MY name is Naima

MY name is Naima
Hari yang menyenangkan



Semua kejadian kemarin betul-betul melelahkan, karena hal itu kemarin aku terpaksa menginap di rumah pak Gun .


Minggu yang cerah aku membuka jendela kamarku, udara terasa begitu sejuk, aku keluar dari kamarku.


"Aku pengen pipis, mana kamar mandinya" gumamku dalam hati sambil berjalan mencari toilet di rumah pak Gun.


"Mbak Naima mau ke mana? "tiba-tiba adik pak Gun bertanya kepadaku sambil tangannya menepuk pundakku dari belakang.


Sontak aku terkejut dibuatnya.


" Sa.....sa..ya ingin ke toilet bu" kataku agak sedikit gagap karena kaget.


"Ayo ibu antar" kata adik pak Gun.


"Terima kasih bu" jawabku dengan sedikit malu.


Lalu adik pak Gun mengantar aku ke toilet.


"Ibu tinggal dulu, ibu mau memasak di dapur itu" kata adik pak Gun sambil menunjuk letak dapur yang berada di sebelah kanan gudang. Akupun menganggukkan kepalaku.


5 menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi dan menuju dapur.


"Ibu sedang masak apa?" tanyaku pada adik pak Gun.


"Sedang masak rendang mbak Naima untuk bekal rekreasi nanti" kata adik pak Gun.


" Memang kita mau rekreasi kemana? " tanyaku penasaran.


"Kita akan rekreasi ke danau yang indah " kata adik pak Gun dengan singkat.


"Ke danau? Jauh apa tidak tempatnya? " tanyaku semakin penasaran.


" Tidak mbak Naima, kita hanya membutuhkan waktu 25 menit perjalanan"kata adik pak Gun, kemudian tersenyum kepadaku.


Aku hanya terdiam membayangkan seperti apa tempatnya.


"Bulik! mbak Naima!, Selamat pagi kata Dina dan Dini menyapaku.


" Selamat pagi juga Dina dan Dini" jawabku dengan santai.


"Sudah sekarang cepat mandi, biar bulik yang menyiapkan sarapan pagi untuk kalian" kata adik pak Gun sambil menatap ke arah kami.


"Mbak Naima mandi saja dahulu, sebentar aku ambilkan handuk dan pasta gigi, sekalian baju gantinya, aku tahu mbak Naima pasti tidak bawa baju ganti" kata Dina lalu beranjak pergi.


Hanya sebentar saja Dina sudah kembali membawa perlengkapan mandi dan baju ganti untukku.


"Ini mbak Naima, mbak Naima segera mandi, nanti gantian kami" kata Dina sambil memberikan perlengkapan mandi kepadaku.


"Terima kasih Dina" jawabku lalu aku menuju kamar mandi. Aku membasuh tubuhku dengan air, terasa dingin dan segar, aku pun membersihkan tubuhku dengan sabun, membersihkan rambutku dengan sampo dan tidak lupa aku menggosok gigiku, setelah itu aku berganti pakaian. Syukurlah ukuran baju kami sama, jadi pas melekat pada tubuhku.


Lalu aku keluar dari kamar mandi.


"Ayo ke kamarku, mbak Naima bisa merias diri di sana " kata Dini sambil menggandeng tanganku menuju kamarnya.


" Mbak Naima bisa pakai apapun yang ada di sini, ini penjepit rambut, ini tali rambut, bedak, parfum, lip gloss dan ini pelembab wajah" kata Dini sambil menunjukkan satu persatu miliknya.


"Kamu sangat cantik mbak Naima" kata Dini memujiku.


"Dini dan Dina juga cantik sepertiku" jawabku lalu tersenyum ke arah Dini.


"Aku berkata benar, mbak Naima sangat cantik lebih cantik daripada kami" kata Dini.


"Ha..ha..ha , kita sama cantiknya, kamu terlalu berlebihan dalam memuji" jawabku sambil tertawa.


Setelah aku selesai merias diri, tiba-tiba Dina datang dan kini aku menemani Dina yang sedang merias diri di kamar Dini, ternyata kamar ini adalah kamar mereka berdua. Aku melihat semua aksesoris dan pakaian Dina dan Dini ternyata memiliki kesamaan, mungkin karena kembar jadi mereka memiliki selera yang sama.


Di dalam kamar, aku dan Dina saling bercerita satu sama lain, benar-benar sangat seru .


