MY name is Naima

MY name is Naima
Menyelamatkan jiwa yang terbelenggu part 2



Kriiiiiiiing......


Bel masuk berbunyi, semua siswa berlarian masuk ke dalam kelas, seperti biasa rutinitas berdoa sebelum pembelajaran dimulai pasti dilakukan, semua siswa melakukan doa bersama.Setelah itu ibu Dina memberikan materi.


Mataku sedang mengamati teman-temanku, dan ada satu temanku yang tidak masuk hari ini adalah Sinta.


" Lia, kemana Sinta? Dari tadi aku tidak melihat Sinta sama sekali," tanyaku kepada Lia.


"Sinta tidak masuk, semalam aku mendapat cerita dari ibuku, kalau Sinta menjerit secara histeris di rumahnya dan tiba-tiba tubuhnya tidak bergerak dan matanya melotot seperti ketakutan" kata Lia.


Ternyata apa yang aku takutkan itu terjadi kataku dalam hati.


"Terus sekarang bagaimana keadaannya? " tanyaku kembali.


" Ya seperti itu" kata Lia.


"Seperti itu bagaimana ? " aku bertanya.


"Tubuhnya tidak bergerak, matanya melotot, kata ibuku Sinta hanya terbaring di atas tempat tidurnya seperti itu, tetapi jantungnya masih berdetak " kata Lia.


"Kasihan Naima, kamu tahu tidak kemarin ayah Sinta berusaha mencari orang pintar" kata Lia.


"Naima! Lia! jangan berbicara sendiri, perhatikan penjelasan dari ibu, kalau kalian bicara sendiri, nanti akan ibu hukum!" kata ibu Dina memperingatkan secara tiba-tiba.


" Maaf bu" aku dan Lia mengucap maaf pada ibu Dina sebagai tanda rasa bersalah.


Lalu kami fokus dengan pelajaran saat ini dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh ibu Dina dengan baik, meski dalam hati kecilku, aku terus berpikir keadaan sahabatku Sinta.


Bel istirahat telah berbunyi, semua siswa keluar dari kelas, sedang aku dan Lia memilih untuk berada didalam kelas, kamipun melanjutkan pembicaraan tentang Sinta.


" Lia,pulang sekolah nanti antar aku ke rumah Sinta, aku ingin menjenguknya, nanti kamu berangkat bersama aku saja, pak Gun menjemputku seperti biasa kok" kataku pada Lia.


"Baik, Naima " kata Lia dengan semangat.


Setelah itu aku membuka bekal makananku dan membaginya dengan Lia.


" Apa ini namanya Naima, rasanya enak " tanya Lia sambil menatap kue yang aku berikan.


"Oo ini pie apel" jawabku singkat.


Lalu aku memberi Lia minuman yogurt kesukaanku.


Dan beberapa kali aku tertawa melihat ekspresi wajah Lia ketika meminum yogurt, benar -benar sangat lucu.


Bel tanda istirahat berakhir telah berbunyi, semua siswa masuk ke dalam kelas. Kamipun mengikuti pembelajaran dijam terakhir dan semua berjalan dengan baik.


Kriiiing....bel pulang berbunyi


Kamipun berdoa bersama, lalu pulang ke rumah masing-masing. Kecuali aku dan Lia, kami ingin melihat kondisi Sinta.


"Naima beneran kamu mau untuk pergi ke rumah Sinta?" tanya Lia.


"Tentu saja Lia, kitakan teman, aku kuatir dengan keadaan Sinta " kataku kepada Lia menegaskan.


Kamipun berjalan bersama menuju halte, tempat di mana pak Gun selalu menjemputku.


Tidak berapa lama, sebuah mobil berhenti di depan kami dan aku tahu itu mobilku. Aku dan Lia kemudian masuk ke dalam mobil, aku menjelaskan pada pak Gun, kalau aku akan ke rumah Sinta untuk melihat kondisinya.


Pak Gun lalu mengantar kami, tidak berapa lama kami tiba di rumah Sinta.


Tok...tok...tok...


Lia mengetuk pintu, tidak beberapa lama seorang ibu membuka pintu.


"Oo ...kamu Lia, ada apa?" kata ibu Sinta terlihat terkejut.


" Saya dan Naima ingin melihat kondisi Sinta bu," kata Lia dengan lembut.


Ibu Sinta mengajak kami ke kamar Sinta, aku terkejut melihat kondisi Sinta.


" Seperti itulah kondisi Sinta sekarang nak, ibu ingin Sinta bisa seperti dulu lagi" kata ibu Sinta sambil mengusap airmatanya.


