
Malam ini aku tidak bisa tidur. Aku mengambil secarik kertas dan membuat coretan diatasnya
Aku menatap hampa pada dunia
Apa yang mereka sombongkan?
Apa yang mereka banggakan?
Semua hanya sesuatu hal yang fana
Hati kecilku bertanya untuk apa?
Hingga tega melakukan segala cara
Tidakkah engkau melihat,
Tidakkah engkau mendengar tangisannya
Tidakkah engkau mendengar jeritannya
Dari jiwa \-jiwa yang tidak bersalah
Dan engkau tetap berdiri dengan keangkuhan
Seperti engkau akan hidup selamanya
Setiap tawa,setiap canda
Tanpa engkau sadari malaikat maut mengawasi setiap langkah
Andai engkau bisa melihat jiwa yang telah terlepas dari raga
Andai engkau bisa mendengar tangisan penyesalan mereka
Andai engkau bisa merasakan kesedihan mereka
Andaikan....engkau bisa.....
~~~~~~~~~°°°°°~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Kamu sedang apa Naima?" tanya ibu secara tiba\-tiba
Aku menyembunyikan puisi yang aku buat dibawah bantalku.
"A...a....aku ,tidak apa\-apa bu?" jawabku sedikit terbata\-bata
"Ibu" kataku lirih
Ibu lalu memandang ke arahku," ada apa Naima?" tanya ibuku
"Kenapa aku berbeda ibu? Apa itu karena ritual yang ibu lakukan selama ini? Atau aku adalah tumbal?" tanyaku pada ibuku
Ibu sontak terkejut dengan ucapanku,aku melihat ibu ,kini aku lebih berani untuk bertanya ,dan aku siap dengan konsekuensinya yaitu kemarahan ibuku. Tetapi semua diluar dugaanku. Ibu menyentuh tanganku dan bercerita
"Naima kamu bukanlah tumbal nak,dan tidak akan pernah menjadi tumbal. Ibu akui selama ini ibu banyak melakukan kesalahan nak. Karena ibumu ayahmu telah meninggal,ibu adalah orang yang sangat mencintai harta nak,ibu tidak bisa hidup susah. Maafkan ibu nak" kata ibuku sambil menangis
"Ibu,apa semua ritual itu bisa dihentikan?" tanyaku
" Ritual itu tidak bisa dihentikan,karena itu adalah 1 dari bagian perjanjian masa lalu. Semua akan berhenti ketika ibumu ini mati" kata ibuku sambil menangis
Lalu ibu melanjutkan ceritanya.
Ibu adalah generasi terakhir pewaris ilmu ini nak,karena hanya ibu yang kuat dan terpilih menguasai ilmu ini,yang turun temurun diturunkan,sebenarnya ayah ibu akan menurunkannya pada saudara ibu,karena tidak kuat,saudara ibu menjadi gila. Dan hanya ibu satu\-satunya pewaris yang paling tepat untuk menguasai ilmu ini.
Pemilik ilmu ini akan selalu nampak muda dan apapun usaha yang ibu lakukan akan semua lancar ,dan kita tidak kekurangan dalam hal apapun nak" kata ibu menjelaskan.
Lalu ibuku terdiam,dan wajah ibu nampak sedih.
" Kenapa ibu sedih?" tanyaku pada ibuku
" Ibu teringat saudara ibu nak,sebenarnya ibu memiliki seorang adik laki\-laki,tetapi dia telah pergi dari rumah dan sampai sekarang dia tidak pernah kembali.
Aku hanya terdiam mendengar semua cerita ibu,sebenarnya banyak hal yang ingin aku tanyakan ,tetapi aku memilih untuk diam,karena saat ini perasaan ibu sedang sedih.
"Kamu tidurlah nak,besok kamu harus berangkat kesekolah " kata ibu kepadaku
Lalu ibu beranjak pergi dari kamarku.
Aku mematikan lampu kamarku dan memakai selimutku...aku menarik nafas panjang lalu aku hembuskan mencoba untuk lebih rilex.
Hari yang cerah,pagi-pagi aku sudah bersiap dengan seragam sekolah ku ,rapi dengan atributnya,biasanya pak Gun sudah siap menungguku diteras depan tetapi kali ini yang mengemudikan dan mengantarkanku sekolah adalah pak Hamid dikarenakan pak Gun ijin untuk keluar kota bersama dengan keluarganya. Sudah biasa hari-hariku berjalan seperti ini sama hanya yang membuat semua berbeda karena sahabat atau orang-orang terdekat.
