
Di dalam kamar.....
Beberapa kali aku menguap karena mengantuk, entah kenapa malam ini aku sulit tidur. Beberapa kali aku harus memiringkan tubuhku ke kiri dan ke kanan.
Drrrttt....drrrtt....
Ponselku bergetar.
"Ibu" ujar ku, aku segera mengangkat ponselku yang bergetar.
"Naima, bagaimana kabarmu nak?" tanya ibu kepadaku.
"Baik ibu, bagaimana dengan ibu? Apa ibu sehat?" ucapku.
"Ibu sehat nak" jawab ibu singkat.
" Ibu,kapan ibu akan pulang?" tanyaku penuh rasa kerinduan.
"Ibu masih sibuk nak, ya sudah cepat tidur. Jadi anak yang baik di sana " ujar Ibu.
"Iya ibu,ibu jaga kesehatan ya" jawabku.
"Iya,cepat tidur"
"Baik bu"
"Aku merindukanmu bu" ujar ku ,namun ibu lebih dulu menutup teleponnya
"Siapa di sana!" sontak aku berkata.
Dari balik jendela kamar seperti ada bayangan.
Bayangan itu menerobos jendela dan mendekatiku.
Perlahan-lahan, bayangan itu semakin jelas.
Dia....dia yang selalu datang dengan tubuh menggigil kedinginan. Anak kecil yang malang itu.
"Kakak" ujar anak itu sambil menatapku dengan tatapan kesedihan.
Aku mengambil selimutku dan menyelimuti anak kecil itu
Anak kecil itu hanya tertunduk dan diam.
" Kau sengaja masuk ke dalam mimpiku untuk meminta tolong kepadaku?"
Anak itu menganggukkan kepala
"Namamu Agus?"
Anak itu menganggukkan kepala.
Entah kenapa hatiku merasa begitu sedih dan tanpa aku sadari aku memeluk anak kecil itu.
"Kakak, aku tahu kakak bisa menolongku dan hanya kakak yang bisa melakukannya" ujarnya
"Kakak, tidak tahu harus mulai darimana? tetapi kakak akan berusaha untuk melakukannya " ujar ku.
Anak kecil itu menatapku lalu tersenyum, aku memegang tangan anak kecil itu lalu melepas pelukanku.
"Dingin" gumamku dalam hati.
"Oh Tuhan, anak ini menggigil kedinginan" ujar ku dalam hati
"Kakak sedih melihat keadaanku? Kakak jangan menangis atau bersedih, mungkin ini sudah suratan takdir, aku dilahirkan di dunia untuk mengalami ini semua" ujar anak itu.
"Ini terjadi karena kekejaman dari manusia yang tidak mempunyai hati. Manusia yang tega menyakiti seorang anak kecil, anak kecil yang tidak tahu apa-apa, anak kecil yang menjadi korban dari kesalahan orang tuanya, anak kecil yang hanya menjadi alat untuk kepentingan manusia yang tidak bertanggung jawab. Oh Tuhan, bukankah setiap nyawa itu berharga, kenapa harus mencari keuntungan hingga mengorbankan nyawa orang orang yang tidak berdosa, kenapa?" ujar ku dalam hati
Aku memeluk anak kecil itu kembali, air mataku tidak terbendung. Aku tidak mampu mengungkapkan perasaanku. Semua rasa bercampur aduk.
Sunyi...dan hening....
Aku tidak tahu harus bicara apa saat melihat kondisi Agus.
"Di mana kamu tinggal dik?" tanyaku.
"Kakak, aku lupa...aku hanya tahu arah menuju rumahku saja "
"Kau harus menuntunku untuk pergi ke sana" ujar ku.
Agus lalu tersenyum dan kemudian menghilang secara tiba tiba
"Baik, aku akan segera menepati janjiku untuk menolongmu dik. Melakukan semuanya sesuai kemampuanku" ucapku.
Aku hanya terdiam
"Karena arwah anak itu?" tanya Olla dengan pandangan mata menyelidik.
"Aku tahu semuanya kakak" ujar Olla
"Iya Olla, aku sedih melihat anak itu. Anak sekecil itu" ujar ku lalu ucapanku terhenti.
"Kau tahu Naima, aku juga sedih...kisah hidupnya tidak jauh berbeda dengan kisah hidupku. Aku juga harus kehilangan nyawaku dengan cara yang menyedihkan" ujar Olla
"Olla..."
"Iya Naima, aku dan dia memiliki kisah hidup yang hampir sama, aku lari dari rumah karena tidak tahan dari siksaan ibu tiriku. Karena aku masih sangat kecil waktu itu. Usiaku saja baru 5 tahun. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk bertahan hidup di luar sana. Aku hanya berjalan mengikuti langkah kakiku dalam keadaan sakit. Saat itu hujan turun dengan derasnya, aku berteduh di bawah pohon dan di sanalah aku menghembuskan napas terakhirku."
