MY name is Naima

MY name is Naima
Jangan menangis Lia



Pagi ini aku mencoba memupuk semangat baru. Setelah rutinitas pagi yang aku lakukan, aku berangkat ke sekolah lebih awal, sesuai permintaanku kemarin, pak Gun mengantarku dengan sepeda motor. Setelah sampai di sekolah aku langsung berlari menuju ke dalam kelasku. Belum banyak siswa yang datang, di dalam kelas aku melihat Lia sedang duduk sendirian, aku mendekatinya dan menyapanya.


" Selamat pagi, Lia ! " sapaku padanya.


" Pagi Naima!" jawab Lia.


Kamipun bercakap-cakap, aku senang berbicara dengan Lia, meskipun bukan anak orang kaya, Dia adalah anak yang baik. Anak manis itu adalah sahabat baikku. Ayahnya hanya seorang sopir ojek dan kini orang jarang memakai jasanya, karena kalah dengan Gojek atau Grab yang mudah diakses karena semua dilakukan secara praktis lewat online pemesanannya. Oleh karena itu, ayah Lia juga menjadi buruh serabutan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, sedang ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Meski begitu, keluarganya selalu rukun, ayah dan ibunya sangat menyayangi anak-anaknya. Liapun sangat menghormati dan menghargai perjuangan orang tuanya dalam membesarkannya . Kami asyik bercakap-cakap, tiba-tiba Vonna datang. Dan duduk di samping Lia.


Lalu Vonna bertanya,


" Apa pekerjaan orang tuamu? " tanya Vonna kepada Lia.


" Bapakku hanya tukang ojek dan buruh serabutan" jawab Lia.


"Oo...buruh ya? " kata Vonna kelihatan seperti mengejek.


" Sedang kamu Naima? Apa pekerjaan ayahmu?" tanya Vonna kepadaku.


" Ayahku sudah meninggal sejak aku di dalam kandungan" kataku.


Vonna tanpa berkata apapun, langsung meninggalkan kami dan memilih bercakap-cakap dengan siswa lain. Dia seolah memandang rendah terhadapku dan Lia, mungkin karena penampilanku di sekolah yang selalu sederhana, sehingga dia menilaiku seperti itu. Hari ini semua aktivitas di sekolah berjalan dengan baik, hanya ada sedikit yang terasa berbeda, sejak kedatangan Vonna di kelasku, kekompakan antar teman mulai berkurang, seolah-olah telah berdiri kelompok atau blok di dalam kelasku. Aku berusaha untuk bersikap netral dan menganggap semua teman itu sama, tetapi tidak bisa. Vonna yang notebene anak orang kaya itu berhasil mempengaruhi teman-teman lainnya.




Pukul 14.30 WIB, aku bergegas mandi setelah itu aku berganti pakaian, aku memakai celana jeans dan kaos, pakaianku sederhana, tetapi terlihat bagus ketika aku pakai, lalu aku mengambil 1 set boneka barbie yang semalam telah aku bungkus dengan kertas kado. Aku keluar dari kamarku, lalu aku berpamitan kepada mbok Warti bahwa aku akan menghadiri acara ulang tahun temanku dengan diantar pak Gun. Setelah itu aku keluar dan pak Gun telah menantiku di atas motor, akupun berlari menghampiri pak Gun, lalu aku memakai helmku.



Rumah Vonna tidak jauh dari tempatku hanya 15 menit, aku sudah tiba di rumahnya. Aku memandangi rumah Vonna, rumahnya lebih bagus dibandingkan rumah lainnya, tetapi rumahku lebih megah dan lebih bagus dari rumah Vonna. Di rumah Vonna telah banyak temanku yang telah datang. Vonna terlihat cantik dengan gaun merah yang dipakainya yang dipadukan dengan kalung mutiara serta asesoris gelang yang bagus yang menghiasi pergelangan tangannya.



" Selamat ulang tahun Vonna, semoga panjang umur, kamu sangat cantik hari ini Vonna" kataku memujinya.



" Ya, tentu saja" jawab vonna singkat.



Akupun memberikan kadoku pada Vonna, mataku melihat expresi datar saat dia menerima kado dariku, sangat berbeda ketika dia menerima kado dari teman lainnya, dia mengucap terima kasih dan cipika cipiki.



Tiba-tiba Lia datang, sikap Vonna seolah tidak menghargai kedatangan Lia.



" Selamat ulang tahun Vonna" kata Lia sambil tersenyum.



