
Hari demi hari membuat aku semakin kesal dengan sikap Vonna, anak orang kaya, manja dan suka memerintah . Di sekolah dia bersikap seolah dia adalah anak yang paling memiliki kelebihan, dia membanggakan dirinya karena dia lahir dari keluarga yang berada, seharusnya dia bersyukur dengan takdir hidup dia, bukan malah menyombongkan diri dan merendahkan orang lain, setiap manusia di bumi di mata Tuhan itu sama yang menjadi tolak ukur adalah keimanannya. Dan itu tidak dipahami oleh Vonna.
"Lia, kamu nanti ke kantin?" tanya Vonna.
" Iya Von, kenapa? " jawab Lia.
"Nanti belikan aku roti, terus fresh tea, aku tunggu di kelas" kata Vonna.
Aku melihat Lia hanya menganggukkan kepala, terkadang aku juga heran, kenapa Lia selalu mau diperintah untuk melakukan sesuatu oleh Vonna.
Vonna memperlakukan Lia seperti seorang pelayan. Padahal ketika Lia kesulitan, Vonna tidak mau menolongnya atau peduli dengan keadaan Lia.
Bel tanda istirahat berakhir telah berbunyi dan semua murid berlarian masuk kelas. Akupun duduk di kursiku dan Anna masih sibuk menghabiskan makanan yang dikunyahnya .
" An, cepat nanti Pak guru segera datang lo" kataku pada Anna.
"Iya, tinggal sedikit ini" kata Anna, sambil tidak berhenti mulutnya mengunyah makanan.
Tidak beberapa lama, Pak guru telah masuk ke dalam kelas dan diikuti oleh pak Gun yang berjalan di belakangnya.
" Hadewh ada apa ini? kok pak Gun, tiba-tiba ke sekolahku? " tanyaku di dalam hati.
" Anak-anak, ternyata hari ini ada teman kalian yang sedang berulang tahun"kata Pak guru saat itu.
Sontak aku terkejut,
" Ulang tahun? aku berulang tahun? kok aku lupa hari ini aku berulang tahun" kataku dalam hati.
"Hari ini adalah ulang tahun Naima dan kedatangan pak Gun kesini, untuk membagikan bingkisan untuk kalian dan jangan lupa untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Naima" kata Pak guru.
Semua temanku memandang ke arahku, aku sendiri juga terkejut aku tidak menyangka kalau pak Gun datang kesekolahku. Tiba-tiba guruku menyuruhku maju ke depan untuk membagikan bingkisan pada temanku.
"Pak Gun, kok tidak cerita hari ini adalah ulang tahunku" kataku pada pak Gun.
Pak Gun, hanya tersenyum lalu berkata " Adik-adik, saya mewakili keluarga Naima mengundang kalian pada acara ulang tahun Naima besok pada hari Minggu jam 10 pagi, kalian tidak perlu membawa kado yang penting kalian datang untuk meramaikan acara" kata pak Gun.
Sontak, temanku bertepuk tangan dan nampak gembira.
Lalu aku membagikan bingkisan satu persatu pada temanku.
"Selamat ulang tahun Naima" kata temanku padaku.
" Terima kasih" kataku sambil tersenyum.
"Naima selamat ulang tahun ya" kata Lia padaku.
" Terima kasih ,Lia" jawabku sambil tersenyum.
Vonnapun maju dengan wajah tertunduk malu.
"Selamat ya Naima" kata Vonna padaku, dengan wajah tertunduk.
"Iya terima kasih Vonna, jangan lupa besok datang ke rumahku ya" jawabku dengan tersenyum, Vonna hanya mengangguk. Kemudian pak Gun menulis alamat rumahku di papan tulis. Sebelum meninggalkanku pak Gun berpamitan pada guruku saat itu dan dia berkata padaku akan menungguku di halte di samping sekolah, saat ini adalah mata pelajaran terakhir di kelasku. Kamipun mulai fokus mengikuti pelajaran.
"Sst...sst " kata Lia.
Akupun menoleh ke arah Lia, dengan expresi sedikit bingung.
" Ada apa?" tanyaku kepada Lia.
"Naima, kotak makanannya bagus sekali,merknya Tupperware itukan mahal, terus ada salad buahnya, hmm enak " kata Lia padaku.
Akupun hanya tersenyum melihat expresi wajah temanku itu.
