MY name is Naima

MY name is Naima
Pemuda aneh 1



Waktu terus berjalan,semua kisah telah aku lewati,sudah 3 tahun berlalu dari semua kejadian itu,dan sejak kejadian itu Devanno harus pindah sekolah ke kota lain,dan aku sendirian disini dengan semua kenangan dan kisah yang pernah kami alami bersama. Aku tahu sejak kejadian itu, orang tua Devanno melarang Devanno untuk mendekatiku,bagi mereka Naima adalah gadis aneh dan pembawa sial. Tapi Devanno tidak peduli akan hal itu, dia terus menemuiku karena hal itulah Sailendra Devanno harus pindah sekolah. Hanya dengan cara itulah yang terbaik menurut orang tua Devanno agar Devanno jauh dariku.


Aku juga masih teringat ketika ibu Devanno mendatangi rumahku dan memaki-maki diriku dihadapan ibuku, karena hal itulah ibu Ningsih juga melarang keras aku untuk menemui Devanno.


Andai mereka mengerti apa yang aku rasakan, andai mereka memahami bahwa tidak mudah hidup seperti ini,aku juga ingin seperti yang lain.


~••••••~~~~


Senyum dan semua tawa


Kini hanya berbalut bayangan


Harapan dan janji yang terucapkan


Kini hanya menjadi kenangan


Aku hanya mampu menatapmu dalam bayangan imajinasi


Tanpa mampu untuk menyentuhmu


Wahai kekasih hati


Aku rapuh tanpamu


Kini kita telah terpisah


Dan aku tidak tahu engkau ada dimana?


Kita terpisah karena mereka


Meraka yang tidak mengerti tentang segala


Apa kau disana masih mengingatku?


Atau kini aku hanya menjadi sebuah kenangan lalu?


Atau semua kini tinggallah debu


Namun


Disini aku setia menunggumu


Aku merindukanmu.......


Devanno...aku sangat merindukanmu...aku sangat merindukanmu ,ujarku dalam hati. Tanpa terasa airmataku menetes,aku membaca puisi yang baru selesai aku tulis. Dalam benakku terlintas wajah Devanno ,seseorang yang telah berikrar akan selalu berada disampingku selamanya, masih teringat jelas dia berkata My Wife kepadaku.


"Kelak aku akan menjadi orang hebat ,hanya untukmu my wife " ujar Devanno


Aku juga masih teringat ketika Devanno menggendongku saat aku terluka akibat terjatuh. Kini Devanno telah jauh dariku ,sudah beberapa tahun kami tidak bertemu,berbicara,atau tertawa bersama.


Aku lalu bangkit dan berdiri,lalu aku meletakkan selembar kertas itu kedalam laci dimeja kamarku.


"Kau menangis Naima" ujar Olla


"Tidak apa-apa, bukankan manusia memang selalu datang dan pergi dari kehidupan kita Olla, selalu ada pertemuan namun juga ada perpisahan, ada kehidupan namun ada juga kematian,bukankah begitu Olla?" tanyaku pada Olla adik dari dunia lainku itu


"Aku tahu kau merindukan dia Naima. Kalian memang saat ini terpisah,tetapi apa yang menjadi takdirmu akan tetap menjadi milikmu Naima" ujar Olla


"Olla,terkadang kita akan menemukan dan mengenal seseorang dan mungkin mereka hanya Tuhan takdirkan untuk bisa mengenal kita,singgah dihati kita ,mengisi beberapa bagian kisah hidup kita,lalu pergi dan menghilang" ujarku lirih


"Dia....Dia ...Dia yang terpilih adalah takdirmu Naima....dia tidak hanya akan singgah,tetapi dia akan menetap dan hidup selamanya disana...didalam relung hatimu yang terdalam" ujar Olla


Aku hanya tersenyum,menatap Olla. Aku tahu aku tidak akan bisa untuk berbohong dihadapannya,karena Olla bisa membaca hati dan pikiranku,makhluk ini tahu akan kesedihan dan kerinduanku pada sosok Devanno


Kini aku bukan gadis kecil lagi,aku benar-benar telah tumbuh menjadi gadis remaja,ibarat kata aku ini seperti sebuah bunga yang sedang mekar,wangi dan mampu mengundang kumbang untuk datang mendekat, dan diusiaku kini sudah banyak temanku yang telah mengenal cinta dan memiliki kekasih.


"Olla aku sudah lelah,aku ingin tidur" ujarku dalam hati


"Tidurlah kakakku" ujar Olla


Tok...tok...tok..


