
Pagi itu~~~
Kring.......
Bel masuk berbunyi, anak-anak bergegas masuk ke kelas sebelum guru mata pelajaran datang. Sedang aku memang sudah dari tadi duduk di bangku di dalam kelasku, dan gadis itu berdiri di depanku terus memohon agar aku membantunya. Itu benar-benar membuatku pusing. Ibu Dina adalah seorang guru mata pelajaran saat itu, dia mengajar di kelasku. Seperti biasa kami sebelum memulai kegiatan pembelajaran di kelas , kami selalu membaca doa bersama. Setelah selesai berdoa, pembelajaran dimulai.
" Buka buku tematik halaman 50 " kata ibu Dina
Akupun membuka buku dan mencari halaman yang disebutkan ibu Dina tadi.
Saat itu ibu Dina sedang menjelaskan materi pelajaran hari ini, jujur aku tidak bisa fokus karena arwah gadis ini terus merengek dan memohon padaku, tanpa sadar aku berteriak
"Diam!"
Semua mata menatap kearah ku, karena suaraku begitu nyaring sehingga memancing perhatian temanku dan ibu Dina tentunya. Mereka menatap heran kearah ku, dan tiba-tiba ibu Dina menghampiriku dan berkata,
" Kamu kenapa ? Kenapa berteriak? Sekarang kamu berdiri didepan sana!" ucap ibu Dina
memberi hukuman kepadaku, aku yang masih kecil ingin menjelaskan tentang sebuah kebenaran, kenapa aku berteriak, tetapi itu tidak mungkin bisa aku lakukan, aku hanya seorang anak kecil, bagaimana mungkin mereka akan mempercayaiku. Aku hanya diam dan menerima hukuman dari ibu Dina. Arwah gadis itu terus merengek dan beberapa kali aku menjawab dengan lirih, aku tidak bisa melakukannya.
Dia begitu marah, dia ingin menunjukkan keberadaannya, tiba-tiba vas bunga di atas meja bu Dina terjatuh dan pecah.
Pyaar!
Suara vas bunga itu yang membuat ibu Dina terkejut, dipungutnya pecahan vas itu sambil berkata " Bagaimana mungkin vas ini bisa terjatuh?" kata ibu Dina pelan dan nampak bingung. Lalu pintu kelasku tiba-tiba tertutup dengan keras.
Brak!
Suara nyaring mengejutkan semua orang yang berada di dalam kelasku. Aku hanya diam, aku tahu itu adalah perbuatan dia. Diam dan berpura -pura tidak tahu itu baik bagiku.
Aku kira semua akan berakhir tetapi apa yang aku pikirkan itu salah, dia mulai berulah lebih dari yang aku bayangkan, seorang sahabatku tiba-tiba berteriak histeris dia seperti ketakutan dan ditutupnya matanya sambil berteriak " pergi....pergi....pergi jangan ganggu aku" dan dia terus berteriak, ibu Dina mencoba untuk menenangkannya tetapi itu tidak bisa, dan seorang temanku yang lain berteriak sambil matanya melotot.
Aarrrgh .....aarghh....dan tiba - tiba diapun menangis histeris dan terus menangis, membuat suasana di dalam kelasku begitu kacau saat itu. Temanku yang lain merasa ketakutan dan beberapa dari mereka berlari keluar kelas dan meminta bantuan seorang guru agama untuk menolong kami, keramaian di kelasku memicu perhatian kelas lain, guru dan siswa dari kelas lain ikut memperhatikan dan menolong temanku yang kerasukan itu, keadaan semakin tidak terkendali, tanpa sadar kakiku berjalan mendekati temanku yang menangis histeris itu, matanya terus menatapku tajam, akupun mendekati dia, guru agamaku menyuruhku untuk menjauh tetapi hatiku mengajakku mendekat, akupun berbisik " baik aku akan menolong mu ,kak".
Temanku yang terus menangis itu lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya . Kemudian dia tersadar, dia benar-benar terlihat lelah.
" Apa yang kamu lihat ,Nduk? " tanya guru agamaku pada temanku yang baru tersadar.
" Ada bayangan hitam, Pak dan kepala saya terasa berat, pundak saya terasa berat pak, setelah itu saya tidak tahu apa yang terjadi" kata sahabatku mencoba menceritakan apa yang dialaminya.
