My Love My Security

My Love My Security
BAB 09



09 ๐ŸŒน


Seminggu sudah Anggara bekerja di rumah produksi perusahaan NA Group saat dia hendak pulang, ponselnya berbunyi dia menatap ke arah ponselnya itu, terlihat di layar ponsel tersebut Pak Wawan memanggil, dia pun dengan segera menjawab panggilan tersebut.


" Halo Paman ada apa?"


" Ada kabar gembira, kalau kamu besok tidak di rumah produksi lagi, melainkan kamu sudah ditetapkan di kantor utama bersama dengan paman karena Security yang sudah kamu gantikan itu baru saja menghubungi pihak kantor kalau dia sudah mulai bisa bekerja esok harinya." terang Pak Wawan, Anggara pun tersenyum dengan senang karena dia tidak menyangka hanya satu minggu saja dia berada di rumah produksi tersebut, kemudian dia pun memutus sambungan bicaranya setelah mereka berbicara, kemudian Anggara pun melajukan kendaraannya kembali ke rumah dengan hati yang sangat gembira karena dia tidak harus tergesa-gesa lagi bekerja seperti biasanya menuju ke rumah produksi tersebut.


" Alhamdulillah akhirnya aku bisa bekerja di kantor bersama dengan paman dan aku bisa mengambil kuliahku waktu malam, tapi aku tidak ingin juga bekerja hanya di siang hari aku harus mengikuti jadwal yang ada di kantor agar aku tidak dianggap oleh yang lainnya keenakan." gumamnya di dalam hati sembari melajukan kendaraannya tersebut, lagi-lagi musibah terjadi dengannya, saat dia melajukan kendaraannya untuk berbelok ke arah kiri, sebuah mobil pun menyenggol kendaraannya tersebut dan Anggara terjatuh sedikit jauh dari motornya tersebut pengemudi mobil yang ternyata adalah Brandon dan Silva keluar dari mobil tersebut, untung saja Anggara tidak mengalami luka yang sangat berat dia masih bisa berdiri dan melangkah menuju ke arah motornya dengan sedikit berjalan pincang, karena pergelangan kakinya merasa sedikit sakit, namun dia terus saja melangkah dan berusaha memperbaiki motornya yang terjatuh itu.


Brandon mendekati Anggara.


" Kamu pakai kendaraan bisa nggak hati-hati, untung saja aku tidak melajukan kendaraanku dengan cepat, kalau sampai terjadi yang patal, kamu akan berurusan denganku!"


" Maafkan saya,mungkin saya salah," ucapnya yang sebetulnya bukan Anggara yang salah.


" Ya iyalah kamu salah, kalau kamu benar tidak mungkin kendaraan kekasihku menyentuh kendaraan kamu, udah cepat bawa pulang sana!" ucap Silva sembari mensedekapkan tangannya di dada, karena Anggara tidak mau memperpanjang tentang masalah tersebut, dia pun kemudian melanjutkan kembali kendaraannya untuk pulang ke rumah, walaupun kendaraannya tersebut mengalami sedikit lecet karena kali kedua kendaraan tersayangnya hadiah dari sang ayah itu mengalami musibah, dia hanya menghela nafasnya dengan panjang dan tetap melajukan kendaraannya tersebut menuju ke arah rumahnya.


Sesampainya di rumahnya Anggara memarkirkan motornya, dia memeriksa kembali kendaraannya tersebut sembari bergumam dalam hatinya.


" Biarkan saja mereka berbicara apa tentang aku dan kamu, tapi aku akan menjaga kamu terus!" ucapnya sembari menepuk kendaraannya tersebut sambil tersenyum, dia pun sedikit meringis karena menahan sakit di pergelangan kakinya tersebut.


" Aku tidak ingin Ibu mengetahui kalau aku baru saja mengalami musibah, karena aku tidak ingin Ibu memikirkan keadaanku saat ini, biar bagaimanapun mereka sangat baik sekali padaku dari mengurus aku dari kecil sampai sekarang, dia menganggap aku seperti anak kandung mereka dan aku pun diperlakukan tidak berbeda dengan kedua anak kandung mereka yaitu adik-adikku." gumamnya sembari tersenyum, dia pun berjalan berusaha tidak terlihat pincang karena dia tidak ingin memperlihatkan musibah yang sudah menimpanya barusan pada dang Ibu.


Namun sayangnya dia berusaha menutupi dari sang ibu tapi ibunya sudah mengetahui terlebih dahulu.


