MY name is Naima

MY name is Naima
Pembalasan Arwah



Rasa sakit, sedih dan kemarahan membelenggu hati nenek Tika, nenek yang sudah renta itu tidak rela jika cucunya harus mati dengan cara seperti ini, karena itu dia mendatangi seorang paranormal untuk membangkitkan arwah kak Tika untuk bisa menuntut balas atas kematiannya. Nenek yang kini hidup sebatang kara lebih memilih menggadaikan nyawanya untuk membangkitkan arwah kak Tika yang mulai tenang di alamnya. Malam itu angin berhembus sangat kencang, waktu baru menujukkan pukul 19.00 WIB. Aku merasa kedinginan, jadi terpaksa aku menutup jendela dan tirai kamarku.


"Hi...hi...hi.....hi ....hi" terdengar suara tangisan.


Aku mencari arah suara itu, aku berjalan keluar kamarku, rumah ku selalu nampak sepi jika malam hari dan hanya lampu remang menerangi setiap malam, terkadang lampu rumah tidak pernah dinyalakan sama sekali, biasanya kalau malam tiba, mbok Warti sudah beristirahat di kamar, biasanya kalau dia tidak bisa tidur, mbok Warti akan mengajakku ngobrol sebentar, setelah itu dia akan kembali ke kamarnya. Sedangkan pak Karjo biasanya mendengarkan radio di kamarnya. Ya, maklumlah rumah sebesar ini hanya di huni oleh 3 orang, apalagi sopirku tidak pernah mau tidur di rumahku. Ibuku jarang sekali pulang ke rumah. Aku menuruni tangga rumahku dan mencari asal suara itu, aku berjalan sampai ke ruang tamu dan aku melihat kak Tika lagi.


" Kenapa kak Tika menangis?" tanyaku.


"Ijinkan aku berada dalam tubuhmu, aku akan keluar saat waktuku tiba, dan jika hidungmu mengeluarkan darah, maka waktu pembalasan itu tiba"


Kemudian kak Tika masuk kedalam tubuhku,baku merasa begitu dingin. Aku berlari masuk ke dalam kamarku dan aku memakai selimut untuk menyelimuti tubuhku. Aku menggigil kedinginan, lambat laun aku merasa lebih baik dan bisa tidur .


Pagipun tiba, seperti biasanya rutinitas pagi pasti aku lakukan mulai dari merapikan tempat tidur, mandi dan sarapan pagi. Semua telah selesai aku lakukan. Hari ini pak Gun menjemputku lebih awal, ku gendong tas sekolahku, kali ini aku meminta pak Gun untuk mengantarku membeli minuman ke toko Swalayan.


Sesampainya di sana aku membeli sebotol minuman, kemudian aku membayar di kasir, karena terburu-buru, saat keluar aku menabrak seorang pemuda.


" Hei, kamu kenapa dik!" katanya dengan marah.


"Maaf kak,aku tidak sengaja"kataku meminta maaf .


Tanpa menjawab kata-kataku tadi, pemuda itu itu masuk ke dalam toko Swalayan. Aku pun berjalan menuju ke parkiran mobilku yang di parkir tepat di depan toko itu. Pak Gun keluar untuk membukakan pintu mobil untukku, tiba-tiba hidungku mengeluarkan darah. Pak Gun bertanya apa aku mimisan, aku menjawab tidak, kemudian aku teringat ucapan kak Tika.


" Apa ini....pasti ini....." kataku dalam hati, darah keluar dari hidungku sangat banyak hingga pak Gun masuk ke dalam toko Swalayan untuk membeli tisu. Pemuda itu keluar dari toko, aku berlari mengejarnya.


" Kak, hidupmu dalam bahaya, bertobatlah, minta maaflah pada nenek kak Tika dan pada kak Tika" teriakku kepadanya.