Tidak beberapa lama Dini datang dan kami pun menunggu Dini yang sedang merias diri. Setelah selesai kami segera menuju ke ruang makan, ternyata pak Gun dan adik pak Gun sudah menunggu kami. Di atas meja makan sudah tersedia menu sarapan pagi, ada sayur lodeh, sambal tomat, ayam goreng dan tempe goreng.


"Mana rendangnya? " tanyaku secara spontan, karena tadi pagi aku melihat adik pak Gun sedang memasak rendang, jadi tanpa aku sadari aku spontan bertanya.


"Rendangnya untuk bekal nanti mbak Naima, tetapi kalau mbak Naima mau ibu akan mengambilkan untukmu" ujar wanita bertubuh mungil itu.


" Tidak bu, ini sudah cukup kok" jawabku dengan sedikit salah tingkah.


Kamipun makan bersama dan setelah makan aku bersama Dina dan Dini ingin membantu adik pak Gun membersihkan peralatan makan, tetapi dia melarangku untuk membantunya. Jadi hanya Dina dan Dini yang membantu. Sebenarnya aku ingin mereka bersikap biasa saja kepadaku seolah aku bukan anak majikan, tetapi ya sudahlah.


Oya mau cerita sedikit tentang putri pak Gun. Mereka gadis kembar seusiaku, wajah mereka sama persis, tetapi yang membedakannya cenderung dari warna pakaiannya, Dina cenderung memakai baju yang berwarna merah dan Dini cenderung menyukai warna kuning selain itu Dina putri pak Gun yang lebih aktif, sedang Dini lebih lembut dan halus dalam bertutur kata dan bersikap.


"Ayo kita segera keluar, bapak sudah menunggu kita di mobil" kata Dina.


"Sebentar Din, aku mau mengambil tasku dulu" kata Dini.


"Mbak Naima apa ada yang ingin dibawa ?" Dini bertanya kepadaku.


"Iya, aku mau mengambil sling bagku di dalam kamar" jawabku.


Akupun menuju ke kamarku, mengambil sling bagku, lalu aku mengambil ponselku yang berada di dalam slingbagku dan aku melihat ada 7 panggilan tidak terjawab. Kemudian aku membuka ponselku dan ternyata mbok Warti yang meneleponku.


Tut....tut.....tut....aku sedang berusaha menelepon mbok Warti.


"Kok belum diangkat teleponku?" tanyaku dalam hati.


Kemudian aku berusaha menelepon mbok Warti lagi, tidak berapa lama mbok Warti telah mengangkat teleponku.


"Mbak Naima kok belum pulang? Kamu baik-baik saja kan?" tanya mbok Warti yang dari suaranya menunjukkan kecemasan terhadap keadaanku.


"Baik mbok, aku sedang di rumah pak Gun saat ini, kata pak Gun sebelum jam 5 sore, aku sudah sampai rumah" kataku mencoba menjelaskan.


" Kemarin ibumu telepon nak,menanyakan keadaanmu" ujarnya.


" Terus? " tanyaku dengan singkat.


"Apa ibu akan pulang? " tanyaku berharap.


"Mbok katakan bahwa kamu baik-baik saja, dan ibumu masih belum bisa pulang nak" kata mbok Warti dengan lembut.


"Aku tidak terkejut, ibu pasti seperti itu lagi, kan mbok tahu sendiri, ibu jarang di rumah" jawabku sedikit kesal.Tiba-tiba Dina masuk ke dalam kamar.


"Mbak Naima ayo kita berangkat" kata Dina secara tiba-tiba.


"Mbok aku berangkat dulu ya, aku sudah ditunggu pak Gun dan putrinya" kataku.


"Hati-hati ya nak, jangan lupa berdoa" pesan mbok Warti padaku.


"Baik mbok" jawabku singkat.


Dengan bersemangat Dina menggandeng tanganku.


Di halaman rumah pak Gun, Dini dan adik pak Gun sudah menunggu kami.


" Maaf terlambat" kataku dengan pelan.


Pak Gun hanya tersenyum kepadaku.


" Ini rendang dan nasi, nanti kalau kalian lapar bisa makan ini" kata adik pak Gun sambil memberikan rantang yang berisi makanan itu pada Dina.


"Ini piring plastik dan sendoknya untuk alat makan" kata adik pak Gun sambil memberikan alat makan itu padaku.


"Apa ibu tidak ikut? " tanyaku dengan sedikit heran.


" Iya bulik di rumah saja, bersih-bersih rumah" kata adik pak Gun.


Lalu aku dan Dina masuk ke dalam mobil dan meletakkan makanan dan peralatan makan itu di tempat yang aman.


