MY name is Naima

MY name is Naima
Kelas angker



Malam ini aku merenungi kejadian tadi siang, tentang sikap Devanno kepadaku. Dan bertanya kenapa aku bertemu orang seperti Devanno.


Tiba-tiba Olla muncul di depanku.


"Olla kamu membuatku terkejut" kataku.


"Naima kamu pasti sedang memikirkan sesuatu" kata Olla kecil


"Iya, aku bertemu seseorang yang ...." kataku terhenti.


Olla kecil hanya menatapku.


Tiba-tiba pintuku diketuk dari luar.


"Masuk" kataku.


" Kamu belum tidur nak? Apa PRmu sudah kamu kerjakan? " tanya mbok Warti.


" Aku belum mengantuk mbok, untuk PR sudah aku kerjakan semua mbok tadi sore" jawabku datar.


"Saat kamu tidur di rumah pak Gun, mbok merasa kesepian nak" kata mbok Warti.


"Maaf mbok, aku juga tidak mengira kalau aku harus menginap di rumah pak Gun" jawabku dengan sedikit menyesal.


" Ya sudah nak, sekarang cepatlah kamu tidur besok pagi kamu harus berangkat ke sekolah" kata wanita tua memakai kebaya itu.


"Baik mbok" lalu aku menutupi tubuhku dengan selimut. Dan mbok Warti menyalakan lampu tidur kamarku,lalu beranjak pergi.


***


Pagi ini, matahari bersinar cerah, daun-daun melambai-lambai ke kanan dan ke kiri karena terkena angin yang berhembus sempoi-sempoi dan udara terasa segar. Aku menghirup udara pagi dan ku hembuskan kembali, seperti biasa aku sudah bersiap dan rapi dengan seragamku dan tidak lupa aku berpamitan dengan mbok Warti yang selalu menyiapkan kebutuhan ku setiap hari dan seperti biasa pak Gun dengan disiplin memarkir mobilnya di halaman sambil menyalakan mesin mobil suara klakson mobil terdengar, aku segera menyambar tasku dan melangkahkan kakiku meskipun masih terasa sakit kemudian aku membuka pintu mobil dan segera masuk lalu aku duduk sambil menyandarkan kepalaku di kaca mobil sambil memandangi jalanan yang sudah ramai pengendara karena sudah waktu semua orang berangkat bekerja.


Tidak terasa mobil Pak Gun sudah berhenti tepat di gerbang sekolah aku melihat banyak murid yang berlalu lalang masuk ke dalam koridor kelas, sebelum turun dari mobil aku pamit kepada pada pak Gun.


"Apa perlu pak Gun bantu mbak Naima? Apa kamu kuat untuk berjalan sendiri menuju kelas?" tanya pak Gun kepadaku.


"Aku baik-baik saja " kataku.


Setelah itu aku turun dari mobil, baru beberapa langkah aku sudah terpaku di tempat karena melihat penampakan Devanno yang sedang tersenyum di depan gerbang sambil satu tangan masuk ke dalam saku celananya dia terlihat lebih keren, jujur saja aku langsung terkejut melihat dirinya berdiri tegap di samping pagar.


"Huhh, pagi ini aku harus bertemu Devanno, rajanya para gadis." gumamku mengeluh di dalam hati. Lalu aku teringat kebaikan Devanno kepadaku, dia adalah Devanno sang penjagaku dan dewa penolong bagiku.


Devanno memandangku sambil tersenyum manis dan aku mengumpulkan tekadku kembali yaitu sambil melangkahkan kaki meski aku masih merasakan sakit untuk berjalan masuk ke gerbang sekolah.


"Hai, bidadari naima yang sangat menawan, cantiknya palinggggggggg......" ujar Devanno sambil memandangiku.


"Bagaimana dengan lukamu? Apa sudah membaik? " tanya Devanno padaku.


Aku hanya menganggukan kepalaku saja .


Jujur saja aku ingin sekali cepat masuk kelas dan duduk untuk membuat pikiranku lebih fresh.


"Iya, Devanno." jawabku lirih kepadanya.


"Masuk ke kelas bareng denganku ya, aku sebenarnya baru datang tetapi aku melihat mobil baru saja parkir di depan gerbang aku sudah menebaknya bahwa bidadariku sudah sampai." ujar Devanno dengan kecerewetannya.


