MY name is Naima

MY name is Naima
Pemuda Aneh 2



"Hei kamu....kamu yang disana" ujar seorang pemuda sambil menunjuk kearahku


"Aku ingin bicara padamu" ujar pemuda itu kepadaku


"Bicara apa? " tanyaku


"Sini,ikut denganku " ujar pemuda itu


Aku lalu menoleh kearah mbok Warti ,nampak pak Gun sedang tidur ,dan entah kenapa akupun menuruti kemauan pemuda itu,pemuda yang baru aku lihat.


Entah kenapa kakiku berjalan mengikuti pemuda itu,suatu kebodohan atau memang ada hal lain yang membuat menuruti kemauannya.


Akupun berjalan keluar ruangan ICU,berjalan melewati lorong jalan rumahsakit,dan kamipun berhenti dilorong rumah sakit yang sunyi itu.


Aku memandang ke arah langit ,dari situ aku mampu melihat bulan purnama itu bersinar begitu terang,nampak jelas berdiri di depanku seorang pemuda seusiaku,wajahnya tampan dan kulitnya bersih.


"Namamu Naimakan? " ujar pemuda itu lalu duduk dikursi dilorong itu


"Iya namaku Naima,darimana kamu bisa tahu kalau namaku Naima?" tanyaku


Pemuda itu hanya tersenyum tipis kearahku


"Pria tua itu memanggilmu Naima, dan aku mendengarnya" ujar pemuda itu datar


"Berapa usiamu?" tanya pemuda itu


"16 tahun dan kamu?" aku bertanya


"Sama sepertimu" ujar pemuda itu


"Kenapa kita bicara disini,lagipula aku baru mengenalmu" ujarku


"Hahahaha....kamu takut padaku? apa aku seperti setan?" tanya pemuda itu ,kemudian tertawa lepas


Aku menatap kesal kearah pemuda itu


Nampaknya pemuda itu mengetahui bahwa aku kesal dengan sikapnya,kemudian dia menghentikan tawanya.


"Maafkan aku ya" ujar pemuda itu


Aku hanya tersenyum,dan menghela napas.


"Siapa namamu?" tanya ku kemudian


"Panggil namaku Dirgantara" ujarnya


"hmm...nama yang bagus" ujarku


"Sangat bagus ,tetapi tidak sebagus cerita hidupku Naima" ujar pemuda itu lirih


"Kenapa?" tanyaku


" Sudahlah lupakan" ujar pemuda itu


"Kenapa? kenapa kamu tidak ingin bercerita padaku? " tanyaku


Pemuda itu terdiam sesaat,lalu menghela napas


"Namaku Dirgantara, aku terlahir dari keluarga kaya,orang tuaku telah bercerai,ayahku menikah lagi,begitu juga ibuku,jadi aku memiliki ayah tiri dan ibu tiri. Ayah dan ibu kandungku sibuk dengan pekerjaan mereka dan keluarga baru mereka. Mereka tidak pernah peduli pada hatiku. Aku tahu dalam hal materi aku tidak pernah kekurangan ,tapi bukan itu yang aku inginkan Naima. Aku ingin mereka mengerti diriku dan peduli kepadaku."


Dirgantara lalu terdiam,kemudian dia mulai bercerita kembali


" Hidupku itu dalam tekanan Naima,aku dipaksa harus menguasai banyak hal dan aku harus sempurna,harus bisa mendapat peringkat satu dalam akademik disekolah ,harus bisa dapat juara dan harus mengikuti les yang tidak aku sukai Naima bahkan untuk bergaul dengan temanku saja semua dibatasi,aku tidak bisa bergaul dengan siapa saja, ibuku selalu berkata bergaul itu harus lihat bibit ,bebet dan bobot Naima, aku lelah hidup seperti ini,aku seperti wayang"


"Suatu hari aku bertemu dengan seorang gadis ,dia cantik dan baik hati sepertimu.Tetapi dia anak orang biasa, kau tahu Naima hanya gadis itulah yang mampu memahamiku dan dia tulus menyayangiku tapi orang tuaku memandang hina kepadanya,hanya karena status sosial. Persetan apa itu status sosial ,bukankah Tuhan tidak menilai manusia dari kekayaannya ,bukankah seperti itu Naima?"


"Aku juga muak dengan sikap orang tuaku yang lebih mementingkan keluarga barunya itu,mereka berdua tidak pernah peduli denganku. Lalu untuk apa aku dilahirkan? kalau aku hanya dijadikan alat untuk keegoisan mereka."


