MY name is Naima

MY name is Naima
Misteri dibalik batu mirah delima



Pagi ini, aku masih terbaring di atas tempat tidurku, aku masih teringat akan semua peristiwa yang terjadi kemarin, semua seolah bagaikan mimpi yang menakutkan, tubuhku masih terasa begitu lelah.


Tok...tok...tok,suara pintu kamarku diketuk.


"Masuk ! " kataku sambil menoleh ke arah pintu.


"Oo...ternyata pak Gun" kataku saat pak Gun membuka pintu kamarku.


Pak Gun berjalan mendekatiku, lalu duduk di sampingku. Tangannya menyentuh dahiku lalu tersenyum dan berkata " Bagaimana keadaanmu mbak Naima?" tanya pak Gun dengan lembut.


" Saya masih merasa lemas" jawabku singkat.


"Pak Gun, apa yang pak Gun katakan pada mbok Warti? pak Gun tidak akan menceritakan yang sebenarnya kan?" tanyaku sekedar memastikan.


Pak Gun, menggelengkan kepalanya, lalu tiba-tiba dia berkata,


"Kenapa mbak Naima seperti itu, kenapa mbak Naima mengorbankan diri mbak Naima untuk orang lain, apa mbak Naima tidak memperdulikan keselamatan mbak Naima sendiri? Kalau sesuatu yang buruk terjadi pada mbak Naima, bagaimana perasaan ibu mbak Naima? Bagaimana dengan saya? Ibu mbak Naima akan sangat marah kepada saya? Jujur kejadian itu membuat saya cemas dengan kondisi mbak Naima" kata pak Gun dengan wajah sedikit cemas.


Aku hanya terdiam dan hanya mampu berkata maaf, karena aku sendiri memang tidak berpikir seperti itu, yang ada di benakku adalah keselamatan temanku.


"Pak, hari ini aku tidak masuk sekolah, tubuhku masih terasa lemas, tolong pak Gun membuat surat  ijin untukku" ujarku memelas.


"Mbak Naima, tidak perlu khawatir saya sudah membuat surat ijin sebelum mbak Naima meminta.


" Terima kasih pak Gun",kataku dengan perasaan lega.


"Pak Gun, ini apa?" tanyaku sambil menunjukkan batu merah bercahaya itu.


Sontak pak Gun terkejut, lalu mengambil batu merah yang berada di tanganku, lalu mengamatinya dengan teliti.


"Ini batu mirah delima mbak Naima?" tanya pak Gun mencoba menerka.


"Batu mirah delima? Apa itu?" tanyaku pada pak Gun dengan expresi kebingungan.


"Darimana mbak Naima mendapatkan batu ini?" tanya pak Gun, mencoba memastikan.


"Dari Nyai" jawabku singkat.


"Nyai? Siapa dia mbak Naima?" tanya  pak Gun terlihat keheranan.


"Dia yang menguasai tempat itu, karena dia menyukaiku jadi dia menghadiahi batu ini padaku" kataku secara singkat pada pak Gun.


"Pak Gun, batu mirah delima itu apa?" aku mengulangi pertanyaan yang belum dijawab oleh pak Gun.


"Konon batu ini memiliki kekuatan magis, bisa membuat seseorang menjadi nampak cantik/tampan, bisa untuk melancarkan usaha, inti dari semuanya batu ini membuat keinginan sang pemiliknya bisa terwujud" kata pak Gun.


Aku hanya terdiam, di usiaku yang masih kecil ini aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan dengan batu ini.


"Pak Gun, apa bapak suka batu ini? Aku akan memberikannya kepadamu kalau pak Gun mau?" tanyaku sambil mataku memandangi batu kecil itu.


"Pak Gun tidak berani memakai atau menyimpan batu ini nak, batu ini pantas untukmu, lagipula batu ini diberikan kepada mbak Naima, berarti ini menjadi milik mbak Naima, konon hanya dia yang berhati bersih yang mampu memilikinya " kata pak Gun mencoba menjelaskan.


"Saya tidak ingin memakainya pak, saya akan membuangnya" sanggahku.


Pak Gun,hanya terdiam.


"Apa pak Gun, bisa membantu saya?" tanyaku pada pria yang sedang termenung di sampingku.


"Membantu apa mbak Naima?" jawab pak Gun dengan tenang.


"Tolong pak Gun buang batu ini pak, terserah bapak mau buang ke mana" aku memohon kepada pak Gun.


Tiba-tiba mbok Warti datang membawakan makanan untukku.