"Olla...aku ingat semua Olla, kita bertemu di bawah pohon..."
"Iya kak,di pohon itulah aku tinggal karena itu adalah tempat di mana aku menghembuskan napas terakhirku" jawab Olla terlihat matanya berkaca-kaca.
"Kenapa anak itu ingin kakak menemui orang tuanya? Untuk apa kak? Bukankah semua tidak akan mengubah apapun atau memperbaiki apa yang telah terjadi. Meskipun kakak menemui orang tuanya, itu juga tidak akan menghidupkan dia kembali" ujar Olla
Aku hanya terdiam
"Katakan kak, kenapa dia ingin kakak menemui orang tuanya? Untuk apa kak? " tanya Olla
Aku menghela napas pendek
"Olla, Agus ingin orang tuanya tahu bahwa Agus sudah meninggal, dia sudah pergi dari dunia ini. Agus ingin kedua orang tuanya berubah menjadi orang baik, dia hanya ingin orang tuanya menjadi orang baik. Itu saja.."
"Apa bisa mereka berubah? Apa bisa Naima?" tanya Olla mencoba memastikan.
"Sampai saat ini, aku tidak pernah menemui orang tuaku,bahkan dalam mimpi pun aku tidak ingin mendatangi mereka kak, semasa aku hidup ayah hanya peduli dengan istri barunya. Dia tidak mau mendengarkan aku kak, bahkan ayah tidak percaya pada ucapanku. Kematian mungkin jalan terbaik yang Tuhan berikan padaku untuk melepaskan aku dari siksaan itu" jawab Olla dengan sedih
Aku memeluk tubuh Olla kecil.
"Sudahlah Olla, ikhlaskan yang telah terjadi di masa lalu, maafkan mereka. Kini kau bersamaku, aku menyayangimu " ujar ku
"Kakak Naima...suatu hari aku pasti akan kembali ke sana kak, sebuah tempat yang disebut keabadian dan kakak harus sendirian di sini" ujar Olla
" Aku tahu dan aku akan selalu mendoakanmu agar kamu tenang di sana Olla, berada di tempat terbaik dan bahagia di sisiNya. Kembali pada Sang Pencipta dengan senyuman" ujar ku
"Kakak, akankah seseorang bisa berubah? " tanya Olla
Aku menganggukkan kepalaku.
"Kenapa orang yang baik bisa menjadi sangat jahat dan kejam ? Dan mungkinkah orang yang jahat bisa berubah menjadi orang baik? " tanya Olla
Aku menatap Olla dan mengelus rambutnya.
" Tentu bisa Olla, manusia yang baik bisa menjadi kejam dan jahat, karena dia terlalu mengikuti hawa nafsunya, kemarahan, dendam, iri, dengki merasuk dalam hatinya. Membiarkan syetan berkuasa dalam dirinya sehingga manusia bisa lebih kejam, karena hatinya telah buta. Dia tidak mendengarkan bisikan hati kecilnya yang berbisik tentang kebaikan" ujar ku
"Orang yang jahat bisa menjadi baik,karena dia mau mengikuti hati kecilnya, mengikuti hati nuraninya yang menuntunnya ke dalam kebaikan"
Olla hanya terdiam
"Tetapi ..."
"Apa?"
"Hidup adalah sebuah pilihan, baik atau buruk adalah sebuah pilihan hidup. Karena apapun yang kita lakukan pasti ada pertanggung jawabannya."
"Hukum alam sudah tertulis, ada sebab pasti ada akibatnya"
Nampak Olla menangis
"Olla hapus air matamu...jangan menangis"
Olla hanya menatapku dengan air mata yang mengalir deras, lalu menghilang dari hadapanku
"Olla ....maafkan aku....kenapa kamu pergi...Olla..."
Namun, Olla tidak muncul di hadapanku.
Aku lalu bangkit dan duduk di atas ranjangku.
"Mungkin Olla sedang ingin sendiri" ujar ku dalam hati
Aku hanya termenung, merenungi semua. Merenungi semua kisah yang telah terjadi. Satu persatu kenangan masa lalu muncul di kepalaku. Bagai menonton sebuah film, semua kenangan itu terlihat jelas. Terlalu banyak kisah yang telah aku lalui dan aku temui. Satu kata yang aku mengerti, bahwa kita tidak akan pernah mampu memutar waktu kembali. Masa lalu akan menjadi sebuah kenangan dan pelajaran dalam hidup
"To be continue....ikuti ceritaku ya"