Seketika dia menghentikan langkahnya dan menghampiriku. Darah keluar dari hidungku semakin deras, tanganku mencoba menutupi hidungku, tetapi darah tetap terus keluar dan tanganku berwarna merah karena darah.


Tanpa sadar aku menarik tangan pemuda itu aku berusaha mencegah hal terburuk agar tidak terjadi, tetapi kakak itu marah kepadaku.


" Kau siapa anak kecil, jangan sembarangan bicara atau kusobek mulutmu" sanggah kakak itu kepadaku.


" Kak, hidupmu dalam bahaya" aku terus berteriak, dan pemuda itu tidak memperdulikan ucapanku.


Aku melihat asap hitam pekat mengikutinya.


" Dia adalah salah satu pembunuh kak Tika" kataku dalam hati.


Pak Gun, keluar dari toko Swalayan, aku mengajak pak Gun, untuk mengikuti pemuda tadi kemana dia pergi, di dalam mobil aku membersihkan darah yang ada di tangan, hidung serta wajahku.


Pak Gun, nampak bingung menatapku.


" Apa kamu sakit mbak Naima?" tanya pak Gun cemas.


" Saya baik-baik saja, pak Gun tolong telp ibu Dina saya tidak bisa masuk sekolah hari ini" kataku memohon .


Kemudian pak Gun menghubungi ibu Dina dan bercerita bahwa hari ini aku mimisan, jadi hari ini aku tidak bisa masuk sekolah .


Darah yang keluar dari hidungku mulai berhenti. Pak Gun mulai lebih tenang, aku bisa melihat kalau pak Gun sangat baik kepadaku dan kuatir dengan keadaaanku, dia memiliki tanggung jawab untuk menjagaku.


Kami terus mengikuti pemuda itu, hingga dia berhenti disebuah rumah, aku langsung keluar dari mobilku dan berlari mengejarnya.


"Kakak, bertobatlah, minta maaflah padanya sebelum hal terburuk terjadi" kataku memohon sambil memegang tangannya.


" Anak kecil gila! Jaga ucapanmu" bentak dia.


"Percaya kepadaku kak", aku menangis memohon kepadanya.


" Pergi dari rumahku!" katanya sambil mendorongku, aku terjatuh dan tubuhku menimpa pot bunga yang sudah retak di belakangku, tanganku terluka dan mengeluarkan sedikit darah. Saat itu aku melihat asap tebal semakin menyelimuti kakak itu, semakin hitam dan semakin hitam.


" Hei, dia ini hanya anak kecil, jangan perlakukan seperti itu!" kata Pak Gun dengan marah.


Pak Gun menggendong tubuh kecilku menuju mobil, di dalam mobil dia membersihkan luka di lenganku.


"Sakit mbak, kenapa mbak peduli untuk menyelamatkan nyawa dia?" tanya pak Gun.


" Bukankah setiap nyawa manusia itu berharga pak? " tanyaku dengan polos.


Pak Gun mengangguk membenarkan ucapanku.


" Tetapi tidak semua manusia menghargai kehidupan, seorang pembunuh sebenarnya pantas untuk mendapatkan hukuman, bukankah darah harus dibayar dengan darah, bisakah seorang pembunuh mengembalikan nyawa yang telah diambilnya, apalagi jika yang dibunuh adalah orang- orang yang tidak berdosa. Manusia kotor seperti dia pantas untuk mati Naima" kata pak Gun menjelaskan.


Aku terdiam, tanganku terluka olehnya, aku teringat ucapan kak Tika, jika terluka dan berdarah karena seseorang melukaiku maka orang itu akan mati.


" Pak Gun kita pulang ya, aku mau tidur, aku merasa lelah" kataku pelan sambil meringis menahan sakit.


Pak Gun menatap wajahku, aku terlihat pucat dan lemas. Pria itu mengemudikan mobil dengan cepat, sesekali dia memandangku.