Aku hanya menanggapi ucapan Devanno dengan senyuman tipis dia juga membalas senyumanku setelah itu dia langsung menggandeng tanganku erat seperti biasa aku harus pasrah jika sikap Devanno sudah seperti ini.


Kami berdua masuk menyusuri koridor menuju kelas.


"Sebenarnya aku kesal tapi harus bagaimana lagi." gumamku dalam hati


Berjalan menyusuri koridor bersamanya membuatku seperti orang asing saja selama perjalanan menuju kelas semua gadis di sana memandangku aneh tetapi ketika memandang Devanno mata gadis itu semua nampak berbinar-binar.


Tidak terasa kami sudah sampai di kelas Devanno juga belum melepaskan genggaman tangannya sampai dibangkuku, aku melihat teman sebangku Devanno sudah datang sambil menatapku heran.


"Kalian pagi-pagi serasi banget sih." ujar Angga.


"Iri paling ya lo." balas Devanno sambil meledek.


"Lepaskan tanganku dev" ujarku pelan.


Devanno segera melepaskan genggaman tangannya, aku pun segera duduk sambil meletakkan tasku di bangku.


"Kamu kenapa Naima? Kenapa dengan kakimu? " tanya Angga padaku.


"Tidak apa-apa, hanya sedikit sakit karena cindera saat terjatuh kemarin" jawabku.


" Terjatuh? Coba aku lihat" kata Angga nampak cemas, lalu beranjak dari tempat duduknya dan berusaha untuk melihat luka di kakiku.


"Eeiiitss.....mau apa bro? " tanya Devanno mencoba mencegah dan menghadang Angga yang ingin mendekatiku.


"Ya aku ingin melihat luka di kaki Naima" jawab Angga menjelaskan.


"Tidak usah bro, kakinya baik-baik saja, kemarin sudah aku obati" kata Devanno.


"Tapi aku ingin melihat luka di kaki Naima! " kata Angga menegaskan dengan kesal.


Tiba-tiba Sinta datang dan melerai perdebatan mereka.


" Kalian itu kenapa pagi-pagi sudah ribut sendiri" kata Sinta dengan kesal.


"Ini Sin" Tiba -tiba Angga dan Devanno berkata secara bersamaan.


" Sudah kalian itu kenapa? Bisa duduk tenang apa tidak?" kataku mencoba menghentikan perdebatan yang tidak penting ini.


Akhirnya Angga dan Devanno bisa duduk tenang di kursinya masing-masing


Aku melihat ruangan kelasku yang mulai ramai karena satu persatu siswa telah berdatangan.


Tidak lama kemudian, bel berbunyi.


Kriiiiingggg....


Semua siswa telah duduk rapi di kursinya masing-masing, kemudian wali kelasku bu Atik masuk ke dalam kelas, kamipun melakukan doa bersama. Dan setelah itu bu Atik berkata bahwa hari ini tidak kegiatan belajar mengajar di kelas. Hari ini kita akan melakukan kerja bakti untuk membersihkan sekolahan dan bu Atik meminta tolong semua siswa di kelasku ikut membantu membersihkan kelas yang tidak terpakai di samping kantin sekolah itu.


"Kenapa bu Atik meminta semua siswa untuk membersihkan ruangan itu?" kataku lirih.


"Aku kurang tahu Naima, tetapi yang aku dengar nanti ruangan itu akan dijadikan ruang perpustakaan" kata Sinta padaku.


"Ayo anak-anak kalian cepat pergi ke ruangan di samping kantin sekolah" kata bu Atik memberi perintah.


Meski masih terasa sakit untuk berjalan, aku pun melangkahkan kakiku.


"Aku gandeng ya" kata Sinta padaku.


"Jangan Sin, biar aku saja" kata Angga.


"Tidak boleh! biar aku saja! " kata Devanno menegaskan.


Aku tidak memperdulikan itu, lalu aku berjalan bersama Sinta yang begitu tulus menuntunku saat berjalan. Aku tidak menyangka luka di lututku memberi dampak sesakit ini.


Sedang Angga dan Devanno berjalan di belakangku.


"Sin, kelas itu angker " kataku pada Sinta.


