
Hari Sabtu yang cerah..
Hari ini sekolahku libur, karena sekolahku mengikuti sistem fullday.
Hari ini pak Gun, mengajak aku untuk berkunjung ke rumahnya, pagi ini aku benar-benar sangat bersemangat, aku sudah bangun lebih pagi, mandi dan sudah berhias.
Karena pak Gun berkata, bahwa pukul 06.00 WIB dia akan menjemputku. Rumah pak Gun hanya membutuhkan 1 jam perjalanan.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 06.00 WIB. Pak Gun datang tepat waktu sesuai yang dia janjikan.
"Mbok Warti aku berangkat dulu, aku akan main ke tempat pak Gun" kataku bersemangat.
"Hati-hati nak" kata mbok Warti menasehati.
"Iya mbok" jawabku sambil memeluk mbok warti, lalu aku mencium tangannya .
"Mbak Naima, ayo berangkat " ajak pak Gun.
"Siap komandan " kataku lalu tertawa.
Mbok hanya tersenyum menatapku dan pak Gun tertawa lepas mendengar jawabanku tadi.
Aku dan pak Gun memasuki mobil.
"Hore, kita akan ke mana dulu?" tanyaku pada pak Gun dengan bersemangat.
"Sebelum ke rumah, kita mampir ziarah ke makam dulu mbak Naima? " kata pak Gun.
" Makam siapa pak?" ujarku secara spontan.
"Makam istri bapak mbak Naima" kata pak Gun.
"Saya baru tahu bahwa istri bapak sudah meninggal, kapan meninggalnya pak Gun? tanyaku sambil menatap ke arah pria berkemeja warna putih itu.
" Sudah lama, sudah 6 tahun yang lalu" kata pak Gun dengan wajah nampak sedih.
"Apa pak Gun punya anak?"
"Iya 2 orang putri,mereka sebaya denganmu" jawabnya.
" Mereka kembar?" tanyaku lagi, rasa ingin tahu mendorongku untuk bertanya.
Pak Gun menganggukkan kepalanya. Sambil mengemudikan mobil, ia menceritakan bahwa istrinya meninggal saat kedua putrinya berusia 7 tahun. Pak Gun sangat mencintai istrinya karena itu dia tidak ingin menikah lagi, pria penyabar itu tidak bisa mencintai wanita manapun, karena baginya istrinya adalah wanita terbaik di dunia ini, sebenarnya kematian istrinya telah membuat pak Gun tidak bersemangat dalam hidup, tetapi dengan melihat kedua putri kembarnya semangat hidup pak Gun kembali bangkit.
Tanpa aku sadari karena asyik mendengarkan ceritanya, kita telah sampai di sebuah tempat pemakaman. Pak Gun mengajak aku untuk ke makam itu, dia mendatangi pusara istrinya dan kami berdoa di sana.
Aku melihat airmata pak Gun menetes, pak Gun lalu mengusapnya seolah dia tidak ingin aku melihatnya menangis.
Di sana aku merasakan ada yang mengawasi kami, sesuatu yang tidak terlihat tetapi aku bisa merasakannya.
Setelah selesai berdoa, kami menaburkan bunga dimakam istri pak Gun.
Lalu pria itu menggandeng tanganku berjalan meninggalkan area pemakaman itu. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju rumah pak Gun.
Tidak beberapa lama kemudian mobil berhenti di halaman rumah yang cukup luas dan asri, kita sudah sampai mbak Naima, aku melihat sebuah rumah yang lumayan bagus.
"Ini rumah pak Gun?" tanyaku.
"Bapak sudah mampu merenovasi rumah ini, karena bapak bekerja di rumahmu, ibu mbak Naima menggaji bapak dengan upah yang tinggi.
Tiba-tiba 2 gadis seusiaku keluar berlari menghampiri kami,
" Bapak sudah datang" kata mereka lalu mencium tangan pak Gun.