"Iya " jawabnya singkat, Vonna lalu memalingkan wajahnya . Vonna sibuk berbicara dengan teman lain. Hatiku kesal melihat sikapnya, tetapi aku berusaha bersikap biasa dan aku bercakap-cakap dengan Lia. Acara berjalan dengan meriah, meski aku, Lia dan beberapa temanku dari keluarga menengah kebawah seolah tidak dianggap, lalu kami dipersilahkan untuk makan.



" Makanan apa ini? Kok seperti ini?" tanya Lia dengan heran kepadaku.



Aku hendak mencoba menjawab pertanyaan Lia, tetapi Vonna yang berada di belakangku mendahuluiku.



" Ya, tentu kamu tidak tahu nama makanan ini, orang tuamu saja orang susah, apa bisa mereka membelikan makanan seperti ini" kata Vonna dengan ketus.



Lia yang mendengar ucapan Vonna langsung berlari keluar, akupun berlari mengejar Lia.



" Vonna kok tega bicara seperti itu padaku ?" tanya Lia padaku.



"Aku menyesal datang keacara ulang tahun dia, aku menyesal Naima" kata Lia sambil menangis.



Aku berusaha menenangkan hati Lia.




" SudahLia, tidak perlu kamu dengarkan ucapan Vonna" aku mencoba menenangkan kesedihan dan kemarahan dihati Lia. Setelah agak lebih baik, aku mengajak Lia untuk pulang.


"Lebih baik kita pulang saja, yang penting kita sudah menghadiri undangan dari Vonna" kataku kepada Lia.



Lia hanya menganggukkan kepala, aku bertanya siapa yang akan menjemputnya, dia berkata bahwa tidak ada yang menjemputnya.


Akupun menawarkan bantuan, aku menelepon pak Gun, untuk datang menjemputku. 15 menit kemudian pak Gun datang menjemputku . Aku segera menghampiri pak Gun dan meminta tolong untuk mengantar Lia pulang, karena helm yang dibawa pak Gun hanya satu, jadi aku meminta pak Gun untuk mengantar Lia terlebih dahulu dan aku memilih menunggu pak Gun ditepi jalan .



Aku duduk termenung, merenungi kejadian hari ini, tentang sikap Vonna yang begitu sombong, seharusnya dia bisa menghargai orang lain, tidak semua orang terlahir dengan nasib seberuntung dia. Hari ini aku sedih melihat Lia, aku bisa merasakan kesedihan Lia atas ucapan Vonna yang ketus itu.



Tin....tin...tin...bunyi klakson membuyarkan lamunanku.



" Eh pak Gun" aku berkata dengan spontan.



" Ayo mbak Naima, kita harus segera pulang, awan semakin gelap, saya takut kalau hujan " kata pak Gun padaku.



" Pak Gun, kok cepat sekali sampainya padahal rumah Lia kan lumayan jauh," tanyaku pada pak Gun.



" Iya Naima, tadi pak Gun melewati jalan pintas" kata pak Gun.



" Seperti apa rumah Lia, pak Gun? " tanyaku.



" Rumahnya sederhana mbak,berbeda dengan rumah mbak Naima" jawabnya.



Aku hanya diam. Sesampainya di rumah aku disambut oleh mbok Warti.



" Bagaimana acara ulang tahunnya ?" tanya mbok Warti dengan wajah keingin tahuannya.



" Tidak ada yang special mbok" jawabku singkat sambil aku berbaring di atas sofa ruang tamuku.



"Mana bingkisannya, biasanya saat pulang pasti mendapat kotak yang berisi makanan" kata mbok Warti lalu tersenyum.



" Ah....mbok Warti, aku tadi pulang lebih dulu mbok, karena sesuatu hal dan aku juga tidak berpamitan dengan tuan rumah" jawabku dengan expresi wajah kesal.



Mbok hanya menatapku dengan wajah kebingungan.



" Sebenarnya ada apa to nak? " tanya mbok Warti.



" Mbok sebenarnya aku kesal dengan seseorang, sejak kedatangan dia di sekolahku, keadaan di kelasku sekarang berbeda, dulu antar teman kita saling peduli dan saling menghargai satu dengan yang lain, tetapi sekarang berbeda seolah ada batas dan jarak " kataku dengan ekspresi kesal.



Mbok hanya mengelus rambutku, dia tidak berani memberi pendapat apapun. Lalu aku berdiri dan duduk di ruang keluarga, aku menyalakan TV menonton acara kesukaanku.


Aku menghela nafas panjang dan berusaha melupakan kejadian hari ini.