MY name is Naima

MY name is Naima
Pencarian



Pagi ini adalah pagi yang begitu indah, alam begitu bersahabat dengan cuaca cerah yang menghiasinya.


"Waktunya berangkat... " ujar ku.


Setelah semua aktivitas sudah selesai aku kerjakan. Aku segera berpamitan dan bergegas keluar.


"Pagi mbak Naima" ujar Maga menyapaku dengan ramah.


"Pagi Maga" jawabku.


Maga segera membuka pintu mobil untukku.


"Tidak usah, aku bisa melakukan sendiri" ujar ku sambil membuka pintu mobil.


Maga hanya tersenyum lalu segera berjalan menuju tempatnya .


"Kita akan pergi ke mana?" tanya Maga


"Melakukan pencarian" jawabku singkat


"Pencarian? mbak Naima ingin mencari siapa?" tanya Maga dengan ekspresi wajah bingung.


"Ke mana kita akan mencari?" tanya Maga.


"Orang tua dari seorang anak kecil"


"Di mana rumahmu? tuntun kami..." ujar ku di dalam hati


Tiba tiba Agus telah berada di sampingku.


Agus duduk di kursi di sampingku.


"Apa mbak Naima baik baik saja " tanya Maga secara tiba tiba.


" Aku baik baik saja"


"Benarkah?" tanya Maga dengan menatapku dari kaca mobil.


"Aku baik baik saja" jawabku.


Maga hanya menghela napas


"Baiklah, tunjukkan arahnya"


Aku pun menunjukkan arah sesuai apa yang ditunjukkan oleh anak kecil itu.


Perjalanan tidak terlalu lama, hanya membutuhkan waktu 30 menit saja dari rumahku


"Ayo kita turun Maga"


"Baik mbak Naima"


Lalu kami keluar dari dalam mobil dan berjalan mengikuti arwah anak kecil itu. Tidak terasa kami telah memasuki sebuah perumahan, arwah anak itu terus berjalan dan kami pun mengikutinya.


Kami memasuki gang kecil di perumahan itu, tidak terlalu jauh dari tempat di mana mobilku terparkir.


Agus berhenti di depan sebuah rumah yang menurutku cukup layak untuk ditempati.


"Rumah itu nampak sepi mbak Naima" ujar Maga


"Coba kita ketuk siapa tahu, penghuni rumah itu ada di dalam rumah" jawabku


Kami pun berjalan memasuki pelataran rumah itu. Lalu sampailah kami tepat di depan rumah itu.


Tok


Tok


(tidak ada jawaban)


Tok


Tok


"Iya sebentar" (terdengar jawaban dari dalam rumah)


Glek...(pintu dibuka)


"Ada apa ya mbak...mas..." tanya wanita itu


"Apa benar ini rumah ibu Nita dan pak Anto?"


Wanita itu nampak kebingungan


"Ibu Nita, pak Anto?" ujarnya lirih ,wanita itu kelihatan sedang berusaha untuk mengingat sesuatu.


"Di sini tidak ada yang bernama ibu Nita ataupun pak Anto"


"Tetapi bu, anak itu mengatakan ini rumah ibu Nita dan pak Anto"


"Coba saya tanyakan suami saya, karena begini mbak saya orang baru di sini dan rumah ini sudah dijual pemiliknya kepada suami saya, ayo masuk dulu mbak saya panggilkan suami saya" ujar wanita itu


Lalu kami pun masuk ke dalam rumah tersebut dan duduk di atas kursi ruang tamu itu.


Tidak lama kemudian, wanita itu datang bersama seorang pria.


"Apa mbak mencari pemilik rumah ini?" tanya pria itu lalu duduk di kursi yang berada di depanku


"Iya pak"


"Ehm...,rumah ini sudah saya beli setahun yang lalu mbak, saya tidak tahu keberadaan pemilik rumah yang dulu"


"Iya pak, terima kasih. Maaf sudah mengganggu" ujarku


"Tidak apa apa mbak"


"Apa tidak sebaiknya kita mencari informasi, di mana keberadaan keluarga itu"


"Iya, sebaiknya begitu"


Kami pun mencoba mencari tahu keberadaan keluarga Agus dengan mendatangi rumah tetangga terdekat Agus.


"Lihat itu Maga, kebetulan ada orang yang sedang duduk di depan teras rumah itu, ayo kita ke sana!" ujar ku sambil menarik tangan Maga dan kami pun menuju rumah itu.


"Baik" jawab Maga (Maga menatap Naima dengan tatapan berbeda)


Jantung Maga berdegup kencang, ketika tiba tiba tangan Naima menggandengnya.