Aku sudah tidak mampu membayangkan apa yang akan terjadi nantinya pada pemuda itu. Sesampainya di rumah, sopirku membuka pintu mobil kemudian aku keluar, tiba-tiba pak Gun menggendongku lagi, mbok Warti dan pak Karjo yang kebetulan ada di pekarangan rumah melihat kami, mereka berlari menghampiriku dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Pak Gun tidak menjawab, dia menggendongku menuju kamarku dan membaringkanku di atas tempat tidurku .


" Kamu kenapa nak? " tanya mbok Warti padaku.


" Tidak apa mbok aku ingin tidur saja " kataku dengan lemas.


Pak Gun mengajak pak Karjo dan mbok Warti untuk turun agar aku bisa beristirahat.


Aku merasa lelah dan aku tertidur.



" Rumah ini, bukankah ini rumah kakak tadi" kataku dalam hati.


Aku berada di dalam rumah itu, aku melihat kakak itu sedang menuju dapur rumahnya dia membuka kulkas dan mengambil beberapa buah apel yang di letakkannya di atas sebuah piring, kemudian dia mengambil sebuah pisau. Di situ nampak seorang wanita, kakak itu berbicara dan menyuruh wanita itu membawakan minuman ke kamarnya nanti, aku mengikuti kakak itu yang menaiki tangga menuju kamarnya, kemudian aku melihat wujud kak Tika sangat mengerikan. Pemuda itu menyalakan radio dengan keras lagu kesukaannya, tidak lama kemudian dia masuk menuju kamar mandi dan mencuci mukanya, tiba-tiba air untuk mencuci muka itu berubah menjadi darah, dia terkejut dan berlari keluar dari kamar mandi, karena penasaran dia masuk lagi, dan melihat air kran berwarna jernih.



" Brengsek, ini pasti gara-gara anak kecil tadi, dasar anak kecil pembawa sial!" suara makian kakak itu.



Dia keluar dari kamar mandi, tiba -tiba pintu kamar mandi tertutup dengan keras.



" Sialan! " suara makian kakak itu lagi




" Kau telah mengambil kehormatanku, membunuhku, memotong tubuhku seperti ini!" ucapan kemarahan kak Tika.



Tiba-tiba tubuh kak Tika terlepas satu persatu dan kepala kak Tika berada di atas tempat tidur, terdengar suara tawa kak Tika begitu nyaring. Pemuda berambut pirang itu berusaha berlari keluar kamar, tetapi pintu tidak bisa dibuka, pintu itu seolah tertutup rapat dan terkunci. " Kau harus mati" kata kak Tika dengan mata melotot, merah dan penuh darah.



Dengan cepat roh kak Tika merasuk dalam diri pemuda itu, lalu kakak itu mengambil pisau, dia berusaha melawan kekuatan gaib dalam dirinya, tetapi ia tidak berdaya. Dia berteriak karena tubuhnya tidak bisa bergerak dipotongnya kakinya sendiri dia terus menjerit merasakan sakit yang luar biasa, pemuda berambut sedikit merah karena cat rambut itu berusaha melawan tetapi dia tidak mampu, karena kekuatan setan telah merasuk dalam dirinya.



Tiba-tiba seorang wanita masuk sambil membawakan minuman, dia melihat majikannya mengiris kakinya sendiri.



" Tolong aku mbak! " teriak kakak itu dengan wajah kesakitan.


Tetapi kemudian kakak itu berkata " Pergi kamu mbak, jangan ikut campur " sambil matanya melotot berwarna merah.



