
Malam ini....
Jam menunjukkan pukul 19.00 WIB, udara terasa panas, aku mengambil handukku dan aku pergi mandi.
" Berhenti, kenapa mengikuti ku? aku mau mandi kak, duduklah di situ " kataku pada arwah gadis itu dengan sedikit jengkel, karena dia mau mengikuti ku masuk ke dalam kamar mandi. Aku memang masih kecil, itu tidak berarti dia bisa mengikuti sampai privasi kehidupanku.
Air terasa segar ditubuh ku, dan aku membersihkan tubuhku untuk menghilangkan rasa gerah saat ini. Setelah mandi aku memakai piyama ku, setelah itu aku keluar dari kamar mandi. Lalu aku baringkan tubuhku di atas tempat tidurku yang empuk, gadis itu duduk di sampingku, dia terus menerus menatap wajahku.
" Kakak, kenapa menatapku seperti itu? " kataku bertanya
" Kamu anak yang baik dan cantik Naima, mungkin saat kamu dewasa nanti kamu akan menjadi gadis yang sangat cantik" kata gadis itu
" Kakak juga cantik" jawabku pada gadis itu
" Sebenarnya kakak siapa?" tanyaku
Tok tok tok....suara pintu diketuk
" Masuk...pintu tidak dikunci" kataku
Tiba-tiba mbok Warti masuk ke dalam kamarku.
" Kenapa kamu belum tidur nak? " kata mbok Warti bertanya
" Tidak mbok, aku belum mengantuk" jawabku singkat
"Mbok besok bantu aku, buatkan aku surat ijin ya mbok" kataku memohon pada mbok Warti
" Kamu sakit Naima?" tanya mbok Warti sambil tangannya menyentuh keningku untuk mengetahui apa aku sakit.
" Tidak mbok, aku hanya ingin 3 hari aku tidak masuk sekolah mbok" kataku pada mbok Warti
" Nak, kamu nanti akan ketinggalan pelajaran dan kalau ibumu tahu dia akan marah padamu" kata mbok Warti menasehati
"Mbok ibu tidak akan marah, lagi pula ibu tidak ada di rumah selama 1 minggu, selain itu aku juga anak yang cerdas, aku tidak akan ketinggalan pelajaran" jawabku meyakinkan mbok Warti.
Mbok Warti hanya tersenyum dan mengelus rambutku, aku tahu mbok Warti tidak akan mampu menolak permintaanku, lalu mbok Warti mengiyakan permintaanku dan menyuruhku cepat tidur, kemudian mbok Warti keluar dari kamarku.
"Sebenarnya kakak siapa? " tanyaku pada gadis itu sekali lagi.
" Naima aku adalah anak yatim piatu, ayahku telah meninggal sebelum aku dilahirkan, dan ibuku juga meninggal setelah aku lahir. Aku bukan anak orang kaya sepertimu Naima, hidupku penuh perjuangan. Aku dibesarkan oleh nenekku, nenekku hidup seorang diri, dia pasti sedih karena aku tidak pulang beberapa bulan ini", kata gadis itu kemudian dia menangis. Aku menyentuh tangan gadis itu, aku ikut merasakan kesedihannya. Arwah itu melanjutkan ceritanya .
" Naima aku bersekolah di Sekolah Umum Menengah Atas, agar bisa bersekolah aku membantu nenekku berjualan keliling dan menjadi buruh serabutan, karena aku pintar aku mendapat beasiswa dari sekolah, itu sedikit membantu kehidupanku. Di sekolah aku disukai beberapa siswa laki-laki di sekolahku, tetapi aku menolak mereka." kata kakak itu menjelaskan kisah hidupnya.
Aku hanya seorang anak kecil dan di usiaku ini aku mencoba untuk memahami permasalahan orang dewasa dan menjadi pendengar yang baik.
" Suatu hari datang seorang siswa baru, anak orang kaya, dan dia menyatakan cinta padaku Naima. Awal aku menolaknya, bagaimana mungkin anak orang kaya akan mencintai aku yang untuk makan saja harus berjuang memeras keringat, tetapi dia menunjukkan ketulusan cintanya padaku dan aku menerima cintanya. Sejak saat itu hidupku lebih berwarna, tetapi beberapa orang cemburu dan sering melakukan perbuatan buruk padaku, melakukan bully padaku, menghinaku dan merendahkan ku hanya karena status sosial. Hingga suatu hari saat pulang sekolah, sebuah mobil berhenti di depanku, di jalanan sepi itu 2 pria itu menculik ku Naima, mereka memperkosaku dan membunuhku, memotong tubuhku dan membuangnya ke tempat berbeda" kata kakak itu kepadaku. Awal dia menceritakan kisah hidupnya dengan perasaan sedih dan kemudian dia nampak begitu marah, benci dan dendam.