Sinta adalah anak semata wayang, orang tua Sinta sangat menyayangi anaknya itu. Mereka tidak tahu kenapa Sinta bisa menjadi seperti ini.


"Kemarin sepulang sekolah, Sinta baik-baik saja, kemudian makan siang setelah itu masuk ke dalam kamar, kemudian tiba-tiba dia menjerit secara histeris dan menjadi seperti ini" kata ibu Sinta sambil menangis.


Lia dan aku merasa prihatin melihat semua ini.


" Kami sudah membawa keorang pintar sore itu, tetapi dia tidak mampu menolong. Terus semalam ayah Sinta diajak oleh temannya untuk menemui orang pintar nak, katanya hari ini dia akan pulang, semoga dia segera kembali bersama orang tersebut" kata ibu Sinta penuh harap.


"Olla kamu di mana?" kataku dalam hati.


"Aku disini, Naima jiwa temanmu itu terbelenggu" kata Olla kepadaku.


Aku hanya seorang anak kecil, aku tidak tahu harus bagaimana, aku sudah berusaha memperingatkan tetapi sinta tidak memperdulikan ucapanku.


Setelah cukup lama kami bercakap-cakap akhirnya kami berpamitan, ketika akan pulang, tiba-tiba ayah Sinta masuk ke dalam kamar bersama kakek tua dan pria muda.


"Ini kek putri saya, kondisinya seperti ini sekarang" kata ayah Sinta.


Kakek itu menyentuh tangan Sinta, lalu membaca doa dan meniupkannya diubun-ubun kepala Sinta.


"Saya tidak bisa menyelamatkan putri bapak, karena dia adalah tumbal, putri bapak pasti telah mengambil sesuatu atau menerima sesuatu dari orang yang mempunyai pesugihan" kata kakek itu.


Sontak ibu Sinta menangis


" Tolong anak saya mbah, dia putri saya satu-satunya mbah, tolong dia mbah" kata ibu Sinta memohon.


"Siapa anak itu? " kata kakek itu sambil menunjuk kearahku.


Tentu saja aku terkejut, semua mata menatapku.


"Saya Naima kek" kataku lirih.


"Kamu duduk di sini nak" kata kakek itu kepadaku, sambil memberi isyarat untuk duduk di dekatnya.


Akupun mendekat kearah kakek tua itu dan duduk di sampingnya.


"Kamu mau bantu kakek menyelamatkan sahabatmu ini" tanya kakek itu kepadaku dengan serius.


"Iya kek, tetapi bagaimana caranya " tanyaku.


"Tengah malam nanti kamu akan tahu" kata kakek itu.


Akupun mengangguk. Lalu aku keluar untuk menceritakan hal ini kepada pak Gun.


" Pak Gun pulang saja, hari ini aku tidak akan pulang ke rumah" kataku pada pak Gun.


"Kenapa mbak Naima?" tanya pak Gun.


"Kata kakek melalui diriku, nyawa Sinta akan dapat diselamatkan" kataku.


Tentu saja pak Gun tidak terima, pak Gun langsung berjalan ke dalam rumah dan berdebat dengan semua orang yang berada di dalam, pak Gun tidak ingin jiwaku terancam karena hal ini, pak Gun sangat menjaga keselamatanku, bagi pak Gun aku adalah tanggung jawabnya.


Kakek itu menjelaskan bahwa aku akan baik-baik saja, kakek berkata bahwa aku berbeda, hanya aku yang mampu menembus pintu batas untuk masuk ke dunia itu.


"Kalau mbak Naima tidak mau pulang, maka saya juga akan menunggu di sini" kata pak Gun menegaskan.


Aku hanya terdiam, yang ada di benakku saat ini, apa yang akan terjadi nantinya



Tengah malam,



Aku telah duduk bersila di lantai di dalam kamar Sinta, kakek berkata nanti kamu harus berjalan ke arah cahaya dan ketika di sana bersikap baiklah, selamatkan sahabatmu, kakek percaya kamu bisa berkomunikasi dan membujuk mereka untuk membebaskan sahabatmu.


Aku hanya menganggukkan kepalaku, aku berusaha memberanikan diriku akan segala resiko yang akan aku hadapi.


Setelah itu kakek membaca doa-doa, tiba-tiba keadaan menjadi gelap gulita dan aku sendirian, aku terus berjalan dalam kegelapan itu lalu aku melihat secerca cahaya, akupun berjalan menuju ke arah cahaya itu, kemudian aku memasuki sebuah tempat. Disana aku melihat sebuah istana megah tetapi dibangun dari tubuh manusia.