Kemudian menatapku dan tersenyum
"Ini Naima, dia putri majikan bapak nduk" kata pak Gun menjelaskan.
"Saya Dina dan ini Dini" kata Dina sambil menunjuk saudara kembarnya.
"Aku Naima " jawabku dengan ramah.
Kamipun masuk ke dalam rumah, pak Gun memintaku untuk bersikap seperti di rumah sendiri, dia ingin aku tidak merasa sungkan.
Seorang wanita keluar membawakan minuman kepada ku. Kemudian pak Gun mengatakan itu adalah adik kandungnya. Pak Gun bercerita bahwa adiknya sudah pernah menikah tetapi dia tidak memperoleh keturunan, suaminya selalu melakukan kekerasan fisik kepadanya. Oleh karena tidak tahan dengan perilaku suaminya, adiknya memilih bercerai dan sekarang adiknya yang menjaga Dina dan Dini ketika pak Gun sedang bekerja. Aku hanya mendengarkan cerita dari pak Gun, aku sedih mendengarnya. Seharusnya seorang istri mendapat perlindungan dari suaminya, malah mendapatkan kekerasan fisik.
Pak Gun,mempersilahkan aku untuk meminum teh yang sudah disuguhkan itu.
Akupun meminum teh itu, lalu aku bermain dengan Dina dan Dini di depan TV, kami bermain monopoly. Kami sangat senang, aku merasa dekat dengan putri kembar pak Gun, meski baru pertama bertemu kami serasa seperti keluarga.
"Mas, anak pak warno bersikap aneh dia selalu berteriak setiap malam dan menangis" kata adik pak Gun.
"Memangnya apa yang terjadi dik?" tanya pak Gun heran.
"Aku kurang tahu mas, ini sudah terjadi selama beberapa minggu"
"Astagfirullah, kasihan sekali" kata pak Gun sambil menggeleng lemah.
"Aku akan melihat kondisinya sekarang" kata pak Gun dan bangkit dari kursinya.
"Iya mas, pak Warno sejak anaknya sakit dia selalu di rumah" kata adik pak Gun menjelaskan.
"Naima, saya akan menjenguk orang sakit" kata pak Gun.
"Apa saya boleh ikut?" tanyaku
Pak Gun hanya terdiam, seperti dia sedang berpikir dan tiba-tiba pak Gun,menjawab " baiklah"
Aku tersenyum, lalu Dina dan Dini pun ingin ikut bersama kami.
Aku, Dina dan Dini segera membereskan mainan kami, setelah selesai kami pergi bersama pak Gun ke rumah pak Warno.
Rumah pak Warno dengan rumah pak Gun, memiliki jarak yang tidak terlalu jauh, hanya dipisahkan oleh 3 rumah untuk ke sana kami hanya perlu berjalan kaki.
Tok...tok...tok...pak Gun mengetuk pintu rumah pak Warno.
Seorang pria seusia dengan pak Gun, membukakan pintu.
"Ada apa mas Gun? silakan masuk" kata pak Warno terkejut.
Kamipun masuk ke dalam rumah dan pak Warno mempersilahkan kami untuk duduk.
" Begini mas, saya itu mendengar kabar kalau Wulan sedang sakit apa benar?" tanya pak Gun mencoba memastikan.
"Iya mas, anak saya sakit sudah beberapa minggu, saya sudah membawa ke dokter, tetapi kata dokter anak saya baik-baik saja, saya sudah mencari orang pintar, tetapi tidak ada yang bisa menyembuhkannya .Wulan seperti orang linglung mas dan sering berteriak dan menangis." kata pak Warno dengan wajah terlihat sedih.
" Apa boleh kami melihatnya?" tanya pak Gun.
"Silakan mas" kata pak Warno, kemudian pak Warno mengantar kami ke kamar putrinya.
Kamipun masuk ke dalam ruangan itu dan aku melihat putri pak Warno duduk dengan pandangan kosong, aku merasa kasihan melihatnya.
"Olla kamu di mana?" kataku dalam hati.