"Apa betul Naima? "tanya Sinta dengan sedikit takut.


Aku hanya menganggukan kepalaku.


Tiba-tiba Devanno menghampiriku.


" Naima,apa benar kamu baik-baik saja" tanya Devanno mencoba memastikan keadaanku.


"Iya Dev, aku baik-baik saja" kataku berusaha meyakinkannya.


"Aku merasa kamu berusaha menutupi rasa sakit pada kakimu" kata Dev.


"Biar aku saja yang membantu Naima jalan" kata Devanno pada Sinta.


Sinta akhirnya membiarkan Devanno menuntunku. Aku teringat ucapan Bobi, bahwa Devanno adalah orang yang paling serius dengan ucapannya.


"Lihat Devanno, dia selalu memaksa Naima" kata Angga dengan kesal.


"Kamu cemburu ya? Hmmm...menurutku Devanno memang sangat peduli dengan Naima " jawab Sinta tanpa basa -basi.


Devanno menuntunku dengan sangat sabar dan kami berjalan menuju ruangan kelas kosong itu dengan semua teman dari kelasku.


Sikap Devanno kepadaku membuat banyak siswa perempuan merasa iri padaku, tetapi di hatiku saat ini Devanno hanya sebagai seorang teman.


Tidak beberapa lama kami telah sampai di depan kelas kosong itu.


"Dev, kelas ini angker lo" kataku lirih.


"Apa? " tanya Dev dengan wajah kebingungan.


"Dev, kelas ini angker " aku mengulang ucapanku.


Devanno hanya terdiam mendengar ucapanku dan menatapku tajam


Aku hanya terdiam dan menatap mata Devanno.


"Kamu tidak percaya denganku Dev?" aku bertanya kepada Dev.


"Bukan itu....aku hanya...." jawab Dev tapi tiba-tiba dia menghentikan ucapannya.


Aku tidak peduli, apa Dev akan percaya padaku atau tidak, tugasku saat ini adalah membersihkan ruangan itu.


Aku memasuki ruangan yang begitu kotor dan berdebu serta terdapat sarang laba-laba di mana-mana .


Tiba-tiba aku mencium bau anyir, ini bau darah " kataku dalam hati.


Saat itu aku merasa ada yang mengawasi kami, tetapi dia belum menunjukkan wujudnya.


"Apa kamu haus Naima?" tiba -tiba Devanno bertanya sambil menyodorkan sebotol air mineral.


Aku hanya menggelengkan kepalaku, lalu mataku melihat setiap sisi ruangan itu, bau anyir darah semakin menusuk hidungku.


"Setelah selesai membersihkan ruangan ini, sebaiknya kita segera pergi dari sini" kataku pada Devanno.


Devanno nampak bingung dengan ucapanku.


Aku berjalan mendekati Sinta.


"Sin, ayo kita pergi dari ruangan ini" ajakku pada Sinta.


" Sebentar Naima" jawab Sinta


"Kamu baik-baik saja kan Naima?" tanya Angga kepadaku.


"Iya " jawabku lirih.


" Semua teman sudah pergi, ayo kita tinggalkan ruangan ini" ajakku kepada Sinta, Angga dan Devanno.


Bau anyir darah itu semakin menusuk hidungku, aku benar-benar tidak nyaman dengan hal ini.


"Ayo Sin, kita keluar dari ruangan ini" ajakku sambil menggandeng tangan Sinta.


Kami pun meninggalkan ruangan itu, kembali ke dalam kelas kami.


Kriiingggg....


Bel pulang berbunyi, ternyata semua siswa dipulangkan lebih awal, kami pun berdoa bersama dan setelah itu semua murid pulang.


" Naima, gelangku hilang" ujar Sinta dengan kebingungan.


"Coba kamu ingat-ingat kembali atau kamu lupa tidak memakai gelangmu" kataku menasehati.


"Aku ingat, mungkin terjatuh di kelas kosong itu" kata Sinta.


"Sebentar aku akan mengambil gelangku di sana,aku merasa gelangku terjatuh di sana" kata Sinta.


"Jangan Sin, jangan sekarang" kataku sambil menarik tangan Sinta, aku mencoba mencegah sesuatu yang buruk agar tidak terjadi.


