
Aku terbangun dari tidurku, aku merasa lebih segar dan aku terkejut aku telah berada di atas tempat tidurku sendiri.
" Lo, aku kok sudah ada di dalam kamar?" kataku heran.
Dan aku buka tirai kamarku, ternyata hari sudah pagi. Tiba-tiba aku teringat surat ijinku, aku langsung melompat dari tempat tidur, dan aku keluar dari kamarku, dengan cepat aku menapaki anak tangga.
" Mbok....mbok ....mbok!" aku berteriak memanggil, tetapi tidak ada jawaban.
Aku berlari menuju dapur, di sana hanya ada rebusan sayur di atas kompor dengan api kecil yang menyala yang sengaja ditinggalkan.
Aku berlari ke kamar mbok Warti ku ketuk pintunya dan aku panggil namanya tetapi tidak ada jawaban, "Berarti mbok Warti tidak ada di dalam kamarnya" kataku dalam hati.
Aku berlari ke kamar pak Karjo, aku ketuk pintunya tidak ada jawaban juga, aku berlari dari satu kamar ke kamar lain, semuanya kosong, aku bingung.
Di tengah kebingunganku itu, sebuah tangan menepuk pundakku.
" Eh ternyata si mbok" kataku sedikit kaget.
" Pagi ini sudah berteriak dan lari-lari, ada apa?" tanya mbok Warti kepadaku.
" Mbok, surat ijinku apa sudah diantar ke sekolah? Maaf kemarin aku lupa meminta surat itu dari mbok Warti " kataku dengan wajah menyesal.
Melihat wajahku itu mbok Warti tersenyum.
" Sudah, kemarin pak Karjo mengantar surat ijinmu ke sekolah ".
Mendengar semua itu, aku bisa bernapas dengan lega.
"Cepat mandi dan berganti pakaian terus makan."
Aku hanya menganggukkan kepalaku tanda mengiyakan ucapan mbok Warti, aku berjalan menuju kamarku, kali ini aku tidak berlari. Sesampainya di dalam kamar, aku duduk di atas tempat tidurku, berusaha mengingat semua kejadian kemarin yang telah aku lalui, hatiku terus bertanya kenapa ada manusia yang begitu jahat dan berhati seperti iblis, bukankah membunuh adalah suatu dosa besar, apalagi sampai tega memotong jasad yang sudah tidak bernyawa, mungkin untuk anak kecil lainnya mereka akan ketakutan tetapi karena aku sering melihat hal seperti itu aku mulai terbiasa meski sebenarnya aku sendiri tidak suka melihat hal seperti itu.
Takdir telah membuatku harus melihat semua ini, padahal seharusnya di usiaku yang masih kecil ini aku butuh bermain dengan bahagia bersama teman-temanku, mendapatkan perhatian dari orang tuaku.Tetapi aku tidak mendapatkannya, aku hanya bisa bersosialisasi dengan temanku saat di sekolah.
"Ayo mandi Naima, hari ini kamu harus menepati janji keduamu", kataku dalam hati berusaha memotivasi diriku sendiri.
Aku lalu bangkit dan menuju kamar mandi. Air terasa segar membasuh tubuhku, aku bersihkan tubuhku memakai sabun kesukaanku dan membersihkan rambutku dengan sampoo.
" Segar...." kataku sambil mengeringkan tubuhku dengan handuk. Setelah itu aku berganti pakaian, kali ini aku memakai rok panjangku dan kaos lengan pendek, aku suka sesuatu yang simple, kali ini aku malas untuk naik turun tangga, jadi slingbagku kemarin aku bawa sekalian. Setelah berdandan aku keluar dari kamar dan menuju ruang makan.
" Ayo makan nak," kata mbok kepadaku.
"Iya mbok,tapi kita makan bersama, selama ibu tidak ada, mbok makan bersamaku"
Mbok Warti mengangguk.
" Hari ini kamu akan ke mana nak?" tanya mbok Warti terlihat keheranan
" Mbok hari ini aku akan ke rumah seorang nenek, dan menemui seorang kakak" kataku dengan polosnya.
