
27 ๐น
Terlihat seorang gadis muda berjalan menuju mereka yang tidak dikenal mereka sama sekali siapa dia.
Dia adalah Neni adiknya Anggara yang kebetulan lewat didaerah taman tersebut, Neni keluar dari rumah sakit untuk membeli sesuatu, dia melihat tiga orang tersebut sedang berbicara dan dia mengendap mendengarkan dan bermaksud ingin menolong Arumi yang terlihat disakiti.
Brandan melepas cengkraman tangannya pada tangan Arumi mereka menatap ke arah Neni.
" Kenapa kalian bertiga ada di sini? kalau kalian berbuat jahat aku akan langsung melaporkan kalian ke pihak yang berwajib, aku tinggal klik saja dan sambungan telepon aku ini akan langsung menghubungi pihak yang berwajib." ucap Neni sembari memperlihatkan ponsel yang ada ditangannya itu.
Brandon dan Silva saling bertatapan kemudian Brandan menarik tangan Silva sambil berbicara pada Arumi.
" Ingat!! urusan kita belum selesai, Aku tidak akan pernah melepaskan kamu sebelum kamu mempertanggungjawabkan semuanya!!" ucapnya sembari meninggalkan Arumi yang berdiri seraya mengusap tangannya tersebut yang terasa sakit akibat cengkraman Brandan.
Beberapa saat kemudian mobil Brandan meninggalkan kedua orang yang sedang berdiri itu dan Neni pun mendekati Arumi.
" Kakak nggak apa-apa? Apakah masih sakit tangan Kakak.?" Tanya Neni pada Arumi sembari memperhatikan Arumi dari atas kepala sampai ujung kakinya.
Arumi tersenyum, biasanya Arumi tidak peduli dengan pertolongan orang lain, namun dia merasa berhutang Budi pada gadis belia yang ada di hadapannya itu.
Arumi tersenyum.
" Kakak tidak apa-apa, terima kasih ya sudah membantu Kakak, kamu baik banget, Kenapa kamu sampai berani seperti itu.?"
" Aku sendiri tadi melihat Kakak ditarik-tarik seperti itu, pasti sakit tangan Kakak, Oh ya kenalkan aku Neni, Kakak siapa.?"
" Nama kakak Arumi, Oh ya kamu dari mana, kok malam-malam gini masih berkeliaran di sini."
Neni tersenyum dengan pertanyaan Arumi, Dia kemudian mengangkat kantong kresek yang ada di tangannya itu.
" Aku tadi mau beli ini aja gorengan di ujung sana."
Arumi tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
" Kamu tinggal di mana?"
" Aku berada di rumah sakit itu, Kak, tidak jauh kok dari sini, karena adikku mengalami kecelakaan, aku tadi cuma bilang pergi sebentar aja,ya udah ya kak, nanti mereka lama menunggu aku, aku pulang dulu ya Kak."
" Bolehkah kakak mengantarkan kamu, sekalian kakak mau lihat Adik kamu."
" Sudah malam Kak, waktu besuknya sudah habis, ujung-ujungnya nanti kakak disuruh pulang juga deh, karena kan orang Rumah Sakit tidak pernah melihat Kakak, mereka cuma melihat aku aja."
" Udah nggak apa-apa, besok aja kakak menjenguk Adik kamu, tapi boleh kan kakak mengantarkan kamu, apakah kamu menggunakan kendaraan.?"
" Tidak! Aku jalan kaki aja."
" Ya udah kalau kayak gitu, ikut kakak aja, biar kakak antarkan sampai depan rumah sakit."
Neni pun tidak menolak ajakan dari Arumi, Dia kemudian memasuki mobil pribadinya Arumi beberapa saat kemudian mobil pribadinya Arumi pun meninggalkan tempat tersebut menuju ke arah rumah sakit yang kebetulan tidak jauh dari taman tersebut.
Sesampainya di depan rumah sakit, Neni pun turun setelah memberitahukan ruangan sang adik, karena Arumi berjanji besok pagi akan menjenguk adiknya Neni.
Arumi menatap langkah demi langkah Neni, sampai Neni masuk ke dalam koridor rumah sakit, dia tersenyum dari jauh, kemudian dia melanjutkan menuju ke arah rumahnya untuk melepaskan kepenatan di otaknya.
Neni membuka pintu ruangan adiknya itu mereka semua menatap ke arah Neni.
" Dari mana aja kamu? Kenapa lama sekali.?" Tanya sang ibu.
