MY name is Naima

MY name is Naima
Maga



Pagi itu...


Drrrrtt.....drrrttt...suara ponselku bergetar.


Mataku melirik kearah ponselku sambil mengganti bajuku.


"Pak Gun" ujar ku, lalu segera aku mengangkat ponselku.


"Selamat pagi mbak Naima" sapa Pak Gun


"Iya selamat pagi" jawabku


"Maaf mbak Naima,selama 2 minggu ini pak Gun tidak bisa mengantar mbak Naima ke sekolah"


"Kenapa pak Gun?" tanyaku


"Pak Gun ijin dulu ya mbak, ada keperluan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan" ujar pak Gun


"Tapi..."


"Mbak Naima tidak perlu khawatir ,nanti ada seseorang yang akan menggantikan saya untuk menjadi supir pribadi keluarga mbak Naima" ujar pak Gun


"Baik pak" jawabku singkat.


Setelah mengucapkan terima kasih, pak Gun langsung menutup teleponnya


Aku segera bergegas turun ke bawah.


" Makan dulu nak" ujar mbok Warti yang melihatku nampak tergesa-gesa.


"Hari masih sangat pagi, makanlah dulu nak." ujar mbok Warti sambil memandangku.


"Iya mbok" jawabku lalu mengajak mbok Warti untuk makan bersama dan aku juga berpesan agar mbok Warti tidak boleh terlalu banyak bekerja.


"Mbak Sulastri, aku berangkat sekolah dulu ya" ujar ku setelah mendengar suara mobilku telah menunggu di luar, dengan cekatan aku segera keluar, ya seperti biasanya mbok Warti pasti mengantarku sampai di depan pintu.


"Mbok aku berangkat dulu" ujar ku.


Mbok Warti hanya menatapku sambil tersenyum. Aku pun melangkahkan kakiku menuju mobil. Seorang pemuda tampan keluar dari mobil dan segera membantuku membuka pintu mobil.


"Silakan masuk mbak." ujar pemuda itu.


Aku hanya menatapnya sekilas dan segera masuk ke dalam mobil.


"Nama saya Maga, saya yang akan menggantikan pak Gun untuk mengantar mbak Naima pergi ke sekolah" ujar pemuda tampan itu sambil melihatku dari spion mobil yang berada di depannya.


Aku menatap pemuda itu sejenak.Raut wajahnya tampan, perawakan tubuhnya juga ideal dan kulitnya juga bersih.


Di dalam mobil pemuda itu hanya terdiam, tidak ada percakapan di antara kami.


Tiba-tiba aku teringat janjiku pada anak kecil itu.


"Ehm..apa kamu bisa membantuku?" tanyaku dengan sedikit ragu.


"Membantu apa?" tanya pemuda itu.


"Mencari orang tua dari seseorang" ujar ku


"Baik" jawab Maga dengan datar .


"Terima kasih" jawabku.


"Sudah menjadi tugas saya " ujar Maga


Aku lalu terdiam, tidak beberapa lama mobil sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah.


Maga segera turun dari mobil dan membuka pintu untukku.


"Selamat belajar" ujar Maga lalu tersenyum.


"Siapa yang akan menjemputku pulang nanti?" tanyaku.


"Saya" jawab Maga.


Aku hanya tersenyum, setelah itu aku pun meninggalkan Maga, terlihat Maga hanya menatapku.


"Hei Naima" sapa Lusi.


"Pagi Lusi" sapaku sambil tersenyum.


" Itu kekasihmu ya? ganteng ya pacarmu" ujar Lusi lalu tersenyum ke arahku.


Aku hanya tersenyum tipis.


"Cie...cie...Naima ternyata kamu sudah punya pacar ya" ujar Lusi menggodaku.


Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya itu.


"Jawab dong" ujar Lusi penuh rasa keingintahuan.


"Bukan, dia supirku" jawabku singkat.


"Apa ? hanya supir?" ujar Lusi sedikit kecewa.


" Kenapa?"tanyaku heran.


Lusi hanya terdiam,kamipun terus berjalan menuju kelas.


"Benarkah dia hanya supir? kok ganteng banget" ujar Lusi seolah tidak percaya dengan ucapanku.


"Iya, kamu naksir ya? " ujar ku sambil menatap wajah Lusi.


"Hehehe..." Lusi tertawa


"Namanya siapa?" tanya Lusi penasaran.


"Maga" ujarku


"Maga...Maga...Maga" ujar Lusi mencoba mengingat nama supirku.


Tidak terasa kami sudah masuk ke dalam ruangan kelas dan hari ini sahabatku Lusi terus bertanya tentang Maga.


Tidak terasa bel masuk telah berbunyi. Seperti biasa sebelum pelajaran dimulai kami pun melakukan doa bersama.


Siang hari.....


Bel pulang sekolah berbunyi, setelah berdoa bersama, kami pun pulang. Aku berjalan di koridor sekolah


Duk! ..."aduh " ujar ku secara spontan.