"Tidak apa-apa Naima, kamu duduk di sini saja, aku berani kok sendirian ke sana" kata Sinta dengan percaya diri.


"Jangan sekarang Sin, besok saja" aku berkata kepada Sinta.


"Devanno dan kamu Angga temani Naima, aku mau mengambil gelangku dulu" kata Sinta lalu beranjak pergi.


"Angga, Devanno tolong susul Sinta, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.


" Kenapa kita harus menyusul Sinta, dia hanya ingin mengambil gelangnya, setelah itu dia akan kembali lagi, sudahlah Sin jangan terlalu kuatir seperti itu" sanggah Angga.


Aku tahu mereka tidak mengerti maksudku, untuk apa juga aku harus menjelaskan semuanya. Lalu aku beranjak dari tempat dudukku dengan kondisi kakiku yang masih sakit aku berusaha berlari mengejar Sinta. Kondisi sekolah juga sudah mulai sepi, semua siswa juga sudah banyak yang pulang.


Tiba-tiba Angga dan Devanno berlari mengejarku.


"Naima! Kamu jangan berlari, kakimu masih belum sembuh!" teriak Devanno dari belakang aku, aku tidak peduli dengan teriakannya, saat ini di dalam pikiranku adalah keselamatan sahabatku Sinta, aku kuatir dengan keadaannya.


Lalu tiba-tiba Devanno sudah berada di depanku, menghadangku.


"Kita ke sana bersama, jangan seperti ini!" kata Devanno sambil memegang pundakku.


Aku hanya terdiam. Tangan Devanno menggenggam tanganku.


"Dasar keras kepala" kata Devanno secara spontan kepadaku.


Aku hanya menatapnya dan Devanno tiba-tiba tertawa.


Angga menyusul kami.


" Lepas tanganmu Dev"kata Angga.


" Terserah aku bro, kamu mau apa?" kata Devanno.


"Jangan seperti itu pada Naima! " bentak Angga.


Aku melepas genggaman tangan Devanno, aku tidak mau mendengarkan pertengkaran yang tidak penting ini, saat ini keselamatan Sinta penting bagiku. Dan aku berjalan sambil menahan sakit, lalu mereka ikut berjalan di sampingku.


"Kenapa sepi sekali, apa semua guru dan siswa sudah banyak yang pulang?" tanyaku dalam hati.


" Kenapa sesepi ini, sungguh tidak seperti biasanya" kataku di dalam hati.


Kini kakiku telah berhenti tepat di ruang kelas kosong itu.


"Sinta apa kamu di situ!" teriakku


.


"Iya aku di sini, Naima gelangku sudah ketemu" jawab Sinta dari dalam ruangan.


"Ayo Sin, kita cepat pulang" ajakku.


Aku melihat Sinta dari depan pintu.


"A....aa.....aa.." teriak Sinta sambil menutup mata.


Aku pun terpaksa masuk ke dalam ruangan kelas itu begitupun Angga dan Devanno ikut menyusulku.


"Naima, lihat kenapa lantainya penuh darah" kata Sinta dengan ketakutan sambil menunjuk lantai yang penuh darah.


Angga dan Devanno juga nampak kebingungan.


"Aneh darah darimana? Perasaan tadi waktu kita bersih-bersih di sini, tidak ada darah" tanya Devanno dengan keheranan.


Aku mencium bau anyir darah semakin kuat, aku tidak suka dengan bau ini.


"Ayo kita keluar dari ruangan ini, ketika kami hendak beranjak pergi meninggalkan ruangan.


" Brak!" suara pintu kelas tertutup secara tiba-tiba.


Sinta berteriak keras, karena terkejut dan ketakutan .


Devanno dan Angga berusaha membuka pintu kelas itu, tetapi tidak bisa dibuka.


"Sialan kita terkurung di ruangan ini" kata Angga dengan kesal.


Aku hanya terdiam aku merasa ini pasti ulah makhluk itu.


"Ya Tuhan, bau darah ini semakin menyengat hidung" ujarku sedikit cemas.


Dan tiba-tiba kami dikejutkan dengan munculnya seorang gadis seusia kami, memakai seragam sekolah yang penuh darah dan sebagian dari tubuhnya telah membusuk, sangat menakutkan, bahkan wajahnya rusak karena sayatan benda tajam, benar-benar sangat menakutkan.