Kemudian Dirgantara terdiam


"Siapa nama gadis itu? apa kau sangat menyayanginya?" tanyaku


"Namanya Cahyani,aku sangat sayang kepadanya" ujar Dirgantara


"Tapi kalian saling mencintai bukan? " tanyaku


" Iya kami sangat saling mencintai,tetapi sejak ibuku menghinanya dan keluarganya, Cahyani menjauhiku Naima"


"Kami berpisah,aku berusaha menjelaskan kepadanya ,namun itu sia-sia mungkin karena sikap ibu yang keterlaluan itu,telah membuat Cahyani pergi dariku


Akupun hanya terdiam


" Bagaimanapun mereka orang tuamu,aku berharap kamu bisa memaafkan mereka dan coba bicarakan semua dengan cara baik "


Dirgantara menghela napas panjang ,kemudian berkata


"Andai aku bertemu dengan gadis sepertimu sebelumnya,pasti semua akan lebih baik Naima,kau sangat baik hati" ujar Dirgantara


"Tidak ada yang terlambat,sekarang kita sudah bertemu dan kita bisa menjadi sahabat baik" ujarku


"Kau salah Naima ,semua sudah terlambat. Waktu yang berlalu tidak dapat diulang,jadi jangan sia-siakan waktu yang ada Naima,dan ternyata ini semua bukan hanya sebuah semboyan. Aku tidak akan pernah mampu mengembalikan waktu yang telah berlalu dan pergi,seperti kita tidak akan mampu dapat menghidupkan orang yang sudah mati. Tapi aku berharap kepergianku ini akan merubah sikap mereka Naima" ujar Dirgantara


Akupun hanya terdiam


"Apa kamu bisa membantuku Naima"


"Membantu dalam hal apa?"


"Katakan pada orang tuaku,bahwa aku menyimpan kado ulang tahun pernikahan mereka dibawah ranjang tempat tidurku,dan ada kado kecil serta surat untuk Cahyani,apa kau mau melakukannya untukku Naima?"


"Kenapa tidak kau berikan seorang diri,bukankah mereka ayah dan ibumu ? cobalah bicara dengan mereka dengan cara baik" ujarku


Suasana nampak begitu hening,tidak ada jawaban dari Dirgantara. Lalu aku menoleh kesamping,tidak ada seorangpun disampingku.


"Apa ? apa aku gila? aku bicara dengan siapa tadi? " ujarku lirih


Jantungku berdebar kencang akupun segera berlari menuju ruang ICU dan tiba-tiba tanpa sengaja aku menabrak brankar dorong yang sedang berbelok


Brak!


"Uh! rintihku


" Maaf bu,maaf pak " ujarku pada mereka


Dan tanpa sengaja penutup wajah jenazah itu terbuka


"Dirgantara! " ujarku spontan


Tanganku menutup wajahku,padahal baru saja tadi aku mendengarkan ceritanya.


Kakiku melangkah mundur,tubuhku bergetar. "Jadi arwah pemuda ini yang berbicara denganku" ujarku dalam hati


Nampak wajah seorang wanita paruh baya yang nampak penuh kesedihan


"Ibu pasti ibunya Dirgantara?" tanyaku memastikan


"Iya ,kamu siapa? maaf saya sedang berduka" jawab wanita itu dengan cuek dan berlalu tanpa melihat kearahku


"Ibu tahu,baru saja saya berbicara dengan putra Ibu" ujarku sambil berlari menghampiri wanita itu


"Omong kosong apa ini? kalau kamu ingin membual jangan dengan saya, kalau kamu ingin uang ,ini ada uang seratus ribu untukmu" ujar wanita tua itu sambil melempar selembar uang 100 ribu kearahku.


Aku mencoba menahan amarahku dan aku berlari menghampiri wanita itu kembali


" Ibu, putra ibu meninggalkan kado pernikahan untuk ibu dan ayahnya,dia sangat menyayangi kalian,kado itu ada dibawah kolong tempat tidurnya serta kado untuk Cahyani" ujarku


Lalu wanita itu menghentikan langkah kakinya, dan menatapku tajam ,dengan sorot mata kemarahan.


"Ibu percayalah padaku, putra ibu sangat menyayangi kalian" ujarku meyakinkan


Plak!


Tangan wanita paruh baya itu menampar pipiku dengan keras.


" Uh" teriakku menahan sakit


"Wanita ini sombong sekali,dia juga tega untuk menamparku" ujarku dengan kesal


"Berhenti bermain-main denganku,aku sangat tahu taktik licik orang miskin sepertimu,menjijikan. Kamu pasti teman Cahyani anak miskin itu,dia yang membuat anakku hancur seperti ini,dasar kalian orang rendahan" ujar wanita itu


Akupun hanya terdiam, dan berlalu pergi.


Tiba-tiba seorang pria menghampiri ibu itu.


" Siapa?" tanya pria itu


"Hanya orang miskin yang ingin menipu" ujar wanita itu


Aku sempat mendengar ucapan wanita itu


"Maaf Dirga,aku tidak bisa membantumu. Kini aku mengerti keadaanmu yang sebenarnya" ujarku lirih


Malam itu aku berjalan menuju ruang ICU seorang diri sambil mengusap pipiku yang terasa panas karena tamparan wanita itu


@@@@@@@@@to be continue@@@@@@