MY name is Naima

MY name is Naima
Menyelamatkan jiwa yang terbelenggu part 1



Dengan diadakannya pesta ulang tahunku, membuat semua temanku berbeda dalam memandangku, teman sekolahku yang tidak tahu siapa diriku, mereka hanya mengenal bahwa aku hanya Naima yang sederhana, kini mengetahui siapa diriku yang sebenarnya, dan sikap semua temanku kini semakin baik, hubungan antar teman semakin baik, tidak ada groub ataupun blok di salam kelasku. Semua berbaur menjadi satu dan saling menghargai satu sama lain, aku senang dengan semua ini.


Waktu sangat cepat berlalu, pada suatu hari saat pulang dari sekolah, pak Gun terlambat menjemputku, oleh karena itu aku menelepon pak Gun dan berkata kepadanya untuk menjemputku di rumah Lia saja, lalu aku memberikan alamat rumah Lia.


"Lia aku main ke rumahmu ya?" kataku pada Lia.


"Dengan senang hati, Princess.Tapi kamu tahukan bahwa rumahku tidak seperti istana " kata Lia padaku.


"Hahaha ada-ada saja kamu Lia, rumahmu tidak kalah dengan istana kok" kataku memuji.


Aku memilih untuk bermain di rumah Lia karena selain rumah Lia dekat dengan sekolahku, Lia adalah teman baikku di kelas.


Aku dan Lia berjalan kaki menuju rumah Lia yang tidak jauh dari sekolahku,tiba-tiba Sinta berlari menghampiri kami.


"Kita pulang bersama ya, kan rumahku tidak jauh dari rumah Lia" kata Sinta.


" Baik-baik, kita pulang bersama biar ramai" kataku pada Sinta.


Kami bertiga berjalan sambil bercerita dan bercanda. Tiba-tiba Sinta melihat sebuah cincin yang tergeletak di jalan.


"Hei, teman-teman berhenti lihat ini" kata Sinta sambil memungut cincin itu. Sinta lalu menunjukkan cincin itu padaku dan Lia.


"Cantik sekali cincinnya kamu beruntung Sinta" kata Lia memuji.


Aku menyentuh cincin itu dan tanganku bergetar, hingga cincin itu terjatuh dari tanganku.


"Kembalikan cincin itu Sinta, cincin itu akan membawa petaka atau buang cincin itu " kataku pada Sinta.


"Ini cincin emas ya?" tanya Sinta padaku


Aku menganggukkan kepalaku dan Sinta hanya tersenyum.


"Berarti kalau ini dijual dan dibelikan beras pasti lumayan itu" tiba-tiba Sinta berkata.


"Jangan Sinta, jangan kamu belikan makanan atau apapun Sinta jika itu terjadi maka akan ada kematian " kataku memperingatkan.


Lia dan Sinta menatapku dengan tatapan mata curiga dan aku tahu dalam hati mereka ada keraguan atas ucapanku itu.


Tanpa pikir panjang aku mengambil cincin itu dan mengembalikannya pada tempatnya. Sinta hanya memandangku dengan sikap kesal, aku tidak peduli aku hanya berusaha untuk mencegah hal terburuk terjadi. Sinta kesal denganku dan aku bisa merasakan itu, akupun meminta maaf pada Sinta, tetapi Sinta yang kesal memintaku untuk meninggalkan dia sendiri, akupun berjalan bersama Lia dan meninggalkan Sinta sendirian.


"Ada apa dengan cincin itu Naima? " tanya Lia kepadaku.


"Cincin itu tidak baik" jawabku singkat, aku tidak mau menjelaskan apapun, karena aku bisa merasakan bahwa cincin itu sengaja dibuang seseorang untuk memikat, menjadikan cincin itu sebagai alat untuk mendapatkan tumbal. Hmm...sebuah keserakahan telah membutakan mata hati orang itu, sehingga dia berusaha mendapatkan kekayaan dengan cara instan dan mengorbankan jiwa manusia lainnya.


Bukankah untuk sebuah kesuksesan seseorang harus mau berusaha, bekerja keras. Hati kecilku berkata. Aku terdiam di sepanjang jalan merenungi semua itu yang ada dibenakku saat ini adalah sebuah ketakutan, aku takut jika Sinta akan mengambil cincin itu kembali.


"Hei kenapa kamu diam Naima? " tanya Lia.


" Tidak, apa-apa Lia aku hanya memikirkan pasti Sinta marah pada sikapku tadi" kataku pada Lia dengan sedikit cemas.


"Sinta anak baik, besok dia akan bersikap baik lagi padamu," kata Lia kepadaku.


Tidak terasa aku telah sampai di rumah Lia. Rumah Lia benar-benar sederhana dan rumah itu semi permanen. Dia mempersilahkanku untuk duduk di kursi sofa yang sebagian telah memiliki lubang, tidak ada yang istimewa dari rumah Lia, benar-benar sangat sederhana .


Lia keluar dengan membawa segelas air putih.


