
22 ๐น
Terlihat wajah Anggara tersenyum dan mendekati mereka. Bu Ningsih menatap sang anak menanti penjelasan dari Anggara tentang pertemuan Anggara di kantor polisi.
" Sudah bertemu dengan mereka?"
" Sudah Bu..."
" Siapa mereka?"
Anggara menghela nafasnya dengan panjang.
" Mas Bara..."
" Apa kak? Mas Bara saudaranya kak Ria?" Sahut Neni.
Anggara mengangguk, Ibu Ningsih hanya mengucap istigfar dan mengusap dadanya karena dia tidak percaya dengan kenyataan yang sebenarnya kalau yang dianggapnya baik itu adalah orang yang sudah mencelakai anaknya.
" Kenapa dia berbuat seperti itu."
" Anggara juga tidak tahu Bu, kenapa Mas Bara mau mengikuti omongan ibunya.." Anggara pun menceritakan semuanya pada ibunya dan adiknya terlihat Nino menangis mendengar kakaknya berbicara, karena dia juga tidak menyangka pada kenyataan yang dihadapinya sekarang ini, dia tidak tahu apa-apa sudah menjadi sasaran kemarahan orang dewasa seperti Bara dan keluarganya itu, Anggara mendekati adiknya itu dan diapun langsung memeluk sang kakak.
" Nino takut kak nantinya kalau kesekolah, Nino takut kalau keluarga Mas Bara marah lagi sama keluarga kita dan mencelakai lagi Nino." Ucapnya sambil menangis.
Anggara hanya mengusap kepala sang adik dan memberikan pengertian padanya kalau tidak akan terjadi apa-apa lagi yang akan mengganggunya.
Setelah tangis Nino tenang, Anggara hanya menghela nafasnya dengan pelan, terdengar ketukan diruangan itu mereka langsung saling tatap, karena mereka merasa heran ada yang mengetuk pintu ruangan rawat adiknya itu, kebetulan tempat rawat Nino diruangan Vip dipindahkan dokter Purnama, karena dr purnama memberikan tempat Vip untuk rawat inap Nino.
" Cklek..." Pintu terbuka terlihat pak Wawan dan sang istri beserta pak Burhan dan istrinya memasuki ruangan rawat tersebut,mereka tersenyum, melihat pak Wawan menuju kearah mereka bersama Big Bos nya itu Anggara langsung berdiri dan menyalami mereka dan mempersilahkan mereka duduk.
" Saya sangat terhormat sekali bapak dan ibu bisa datang kesini menjenguk adik saya."
" Bapak prihatin sekali dengan kejadian ini yang menimpa adikmu." Ucapnya sembari tersenyum.
Bu Antik memperhatikan Anggara dengan lekat dia terlihat berpikir keras berusaha mengingat-ingat sesuatu.
" Kayanya tidak asing aku dengan wajah dia ini, tapi dimana ya aku bertemu dengannya?" Gumamnya dalam hati.
Anggara menceritakan kronologi kejadian yang menimpa adiknya itu, pak Burhan hanya menganggukkan kepalanya dia tidak memperhatikan sang istri yang menatap lekat ke arah Anggara sampai akhirnya Bu Antik pun langsung bersuara.
" Kamu bukankah laki-laki yang pernah menolong Ibu di pasar itu ya? saat ibu kecopetan?" ucapkan membuat Anggara langsung menoleh kearah bu Antik istrinya pak Burhan.
" Jadi ibu adalah istrinya pak Burhan, Ibu masih ingat aja ya waktu itu."
" Ibu pasti ingatlah, nggak mungkin perbuatan baik kamu ibu lupakan, kamu sudah membantu Ibu dan selamatkan dari pencopetan itu."
" Yang benar bu? Waktu itu yang menolong ibu adalah Anggara?" Tanya Pak Burhan sembari tersenyuman, langsung menatap ke arah istrinya tersebut, Bu Antik tersenyum sembari menganggukkan kepalanya dan berucap.
" Iya Yah, yang Ibu ceritakan pada Ayah itu adalah pemuda ini, ternyata Ayah juga kenal dengannya dan dia juga bekerja di perusahaan kita."
" Dia adalah Security kita yang baru bu."
" Bapak tahu dari Pak Wawan, karena saat itu Bapak menghubungi Pak Wawan dan Pak Wawan kebetulan mau berangkat ke rumah sakit ini menjenguk adikmu, sekalian Bapak dan Ibu ikut untuk jenguk juga kebetulan Bapak dan ibu ada diluar." terang Pak Burhan sembari tersenyum.
" Jadi kamu bekerja di perusahaan kami sebagai Security?" tanya Bu Antik dianggukan oleh Anggara.
Bu Anti tersenyum, dia merasa senang bisa bertemu kembali dengan Anggara karena saat itu setelah Anggara menolong dia saat kejadian di pasar tradisional yang ada di kotanya itu, Anggara dengan cepat berpamitan pada Bu Antik, setelah menyerahkan barang yang sudah ditemukannya itu pada pemiliknya tanpa memberi tahu siapa sebenarnya dirinya itu.
Mereka pun kemudian berbicara satu sama lainnya.
***
Di rumah kediaman Brandon, seorang gadis muda cantik melangkah menuju ke arah rumah tersebut, dia mengetuk beberapa kali pintu utama rumah Brandan namun tidak ada sahutan dari dalam, kemudian dia tetap mengetuk pintu tersebut beberapa saat kemudian pintu terbuka terlihat asisten rumah tangga Brandon tersenyum pada wanita itu, Siapa lagi kalau bukan Riana.
" Nona Riana...?"
" Brandannya ada Bi.?"
" Tuan Brandan tidak ada Nona karena belum datang, biasanya jam segini sudah ada dirumah, Nona kalau mau menunggu silahkan Nona, mari masuk Nona."
" Iya Bi, kalau Kak Bryannya ada.?"
" Tuan muda Bryan ada di ruang santainya Nona."
" Terima kasih ya Bi Saya menemani Kak Brayan aja sambil menunggu Brandan pulang." Ucapnya dianggukkan Asisten rumah tangga itu.
" Silakan Nona..." ucap asisten rumah tangga Brandon kemudian Riana pun melangkah menuju ke arah ruang santai Bryan.
Riana membuka pintu ruang santai itu dengan perlahan.
" Ceklek..." pintu terbuka Bryan yang tidak menyadari kalau pintu ruangan santainya itu terbuka, dia hanya terdiam dan menatap ke arah jendela jauh keluar dan dia tetap duduk di atas kursi rodanya tersebut, Riana pun melangkah mendekati Bryan dia menyentuh pundak Brian dengan pelan dan Bryan mendongakkan kepalanya karena melihat Riana yang datang, dia pun tersenyum manis padanya.
" Sejak kapan kamu berada di belakangku?" tanya Bryan.
" Dua jam yang lalu...hehehe.." ucap Riana sembari terkekeh dan duduk di samping Bryan karena di samping Bryan ada sebuah kursi kosong.
" Kamu masih aja terus bercanda." Ucap Bryan sembari tersenyum.
Lagi lagi Riana terkekeh.
" Kamu dari mana? Apakah kamu bersama dengan Brandon.?"
" Aku sendirian Kak, Brandan sama wanitanya."
" Arumi..?"
Riana mengelengkan kepalanya.
Bryan pun menatap ke arah Riana, karena selama ini Brandon tidak pernah mengatakan kalau dia memiliki kekasih lain selain Arumi, Brandon menatap lekat ke arah Riana dan Riana hanya menganggukkan kepalanya.