Angga dan Devanno mengusap matanya beberapa kali mereka berharap bahwa ini adalah halusinasi belaka. Tetapi mereka salah makhluk ini benar-benar telah berdiri di depan kami dengan tatapan kemarahan.


"Siapa pun yang masuk ke sini harus mati" kata hantu itu geram.


Sinta berlari ke arah pintu, lalu menggedor pintu itu, begitupun Devanno dan Angga. Mereka berusaha untuk keluar dari ruangan ini tetapi tidak bisa. Aku berjalan mundur dengan perlahan dan makhluk itu semakin mendekatiku. Kemudian makhluk itu tertawa dengan nyaring.


"Aku ingin teman-temanmu mati Naima" kata hantu jahat itu, sambil menunjuk Devanno, Angga dan Sinta.


"Tidak! Kamu tidak berhak membunuh mereka dan aku tidak akan membiarkan itu" kataku dengan marah. Sebagai seorang sahabat yang baik, tentu aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti sahabatku, termasuk hantu itu.


Dia menunjuk Sinta, tiba-tiba Sinta menjadi kerasukan, dia menyerang Devanno, aku menghalangi Sinta, tetapi kekuatan tubuh Sinta melebihi diriku, hingga aku beberapa kali harus terjatuh.


Makhluk itu berusaha menyerang Devanno melempar beberapa kali tubuhnya. Aku tidak tahu harus bagaimana, yang ada dalam diriku adalah kepanikan, siapa dulu yang harus aku tolong, sedang disisi lain Angga sedang kewalahan menghadapi Sinta yang sedang kerasukan, beberapa kali Angga harus merasakan sakitnya pukulan tangan Sinta. Aku tertatih dalam berjalan. Makhluk jahat itu, mengangkat tubuh Devanno tinggi, dia berusaha untuk menjatuhkannya. Aku berusaha mencegah. Tiba-tiba makhluk itu menghentikan perbuatannya. Dia melihat ke arahku dengan kemarahan.


"Jangan hentikan aku Naima atau kau juga harus mati seperti mereka" kata kemarahan makhluk itu, terlihat matanya memerah.


"Tidak! Jangan ganggu temanku, mereka tidak bersalah" kataku memohon.


"Tidak!" Makhluk itu melempar tubuhku dengan sangat keras. Benturan itu membuatku kepalaku terluka dan berdarah.


"Biarkan temanku pergi" kataku memohon.


"Buka pintu Devanno! Cepat kalian harus keluar dari ruangan ini!" aku berteriak.


" Aku tidak bisa Naima, kalau kamu tidak ikut bersamaku" kata Devanno.


Aku berjalan dengan tertatih-tatih menuju pintu. Aku berusaha membuka pintu itu sekuat tenagaku.


"Angga bawa Sinta keluar dari ruangan ini" kataku kepada Angga.


Devanno lalu berlari menghampiri Angga yang sedang kewalahan menghadapi Sinta yang sedang kerasukan.


Akhirnya pintu bisa terbuka dan aku membantu mereka untuk keluar. Kekuatan besar berusaha menutup pintu itu.


"Cepat keluar, Angga dan Devanno berusaha menarik tubuh Sinta keluar dan akhirnya berhasil. Tetapi Devanno memilih tetap di dalam ruangan, kekuatan iblis itu tidak bisa mempengaruhi Sinta saat berada di luar ruangan, aku sempat melihat Sinta mulai tersadar.Dan tiba-tiba pintu tertutup.


Makhluk itu berusaha menyakiti Devanno dan aku menghalanginya, makhluk itu menghempaskan tubuhku lagi, darah keluar semakin banyak dari kepalaku. Dan aku melihat asap pekat keluar dari tubuhku.


Asap pekat yang begitu hitam dan bayangan warna merah menyerang makhluk itu.


Makhluk itu menjerit kesakitan dan berteriak minta ampun.


" Naima, tolong aku....maafkan aku" teriak makhluk itu kepadaku.


" Makhluk itu mengerang kesakitan dan berteriak memohon ampunan.


"Tolong hentikan semua ini dan maafkan dia" kataku lirih memohon setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak sadarkan diri semua gelap bagiku.