Tiba-tiba Olla datang dan berkata kepadaku bahwa Wulan sedang diganggu oleh arwah.
Kemudian aku mendekati Wulan, aku berusaha untuk berkomunikasi dengan makhluk yang sedang menguasai tubuh Wulan saat ini.
"Namaku Naima" kataku memperkenalkan diri pada Wulan.
Wulan menatapku tajam seolah tidak senang dengan kehadiranku.
"Kenapa kamu mengganggu dia" tanyaku
" Aarrgh...aku tidak mengganggu dia" kata arwah dalam diri Wulan.
Lalu aku melihat mata Wulan nampak sayu, seperti memendam kesedihan.
"Tolong aku Naima?" kata arwah dalam tubuh Wulan.
"Aku mati karena bunuh diri, jiwaku tidak akan bisa tenang sebelum aku mengembalikan kalung itu, sebelum aku menjelaskan kepada seseorang bahwa aku sangat mencintainya, tolong aku Naima, hi..hi..hi...hi dia menangis.
" Berceritalah padaku" kataku sambil aku memegang tangan Wulan.
"Namaku Gita, ayahku telah menikah dengan seorang janda, usia putrinya sama denganku. Saat aku kelas 3 SMA ayahku meninggal dunia, aku hidup bersama ibu dan adik tiriku. Ayahku meninggalkan warisan yang cukup dan sebuah toko yang lumayan laris, jadi kami tidak kekurangan apapun. Sejak ayahku menikah dengan wanita itu, hidupku tidak bahagia, aku seperti seorang pelayan jika ayahku tidak ada di rumah, tetapi aku selalu diam dan tidak menceritakan perilaku buruk ibu tiriku pada ayahku" lalu dia menangis
Aku mengelus rambut Wulan.
"Naima setelah ayahku meninggal, sikap ibuku semakin menjadi kepadaku, saat itu aku memiliki kekasih, dia lebih dewasa dariku dan sangat mencintaiku. Dia pria mapan dan ganteng wajahnya karena itu adik tiriku juga mencintainya" kata Wulan.
Lalu dia menangis lagi, aku hanya terdiam begitupun semua orang yang ada di dalam kamar hanya bisa terdiam.
"Itu tidak benar, semua bohong Naima tetapi dia tidak mendengarkanku, setiap telepon ataupun smsku tidak pernah dia baca" kata arwah itu.
"Lalu aku bunuh diri di dalam kamarku, aku tidak kuat dengan semua ini, tolong aku Naima ..tolong bersihkan namaku, kembalikan kalung itu kepada dia, katakan bahwa aku mencintainya" kata Arwah itu memohon kepadaku.
Aku berjalan mendekati pak Gun dan bertanya apa pak Gun bisa mengantar saya untuk menolong arwah Gita dan menyembuhkan Wulan. Pak Gun menganggukkan kepalanya, begitupun dengan pak Warno.
Aku lalu meminta Gita agar tidak masuk kedalam tubuh Wulan, nanti aku dan Wulan akan menolong dia.
Tiba-tiba tubuh Wulan jatuh dari posisi duduknya.Tidak beberapa lama Wulanpun tersadar, meski dia merasakan tubuhnya lemas .
"Bapak" kata Wulan memanggil ayahnya
Pak Warno tersenyum bahagia, diciumnya putri semata wayangnya itu.
"Syukurlah kamu tidak apa-apa" kata pak Warno terlihat bahagia.
Akupun meminta pak Warno mengambil segelas air putih dan aku memasukkan batu mirah yang telah aku jadikan liontin untuk kalungku. Aku meminta Wulan meminum air itu. Wulanpun meminumnya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanyaku pada Wulan.
"Aku merasa segar" kata Wulan.
Lalu aku menceritakan semua percakapanku dengan arwah Gita yang mendiami tubuhnya beberapa minggu ini.
Aku juga meminta keikhlasan hati Wulan untuk membantu arwah Gita.