" Naima, maaf ya, rumahku memang seperti ini, aku tidak bisa menjamumu dengan baik " kata Lia sambil memberikan segelas air putih padaku.


"Hmm....segar " kataku lalu aku meminum air yang berada di dalam gelasku.


"Tidak apa Lia, maaf malah aku jadi merepotkanmu" kataku kepada Lia.


Lia hanya tersenyum, dia berkata bahwa dia senang kalau aku main kerumahnya.


" Lia di mana ibu dan adikmu?" tanyaku pada Lia.


" Ibuku sekarang sudah bekerja, dia jadi pembantu di rumah tetanggaku, setiap pagi pukul 08.00 WIB ibu dan adikku pasti sudah berangkat ke rumah tetanggaku, terus kalau aku sudah pulang sekolah adikku pasti pulang ke rumah dan aku akan menjaga adikku di rumah" kata Lia lalu duduk di sampingku.


"Apa tempat kerja ibumu itu jauh ,Lia" tanyaku.


"Tidak Naima, hanya berjarak 3 rumah dari sini, sebentar lagi ibu pasti pulang mengantar adikku" kata Lia.


"Siapa ini Lia? " tanya ibunya dengan sedikit bingung.


"Temanku, ibu. Dia bernama Naima" kata Lia.


Akupun tersenyum menatap ibu Lia dan akupun mencium tangannya sebagai rasa hormatku.


"Iya bu,saya Naima" kataku memperkenalkan diri.


Ibu Lia tersenyum padaku.


" Lia ajak temanmu makan, ibu pulang seperti biasa, jangan lupa sore jam 15.00 WIB adikmu harus mandi dan ingat untuk menyuapi adikmu sore nanti " kata ibu Lia lalu dia meninggalkan kami.


" Pukul berapa ibumu pulang Lia? " tanyaku.


"Ibu biasanya pulang pukul 19.00 WIB" jawabnya.


"Dimana ayahmu?" tanyaku, mataku menatap ke arah Lia dan adiknya.


"Bapakku ada di luar kota, bapak kerja jadi kuli bangunan " kata Lia dengan lirih, terlihat wajah Lia sedikit sedih.


"Ayo makan, pasti kamu sudah lapar" kata Lia mengajakku.


Sebenarnya aku menolak karena aku tidak mau merepotkan, tetapi Lia memaksaku jadi aku mau untuk makan di rumah Lia.


Tidak ada yang istimewa, kami makan dengan lauk seadanya hanya nasi dengan tempe goreng. Adik Lia yang manis itu terus memandangiku,aku hanya tersenyum ke arahnya.


Tiba-tiba ponselku berdering,


" Mbak Naima saya sedang dalam perjalanan ke rumah teman mbak Naima" kata pak Gun.


"Iya aku tunggu pak" jawabku.


Kemudian aku menutup telepon pak Gun, lalu mengirim pesan pada pak Gun, bahwa aku ingin pak Gun membeli beberapa makanan dan minuman sesuai isi dalam pesanku.


Setelah selesai makan, aku membantu Lia mencuci piring, lalu kami bertiga bermain bersama. Adik Lia sangat lucu dan imut, dia sangat senang kepadaku, adik Lia sangat senang duduk di sampingku dan bermain bersamaku.


20 menit kemudian, pintu rumah diketuk, ternyata pak Gun telah datang.


" Mana pesananku tadi?" kataku dengan manja.


Pak Gun berjalan menuju mobil dan membawa beberapa tas kresek ke dalam rumah.


Aku langsung mengambil tas kresek dari tangan pak Gun dan meletakkannya diatas meja.


" Naima apa ini" tanya Lia dengan wajah kebingungan.


" Tidak apa-apa Lia, ini untukmu dan adikmu" kataku.


Adik Lia yang masih kecil, membuka setiap kresek dan mengeluarkan semua isinya.


"Ya Allah Naima, banyak sekali!" seru Lia.


"Tidak apa Lia, aku ikhlas kok, semoga kamu senang" kataku pada Lia.


Lia memelukku dan mengucapkan terima kasih, akupun mengucapkan terima kasih kepada Lia karena dia telah menjamuku dengan baik.


"Lia aku pamit dulu ... Hai adik kecil kak Naima pulang dulu, kapan-kapan aku main lagi " kataku pada Lia dan adiknya.


Lalu aku meninggalkan rumah Lia, aku masuk ke dalam mobil dan kami pulang.


"Tadi saya sempat bingung, kenapa mbak Naima meminta untuk dibelikan makanan sebanyak itu, padahal di rumah semua telah tersedia" kata pak Gun padaku.


"Tidak apa-apa pak Gun, tadi aku makan di rumah Lia hanya dengan nasi dan tempe, aku tidak bisa membayangkan jika aku berada di posisi Lia pak" kataku.


Pak Gun, hanya tersenyum menatapku dan beberapa kali dia mengelus rambutku .


Dalam perjalanan aku masih memikirkan tentang cincin itu, aku takut jika Sinta sahabatku akan mengambilnya.....dan aku terus terbayang akan cincin itu.


To be continue