Mereka menjadi pondasi dari istana megah itu, aku berjalan hendak memasuki istana itu tetapi dua orang pengawal datang menghampiriku dan bertanya apa tujuanku ke istana ini.


Akupun bercerita aku ingin menemui penguasa dari istana ini, mereka mendorongku dan membuat aku terjatuh, aku tidak berhenti aku terus memohon. Hingga keluarlah seorang dayang menghampiri kami.



"Masuklah nak, Nyai telah menunggumu" kata dayang cantik itu.


Aku berjalan mengikuti dayang cantik itu, ketika aku memasuki istana itu,pemandangan tidak seperti yang aku lihat saat diluar tadi, di dalam istana itu semua dinding seolah terbuat dari emas, sangat berkilau, lantai dari batu marmer dan aku melihat banyak wanita cantik seperti dayang berdiri berbaris rapi sisi kanan dan kiri di mana aku berjalan. Aku melihat singgasana megah, terbuat dari emas dan sangat berkilau. Disana telah duduk wanita cantik memakai tiara yang terbuat dari batu permata, tersenyum padaku.



" Apa tujuanmu datang ke sini?" kata putri itu.



"Saya mencari teman saya" kataku.



"Temanmu? Dia adalah budakku, dia adalah tumbalku" kata putri itu.



"Maaf Nyai, saya ingin melihat teman saya, apa Nyai mengijinkan saya" kataku memohon.



Entah kenapa putri cantik itu mau menuruti permintaanku dan putri cantik yang dipanggil Nyai itu mengantarku ke suatu ruangan di sana aku melihat Sinta sahabatku dikurung dan seorang pria besar mencambukinya, aku mendengar teriakan kesakitan temanku itu. Ruangan ini sangat aneh dinding lantai semua terbuat dari tubuh manusia.



"Kenapa dinding dan lantai terbuat dari manusia ?" tanyaku.



"Ha...ha...ha mereka adalah pemujaku dan tumbalku, mereka telah menggadaikan jiwa abadi mereka untuk kekayaan" kata putri cantik itu.



Ada juga manusia yang terus bekerja dan selalu mendapat cambukan pada tubuhnya, aku menangis melihat itu semua, hatiku bertanya kenapa masih ada manusia yang menginginkan kekayaan secara instan dengan mengorbankan diri dan jiwa orang lain untuk sebuah kebahagian yang tidak abadi.


Terdengar jerit tangis sahabatku dan itu membuyarkan lamunanku.



"Nyai tolong bebaskan teman saya, kasihanilah dia" kataku memohon.




"Seorang manusia memintaku membebaskan tawananku, tidak bisa!" kata penolakan dari putri cantik itu.



"Tolong ampuni saya Nyai, tolong bebaskan teman saya, kedua orang tuanya menginginkan dia kembali" kataku sambil memohon.



"Saya akan membebaskan dia tetapi dengan 3 syarat" kata putri itu menegaskan.



"Saya hanya anak kecil Nyai" kataku, jujur aku sangat takut, keadaan telah membuat diriku harus masuk ke dunia yang seharusnya tidak boleh untuk aku datangi.



"Apa kamu bersedia wahai anak manusia?" tanya putri itu kepadaku dengan tatapan yang begitu tajam hingga menembus jantungku.



"Nyai, apa 3 syarat itu" tanyaku dengan sopan, meski sebenarnya aku merasa takut.



"1. Temanmu harus mengembalikan cincin itu pada tempatnya.


2. Kamu harus melayani aku sebagai seorang pelayan.


3. Aku meminta 1 jiwa dari dalam tubuhmu nak" kata putri cantik itu.



"Satu jiwa berarti aku akan mati? " sebesar inikah pengorbanan yang harus aku lakukan" kataku dalam hati, saat ini yang aku lihat adalah di mataku adalah tangisan ibu Sinta, wajah kesedihan ayah dan ibunya tanpa aku sadari aku menganggukkan kepalaku.



"Apa saya akan kembali ke dunia saya? Atau selamanya saya tetap di sini" tanyaku pada putri itu.



Putri itu hanya diam dan memerintahkan pengawal itu untuk melepaskan Sinta, kemudian Sinta mengucapkan kata terima kasih, lalu aku berbisik di telinganya kembalikan cincin itu pada tempatnya dan meminta tolong Sinta untuk mengatakan pada pak Gun, bahwa aku masih harus tinggal di sini. Aku hanya diam dan menatap Sinta meninggalkanku bersama pengawal itu.



