedih?" tanyaku
"Tidak Naima,aku tidak bersedih,aku merasa bahagia karena mama bisa menyayangi dengan tulus gadis yang aku cintai itu"
"Lalu kenapa wajahmu nampak gelisah?" tanyaku
"Naima,jiwaku masih berada didunia ini" ujar Dirga
"Dirga...ikhlaskan semua, kembalilah kepada Sang Penciptamu,Dia yang memberi kita kehidupan dan kepadaNya kita pasti kembali" ujarku
"Naima, terima kasih untuk segalanya. Kini aku akan ikhlaskan semuanya dan kembali kepada Sang Pemilikku yang sejati. Tidak ada yang perlu aku sesali lagi. Karena aku juga tidak akan pernah mampu untuk kembali kedunia ini,alamku bukan disini" ujar Dirga
"Naima,terima kasih untuk segala kebaikan hatimu" ujar Dirga lalu tersenyum.
Dan suasana kembali hening. Kini Dirga benar-benar telah pergi.
Aku duduk termenung diatas ranjangku. Aku berusaha merenungi semua kejadian ini. Sehebat apapun masalah dalam hidup kita,jangan pernah terbersit keinginan untuk mengakhiri hidup ini. Setiap masalah pasti ada cara penyelesaiannya. Jiwa yang telah terlepas dari raga tidak akan pernah mampu untuk kembali lagi.Menghargai kehidupan yang Tuhan berikan pada kita. Mensyukuri setiap anuegerah dari sang Pencipta.
"Dirga semoga kamu tenang dialammu ,lupakan semua masalah duniawi." ujarku dalam hati
Lalu aku membacakan doa untuk Dirga. Doa yang benar -benar tulus dari dalam hati
"Cinta...oh cinta...." ujarku lirih
Tiba-tiba aku teringat kenangan saat bersama Devanno.
Entah kenapa kenangan dan bayangan Devanno selalu melintas dikepalaku
"Iya...Naima telah jatuh hati padamu Devanno" gumamku
"Tuhan jaga dia disana....dimanapun dia berada " ujarku dalam hati.
Lalu aku membaringkan tubuhku diatas ranjang dan mematikan lampu kamarku.
Tidak lama kemudian aku telah terlelap didalam tidurku
@@@@To be Continue@@@@