Wulan mengangguk sebagai tanda kalau dia bersedia untuk membantu.
Sore ini, kami memulai perjalanan untuk mencari rumah Gita. Pak Gun tidak mengijinkan Dina dan Dini ikut bersama kami, jadi hanya kami bertiga yang berangkat. Kemudian kamipun mencari rumah Gita sesuai dengan petunjuk dari Gita, tidak kesulitan bagi kami untuk menemukan rumah Gita, ternyata perjalanan menuju rumah Gita hanya membutuhkan waktu 30 menit.
30 menit kemudian, mobil telah sampai di depan sebuah rumah. Arwah Gita yang cantik itu menuntun kami.
Ting...tong...ting ....tong..pak Gun menekan bel yang ada di samping gerbang.
Tidak lama kemudian datanglah seorang pria paruh baya.
"Bisa kami bertemu dengan ibu Nur, kami ingin membeli barang" kata pak Gun.
" Sebentar saya tanyakan dulu pak" kata pria itu lalu beranjak pergi.
Tidak beberapa lama, dia datang dan membukakan pintu gerbang, pak Gun lalu memasukkan mobil dan memarkirnya di halaman rumah.
Seorang Wanitu paruh bayu menghampiri kami dan mempersilahkan kami duduk.
"Kenapa tidak langsung ke toko saja ?" tanya ibu Nur
"Apa ibu yang bernama Nuriyah? " tanya pak Gun
"Iya saya ibu Nur" kata ibu itu
" Saya ingin bertemu dengan Gita? Apa kami bisa berbicara dengan dia?" tanya pak Gun berusaha memulai kepada inti percakapan
" Anak itu sudah meninggal, sudah 5 tahun yang lalu" kata ibu Nur dengan santai.
Tiba-tiba Wulan yang duduk di sampingku berdiri dan dia berlari ke dalam rumah dan menuju ke sebuah ruangan, ibu Nur mengejar Wulan dan kamipun ikut mengejarnya.
"Apa-apaan ini, saya tidak terima kalau rumah saya diacak-acak seperti ini.
Wulan yang sedang dalam kendali Gita tidak memperdulikan ucapan ibu Nur, ibu Nur lalu memanggil sopirnya untuk menghalangi wulan, tetapi Wulan memiliki tenaga yang sangat besar itu berhasil untuk mendorong pria itu hingga terjatuh. Ibu Nur terus berteriak memaki-maki Wulan dan kami.
" Ibu, tolong kembalikan kalung itu" kata Arwah dalam tubuh Wulan.
Ibu Nur tiba-tiba terdiam mendengar suara itu.
"Kamu Gita? " tanya ibu Nur dengan terkejut.
Wulan menganggukkan kepalanya, aku tahu bahwa dia bukanlah Wulan, tetapi Gita. Gita yang sedang berbicara .
"Ibu tolong kembalikan kalung itu padaku, aku tahu ibu menyimpannya" kata Gita memohon.
" Pergi kau setan, pergi sana ke neraka" kata ibu Nur dengan marah.
" Ibu, tolong kembalikan kalung itu padaku, aku akan melupakan semua kesalahan ibu padaku, semua ini akan menjadi milik ibu, tolong kembalikan kalung itu padaku"kata Gita memohon sekali lagi kepada wanita tua itu.
Aku lalu mendekati ibu Nur, aku berkata bahwa tidak adakah rasa kasihan dalam diri ibu Nur, tidak ada yang Gita inginkan selain untuk mengembalikan kalung itu pada kekasihnya.Tidak adakah rasa belas kasih sedikitpun di hati ibu Nur kepada anak yatim piatu yang kini telah menjadi arwah.
Ibu Nur terdiam, lalu dia berjalan mendekati sebuah lemari, dibukanya laci dalam lemari itu dan dia mengambil kalung milik Gita lalu memberikan kepadanya.
Gita yang berada dalam tubuh Wulan tersenyum, lalu tubuh Wulan lemas dan hampir saja tersungkur untung pak Gun dengan sigap menopang tubuh Wulan.