" Harus itu" kataku pada Anna. Kegiatan pembelajaran di kelas telah selesai dan bel pulang telah berbunyi, kamipun bersiap untuk berdoa bersama dan setelah itu, kami pulang ke rumah masing-masing.
Aku berjalan menuju halte, hari ini pak Gun menjemputku dengan mobil baru yang sangat bagus.
" Pak Gun, mobil siapa ini? " tanyaku.
"Kenapa pakai mobil ini, inikan belum ada plat nomornya, nanti kalau ada polisi bagaimana?" kataku kepada pak Gun.
" Mana motorku? Kenapa aku tidak dijemput dengan motor? " tanyaku pada pak Gun.
"Maaf mbak Naima, ibu Ningsih melarang mbak Naima naik motor" kata pak Gun.
Aku hanya terdiam dan dengan wajah cemberut aku masuk ke dalam mobil.
"Terus ini mobil siapa pak Gun?" tanyaku.
"Ini mobil mbak Naima, ibu mbak Naima membelikannya untukmu" kata pak Gun.
"Aku hanya seorang anak kecil pak Gun, aku tidak bisa mengemudikannya " kataku sekenanya.
" Ha...haha...ha...ha " sontak pak Gun tertawa lepas. Hari ini aku melihat wajah pak Gun nampak bahagia, dia banyak bercerita di sepanjang perjalanan dan aku hanya terdiam terkadang aku ikut tertawa mendengar cerita pak Gun.
Tidak beberapa lama kami sudah sampai di rumah, aku langsung berlari masuk ke dalam rumah dan aku terkejut ruang tamuku sudah disulap sedemikian cantiknya, dihiasi pernak pernik dan balon-balon yang ditata sedemikian cantiknya, aku melihat ke arah dinding rumahku, terdapat tulisan yang dihias begitu cantik.
"SELAMAT ULANG TAHUN YANG KE-7
UNTUK PUTRIKU NAIMA
SEMOGA PANJANG UMUR DAN SEHAT SELALU "
Aku terkejut membaca tulisan itu dan aku berjalan menuju dapur, di dapur aku melihat mbok Warti sedang menata gelas.
"Mbok kenapa menata gelas sedemikian banyak" tanyaku pada mbok Warti.
"Iya mbok sedang mempersiapkan untuk acara besok dan semua makanan sudah dipesankan jadi besok tinggal menata " kata mbok Warti.
"Berarti besok aku akan bangun lebih pagi untuk membantu mbok Warti"
" Tidak usah nak, besok dari pihak catering sudah mengirimkan beberapa orang yang bertugas untuk menata dan menjamu makanan kepada tamu" kata mbok Warti.
Aku menganggukkan kepalaku, lalu aku meninggalkan mbok Warti sendiri dan aku berjalan menuju kamarku, sesampainya di dalam kamar aku berganti pakaian dan berbaring di atas tempat tidurku. Tiba-tiba Olla berada disampingku.
"Naima selamat ulang tahun" kata Olla sambil memelukku.
"Terima kasih Olla" kataku sambil tersenyum menatap Olla kecil.
Lalu aku mengambil ponselku, aku menelepon ibuku, aku mengucapkan terima kasih untuk semuanya dan bertanya apa ibu akan pulang saat ulang tahunku nanti, tetapi ibuku menjawab tidak bisa pulang.
"Iya aku tahu ibu tidak bisa pulang, tidak apa-apa " kataku lalu aku menutup teleponku tanpa mau mendengar ucapan ibu.
"Selalu seperti ini" kataku dengan kesal.
" Kak, jangan sedih walau ibu kakak seperti itu dia sebenarnya sayang padamu kak" kata Olla mencoba menghiburku.
"Sayang darimana? Ibuku tidak ada waktu untukku, aku sendirian Olla" kataku pada hantu Olla kecil dengan nada marah.
"Lihat aku kak, ibuku meninggalkanku sejak aku kecil, ayahku menikah lagi dengan wanita lain yang tidak memiliki hati nurani, ayahku tidak peduli padaku, bahkan saat aku sakit mereka tidak peduli, mungkin dengan kematianku itu mereka akan bahagia, karena aku seperti beban untuk mereka" kata Olla dengan wajah sedihnya.
Aku lalu memeluk hantu Olla kecil, iya Olla benar, ibuku menyayangiku dengan cara berbeda. Mungkin setiap orang akan memiliki cara yang berbeda untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada orang yang mereka sayangi.