"Maaf aku terburu buru, maaf aku menabrak mu" ujar seorang pemuda seusiaku.


"Aku bantu" ujar siswa itu berusaha untuk menolongku.


"Tidak apa apa" jawabku sambil menatap wajah pemuda itu.


"Namaku, Dwi" ujar pemuda itu.


Aku hanya mengangguk.


"Siapa namamu?" tanya pemuda itu.


"Aku Naima" jawabku singkat.


" Baik Naima, aku pasti akan menemui mu lagi" ujarnya lalu segera berlari keluar.


"Aneh" ujar ku dalam hati.


"Hay Naima, bareng ya?" ujar Lusi.


"Hmm...boleh,naik mobilku saja" ujar ku


"Yee...Naima baik sekali...iya ...iya" ujar Lusi kegirangan


Di samping gerbang sekolah, terlihat sebuah mobil sudah terparkir. Maga berdiri sambil mengamati semua siswa yang keluar dari gerbang sekolah


"Ih...jantungku kok jadi berdebar-debar " ujar Lusi


"Beneran Lus" tanyaku mencoba memastikan.


" Ooo...mungkin ini cinta pada pandangan pertama ya" ujar Lusi.


"Bisa jadi" jawabku singkat


"Ah...Naima...jangan begitu, aku jadi gimana gitu" ujar Lusi sambil menggoyangkan tangan seperti anak kecil


"Ayo ke sana, sudah jangan begitu...tu Maga sudah menunggu" ujar ku


Sambil tersipu malu,Lusi berjalan bersamaku menuju mobil.


"Mas Maga" sapa Lusi dengan sedikit genit.


"Iya" ujar Maga singkat tanpa ekspresi.


" Ih...jawabnya kok begitu?" ujar Lusi agak sedikit genit


"Lusi ,ayo cepat masuk dalam mobil" ujar ku


"Iya Naima" jawab Lusi dan segera masuk di dalam mobil


Lusi sengaja memilih duduk di kursi depan, di samping Maga.


"Mas, Maga rumahnya mana?" tanya Lusi


Maga hanya menoleh ke arah Lusi


"Kok aku cuma dilihatin, memangnya aku apa?" ujar Lusi


"Mbak Naima,tujuan kita ke mana?" tanya Maga


"Sebaiknya kita antar Lusi pulang dulu, karena kebetulan jalan menuju rumah Lusi searah dengan rumahku" ujar ku


"Baik mbak Naima" ujar Maga


Nampak wajah Lusi agak cemberut melihat sikap Maga yang begitu dingin kepadanya.


"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku" ujar Lusi dengan kesal.


"Bisa diulangi pertanyaannya?" tanya Maga dengan datar.


"Tidak ada siaran ulang" ujar Lusi dengan kesal lalu memalingkan wajah ke arah kaca jendela.


"Harusnya kamu menjawab pertanyaan Lusi" ujar ku mencoba memperbaiki keadaan


"Aku tinggal di jalan Darma" ujar Maga singkat sambil fokus dalam mengemudi


"Benarkah,wah ...aku tahu daerah sana...aku ada teman di sana" ujar Lusi.


"Wah ,berarti sahabatmu banyak ya Lusi" ujar ku


"Tentu saja Naima" ujar Lusi


"Mas...Maga sudah punya pacar apa tidak?" tanya Lusi tanpa basa basi


"Belum" jawab Maga dengan singkat


Di Kursi tengah, aku memilih diam. Bayangan anak kecil itu menghantui pikiranku. Aku harus memulai darimana untuk menolong anak itu, apa aku harus menceritakan semuanya dengan jujur pada Maga.


Tidak terasa mobil sudah berhenti,


"Naima terima kasih atas tumpangannya, oya mas Maga kalau pengen apel silakan ke rumahku" ujar Lusi


Kemudian Lusi membuka pintu mobil dan menutupnya kembali,sebelum mobil melaju,aku melambaikan tanganku pada Lusi.


"Itu sahabat mbak Naima?" tanya Maga sambil menatapku dari kaca spion.


"Iya" jawabku singkat


"Sangat jauh berbeda" ujar Maga


Aku hanya terdiam.


"Dik jika kau tidak menemui aku lagi, bagaimana aku bisa membantumu?" ujar ku dalam hati


"Tuhan, bantu aku untuk menepati janjiku itu. Bantu aku untuk menolong dia untuk menyelesaikan masalah anak itu, agar arwahnya bisa tenang di sana" ujar ku dalam hati


"Mbak Naima....mbak Naima" ujar Maga


"Apa?" jawabku dengan terkejut


"Kita sudah sampai di rumah" ujar Maga


"Ya Tuhan, aku melamun dan tidak terasa aku sudah sampai di rumah" gumamku dalam hati.


Aku segera membuka pintu mobil dan menutupnya kembali, lalu segera berlari masuk ke dalam rumah. Maga terus menatapku, kemudian terlihat dia tersenyum tipis


@@@@@To Be Continue @@@@


Ikuti ceritaku ya, terima kasih atas dukungannya