"Da..da..da..da bulik!" teriak Dina dan Dini kearah adik pak Gun, akupun ikut melambaikan tanganku ke arah adik pak Gun.


Kami lalu berangkat menuju danau/telaga itu. Di sepanjang perjalanan aku dan kedua putri kembar pak Gun asyik bercerita, kami betul-betul sangat akrab seperti telah mengenal lama.


Tidak terasa kami telah sampai di tempat wisata itu.


Pemandangannya sangat indah, udaranya sejuk.


"Hore kita sudah sampai" kata Dina dengan semangat sambil mengangkat kedua tangannya.


"Pemandangan dibsini baguskan? Semua masih alami" kata Dini lalu menarik napas panjang.


"Apa kamu sudah pernah ke sini Naima?" tanya Dini.


"Belum" jawabku singkat.


"Apa betul itu? Padahal sangat mudah bagimu pergi kemanapun yang kamu suka Naima" Dina berkomentar sambil menatap dengan expresi keraguan kepadaku.


"Dina, Dini, mbak Naima tidak dijinkan oleh ibu Ningsih pergi sesuka hatinya, jangan bertanya lagi" kata pak Gun yang tiba-tiba ikut berkomentar. Aku tahu pak Gun ingin menghentikan pembicaraan itu. Dina pun diam tidak berani bertanya lagi.


"Ayo Naima kita foto-foto di sana" kata Dina dan Dini mengajakku.


"Ya sudah nanti kita kumpul di sana untuk makan siang bersama" kata pak Gun sambil menunjuk pohon rindang di pinggir telaga.


" Baik pak Gun" jawabku.


"Baik bapak" jawab Dina dan Dini secara serentak.


Lalu kami berjalan menuju tempat yang ditunjuk Dina dan Dini.


Memang bagus tempatnya, penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran dan tertata dengan dengan indah .


" Hai, Naima" tiba-tiba ada suara yang menyapaku.


Sontak aku terkejut dan menoleh ke arah suara itu.


"E...ee...e Devanno" kataku dengan wajah terkejut.


"Ternyata bidadariku di sini" kata Devanno mulai dengan rayuannya.


Aku hanya tersenyum tipis.


"Apa kamu sendirian Naima?" tanya Devanno


"Tidak, aku bersama Dina dan Dini." jawabku dengan kepala tertunduk.


Tiba-tiba Dina memperkenalkan dirinya pada Devanno.


"Aku Dina dan ini Dini " kata Dina lalu tersenyum ke arah Devanno.


Hadewh apa-apan ini, Devanno lagi, Devanno lagi" kataku dalam hati.


" Ayo kita jalan bersama sambil mengelilingi telaga ini" ajak Dina pada Devanno.


"Tentu saja, aku boleh ikutkan Naima? " tanya Devanno kepadaku.


Aku hanya menganggukkan kepalaku, sebenarnya aku tidak nyaman dengan adanya Devanno, tapi Dina sudah mengajak Devanno, jadi aku menghargai keinginan Dina.


"Sebentar aku panggil temanku dulu" kata Devanno lalu dia beranjak pergi meninggalkan kami.Tidak beberapa lama dia datang bersama 2 orang temannya.


"Perkenalkan ini saudara sepupuku dia Bobi dan ini Agus" kata Devanno sambil menunjuk satu persatu saudara sepupunya.


"Mana temanmu Dev? Bukankah kamu akan memanggil temanmu," tanyaku.


Devanno hanya tersenyum senyum, lalu berkata,


"Oya perkenalkan ini Naima, dia calon istriku kelak, cantikkan?" kata Devanno.


Kedua saudara sepupu Devanno hanya tersenyum. Sedang Dina dan Dini hanya menatapku. Ucapan Devanno benar-benar membuatku malu, aku hanya bisa menundukkan kepalaku.


"Ayo kita jalan Naima" tiba-tiba tangan Devanno menggandengku. Tentu saja aku terkejut dan aku melepas genggaman tangannya.


Devanno melihatku dan hanya tersenyum


Aku memilih berjalan dengan Bobi dan Devanno berjalan dengan Dina, tetapi sering kali Devanno menoleh ke belakang ke arahku.


"Apa Devanno seperti itu Bob? Maksudku kepada cewek lain" tanyaku dengan sedikit malu.


"Tidak pernah" jawabnya singkat.


"Tidak pernah?" tanyaku heran.