Tidak beberapa lama Wulan telah tersadar. Dengan kejadian ini ibu Nuriyah menyesali semua perbuatannya selama ini, ketamakan telah membutakan hatinya, dia telah kehilangan kelembutan hati seorang ibu, dia telah kehilangan hati Nurani sebagai manusia, meski Gita bukan anak kandungnya, Gita juga memiliki hak sama sebagai seorang anak dan selama ini dia tidak pernah memberikan kasih sayang itu pada Gita. Kini ibu Nur menyesali perbuatannya di masa lalu, aku bisa merasakan kebaikan hati Gita, meski dia menjadi arwah dia tetap menghormati ibu Nur seperti seorang ibu. Kondisi Wulan mulai membaik, kamipun melanjutkan perjalanan menuju rumah kekasih mbak Gita yang berada di luar kota, kami membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam . Selama di perjalanan aku hanya merenungi semua kejadian hari ini, jujur aku, pak Gun, Wulan merasakan kesedihan atas nasib yang menimpa Gita, sebuah perjalanan hidup yang menyedihkan dan berakhir tragis.
1,5 jam perjalanan telah kami lalui, singkat cerita kami telah berada di depan rumah kekasih mbak Gita.
Rumah yang luas dan besar, itu menunjukkan bahwa penghuninya pasti orang kaya.
Kamipun keluar dari mobil dan menekan bel. Seorang wanita membukakan pintu pagar
"Cari siapa pak? " tanya wanita itu
" Saya sedang mencari mas Sadewa, apa dia ada di rumah? " tanyaku mendahului
"Sebentar ya mbak saya ke dalam dulu" kata wanita itu lalu beranjak meninggalkan kami.
Tidak berapa lama seorang gadis remaja menghampiri kami dan mempersilahkan kami masuk.
"Silakan duduk pak, mbak" kata gadis itu
Kamipun duduk di kursi sofa.
"Kenapa mencari kakak saya?" tanya gadis itu.
"Begini mbak, saya ingin mengembalikan kalung ini kepada mas Sadewa " jawabku sambil menunjukkan kalung yang berada di tangan Wulan.
" Mas Sadewa tidak ada! "tiba-tiba gadis itu menjawab dengan nada marah ketika melihat kalung di tangan Wulan.
" Aku tahu kalian pasti suruhan wanita murahan itu kan? Gara-gara dia, hidup kakakku hancur dan aku tahu itu adalah kalung pemberian dari kakakku untuk wanita murahan itu" kata gadis itu dengan marah.
"Pergi dari rumah kami dan bilang pada wanita murahan itu sudah cukup jangan ganggu kakakku lagi" kata kemarahan gadis itu, dia lalu mengusir kami. Aku tidak menyerah aku berlari mendekati kakak itu dan aku ingin mendapat penjelasan, aku berusaha membujuknya, kemudian
Kakak itu mau menceritakan semua kejadian yang sebenarnya.
"Sejak mas Sadewa mendapat cerita dari keluarga mbak Gita, kalau mbak Gita telah hamil karena pergaulan bebas. Mas Sadewa sering melamun dan sulit makan, bahkan karena itu semua mas Sadewa keluar dari pekerjaannya dan mas Sadewa jadi sakit-sakitan. Kami berusaha untuk memberi semangat untuk mas Sadewa tetapi sia-sia. Satu bulan kemudian mas Sadewa meninggal. Sebentar dik aku tunjukkan sesuatu" kata gadis itu kepadaku, diapun masuk ke dalam ruangan untuk mengambil sesuatu.
Tidak beberapa lama, dia membawa sebuah kotak yang cukup besar, di dalamnya berisi banyak foto kebersamaan mas Sadewa dan mbak Gita, tiba-tiba Wulan masuk dan berdiri di sampingku.
" Ini adalah wajah gadis murahan itu" kata adik mas Sadewa dengan marah sambil menunjukkan sebuah foto.