"Ayo makan dulu, kamu pasti sudah lapar" kata mbok Warti.


Aku menganggukkan kepalaku dan aku melahap makanan yang ada di atas piringku.


"Kamu pasti kelelahan karena telah melakukan perjalanan jauh" kata mbok Warti.


Aku hanya melihat mbok Warti dan tersenyum, lalu aku melanjutkan makanku. Setelah itu mbok Warti pergi meninggalkanku.


Lalu aku meminta tolong pak Gun membuang batu itu. Pak Gun pun menganggukkan kepalanya, lalu beranjak pergi.


Olla tiba-tiba muncul di hadapanku.


"Naima maafkan aku, aku tidak bisa menolongmu, aku tidak memiliki kekuatan besar untuk menjagamu" kata Olla kecil dengan wajah penyesalan.


"Aku tidak bisa mengikutimu saat itu, ada kekuatan lain yang menghalangiku" kata Olla kecil menjelaskan.


"Olla, putri tercantik di negeri itu meminta 1 jiwa dari diriku, aku kira aku akan mati, tetapi ternyata tidak. Aku merasakan sakit yang luar biasa Olla saat itu, sangat sakit sampai aku memuntahkan darah" kataku pada Olla kecil.


"Naima di dalam tubuhmu terdapat arwah, menurutku Nyai menginginkan salah satu dari mereka untuk menjadi pasukannya" kata Olla kecil.


"Olla ketika aku pulang putri memberiku hadiah sebuah batu berwarna merah dan bersinar.Tetapi aku sudah meminta pak Gun untuk membuangnya " ujarku.


"Apa batu itu yang kamu maksud Naima? " tanya Olla sambil menunjuk sebuah batu dibatas meja, di samping tempat tidurku.


Tentu saja aku terkejut, bukankah batu itu telah aku berikan kepada pak Gun. Lalu aku mengambil ponselku dan aku menelepon pak Gun, ternyata batu itu telah dibuang kesungai oleh pak Gun, tetapi batu ini kembali lagi kepadaku.


Tanganku meraih batu yang ada di atas mejaku, aku bisa merasakan batu ini memiliki kekuatan magis yang luar biasa, Ollapun mengangguk membenarkan.


Tiba-tiba tubuhku yang begitu lemas menjadi lebih segar dan aku merasa baik-baik saja, padahal sebelumnya untuk berdiri saja aku tidak memiliki tenaga.




Malam ini......udara begitu dingin, aku mematikan AC kamarku, lalu menutup jendela kamarku. Aku memakai selimut dan juga jaketku. Tiba-tiba batu mirah delima itu berubah menjadi asap lalu cahaya ruangan kamarku berubah menjadi menjadi merah, aku melihat seorang wanita cantik yang memakai baju merah dan sangat cantik sekali, dia tersenyum padaku. Kemudian dia memegang tangan kecilku. Aku tidak bisa berkata apa-apa, aku hanya terdiam.



"Naima, aku adalah penjagamu, aku ditugaskan untuk menjaga dan melindungimu" kata wanita cantik itu.



"Kamu terpilih Naima, aku menyukaimu" kata wanita itu lalu tersenyum dengan lembut ke arahku.



Semua seperti mimpi, tetapi aku tahu bahwa aku tidak bermimpi, batu kecil ini memiliki penghuni, entah itu khodam atau apa, yang aku tahu makhluk itu baik dan dia tidak akan menyakitiku.



Pagi ...



Hari ini aku bangun lebih awal, aku melakukan aktifitasku seperti biasanya. Setelah mandi aku mencari mbok Warti, mbok Warti tersenyum padaku dan bertanya apa keadaanku sudah membaik, aku menganggukkan kepalaku.



" Mbok Warti hari ini sedang masak apa? " tanyaku sambil membuka panci yang berada di atas kompor.



"Hore sayur sop...hemmm enak enak" kataku dengan gembira.



Setelah semua matang, mbok Warti mengajak aku makan seperti biasa jika ibuku tidak ada di rumah aku pasti mengajak mbok Warti untuk makan bersamaku. Semua aktivitas pagi sudah aku lakukan, lalu aku  berangkat ke sekolah seperti biasa pak Gun yang akan mengantarku.


Sesampainya disekolah,aku langsung duduk di atas kursiku.



"Naima, mana oleh-olehnya? " tanya Vonna.



" Ooo...besok aku bawakan" kataku spontan karena terkejut, oiya aku teringat kalau pak Gun membuat surat ijin kalau aku ada kepentingan keluarga keluar kota.