Ibu Ningsih menyambut sang anak di teras rumahnya tersebut, hati seorang ibu tidak bisa dibohongi dengan keadaan anaknya itu, karena dia melihat wajah sang anak yang menyembunyikan rasa sakit yang dideritanya, dia pun kemudian mengajak Anggara duduk di teras rumahnya tersebut sembari menyentuh kaki anaknya yang sakit seakan-akan dia mengetahui kalau anaknya itu sedang mengalami musibah, Anggara terkejut dengan sikap sang ibu yang terlihat mengetahui dirinya mengalami rasa sakit di kaki.


" Ada apa dengan Ibu, kenapa Ibu memegang kaki Angga?"


" Tidak usah bohong nak, wajah kamu tidak bisa menyembunyikan rasa sakit itu, memang kenapa kakimu? kok bisa bengkak seperti ini ?" Tanya sang Ibu sembari meraih kaki anaknya dan menaruhnya di pangkuannya.


" Sedikit terkilir Bu, saat menaiki tangga di perusahaan tempat bekerja Anggara."


" Kamu jangan bohong, tidak mungkin terkilir menimbulkan luka di lutut kamu itu, kamu jatuh ya dari motor.?"


" Alhamdulillah, Kamu tidak apa-apa, jadikanlah musibah ini pelajaran untukmu, agar di jalan kamu bisa hati-hati lagi." ucapnya sembari memijat kaki anaknya tersebut dan Anggara pun hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum menatap sang Ibu yang begitu penuh kasih sayang padanya.


***


Keesokan harinya Anggara sudah siap untuk berangkat bekerja.


Awalnya Ibu Ningsih melarang Anggara untuk bekerja karena keadaan Anggara yang terlihat masih sedikit sakit, tapi sayangnya Anggara tetap ingin bekerja, karena dia menganggap pekerjaannya baru dan belum bisa untuk libur, walaupun dia dalam keadaan sakit kakinya tersebut.


Ibu Ningsih hanya menghela nafasnya dengan dalam, karena dia harus menghargai keputusan sang anak, setelah kepergian anaknya tersebut dia pun hanya bisa berdoa di dalam hatinya untuk keselamatan sang anak.


Saat dia hendak masuk ke dalam dia melihat sebuah mobil berada di depan rumahnya tersebut, dia merasa heran dengan mobil yang dua kali dilihatnya itu, namun pengemudi ataupun orang yang di dalam mobil tersebut tidak keluar sama sekali, dia merasa heran karena sudah beberapa hari mobil tersebut berada di depan rumahnya, setiap Anggara berangkat bekerja.


" Siapa mereka? kenapa mereka selalu ada di saat Anggara berangkat bekerja? sudah dua hari ini aku melihat mobil itu, ada di depan rumahku, lebih baik aku tanyakan pada mereka, siapa tahu mereka ada keperluan, sehingga mereka tidak mengetahui alamat yang dituju." Ucap Bu Ningsih, kemudian melangkah menuju ke arah jalan, saat dia sampai di pagar rumahnya, mobil itu pun kemudian meninggalkan depan rumah Bu Ningsih, membuat perempuan paruh baya itu merasa heran dengan mobil tersebut.


" Kenapa mereka pergi setelah aku berada di depan pagar rumahku sendiri, dari tadi mereka tidak pergi sama sekali, kok aku Jadi curiga ya." ucapnya kemudian menatap lekat ke arah mobil tersebut melaju.


***


Di kediaman rumah mewah tepatnya di rumah Brandon.


" Bagaimana hubungan kamu dengan Arumi?" tanya seorang laki-laki yang sedang duduk di atas kursi roda tersebut.


Dia adalah Bryan Perwira kakak kandungnya Brandon, Bryan mengalami kecelakaan beberapa tahun yang silam yang mengakibatkan dia harus seumur hidup duduk di atas kursi roda karena kedua kakinya mengalami kelumpuhan.


" Hubunganku dan Arumi baik-baik saja, dia pasti nanti akan merasakan apa yang kakak rasakan saat ini." Ucap Brandan.


" Sudah Kakak katakan padamu, Arumi tidak bersalah, kenapa kamu masih ingin membalas dendam pada Arumi."


" Tidak salah,? apa maksud kakak, jelas-jelas karena dia kakak mengalami ini semua, Aku ingin dia merasakan apa yang kakak rasakan."


" Brandon! sudah Kakak bilang Arumi tidak salah.!"


" Berapa kali pun Kakak bilang, dia tidak salah, aku tetap menganggap dia lah penyebabnya sampai Kakak selamanya duduk di atas kursi roda ini." ucap Brandon sembari melangkah meninggalkan lelaki tersebut, Bryan hanya menghela nafasnya dengan panjang sembari menatap kepergian sang adik dari hadapannya.