"Kamu sudah siap Naima, aku akan mengambil 1 jiwa dari dirimu, sebagai ganti pembebasan temanmu itu" kata putri itu.



Aku hanya mengangguk, kata yang terucap tidak bisa ditarik lagi.


Tiba-tiba aku merasakan sakit yang sangat hebat dan aku sampai terjatuh di atas lantai, sakit yang sangat luar biasa dan aku merintih menahan sakit, tiba-tiba aku memuntahkan darah dan aku tidak sadarkan diri.


~~'


Di kamar Sinta, tiba-tiba jari tangan Sinta bergerak, dia perlahan-lahan membuka matanya, kedua orang tua Sinta merasa bahagia dan mereka memeluk Sinta. Sinta seperti orang yang bangun dari tidur, dia berkata bahwa ini mimpi buruk. Sedang kondisi tubuhku, harus tersungkur dari duduk silaku, dari mulutku keluar banyak darah. Aku tidak bergerak.



"Kakek, bilang Naima akan baik-baik saja, kenapa seperti ini" kata pak Gun dengan marah.



Semua yang berada di kamar terkejut melihat kondisiku.


Kakek tua itu, menggelengkan kepalanya


"Ini di luar dugaan saya, makhluk itu menginginkannya" kata kakek itu sambil kepalanya menggeleng lemah.



"Apa! Maksud kakek Naima akan mati? dasar orang tua gila, dia hanya anak kecil, kenapa dia harus dikorbankan?".


Puncak kemarahan pak Gun dengan tangan mengepal seakan ingin menghajar kakek tua itu.



Sinta bangkit dari tempat tidurnya dan berkata bahwa Naima berpesan dia masih harus di sana beberapa waktu dan berpesan bahwa benda yang aku ambil harus dikembalikan pada tempatnya .



" Kamu mengambil apa nak?" kata ibu Sinta cemas.



"Hanya sebuah cincin bu, aku menemukannya di jalan saat pulang sekolah, Naima telah memperingatkanku tetapi aku tidak mempercayainya bu" kata Sinta.



"Mana cincin itu nak? " kata ibu Sinta.



Sinta mengambil bantalnya dan membuka sarung bantal lalu mengambil cincin itu.



"Berikan pada kakek ,Nak. Kakek ingin melihatnya " kata kakek tua itu, sambil mengulurkan tangannya.



" Cincin ini adalah cincin yang sengaja digunakan untuk alat mencari tumbal, untung tidak kamu belikan makanan atau apapun, sehingga kamu masih bisa diselamatkan, kembalikan di tempatnya semula, tetapi harus kamu tanam, agar tidak ada orang lain lagi yang bernasib sepertimu." ujar kakek berambut putih itu.



Ayah Sinta lalu mengambil cincin itu, kemudian mencari tempat di mana cincin itu ditemukan, dia mengikuti petunjuk sesuai yang dikatakan Sinta putrinya.



"Ganti baju anak ini dan baringkan dia di tempat tidur" katanya, sambil melihat ke arah pak Gun yang sedang berdiri.


Dengan wajah cemas pak Gun melakukan perintah kakek itu, sebenarnya hati pak Gun sangat kuatir dengan kondisiku itu, jika sesuatu yang buruk terjadi padaku, dia tidak bisa membayangkan kemarahan ibu Ningsih nantinya. Dipegangnya tanganku, tidak lupa pak Gun terus berdoa untuk keselamatanku.



Di dalam istana itu.....


Aku terbaring di atas ranjang, saat aku membuka mataku, telah berdiri di sampingku 2 dayang cantik, mereka tersenyum kepadaku.


"Kamu memang berbeda nak, ada sesuatu dalam dirimu yang mampu membuat junjungan kami sangat menyukaimu"kata dayang itu.


" Apa tugas saya di sini? Saya ingin menyelesaikannya dan ijinkan saya kembali ke dunia saya" kataku pada kedua dayang cantik yang berdiri di hadapanku.


"Ini adalah pertama kalinya, seorang anak kecil sepertimu mampu menembus dunia kami.


Kamu memang berbeda nak" kata dayang itu.


"Saya ingin bertemu Nyai" kataku memohon.


Lalu kedua dayang itu mengantarku ke suatu tempat, ke sebuah pemandian yang begitu indah.