Wanita itu ketakutan dan keluar dari kamar itu, kemudian dia menelepon seseorang, aku terus melihat pemuda itu mulai melukai tangannya, dia menyayat tangannya sendiri, rasa sakit yang luar biasa dia rasakan, dia menyayat wajahnya sendiri lalu menyayat perutnya sehingga keluarlah isi dari perutnya dan terakhir dia menyayat lehernya sendiri, kamar itu penuh darah. Air mataku terus menetes, aku tidak bisa berbuat apa-apa aku hanya mampu melihat. Aku lihat arwah kak Tika keluar dari tubuh kakak itu, kali ini aku mengikutinya dia telah sampai di sebuah rumah besar, seorang pemuda sedang mendengarkan musik dari handphonenya, tiba-tiba hembusan angin yang kuat menutup jendela kamar itu dengan keras. Kakak itu terkejut, ketika hendak berdiri. Kakak Tika telah menduduki tubuhnya.



"Tika!" kata kakak itu terkejut.



Kali ini kak Tika menunjukkan wujud cantiknya.



"Bukankah kamu mencintaiku? " kata kak Tika pada pemuda bertubuh atletis itu.



" Kau sahabatku, aku percaya padamu" kata kak Tika dengan lembut.



Tetapi tiba-tiba kak Tika menangis, kakak itu menyentuh rambut kak Tika.



" Aku mencintaimu Tika, aku tidak rela kamu bersamanya" kata pemuda itu dengan wajah penyesalan.



Kak Tika menatap tajam mata pemuda itu.



" Bukankah kamu sudah mati" kata kakak itu kemudian muncul rasa takut di hatinya.



"Kau telah membunuhku!" kata kak Tika dengan marah.



" Aku tidak melakukannya Tika, aku hanya ingin menculikmu dan memperkosamu, agar tidak ada pria yang menyukaimu" kata pemuda yang cukup tampan itu menjelaskan.



" Kau tetap pembunuh!, kau bersekongkol bersamanya!" kata kak Tika penuh amarah.



Kak Tika tidak terima dengan semua ini dan dia menunjukkan wujudnya yang menakutkan, dia mencekik pemuda itu untuk membunuhnya, tetapi tiba-tiba kak Tika menghentikannya. Dia telah membuat pemuda itu depresi hebat, pemuda itu menjadi gila, dia terus mengulang kata " aku mencintaimu Tika."



Arwah kak Tika tiba-tiba lenyap.


Aku terbangun dari tidurku. Di sampingku telah ada pak Gun dan mbok Warti.



"Mbak Naima tadi deman tinggi" kata pak Gun.



" Pak Gun, tolong antar aku sekarang " kataku memohon.


" Ke mana? " tanya pak Gun keheranan.



" Ke rumah kakak tadi" jawabku singkat.



Tubuhku sangat lemas, pak Gun menggendong tubuh kecilku, mata mbok Warti menatapku, aku bisa melihat kecemasannya atas kondisiku saat ini, karena ini tidak pernah terjadi kepadaku sebelumnya . Aku benar-benar lemah, hingga untuk berdiri saja aku tidak kuat. Sekarang aku telah berada di dalam mobil pak Gun mengendarai mobil menuju rumah kakak yang telah aku ingatkan tapi tidak mempercayaiku. Di rumah kakak itu ramai orang, bendera tanda kematian telah dikibarkan, pak Gun keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah itu, tidak beberapa lama dia kembali dan berkata bahwa pemuda itu telah meninggal, pak Gun bercerita, bahwa pemuda itu mengiris tubuhnya sendiri bahkan sampai isi perutnya keluar. Aku hanya terdiam jadi apa yang aku lihat itu semua benar, lalu kami menuju ke rumah kedua, kemudian pak Gun mencari informasi di sana dan dia mendapat informasi bahwa salah satu pemuda penghuni rumah itu telah menjadi gila secara tiba-tiba.



Aku hanya terdiam dan kemudian kami pulang, hari ini aku melihat suatu pemandangan yang mengerikan yang seharusnya tidak aku lihat. Dan hari ini mbok Warti menjagaku dan melayaniku karena aku tidak punya tenaga untuk berdiri, dengan kasih sayang dia merawatku, karena kejadian ini pak Gun terpaksa tidur di rumahku.