"Vonna ada berita apa? " tanyaku


"Naima, 2 hari ini Lia tidak masuk sekolah, aku dengar ayahnya sedang sakit dan penyakitnya aneh.



" Memang sakit apa ? Von" tanyaku keheranan.



"Perutnya membesar dan sering memuntahkan darah" kata Vonna sahabatku.



" Lalu bagaimana dengan Lia?" aku mencoba memastikan keadaan sahabatku Lia.



"Ya itu, 2 hari ini Lia tidak masuk sekolah karena harus menjaga ayahnya dan membantu ibunya" kata Vonna dengan expresi wajah sedih.



"Kasihan, nanti sepulang sekolah aku akan menjenguk dan melihat keadaan ayah Lia." jawabku.



Vonna hanya menatapku, tanpa berkata apa-apa. Yang ada di benakku adalah rasa kasihan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Lia saat ini, dia pasti merasa sedih dengan keadaan ayahnya dan aku tahu Lia bukan dari keluarga kaya. Mereka pasti kesusahan saat ini.



Hari ini aku mengikuti pelajaran dengan baik dan semua berjalan dengan lancar, aku tidak tertinggal dalam pelajaran karena aku memiliki daya ingat yang tinggi dan pemahaman yang baik dalam setiap mata pelajaran.



Lega...sekarang adalah waktunya pulang sekolah, setelah selesai berdoa aku langsung berlari keluar kelas, tiba-tiba Sinta berteriak memanggil namaku. Akupun berhenti dan bertanya kenapa dia memanggilku.



"Naima, apa kamu mau ketempat Lia?" tanya Sinta mencoba memastikan.



"Iya Sin, apa kamu mau ikut" tanyaku


"Tentu saja, aku akan ikut bersamamu, sebenarnya kemarin aku dan orangtuaku melihat kondisi ayah Lia benar-benar menyedihkan dan menakutkan. Ayahnya beberapa kali memuntahkan darah dan dia menjerit kesakitan" kata Lia menjelaskan.



Aku semakin ingin tahu bagaimana keadaan ayah Lia dan aku ingin tahu bagaimana keadaan Lia sekarang, aku bisa merasakan Lia pasti sangat sedih saat ini.


Aku dan Sinta berjalan menuju halte di mana aku selalu menunggu kedatangan pak Gun di sana.


Tidak beberapa lama pak Gun telah datang menjemputku, aku dan Sinta masuk ke dalam mobil, aku menjelaskan kepada pak Gun bahwa aku ingin menjenguk ayah Lia yang sedang sakit, sebelumnya aku meminta tolong kepada pak Gun untuk mengantarkan aku ke ATM terdekat. Karena aku berniat untuk mengambil beberapa uang untuk aku berikan kepada keluarga Lia, semoga uang itu bisa membantu pengobatan ayah Lia.



Setelah dari ATM, kami melanjutkan perjalanan ke rumah Lia.Tidak lama kemudian kami sampai di rumah Lia dan Lia menyambut kedatangan kami. Aku meminta Lia untuk mengantar kami melihat kondisi ayahnya. Sungguh menyedihkan, aku melihat ayah Lia memuntahkan darah dan apa yang diceritakan Vonna dan Sinta benar, perut ayah Lia begitu besar dan dia mengerang kesakitan.


Tiba-tiba Olla berbisik di telingaku, bahwa ayah Lia sedang diguna-guna oleh seseorang karena ada rasa iri dan dendam.


Aku tidak tahu harus berbuat apa, tetapi Olla kecil berkata padaku, bukankah kamu memiliki sebuah batu mirah delima, coba kamu gunakan untuk menolong ayah temanmu itu. Akupun mengambil batu Mirah itu, memasukkan batu itu ke dalam gelas yang berisi air, warna air itu menjadi berwarna merah dan aku meminta ayah Lia untuk meminumnya, kemudian aku mengusapkan batu mirah itu ke perut ayah Lia. Aku mendengar suara letusan di atas rumah.



"Bagaimana keadaan bapak saat ini " tanyaku mencoba memastikan.



"Bapak sudah merasa lebih baik nak" kata ayah Lia.



Kamipun melihat secara berangsur-angsur perut ayah Lia mulai mengecil. Semua yang berada di sana terheran-heran melihat kejadian itu. Dan aku meminta kejadian ini untuk menjadi rahasia selamanya. Satu hal yang aku mengerti dari semua ini, bahwa ini semua terjadi karena kehendak Tuhan.