"Kakakku sangat mencintainya, ia akan melamar gadis ini, tetapi gadis ini menghianatinya, aku ingin membakar semua foto ini dan kenangan dari gadis ini tapi kakakku melarang dan berpesan aku harus menyimpannya" kata adik mas Sadewa dengan luapan amarah bercampur kesedihan.
"Gara-gara gadis ini kakakku meninggal, gara-gara dia, aku harus hidup seorang diri" kata adik mas Sadewa kemudian menangis.
Tiba-tiba Wulan berteriak histeris dan menangis dan hal itu membuat adik mas Sadewa terkejut.
"Mas Sadewa tidak mungkin mati, mas Sadewa tidak mungkin mati, aku ingin melihatmu mas, aku ingin menjelaskan padamu, aku mencintaimu mas, aku tidak bersalah" kata Gita yang berada dalam tubuh Wulan.
Wulan bersujud di kaki gadis itu, lalu meminta maaf, sambil mengatakan dia ingin datang ke makam mas Sadewa untuk melihatnya, Wulan menangis dan memohon.
Adik mas Sadewa bingung dengan semua ini, aku dan pak Gun lalu menjelaskan semua kronologi kejadiannya. Dengan mendengar penjelasan dari kami, adik mas Sadewa menangis dan mau memaafkan mbak Gita, karena dia memang tidak bersalah. Akupun meminta adik mas Sadewa untuk mengantar kami ke tempat pembaringan terakhir mas Sadewa, tempat pemakaman itu tidak terlalu jauh dari rumahnya, adik mas Sadewa mengantarkan kami, sedang mbak Wulan yang tengah dirasuki arwah mbak Gita terus menerus menangis di dalam mobil. Hanya beberapa menit, kami telah sampai di area pemakaman.
Lalu kami berjalan mengikuti adik mas Sadewa dari belakang, tidak beberapa lama, dia berhenti di sebuah makam, lalu dia duduk di samping makam itu.
"Ini makam kakakku" kata adik mas Sadewa
Wulan yang terus menangis lalu mendekat ke makam itu, dipeluknya makam mas Sadewa, diciumnya batu nisan mas Sadewa.
"Aku tidak bersalah mas, aku sangat mencintaimu mas" kata wulan yang tengah dirasuki arwah Gita.
"Aku datang mengembalikan kalung ini mas, aku mencintaimu selalu."
Aku melihat Wulan dengan terus menangis menggali tanah dengan tangannya dan memasukkan kalung itu ke dalam tanah kuburan itu dan menutupnya.
Tiba-tiba dia berkata lagi, bahwa jangan ada seorangpun yang akan mengambil kalung itu, ia akan selalu berada di sini, bersama cinta abadinya.
Arwah Gita dalam tubuh Wulanpun mengucapkan terima kasih. Kemudian tubuh Wulan jatuh tersungkur dari posisi duduknya, untung dengan sigap aku yang berada di sampingnya segera memegang erat badannya .
Dengan kembalinya kalung itu kepada pemiliknya telah menyembuhkan Wulan dari sakitnya. Akhirnya kami beranjak pergi meninggalkan area pemakaman itu, kisah cinta mbak Gita dengan mas Sadewa berakhir dengan menyedihkan. Tetapi kekuatan cinta mereka sangatlah besar. Kini jiwa mbak Gita bisa tenang, karena telah bertemu dengan pria yang sangat dicintainya yang jasadnya telah terkubur di dalam tanah. Dan kebencian yang ada di hati adik mas Sadewa telah hilang dengan kejadian ini semua telah membuka hatinya, bahwa mbak Gita tidak bersalah, dia hanyalah korban. Aku melihat adik mas Sadewa menangis, hatinya tersentuh dengan kisah cinta mas Sadewa dan mbak Gita. Kamipun mengantarkan adik mas Sadewa pulang, setelah selesai kami melanjutkan perjalanan pulang.