" Kemarin aku dan pak Gun, menemukan potongan tubuh mbok" kataku menjelaskan.
" Potongan tubuh?" mbok Warti bingung.
Aku melihat ke arah mbok Warti, dengan melihat wajahnya aku tahu mbok Warti heran dan ragu.
"Heehehe ayo makan,enak ...enak mbok" kataku berusaha mengalihkan pembicaraan.
Kali ini aku tidak diijinkan untuk membantu mbok Warti mencuci piring. Aku hanya melihatnya saja. Setelah selesai mencuci piring aku mengajak mbok Warti menonton TV.
Meski aku berbeda, sebenarnya sikapku tidak jauh berbeda dengan anak kecil seusiaku.
Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB, seperti kemarin pak Gun datang menjemputku, seperti biasanya mbok Warti akan mengantarku keluar dan aku mencium tangannya, itu aku lakukan kalau ibuku tidak ada di rumah, kalau ibu ada pasti dia akan marah besar kepadaku.
Pak Gun, keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untukku, seperti kemarin aku memilih duduk dibagian tengah mobilku.
" Pak Gun, tadi pagi aku terbangun dari tidurku, kok sudah ada di kamar?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Kemarin, mbak Naimanya tidurnya pulas jadi pak Gun, tidak tega untuk membangunkanmu " jawab pak Gun.
" Siapa yang menggendongku ke kamar?" tanyaku.
"Saya sendiri mbak Naima" jawab pak Gun
"Terima kasih pak Gun" jawabku
" Hari ini kita ke rumah seorang nenek, dan mencari seorang pemuda" kataku
Pak Gun, hanya menganggukkan kepala, tanpa berani dia untuk mengajukan pertanyaan, karena dari awal aku sudah berkata pada pak Gun, untuk tidak banyak bertanya hanya mengikuti instruksiku saja.
Seperti kemarin arwah kakak menuntun kami, dari jalan raya mobil mulai masuk ke dalam gang. Ternyata untuk menuju ke rumah nenek kakak itu, mobilku tidak bisa masuk, jadi kami harus berjalan kaki melewati jalanan sempit itu. Setelah berjalan sejauh 500 meter, sampailah aku di depan sebuah rumah, di mana arwah kakak itu berhenti. Aku pandangi rumah kayu itu, sangat sederhana, dindingnya terbuat dari bambu, alas rumahnya dari tanah. Jauh berbeda dengan rumah yang lainnya. Rasanya sedih melihatnya.
Tok...tok....tok aku mengetuk pintu rumah itu .
Seorang nenek tua renta, dengan tubuh yang sedikit membungkuk membukakan pintu.
"Masuk nak, kita bicara di dalam saja ", kata nenek itu kepadaku.
Aku dan pak Gun masuk ke dalam rumah itu, di dalam ruang tamu hanya ada sebuah tikar di atas tanah dan itupun sudah usang. Aku melihat sebuah meja dari kayu, di atasnya ada foto kakak itu, foto kakak dengan nenek itu.
" Nek, itukan foto kakak? Kapan foto itu diambil ? " tanyaku pada nenek.
Nampak mata nenek berkaca kaca.
" 7 bulan lalu Tika mengajak nenek untuk berfoto, katanya kalau nenek kangen dia, nenek bisa melihat foto ini nak, Tika anak yang rajin, cantik dan pintar" kata nenek menjelaskan.
" Siapa namamu nak?" tanya nenek itu padaku.
"Namaku Naima, Nek" jawabku
" Nenek, tinggal di rumah ini dengan kak Tika? tanyaku.
"Iya nak, nenek tinggal bersama Tika, dia adalah harapan hidup nenek satu satunya, selama ini Tika yang berjuang keras, sepulang sekolah Tika pasti ikut berdagang keliling, dia juga kerja serabutan nak, kadang disuruh mencuci dan setrika di rumah orang, kadang bersih-bersih rumah orang, apapun akan dia lakukan asal halal, Tika melarang nenek mengemis nak.Tapi 6 bulan ini,Tika meninggalkan nenek nak, nenek mencarinya kemana mana, tetapi tidak ketemu."