"Devanno itu paling cuek dengan cewek dan cenderung tidak terlalu banyak ngomong dengan cewek yang tidak dia sukai, kalau dia seperti itu, berarti Devanno sayang sekali, dia itu jaim banget dan jika kamu bertemu dengan orang yang paling serius dengan ucapannya, ya Devanno itu, kalau dia bilang sayang berarti Devanno itu beneran sayang " kata Bobi panjang lebar menjelaskan watak Devanno kepadaku.


Aku hanya terdiam mendengarkan semua ceritanya.


"Hei kalian, cepat jalannya jangan lambat seperti itu!" teriak Devanno kebarah kami.


" Devanno marah dengan kita" kataku lirih.


"Bukan, Devanno cemburu padaku Naima" kata Bobi.


Lalu kamipun mempercepat langkah kaki kami.


" Naima kita naik kapal bebek yuk" ajak Dina.


"Tidak usah, kalau tidak kuat mengayuhnya nanti kita ...." aku belum melanjutkan ucapanku.


"Boleh, aku yang bayari sewanya" spontan Devanno menjawab sambil tersenyum ke arahku.


Lalu kami pun berjalan menuju pinggir telaga.


" Naik bebeknya berdua denganku ya" kata Devanno sambil mengedipkan mata ke arahku.


"Tidak Dev, aku dengan Dina saja" jawabku sambil merangkul tangan Dina.


"Hmm....tidak apa-apa" kata Devanno.


Akhirnya kami berenam menaiki kapal bebek itu.


Aku dengan Dina, Bobi dengan Devanno dan Dini dengan Agus.


Ini pertama kalinya aku menaiki kapal bebek, aku akui membutuhkan extra tenaga untuk mengayuhnya. Ketika sampai di tengah danau.


"Naima kemudinya ada gangguan, kita tidak bisa maju, tetapi ini belok ke kiri terus" kata Dina dengan wajah cemas.


"Coba aku yang kemudikan, mending kita minggir" kataku.


" Naima aku takut" kata Dina dengan expresi wajah ketakutan .


"Devanno! Devanno! Tolong kami! " teriak Dina secara spontan.


Devanno yang tidak jauh dari kami, tentu saja bisa mendengar teriakan Dina itu.


Dan tidak berapa lama Devanno dan Bobi berada di samping kami.


"Dev,bmending kamu pindah ke sini saja. Biar aku dengan Bobi, karena kemudinya rusak" kata Dina.


"Baik,nsiap-siap ya, kita pindah1..2...3.." kata Devanno memberi aba-aba. Dengan hati -hati akhirnya mereka pindah posisi.


Devanno duduk di bagian kemudi sedang aku berada di sampingnya.


" Mending kita kembali" kata Devanno.


Kali ini Devanno nampak serius mengemudikan kapal bebek ini.


" Terima kasih ya Dev" kataku dengan lirih.


"Apa?" kata Devanno.


"Terima kasih ya Dev" kataku mengulangi ucapan


"Sama-sama" kata Devanno lalu tersenyum.


"Naima,bapa aku nampak seperti orang bodoh di matamu?" tiba-tiba Devanno bertanya.


"Ya, nampak aneh saja" jawabku secara jujur.


" Hahahahaa..."tiba -tiba Devanno tertawa lepas.


"Naima, aku tahu usia kita masih remaja, tetapi aku adalah Sailendra Devanno telah mencintaimu saat ini dan selamanya" kata Devanno dengan percaya diri.


"Kita ini masih SMP Dev, jangan aneh-aneh" kataku.


"Aneh apa? Aku mencintaimu dengan caraku sendiri, cintaku padamu itu melindungi, aku tidak akan mampu menyakitimu Naima" kata Devanno berusaha meyakinkan.


" Kamu adalah semangat dan cahayaku, jadi aku akan lebih giat meraih masa depanku untuk dirimu Naima" kata Devanno sok dewasa.


Aku hanya menatap Devanno, lalu tersenyum. Aku mencoba menghargai perasaannya dan aku ingin tahu cinta seperti apa yang diberikan Devanno kepadaku.


Cukup lama kami berusaha untuk bisa menuju pinggir, meski tidak kembali pada tempatnya, akhirnya kami bisa ke pinggir telaga. Devanno mengambil ponselnya dan menelepon Bobi, dia meminta mereka untuk menghampiri kami. Dan memberi tahu kepada pemilik kapal kalau tadi ada kendala dan terpaksa harus menepi di tempat yang salah.


Setelah kejadian itu aku mulai memiliki sisi pandang yang berbeda tentang Devanno. Dia bisa tertawa lepas ketika bersamaku, ketika bersama Dini atau Dina, Devanno bisa tertawa tetapi dengan cara yang berbeda, tidak seperti saat bersamaku.