Lalu ibu Dina bertanya kepada temanku Lia yang terus berteriak dan berkata pergi, kenapa dia seperti itu. Lia melihat seorang gadis penuh darah mendekatinya, karena itu dia ketakutan dan mencoba mengusir makhluk itu.
Dan tiba-tiba pak Yusuf guru agamaku bertanya kepadaku, apa yang aku lakukan tadi, kenapa aku begitu berani mendekat dan apa yang kamu katakan pada temanmu itu? " tanya pak Yusuf kepadaku. "Aku hanya berkata padanya bahwa aku akan membantunya " jawabku singkat.
Pak Yusuf menggandeng tanganku dan mengajakku ke ruangannya, berbagai pertanyaan dilontarkannya kepadaku, aku hanya diam saja, beberapa pertanyaan yang bisa aku jawab, aku jawab dengan singkat dan tidak mendetail, aku lebih memilih menutupi semua. " Ya sudah, sekarang kamu kembali lagi ke kelas" kata pak Yusuf kepadaku.
Hari ini adalah hari yang melelahkan, dan kejadian hari ini adalah kejadian pertama yang pernah terjadi di sekolah, aku tidak pernah menyangka bahwa aku yang hanya seorang anak kecil, terpaksa harus terlibat dalam suatu kejadian yang aneh. Setelah kejadian di kelasku itu, seluruh siswa dipulangkan lebih awal tidak seperti biasanya.
Kring....
" Naima, apa kamu marah?" tanya arwah itu padaku.
Aku hanya diam, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Arwah itu berjalan di depanku dan menghentikan langkahku.
" Berhenti Naima, maafkan aku " kata arwah itu lagi.
" Apa kamu tidak kasihan, aku hanya seorang anak kecil, kenapa melibatkan aku pada masalah serumit ini" kataku membentaknya.
" Kamu berbeda Naima, kamu tidak seperti mereka, darahmu berbeda Naima" dia mencoba menjelaskan.
Aku hanya diam, kemudian aku berjalan menuju gerbang sekolah. Ternyata sekolah sudah sepi, sudah banyak teman yang telah dijemput.
" Hah....mana sopir baruku? " kataku mengeluh, oiya aku lupa tidak menelepon dulu tadi, ya sendirian deh di sekolahan." kataku berkeluh kesah.
"Kan ada aku, kamu tidak sendiri, aku menjagamu Naima" kata arwah gadis itu.
" Iya ...iya ...aku lupa kalau ada kamu yang terus mengikuti ku kak" kataku.
Sekarang amarahku mulai reda, aku memandang kakak itu dengan rasa kasihan, sebenarnya dia cantik dan baik, tetapi kokĀ ada orang yang begitu jahat kepadanya.
Akupun duduk di halte di samping sekolahku, aku mengambil ponselku dan akupun menelepon ibuku.
" Assallamuallaikum, ibu. Aku dipulangkan lebih awal ,apa sopir baruku bisa menjemput ku sekarang? " kataku pada ibuku
"Naima ibu sedang sibuk, iya kamu tunggu 25 menit lagi, sopir mu akan datang, terus kamu menunggu di mana? " tanya ibuku
"Di halte bu, di samping sekolah" jawabku singkat.
"Ya sudah kamu tunggu saja di sana, jaga dirimu Naima" kata ibu kepadaku.
" Iya bu, ibu juga, aku menyayangimu ibu" kataku pada ibuku. Lalu aku menutup teleponku.
" Hah....kita harus menunggu di sini, 25 menit lagi sopir akan datang menjemput kita."
25 menit kemudian.......
Tin....tin ...suara klakson mobil berbunyi. Mobil itu berhenti tepat di depanku. Seorang laki-laki paruh baya keluar dari mobil menghampiriku.
" Mbak Naima ya? " tanya pria paruh baya itu padaku.
" Iya pak, saya Naima" jawabku singkat.
" Mari mbak saya antar pulang, saya adalah sopir baru yang ditugaskan oleh ibu Ningsih untuk menjemput mbak Naima", katanya padaku.
Akupun hanya tersenyum dan menganggukkan kepalaku, lalu aku masuk ke dalam mobil
Ikuti ceritaku ya,biar tahu ceritaku selanjutnya,jangan lupa kasih vote ya,terima kasih.