MY name is Naima

MY name is Naima
Devanno si perayu



Waktu berlalu begitu cepat, setiap kejadian di masa kecil telah menjadi sebuah kenangan bagiku, aku adalah Naima kecil yang kini telah menjadi ABG yang biasa disebut Anak Baru Gede.


Sekarang aku bersekolah di salah satu sekolah Negeri Unggulan, di sini aku memiliki banyak teman baru. Lia sahabatku saat di SD memilih bersekolah di SMP dekat dengan rumahnya. Hanya Sinta satu-satunya temanku yang bertemu kembali di sekolah baruku ini, karena kami sengaja mendaftar di sekolah yang sama. Sejak kejadian yang menimpa Sinta dahulu, sikap Sinta padaku sangat baik dan dia seolah tidak ingin terpisah dariku.


Ini adalah hari pertama masuk sekolah, setelah 3 hari kami harus mengikuti kegiatan MOS (Masa Orientasi Sekolah) di sekolah. Aku dan Sinta senang karena kami ternyata satu kelas dan kami berada di kelas 7F dengan wali kelas yang bernama Ibu Atik, seperti yang aku dengar dari kakak kelas kalau ibu Atik adalah seorang wali kelas yang sabar.


Aku dan Sinta ternyata datang lebih awal, jadi kami bisa memilih kursi lebih dahulu, kamipun memilih kursi no 3 dari depan.


Tidak lama kemudian siswa yang lain mulai datang, lalu kami saling berkenalan satu sama lain, akhirnya akupun memiliki sahabat baru.


Kriiiiiingggg..


Bel masuk berbunyi, kami mulai duduk di kursi masing-masing sesuai


pilihan kami.


Tidak lama kemudian ibu Atik datang, kami melakukan doa bersama setelah itu ibu Atik mengabsen satu-persatu siswa, setiap anak yang dipanggil namanya harus mengangkat tangannya. Semua siswa telah dipanggil tinggal satu siswa yang belum datang dia bernama Sailendra Devanno.Tiba-tiba pintu diketuk dari luar dan berdiri seorang anak laki-laki seusiaku. Aku berpikir dia pasti Devanno yang disebut namanya oleh ibu Atik.


"Maaf bu saya terlambat" kata Devanno.


"Tidak apa-apa,tetapi lain kali jangan kamu ulangi" kata Ibu Atik menegaskan.


"Cepat kamu duduk" kata bu Atik.


Dengan Pedenya Devanno berjalan mencari kursi dan ternyata dia memilih kursi kosong yang berada di belakangku, lalu dia duduk di kursi itu bersama Angga.


Tiba-tiba Devanno menyentuh bahuku dan bertanya "Siapa namamu?" ujarnya.


"Aku Naima" jawabku singkat.


Devanno lalu tersenyum padaku .


"Anak-anak hari ini mata pelajaran Bahasa Indonesia, ibu ingin kalian memperkenalkan diri kalian masing-masing dan apa cita-cita kalian saat dewasa nanti" kata Ibu Atik kemudian duduk di kursinya.


"Naima kamu maju dan perkenalkan dirimu serta apa cita-citamu saat dewasa nanti" kata Ibu Atik dengan memandang ke arahku.


Akupun maju, aku memperkenalkan diriku.


"Hai, teman-teman, namaku adalah Naima Shahya, aku putri tunggal, ayahku sudah meninggal sejak aku masih dalam kandungan, ibuku bernama ibu Ningsih, aku tinggal di Griya Tama blok A no 3, cita-citaku jika aku dewasa nanti ingin menjadi dokter."


Setelah aku memperkenalkan diriku, lalu aku berjalan menuju tempat dudukku. Mata Devanno beberapa kali mencuri pandang ke arahku. "Anak ini kenapa? " kataku dalam hati


Kemudian ibu Atik memanggil satu persatu siswa untuk memperkenalkan dirinya dan apa cita-cita dia saat dia dewasa nanti. Setelah satu persatu siswa memperkenalkan dirinya, kini tiba giliran Devanno untuk maju.


"Kamu Devanno maju kedepan" kata ibu Atik.


Dengan percaya diri Devanno maju dan dia mulai memperkenalkan dirinya.


"Teman-teman namaku Sailendra Devanno, aku adalah putra kedua dari dua bersaudara, ayahku bernama bapak Ahmad dan ibuku bernama Mita, aku tinggal di jalan Kebangsaan no 5. " kata Devanno dengan santainya.


"Oiya bu Atik, apa saya harus menyebutkan cita-cita saya bu?" tanya Devanno sambil mengarahkan pandangan matanya pada bu Atik.


"Iya harus, karena semua teman-temanmu sudah menyebutkan cita-cita mereka dan kini giliranmu" kata ibu Atik menegaskan.


Devanno hanya senyum-senyum, lalu dia berkata,


"Sejak kecil saya bercita-cita ingin menjadi seorang tentara bu, tetapi setelah saya bertemu dengan Naima, saya ingin kelak jadi pendamping hidup Naima" kata Devanno dengan percaya diri lalu tersenyum ke arahku.


Sontak ibu Atik tertawa dan semua temanku tertawa semua, mereka lalu menatap ke arahku. Aku melihat Devanno menggaruk kepalanya.


Aku benar-benar malu dengan sikap Devanno, apa-apaan ini. Aku hanya tersenyum tipis dan tertunduk malu. Dan beberapa teman sontak berkata "cie ...cie Naima"


Ibu Atik melihat kearahku yang tertunduk malu, dia mengalihkan pembicaraan dan memberi nasehat kepada Devanno dan Devanno hanya terdiam, lalu berkata "saya bercanda bu." Kemudian ibu Atik menyuruh Devanno untuk duduk di kursinya. Kemudian memberikan perintah,


"Ayo anak-anak cepat buka buku tulis kalian, untuk buku paketnya akan dibagikan besok, jadi hari ini ibu akan menjelaskan mata pelajaran hari ini." kata ibu Atik sambil membuka buku paket yang ada di atas mejanya.