" Nenek sebenarnya, saya tidak pernah mengenal kakak Tika, tetapi saya bisa ke sini karena arwah kakak Tika yang menuntun saya ke sini." kataku dengan sedikit takut.
Apa yang ada dibenakku itu benar, nenek menangis sejadi-jadinya, aku dan pak Gun berusaha menenangkannya. Dan beberapa kali nenek pingsan, teriakan dan tangisan nenek menarik perhatian tetangga sekitar dan beberapa orang sudah berkumpul di rumah nenek untuk melihat apa yang terjadi, seorang dari mereka mendekati pak Gun mencoba mencari tahu apa yang terjadi, pak Gun menjelaskan semua kejadian dengan mendetail, dari awal penemuan potongan tubuh yang telah menjadi kerangka itu. Sampai kedatangan kami kerumah nenek ini. Kemudian pria itu mendekati nenek Tika dan memberi nasehat. Pria itu juga meminta kami untuk mengantarkan ke kantor polisi untuk mendapat penjelasan.
Aku dan pak Gun pun menyetujui permintaan bapak itu, kami berempat menuju ke kantor polisi. Hanya 30 menit, kami sudah sampai.
Kamipun mendatangi bagian reserse kriminal, di sana di temukan bukti baru sebuah pakaian dan cincin, pihak kepolisian menunjukkan bukti itu pada nenek, tangis nenek kembali pecah. Pak Gun sedang melanjutkan perbincangan itu, sedangkan aku dan bapak itu mengajak nenek untuk keluar ruangan.
Nenek memaksa untuk melihat jenazah cucunya itu, tetapi bapak itu menjelaskan bahwa berdasarkan ciri -ciri yang ada, itu memang benar cucu nenek, dan nanti jenazah akan diantar ke rumah nenek setelah dilakukan otopsi.
Kamipun kembali pulang ke rumah nenek, sebelum sampai di rumah nenek aku meminta pak Gun, untuk berhenti di ATM terdekat, aku akan mengambil uang kataku
Pak Gun, menghentikan mobil dan aku menarik tunai uang di ATM sebesar 10 juta. Anak kecil seusiaku bisa memiliki uang sebanyak itu? Itu karena soal uang ibuku tidak terlalu pelit, dia selalu memberi uang saku yang tidak seperti anak kecil pada umumnya.
"Untung sling bagku muat untuk menyimpan uang ini" kataku dalam hati. Setelah itu kami meneruskan perjalanan ke rumah nenek. Sesampainya di rumah nenek, aku menunggu nenek agar lebih tenang, dan beberapa tetangga sudah ada yang berada di rumah nenek, melihat nenek agak tenang aku menceritakan kalau arwah kakak ingin aku menemui kekasihnya, sebelum itu aku juga bercerita pada nenek kalau kakak sangat menyayangi nenek.
"Nak, tanpa cucu nenek, apa bisa nenek hidup dan bagaimana nenek bisa hidup, jika semangat satu-satunya dalam hidup nenek telah tiada. Apalagi dia harus pergi dengan cara seperti ini" kata nenek secara tiba-tiba, aku bisa merasakan semua kesedihan nenek itu, tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan.
Aku tidak bisa berlama-lama, akupun berpamitan kepada nenek. Ketika aku akan meninggalkan tempat itu, tiba-tiba nenek menghentikan langkahku dan pak Gun.
" Tunggu nak, ada yang ingin aku titipkan untuk kamu berikan kepada Lintang " kata nenek, diapun masuk ke dalam rumah, dan keluar kembali sambil membawa kotak yang terbungkus kertas kado.
Nenek menyerahkan bingkisan itu padaku sambil berkata : " Tika pernah berkata hadiah ini untuk pria terbaik dalam hidupnya, dia pernah sedikit bercerita tentang Lintang, bahwa di sekolah dia adalah anak laki-laki yang sering membantunya, mungkin Lintang ini adalah kekasih Tika " kata nenek.