Aku melihat putri cantik itu sedang berendam di sebuah kolam yang airnya sangat jernih, dia tahu kedatanganku lalu memintaku untuk mendekat padanya. Akupun menghampirinya dengan berjalan sempoyongan aku mendekatinya.


"Duduklah di sini" kata putri itu lalu tersenyum ke arahku.


Putri itu sangat cantik benar-benar sangat cantik kataku dalam hati.


"Manusia memujaku karena kecantikanku, mereka menginginkan harta dengan memujaku" kata putri itu.


Aku hanya terdiam.


"Apa kamu bisa memijat pundakku" kata putri tercantik di negeri itu, kulitnya bersih, bibirnya begitu merah, matanya indah. Dia sangat cantik.


"Saya tidak bisa Nyai, tetapi saya akan melakukannya" kataku kepadanya.


Dengan ragu-ragu aku berusaha untuk memijatnya. Putri cantik itu tersenyum menatapku.


"Nyai, apa tugas saya di sini? Saya ingin segera pulang" kataku.


"Lihat istana ini! sangat luas bukan ?aku ingin kamu membersihkannya " kata putri cantik itu menegaskan.


Aku melihat istana ini sangat luas, bagaimana bisa seorang anak kecil sepertiku bisa melakukannya, apalagi aku tidak pernah menyapu lantai rumahku sendiri.Tetapi aku mengangguk dan aku meminta dayang untuk memberi sebuah sapu kepadaku, aku mulai menyapu tempat pemandian itu, putri cantik itu hanya menatapku lalu dia kembali berendam.


Aku merasa tubuhku lelah, tetapi aku tidak peduli aku terus menyapu dan membersihkan, beberapa dayang-dayang membawakan makanan kepadaku, memintaku untuk makan, tetapi aku tidak mau, aku ingin tugasku segera selesai, tubuhku semakin lemah dan semakin lemah. Putri cantik itu mendekatiku dan memintaku untuk duduk, dia menatapku tajam, hingga jantungku berdebar kencang.


"Tinggallah disini, aku akan memberikan tempat untukmu, rakyat di sini akan menghormati dan menyanjungmu, aku akan memberimu kekuasaan untuk memerintah" kata putri cantik itu secara tiba-tiba.


"Tidak Nyai, saya rindu keluarga saya " ,kataku pada putri itu dengan sedikit takut.


Putri itu mampu melihat ketulusan, kebaikan hati dan pengorbananku.


"Sudah kamu pikirkan nak? Apa kamu menolak kebaikanku" tanya putri itu.


"Saya merindukan keluarga saya Nyai" kataku dengan polos.


Putri itu tersenyum dan mencium keningku, bawa ini untukmu, dia memberiku sebuah batu berwarna merah dan sangat berkilau dan aku menggenggam batu itu di tanganku.Tidak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada putri tercantik di negeri itu.


Seorang pengawal mengantarkanku, kali ini sikap pengawal sangat baik dan sopan, dia memintaku untuk melewati sebuah gerbang dan aku harus berjalan mengikuti arah di mana cahaya itu berada .


Tiba-tiba aku terbangun, aku merasa sangat lelah, bahkan untuk duduk saja aku tidak memiliki tenaga. Pak Gun memelukku, tanpa sadar air mata menetes dari mata pak Gun, setiap peristiwa dan kebersamaan kami, membuat pak Gun peduli dan sayang padaku, bagi pak Gun aku seperti putrinya sendiri.


" Ayo minum air ini nak" kata kakek tua itu. Sudah 5 hari kamu terbaring di atas kasur.


Jadi sudah 5 hari, aku berada di rumah Sinta sahabatku. Dan aku melihat Sinta dan orang tuanya tersenyum padaku lalu mereka mengucapkan terima kasih atas semuanya. Aku meminta pak Gun menggendongku, aku rindu rumahku.


Kamipun berpamitan, orang tua Sinta ingin memberiku sesuatu, tetapi aku menolak, aku sudah senang melihat sahabatku berkumpul dengan orang tuanya. Kakek itu tersenyum padaku dan berkata "Kamu memang berbeda Naima, terima kasih untuk pengorbananmu nak" kata kakek itu.


"Terima kasih kek, karena telah menjaga saya dengan doa" kataku pada kakek itu.


Pak Gun, menggendongku menuju mobil, tubuh kecilku terasa lemas, aku membuka genggaman tanganku, batu merah itu berada dalam genggaman tanganku. Aku terdiam merenungi semua kejadian di sana, sebuah kejadian yang sangat mengerikan diluar akal manusia.


To be continue......


Mengambil sebuah pesan tersirat maupun tersurat