Akupun mengeluarkan bukuku dari dalam tasku, tiba-tiba Sinta berbisik di telingaku "Naima Devanno terus menatapmu dari dari belakang"


Aku hanya diam, aku bisa merasakan Devanno menyukaiku, tetapi aku bersikap biasa saja.


"Devanno !" Ujar bu Atik dengan kesal.


Devanno terkejut ,"i..i...i...ya bu " jawab Devanno terbata-bata .


"Fokus pada pelajaran, jangan melamun" kata ibu Atik memperingatkan.


"Wei bro! Ngelamunin apa ? " tanya Angga


"Cantiknya, ini gadis tercantik yang pernah aku temui" kata Devanno dengan senyum-senyum sendiri.


"Dasar otak kadal, kita ini masih kelas 1 SMP bro! Sadar woi." kata Angga pada Devanno .


Kriiiiingggg.........bel istirahat berbunyi.


Semua siswa keluar kelas, begitupun denganku. Saat aku dan Sinta masuk untuk membeli makanan di kantin sekolah, ternyata Devanno berada di sana, aku memilih untuk menghindar dari Devanno tetapi dia mendekatiku.


"Kamu mau beli makanan ya? tidak usah malu, aku akan pergi biar kamu bisa membeli makanan di sini.


Lalu Devanno meninggalkan kami.


Tiba-tiba Sinta berkata," Naima aku dengarDevanno itu seorang pembalap, dia sering menjuarai lomba banyak cewek-cewek yang menyukainya"


"Pembalap tetapi pengen jadi tentara?" tanyaku.


"Hahaha...cita-cita Devanno ingin jadi pendamping Naima" ejek Sinta sambil tertawa.


Akupun hanya diam dan tersenyum.


Kamu beruntung kalau dia suka sama kamu, andai aku seberuntung dirimu " kata Sinta lalu tersenyum ke arahku.


"Sinta,bkita ini masih kelas 1 SMP masa depan kita masih panjang, aku ingin fokus pada pelajaran" kataku pada gadis berambut panjang di sampingku itu.


"Tetapi kalau hati kita menyukai seseorang bagaimana?"tanyanya dengan expresi seolah menyudutkanku.


" Aku menganggap semua adalah temanku jadi tidak ada yang istimewa, teman ya teman" jawabku dengan santai.


Setelah membeli beberapa makanan dari kantin, aku dan Sinta menuju ke kelas, seperti biasa aku memilih duduk di kursiku sambil membaca komik kesukaanku dan memakan makanan ringan bersama Sinta, ketika aku dan Sinta asyik bercanda, tiba-tiba Devanno datang sambil membawa coklat dan mendekati kami.


"Mau coklat?" tanya Devanno , sambil tangannya menyodorkan coklat kepadaku.


"Mau dong" jawab Sinta sambil tersenyum.


Lalu Devanno memberikan coklat itu kepada Sinta.


"Bagaimana denganmu Naima? Apa kamu mau coklat? Kamu tahu tidak coklat ini manis rasanya, tetapi bagiku kamu lebih manis dari coklat ini" kata Devanno mulai dengan rayuannya.


Aku hanya menoleh, memandang Devanno yang tersenyum padaku.


"Tidak, terima kasih " kataku menolak secara halus, lalu pandanganku beralih pada komik yang ada di atas mejaku.


Devanno kemudian duduk di kursi yang berada di depanku,dan dia menghadap kearahku.


"Kenapa menolak? Ini hanya sebuah coklat Naima, so dont worry " kata Devanno lalu dia beranjak meninggalkan kami.


"Naima, kamu tahu Devanno itu cowok paling cool di sekolah ini, dia paling cuek sama cewek,bpercaya deh, tetapi kepadamu kok seperti ini" kata Sinta dengan sedikit bingung.


Aku hanya terdiam dan tidak memberi komentar apapun, Sinta lalu terdiam karena dia tahu bagaimana watakku.


kriiiing....


Bel masuk ke dalam kelas berbunyi semua siswa masuk ke dalam kelas, begitupun Devanno.


Beberapa teman perempuan di kelasku menghampiri Devanno dan mengajak dia ngobrol dan Devanno hanya menjawab seperlunya saja.


Aku tidak mau melihat ke belakang, aku memilih membaca komikku sambil menunggu guru datang. Beberapa siswa perempuan meminta nomor ponsel Devanno lalu Devanno memberikannya, mereka kelihatan senang sekali.


"Bro, kamu seperti artis saja" sindir Angga.


"Hahahhaa" Devanno tertawa


"Tuh fansmu menatap kamu terus" kata Angga.


Devanno hanya tersenyum dingin menyikapi ucapan Angga.


" Naima, nanti saat pulang, aku antar ya? ajak Devanno.


"Tidak terima kasih" jawabku secara singkat.


Tiba-tiba tasku terjatuh, lalu dengan sigap Devanno mengambilnya.


"Tasmu kotor, aku bersihkan ya?" kata Devanno sambil membersihkan tasku yang sedikit kotor.


"Terima kasih" kataku.


"Sama-sama Naima, aku akan melakukan apapun untukmu" kata Devanno tanpa basa-basi.


Aku hanya terdiam, bagiku hari ini adalah hari yang aneh dan lucu. Dan ini adalah pertama kali aku memiliki teman seperti Devanno. Iya Devanno si perayu yang memiliki kebaikan hati.


To Be Continue ~~~