Aku hanya mengangguk, dan sebelum pergi aku memberikan kepada nenek uang 10 juta yang telah aku ambil dari ATM tadi, untuk biaya pemakaman kakak atau untuk apa saja yang penting aku ikhlas memberikannya, aku berharap bisa membantu nenek semampuku.
Nenek menolak uang pemberianku, aku memaksanya dan akhirnya nenek mau menerima, nenek memelukku dan mencium pipiku. Kamipun melanjutkan perjalanan mencari kak Lintang, arwah kak Tika menuntunku ke sebuah rumah besar, bagus sekali rumahnya dibandingkan rumah yang lainnya.
Ting....tong...ting..tong
Aku memencet bel yang ada di depan gerbang itu, lalu seorang laki-laki berkumis datang mengintip dari lubang yang ada di gerbang itu.
" Cari siapa dik?" tanya bapak itu.
"Kami mencari kak Lintang pak, ada sesuatu yang harus saya berikan langsung pada kak Lintang" kataku menjelaskan.
Pak Gun, kemudian ikut bertanya apa dik Lintangnya ada, dan pria berkumis itu menjawab ada. Tetapi bapak itu belum mau membukakan pintu gerbang itu, akupun menjelaskan bahwa aku adalah adik dari kak Tika dan aku membawa bingkisan dari kakakku untuknya.
Pria berkumis itu akhirnya meninggalkan kami untuk bertanya apakah majikannya itu mengenal kami, tidak beberapa lama seorang pemuda membuka pintu gerbang.
" Mari masuk kedalam " kata pemuda itu dengan ramah, diapun mengajak kami masuk keruang tamu dan aku mendengar dia meminta tolong pada pelayannya untuk membuatkan minuman. Pemuda itu mempersilahkan kami duduk, dan tidak beberapa lama seorang pelayan mengantarkan minuman dan kue kering.
Kakak itu mempersilahkan kami untuk minum, aku tanpa basa basi meminum air dalam gelasku sampai habis .Dan mengambil kue di dalam toples itu.
" Ada apa pak?" tanya kakak itu pada pak Gun.
" Maaf mas, tugas saya hanya mengantar, gadis kecil ini yang memiliki urusan dengan anda" kata pak Gun dengan tenang.
Segera aku telan roti yang telah aku kunyah dimulutku. Dan aku mulai bercerita bahwa namaku adalah Naima, aku datang ke rumah ini karena permintaan arwah kak Tika, dan aku menjelaskan bahwa kak Tika telah meninggal, aku memberikan bingkisan kado.
Mata pemuda itu berubah menjadi merah, aku melihat dia menahan air mata. Dibukanya bingkisan itu, ternyata itu adalah sebuah bingkai foto yang berukuran agak besar, aku melihat ada foto kak Lintang dan kak Tika disusun dengan rapi dan cantik di bingkai foto itu, sebenarnya mereka tidak pernah foto bersama, tetapi kak Lintang pernah memberi kak Tika 3 buah foto, oleh kak Tika ditata dengan cantik di dalam bingkai foto itu.
Happy birthday Lintang, aku bukanlah seorang putri, aku bukanlah orang berharta, aku tidak memiliki apapun yang berharga selain cinta dan ketulusanku "ILOVE YOU"
Tanpa sengaja aku membaca isi pesan singkat yang ditulis dengan rapi. Awal kakak Lintang marah dan menuduh kami penipu, tetapi kami menjelaskan bahwa kakak Lintang bisa menemui nenek kak Tika sesuai alamat yang telah kami sebutkan.
Hari ini adalah hari yang melelahkan, pak Gun menatap wajahku dan berkata
" Hatimu cantik, secantik wajahmu Naima."
Dengan adanya kejadian ini, telah membuat pak Gun, mengetahui sesuatu yaitu bahwa aku berbeda.
Hari ini aku telah menyelesaikan janji ke duaku.