Aku mendengarkan semua cerita itu dengan seksama, aku mampu merasakan semua kesedihannya .
" Kakak tahu siapa yang telah membunuhmu kak?" tanyaku
" Mereka menutup wajahnya, aku mengenali aroma tubuhnya, suara dan tatapan matanya, mereka akan mati Naima "
Aku tidak berani mengeluarkan kata kata, aku hanya diam .
"Bagaimana aku bisa menemukan jasad mu kak? " tanyaku
Aku hanya mengangguk .
Tok .....tok .....tok... suara pintu diketuk.
" Naima kamu belum tidur? " terdengar suara mbok Warti dari luar kamar.
" Belum mbok, aku belum mengantuk " kataku
Tiba-tiba pintu kamar dibuka, mbok Warti masuk dan duduk di sampingku.
" Kenapa belum tidur nak?" tanya mbok Warti kepadaku.
" Aku belum mengantuk mbok" jawabku singkat.
" Kamu tadi menangis nak? " tanya mbok Warti sambil menatapku tajam.
" Tidak mbok, siapa yang menangis " aku berusaha menutupi keadaan.
"Aku itu merawat mu dari kecil nduk, aku mengenalmu nduk, kamu tidak bisa membohongiku." kata mbok Warti berusaha untuk mendapatkan kata jujur dariku.
" Apa kamu sedih karena sikap ibumu yang tidak peduli padamu nduk?" tanya mbok Warti kepadaku.
Aku hanya menggelengkan kepalaku, sebagai tanda bahwa aku tidak menangis karena sikap ibuku kepadaku.
Kisah kakak itu yang membuat aku menangis dan mbok Warti tidak tahu bahwa sebenarnya ada makhluk lain yang berada di kamar ini, selain aku dan mbok Warti .
Malam ini mbok Warti menceritakan tentang kisah masa kecilku, cerita sedikit kenakalanku dan menceritakan semuanya, kadang aku tertawa mendengar cara bercerita mbok Warti yang cukup lucu kepadaku.
Cukup lama kami bercerita tidak terasa waktu menunjukkan jam 10 malam, mbok Warti memaksaku untuk tidur. Aku turuti kemauannya dan aku matikan lampu kamarku, suasana menjadi gelap gulita, aku berdiri dan menyalakan lampu tidurku. Mbok Warti lalu meninggalkanku dan sekali lagi dia berpesan untuk segera tidur, kemudian dia menutup pintu kamarku .
" Naima siapa nenek itu?" tanya kakak itu padaku.
" Dia pengasuhku sejak aku kecil, bagiku dia seperti nenekku" jawabku singkat
" Naima, duduklah sebentar" kata kakak itu padaku
Akupun mengikuti permintaan kakak itu padaku
Tangannya menyentuh dadaku dan dia terkejut.
"Naima bagaimana bisa di dalam tubuhmu bersemayam banyak arwah?" tanya kakak itu padaku.
" Kau seperti ruang untuk mereka tinggal, hatimu yang baik mampu menenangkan mereka Naima" kata kakak itu kepadaku.
Aku hanya diam dan tidak mengerti apa yang dia maksud.
" Naima jangan biarkan ada orang yang akan melukaimu, jika sedikit darah keluar dari tubuhmu karena seseorang menyakitimu, maka kematian akan mengancam jiwanya." kata kakak itu kepadaku.
Aku hanya diam, tidak sepatah kata keluar dari mulutku.
" Kakak, aku sudah mengantuk, aku lelah kak" kataku pada arwah gadis itu
" Tidurlah adik cantik, aku akan menjagamu" kata arwah itu kepadaku. Aku pakai selimutku dan berusaha untuk tidur, meski di kepalaku terus bertanya ada arwah bersemayam dalam tubuhku ?
Ikuti kisahku selanjutnya ........terima kasih sudah membaca ceritaku ~