" Meni habis beli ini Ibu, karena Neni pengen sekali makan gorengan, tapi sayangnya tempatnya antri." ucapnya berbohong pada sang Ibu, karena dia tidak ingin menceritakan apa yang terjadi barusan pada sang Ibu, dia tidak ingin di marahi ibunya sebab sikap dia yang menjadi pahlawan membantu seorang perempuan yang di sakiti oleh sang kekasih.
Anggara merasa curiga dengan sang adik, Anggara kemudian mengajak adiknya untuk keluar ruangan karena dia mau bertanya pada adiknya tersebut.
Ibu Ningsih yang tidak curiga dengan kedua kakak beradik itu hanya tersenyum saja melihat kedua anaknya keluar ruangan.
" Ada apa sebenarnya, kenapa kamu terlambat? Kamu pasti berbohong kan pada ibu."
" Aku memang berbohong pada ibu, karena aku baru saja membantu seorang wanita yang disakiti oleh lelaki dan perempuan."
" Maksud kamu."
" Iya Kak, aku kasihan melihatnya, aku bilang aja..." kemudian Neni pun menceritakan semua kejadian itu pada sang kakak, Anggara mendengarkan cerita sang adik dia pun menganggukkan kepalanya, namun Neni tidak memberitahu siapa namanya tersebut pada kakaknya itu, lagi pula Anggara pun tidak bertanya pada adiknya siapa nama wanita yang sudah ditolong adiknya itu.
" Lain kali kamu jangan sok jadi pahlawan, siapa tahu nanti dia jadi dendam sama kamu."
" Neni memang salah, maafkan Neni ya Kak."
" Ya udah, ayo kita masuk lagi nanti Ibu curiga pada kamu."
Neni menganggukkan kepalanya dan mereka berdua lalu masuk ke dalam ruangan adiknya kembali.
Di kediaman Frida dan Paris...
Tepat pukul delapan pagi, dr Purnama yang ingin berkunjung ke rumah ibunya itu pun memarkirkan mobilnya di depan rumah tersebut, saking asik bicaranya Ibu dan Ayah tirinya itu tidak mendengar kalau dr Purnama datang ke rumah tersebut.
Dr Purnama melangkah masuk ke dalam rumah tersebut, dia menengok kiri dan kanan tidak ada orang sama sekali, karena pintu rumah itu terbuka dengan lebar.
Saat dia hendak memanggil sang Ibu, Dia mendengar percakapan Mamah dan Papah tirinya itu di ruang tamu yang dibatasi dengan sebuah tembok, memudahkan dokter Purnama mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
" Kita harus mencari kemana laki-laki yang membawa anaknya Kak Innova itu." Ucap Frida.
" Aku juga sudah kehilangan akal untuk mencari tahu, karena ini sudah beberapa tahun yang lalu." Sambung Paris.
" Terus kita harus melakukan apa sekarang, aku jadi takut juga kalau seandainya anaknya Kak Innova itu sekarang bertemu dengan Kak Inova dan istrinya, memang sih mereka mungkin tidak saling kenal, tapi kalau Tuhan menghendakinya mereka pasti akan mengetahui kalau dia itu adalah anaknya, tapi sampai saat ini aku tidak pernah bertemu laki-laki yang mirip dengan Kak Innova, ataupun mirip dengan istrinya, padahal sudah beberapa tahun, paling tidak dia sudah besar." Ucap Frida sembari menghela nafasnya.
" Apa?!! Berarti anaknya om Innova tidak meninggal dunia, tapi di pisahkan oleh Mama dan Om Paris, jangan-jangan yang di rumah sakit itu adalah anaknya Om Innova?" Gumam dokter Purnama. Kemudian dia pun mendengarkan kembali pembicaraan kedua orang tua tersebut.
" Nanti kita akan pikirkan lagi, jangan sampai kita ketahuan oleh mereka, kalau sampai kita ketahuan kalau ternyata anaknya itu tidaklah meninggal dunia, tapi melainkan kita yang memisahkannya dari mereka, agar tidak mewarisi harta mereka itu." ucap Paris Ayah tirinya dokter Purnama tersebut.
Sang istri hanya menganggukkan kepalanya saja, dia menghela nafasnya dengan panjang.
Dr Purnama yang berniat ingin menemui ibunya itu pun kemudian dibatalkannya, dia kemudian berbalik arah menuju ke arah luar, namun saat dia sampai di pintu utama tersebut, dia pun dikejutkan dengan suara Frida sang Mamah tersebut.
" Purnama...!"
Dokter Purnama menoleh ke arah sang Mama.