" Selamat pagi ibu, apa saya bisa mengganggu sebentar?" tanyaku dengan sopan


" Apa yang bisa saya bantu dik? " tanya ibu tersebut


" Saya mencari keluarga pak Anto dan bu Nita, apa ibu tahu di mana mereka tinggal sekarang?" tanyaku


Wanita itu terdiam,dia mengernyitkan dahinya seolah tidak suka dengan apa yang aku katakan. Tatapan mata penuh kecurigaan diarahkannya kepadaku.


" Apa hubunganmu dengan keluarga itu? " tanya wanita itu


"Tidak ada"


"Tidak ada? lalu kenapa kau ingin menemui mereka? " ujar wanita itu masih dengan tatapan yang sama (penuh kecurigaan)


" Kami ada urusan dengan mereka bu"


"Kami di sini tidak menyukai keluarga itu dik, kami tidak pernah mengira kalau pak Anto itu pengedar obat terlarang dan kami tidak mengira kalau bu Nita itu seorang pelacur dan wanita kejam yang tega mengubur hidup-hidup bayi yang baru dilahirkannya" ujar wanita itu secara tiba tiba.


"Begitu ya" ujar Maga lirih.


Aku mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Maga.


"Kenapa menatapku seperti itu Naima?" ujar Maga


"Tidak apa apa" jawabku, lalu aku mengalihkan pandangan mataku ke arah wanita itu


"Lalu sekarang di mana keluarga itu tinggal bu?"


"Aku pernah melihat suaminya di cafe remang-remang di dekat pasar Koja" ujar wanita itu


"Apa kau tahu Maga?"


"Pasar Koja?" tanya Maga


" Iya" jawab Maga


" Oya bu,di mana ibu Nita sekarang?" tanyaku.


" Setahuku masih di penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, kalau suaminya sering terlihat di kafe itu. Sebaiknya kamu tidak ke sana dik, di sana banyak gadis penghibur dan preman juga, kafe itu hanya sebuah kedok saja." ujar Ibu itu


Aku hanya terdiam seribu bahasa, hatiku berkata pasti sangat sulit bagiku untuk menepati janjiku, tetapi aku akan berusaha untuk melakukan yang terbaik semampuku


"Terima kasih ibu, terima kasih atas informasinya. Saya minta maaf telah mengganggu ibu"


"Tidak apa-apa dik, tetapi ingat pesanku. Adik tidak perlu berhubungan dengan keluarga itu" ujar wanita itu memperingatkan


"Baik bu, terima kasih" ujar ku lalu kami meninggalkan tempat itu.


Maga hanya terdiam seribu bahasa, pemuda itu tidak berkata sepatah katapun , setelah sampai di depan mobil, kami segera masuk ke dalam mobil.


"Sekarang tujuan mbak Naima ke mana?"


"Apa tidak sebaiknya kita tidak terlibat dengan orang seperti itu?" ujar Maga mencoba menasehati


"Tidak Maga, semua sudah dimulai. Janjiku juga sudah terucapkan. Aku harus menepatinya untuk menuntaskan semua ini" ujar ku


Maga terdiam


Huff...Maga menarik napas perlahan.


"Baik, aku akan mengantarmu ke penjara" ujar Maga


"Kenapa harus ke penjara?"


"Menemui istri pria itu"


"Kamu benar Maga" ujar ku


Maga segera menyalakan mesin mobil dan mobil pun melaju ke tempat tujuan kedua kami.


"Ini akan menjadi pengalaman pertamaku , menemui seseorang di dalam penjara" ujar ku lirih


..."Aku tidak mengerti denganmu, disaat di luar sana banyak gadis yang lebih memilih menghabiskan weekendnya dengan berlibur ke sebuah tempat yang indah dan bagus. Tetapi mbak Naima, malah memilih mengunjungi penjara" ujar Maga sambil mengemudikan mobil dengan begitu tenang....


Aku hanya terdiam, sebenarnya aku juga bingung. Apa aku bisa menuntaskan misiku ini, aku rasa itu tidak akan semudah yang aku pikirkan dan pasti bisa saja aku terjerumus pada sebuah masalah baru.


" Oh Tuhan, lindungi aku " gumamku di dalam hati


Mataku menatap jauh ke depan, melihat keramaian jalan, banyak kendaraan yang berlalu lalang.


Aku pun terus berpikir, apakah aku mampu untuk menceritakan pada wanita itu bahwa anaknya telah meninggalkan dunia ini. Apakah aku mampu menerima reaksi apa yang akan diberikan wanita itu kepadaku.


Apakah aku bisa membuat wanita itu untuk percaya kepadaku?


Apakah aku mampu membuat wanita itu untuk menjadi lebih baik?


Aku hanya terdiam dan aku berusaha untuk menguatkan diriku untuk segala hal yang akan terjadi ....


@@@@To be Continue @@@@@


Terima kasih sudah membaca ceritaku