Pemilik kapal telah datang dan semua masalah telah selesai.


" Kita ke sebelah sana saja, kita makan bersama, pak Gun pasti sudah menunggu kita" ujarku.


"Oiya bapak pasti sedang menunggu di sana" kata Dini menimpali.


Akhirnya kami berenam menuju tempat di mana pak Gun sedang menunggu kami. Aku berjalan di depan bersama Dini sedangkan Agus, Bobi dan Devanno serta Dina berjalan di belakangku.


Karena kurang hati-hati kakiku tersandung batu dan aku terjatuh.


Devanno yang berada di belakangku lalu berlari menghampiriku.


"Aku tidak apa-apa, jangan kuatir" kataku berusaha tidak membuat Devanno khawatir.


"Aduh sakit" kataku pelan sambil sedikit meringis menahan sakit.


"Kakimu berdarah Naima, tunggu disini " kata Devanno padaku.


"Dan kalian tolong jaga Naima" kata Devanno berpesan pada yang lain.


"Ayo bro, temani aku" kata Devanno pada Bobi. Lalu mereka beranjak pergi.


Tidak berapa lama, aku melihat Devanno dan Bobi berlari ke arahku.


" Mana luka di kakimu? " tanya Devanno.


Dengan cekatan Devanno mengobati luka di kakiku dan lututku. Sebenarnya aku sendiri bisa melakukannya sendiri, tetapi Devanno melarangku. Karena ada luka di lututku membuatku agak sulit berjalan.


"Mbak Naima bagaimana apa sudah bisa untuk berjalan?" tanya Dini dengan cemas.


"Baik, aku tidak apa-apa kataku" sambil mencoba berdiri.


"Aduh" kataku spontan karena kesakitan.


"Sudah kamu diam saja, aku gendong " kata Devanno tanpa basa-basi.


Lalu dia menggendongku di belakang punggungnya. Ya Allah malunya aku, aku menyembunyikan wajahku dan beberapa pengunjung memandangku.


Jarak tempatku jatuh dengan tempat pak Gun menunggu tidak jauh, jadi tidak beberapa lama kami sudah sampai.


Aku melihat pak Gun sedang di duduk di atas tikar sambil mendengarkan lagu di handphonenya.


Ketika melihatku digendong oleh Devanno, sontak pak Gun berdiri dan menghampiri kami.


"Mbak Naima kenapa? " tanya pak Gun terlihat cemas.


"Tidak apa-apa pak" ujarku mencoba meredam kecemasan pak Gun.


"Begini pak, putri bapak ini karena tidak hati-hati tersandung batu, kakinya terluka tetapi saya dan teman-teman telah mengobatinya" jawab Devanno.


Dina dan Dini tertawa mendengar ucapan Devanno.


"Dev, pak Gun itu bapak kami, dia bukan ayah Naima" kata Dina menjelaskan.


Devanno hanya menggaruk kepalanya dengan sedikit malu.


"Sudah ayo kita makan, bukankah kita sudah lapar" kataku.


Karena luka di lututku lumayan sakit, jadi Dina melarangku untuk berdiri, Dina dan Dini yang mengambil bekal makanan tadi pagi serta peralatan makan yang berada di dalam mobil, lalu kami makan bersama sambil makan kita saling mengobrol sehingga sedikit demi sedikit aku mulai mengerti Devanno seperti apa. Hari ini adalah hari yang menyenangkan bagiku, meski bagi orang lain moment seperti ini adalah hal biasa, tetapi bagiku ini adalah hari yang luar biasa karena aku telah mendatangi tempat baru, mengenal teman baru yang baik hati dan satu lagi pertemuan yang tidak terduga ini telah membuat aku mengerti satu hal bahwa Devanno memiliki hati yang baik dan ketulusan.


Terkadang kita perlu mengenal seseorang lebih baik lagi, ibarat pepatah kuno tidak kenal maka tidak sayang. Setiap kejadian pasti akan memberikan suatu kenangan sendiri.


Aku terdiam dan menatap wajah Devanno yang sedang melahap makanan.


"Devanno sehebat apa cinta yang kau berikan"kataku dalam hati. Apalagi di usia yang masih sangat muda ini, masa depan masih panjang dan kelak satu persatu kejadian pasti akan kami temui.


Aku lalu menyantap makananku sambil menikmati pemandangan ciptaan Tuhan yang luar biasa ini