Setelah berpamitan aku langsung masuk kedalam mobil.
"Pak Hamid,ayo kita berangkat sekarang" kataku pada pak Hamid.
Pak Hamid hanya tersenyum dan mobilku melaju,disepanjang perjalanan aku terus memikirkan ucapan ibuku.
Tidak terasa aku telah sampai di depan sekolahanku,aku lalu keluar dari mobil dan berpamitan pada pak Hamid.
Kakiku melangkah memasuki gerbang sekolah. Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku
"My wife" suara Devanno
"Kamu mengejutkanku Dev,jangan seperti itu" kataku dengan kesal
"Hmm...hari ini kamu nampak murung,kenapa?" tanya Devanno
Aku hanya terdiam dan terus berjalan. Jujur dalam kepalaku banyak pertanyaan dan sampai sekarang aku belum berani bertanya pada ibuku.
"Ayo kita temui pak Zein" kata Devanno
"Kenapa sepagi ini,nanti saja saat pulang sekolah" sanggahku
"Pesan pak Zein,kamu harus menemuinya dijam pagi Naima,sudah jangan terlalu banyak berpikir" kata Devanno sambil menggenggam erat tanganku.
Ya, aku hanya bisa pasrah dengan sikap Devanno ini
Kamipun berjalan menuju ruangan pak Zein.
"Assallamuallaikum pak Zin" sapa Devanno
"Ini pak saya mengantar Naima" kata Devanno
"Bagaimana keadaanmu Naima? " tanya pak Zein
"Saya baik-baik saja pak" jawabku secara singkat
Bel masuk berbunyi,...
" Ada apa pak Zein mencari saya?" tanyaku
"Devanno ,kamu segera masuk kelas dan bilang pada guru dikelasmu,kalau Naima sedang bapak panggil" kata pak Zein
Devanno menganggukkan kepala ,lalu meninggalkanku sendiri bersama pak Zein
"Huh,kenapa disini sepi" ujarku dalam hati ,sambil menatap ruang guru yang kosong dan hanya ada aku dan pak Zein
"Duduklah Naima" kata pak Zein
"Ini adalah pak Zein,seorang guru agama dan dikenal memiliki kemampuan spiritual" ujarku dalam hati
" Naima,ceritakan bagaimana bisa hal itu terjadi ? " tanya pak Zein padaku
Aku hanya terdiam,lalu aku berkata
"Bukankah bapak lebih tahu,kalau kalau diruang itu ada makhluk yang terkurung dan kejam" kataku dengan nada yang lembut tapi langsung ke point pembicaraan
Pak zein menatapku tajam.
"Lalu apa yang ingin kamu sampaikan Naima?" tanya pak Zein
"Ruangan itu tidak cocok untuk perpustakaan,apa tidak sebaiknya dijadikan tempat untuk kita salat berjamaah saja" kataku memberi pendapat
"Bapak juga berpikiran begitu" kata pak Zein membenarkan
Tiba-tiba mata pak Zein melihat kalung yang aku pakai
" Apa yang kamu pakai Naima? " tanya pak Zein
"Hanya sebuah kalung pak" jawabku singkat
Pak Zein,mencoba menyentuh kalung yang aku pakai,tiba-tiba tangannya seolah terpental.
"Naima,apa kamu besok sore bisa ikut ruqyah ?" tanya pak Zein
"Ruqyah? Dimana pak? " tanya ku pada pak Zein
" Dirumah bapak nak" kata pak Zein
"Baik pak,saya kesana" kataku
"Besok bapak tunggu kamu Naima" kata pak Zein
Aku hanya menganggukkan kepalaku. Aku tahu tujuan pak Zein padaku,dia mungkin ingin meruqyah aku,dia juga ingin tahu kenapa aku memiliki kalung ini.
Mungkin dia juga ingin tahu,kenapa peristiwa kemarin bisa terjadi,tidak ada yang ingin aku ceritakan.
Aku lalu menarik nafas panjang...dan berusaha menenangkan hati dan pikiranku ,lalu aku meminta ijin meninggalkan ruangan pak Zein ,dan aku melihat mata pak Zein terus memandangku dengan tatapan yang tajam
To be continue