Suara pintu kamar diketuk dari luar


"Iya,sebentar" jawabku lalu segera bangkit dari ranjangku dan segera berjalan untuk membuka pintu


"Mbak Naima ...mbak Naima...." ujar mbak Sulastri cemas dengan mata berkaca-kaca


"Ada apa mbak?"


"Mbok Warti pingsan" ujar mbak Sulastri


Ucapan mbak Sulastri benar-benar terkejut ,tanpa pikir panjang akupun segera berlari keluar kamarku dan menuruni tangga menuju kamar mbok Warti.


Aku segera membuka pintu kamar mbok Warti ,nampak mbok Warti sedang terbaring diatas kasur


"Mbok sadar mbok...."ujarku


Aku lalu segera mengambil minyak kayu putih, aku oleskan sedikit minyak dihidung mbok Warti ,aku berharap aroma minyak itu bisa membuat mbok Warti sadar.


" Tubuh mbok Warti berkeringat mbak, panggil pak Karjo...atau mbak Sulastri harus segera menelepon pak Gun atau pak Hamid,mbok Warti harus segera dibawa ke rumahsakit secepatnya" ujarku


Mbak Sulastri segera menemui pak Karjo dan mengikuti apa yang menjadi ucapanku tadi


"Sadarlah mbok" ujarku lirih


Lalu aku segera membalur tubuh mbok Warti dengan minyak kayu putih sambil menggosoknya perlahan dengan tanganku.


Aku benar-benar sangat cemas melihat mbok Warti dalam keadaan seperti ini,aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.


Dan tanpa aku sadari air matapun menetes tidak terbendung lagi


"Tuhan...beri mbok Warti kesehatan..tolong jangan ambil dia,aku sayang padanya" ujarku dalam hati.


30 menit kemudian,...


Pak Gun sudah datang,dengan cekatan pak Gun menggendong tubuh kecil mbok Warti yang renta itu ,lalu segera membawanya kedalam mobil.


Akupun hanya membawa uang dan ponselku saja ,lalu aku segera ikut masuk kedalam mobil .


Aku meninggalkan pak Karjo dan mbak Sulastri untuk menjaga rumah.


Didalam mobil aku terus menatap wajah mbok Warti yang sudah sangat renta,aku mengelus rambutnya yang sudah memutih dan menipis itu


Mbok Warti kini ada dipangkuanku,dulu aku masih ingat ketika aku kecil aku yang selalu tidur dipangkuannya dan mbok Warti bercerita tentang banyak hal padaku dan kini aku yang memangkunya dalam keadaan yang berbeda.


"Pak Gun,kita harus lebih cepat pak..kita tidak boleh terlambat" ujarku


"Iya mbak" ujar pak Gun


"Tuhan...sembuhkan mbok Warti...sembuhkan dia" ujarku dalam hati


Tidak beberapa lama ,kami sudah sampai diruang ICU rumah sakit. Seorang pemuda segera menghampiri kami,lalu membaringkan tubuh mbok Warti diatas brankar dorong dan mendorongnya kedalam,pak Gun temani mbok Warti aku akan mengurus administrasi rumah sakit.


"Syukurlah administrasi tidak terlalu ribet" ujarku dan aku segera mencari mbok Warti di ruang ICU.


Disana ada beberapa orang yang dirawat,dan kami hanya dibatasi oleh penyekat yang terbuat dari kain.


Tiba-tiba dari ruangan samping terdengar jeritan tangis


"Ada apa disamping pak Gun" tanyaku kepada pak Gun yang baru saja menghampiriku


"Disamping ada pemuda yang meninggal karena over dosis obat mbak Naima" ujar pak Gun


"Semua yang pasti kembali kepadaNya, berapa usianya" tanyaku


"Masih remaja mbak Naima,mungkin seusia mbak Naima" ujar pak Gun


Aku hanya terdiam,di usia yang semuda itu dia harus meregang nyawa karena obat-obatan terlarang,hatiku merasa sedih harusnya mereka menjadi generasi penerus bangsa,tetapi kenapa sampai terjerumus seperti ini,atau ini dampak sebuah gaya hidup,sebuah pergaulan yang salah, atau sebuah pelarian dari suatu masalah? Sudahlah semua pasti ada sebabnya


Tanganku menggenggam tangan mbok Warti, tanpa aku sadari aku tertidur diatas kursi disamping mbok Warti.


@@@@@@to be continue@@@@@@